Rabu, 15 Jul 2026
light_mode

Ekonomi Sumut Stagnan, Provinsi Lain Bikin Lompatan?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ketika Maluku Utara melonjak lewat hilirisasi, Bali bangkit lewat Pariwisata dan Sulawesi menyalakan industri baru — Sumatera Utara Justru Tampak Berjalan dengan Mesin Lama

Di atas kertas, ekonomi Sumatera Utara masih tumbuh.

Tidak runtuh. Tidak krisis. Dan, nilainya tidak pula merah.

Tetapi justru di situlah problemnya: Sumut memang masih bergerak, namun tidak lagi terasa menghentak.

Di saat sejumlah provinsi mulai melompat dengan identitas ekonomi baru, Sumatera Utara justru tampak seperti mesin besar yang berat berbelok — hidup, tetapi kehilangan ledakan energinya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Sumut Triwulan I-2025 tumbuh 4,67 persen secara tahunan. Angka itu memang positif, tetapi melaz gyengapa provinsi sebesar Sumut justru mulai terdengar biasa?

Padahal secara geografis, Sumut nyaris memiliki semua syarat untuk menjadi raksasa ekonomi regional:
pelabuhan strategis,
jalur Selat Malaka,
perkebunan besar,
bandara internasional,
kawasan industri,
bonus demografi,
hingga posisi sebagai pintu utama Sumatera.

Tetapi entah mengapa, energi ekonominya tidak meledak.

Yang terlihat justru ekonomi yang terus bergerak dalam pola lama: perdagangan,
transportasi, konsumsi,
dan distribusi barang.

Sumut tampak ramai, tetapi belum tentu progresif.

Bandingkan dengan Maluku Utara.

Provinsi itu dahulu nyaris tidak masuk radar ekonomi nasional. Kini ia menjadi simbol baru pertumbuhan lewat hilirisasi nikel. Sulawesi Tengah bergerak dengan smelter dan industrialisasi mineral. Kepulauan Riau mengandalkan manufaktur dan kawasan industri Batam. Bali bangkit kembali dengan pariwisata global.

Mereka menemukan “mesin pertumbuhan baru”.

Sementara Sumut?
Masih sibuk mengedarkan energi lama.

Inilah yang mulai terasa mengkhawatirkan:
Sumut tumbuh, tetapi tidak sedang meloncat.

Padahal dalam kompetisi ekonomi modern, yang menentukan bukan hanya besar kecilnya ekonomi, melainkan kecepatan transformasinya.

Dan di titik itu, Sumut mulai terlihat tertinggal.

Masalah lainnya adalah pertumbuhan Sumut tampak semakin terkonsentrasi di kawasan tertentu:
Medan,
Deli Serdang,
koridor industri,
dan jalur perdagangan utama.

Sementara banyak wilayah pinggiran masih bergerak lambat.

Pantai barat Sumatera Utara belum benar-benar berubah menjadi pusat ekonomi baru.

Daerah pertanian masih terjebak pada komoditas mentah.

Petani sawit dan karet tetap rentan pada fluktuasi harga.

Anak muda desa terus bergerak ke kota — atau keluar daerah.

Akibatnya, statistik pertumbuhan terlihat sehat, tetapi denyut optimisme sosial tidak benar-benar terasa merata.

Di sinilah publik mulai mengalami semacam paradoks:
ekonomi tumbuh,
tetapi rasa percaya diri daerah tidak ikut tumbuh.

Yang lebih menarik lagi, struktur pertumbuhan Sumut justru menunjukkan dominasi sektor-sektor yang bersifat “sirkulatif”:
perdagangan,
transportasi,
akomodasi,
makan-minum,
dan jasa.

Artinya ekonomi bergerak karena orang belanja, bepergian, memindahkan barang, dan mengonsumsi sesuatu.

Tetapi pertanyaannya:
di mana ledakan industri baru?
di mana hilirisasi besar?
di mana manufaktur modern?
di mana pusat inovasi?

Sumut seperti terlalu nyaman menjadi pasar — bukan pemain utama produksi masa depan.

Padahal sejarah menunjukkan:
daerah yang hanya kuat dalam konsumsi biasanya ramai di permukaan, tetapi rapuh dalam jangka panjang.

Yang paling problematik mungkin bukan melambatnya angka pertumbuhan.

Melainkan hilangnya narasi besar.

Hari ini publik sulit menjawab:
Sumut sebenarnya mau menjadi apa?

Pusat agroindustri?
Kawasan hilirisasi sawit?
Pusat logistik ASEAN?
Kekuatan industri maritim?
Ekonomi digital Sumatera?
Atau sekadar provinsi transit perdagangan?

Belum ada jawaban yang benar-benar terasa hidup.

Dan, ketika sebuah daerah kehilangan arah transformasi, pertumbuhan ekonomi perlahan berubah hanya menjadi rutinitas statistik:

  • angka naik,
  • laporan dibacakan,
  • grafik dipamerkan,

Tetapi, masyarakat tidak benar-benar merasakan ledakan “hoki” untuk masa depan.

Karena itu, mungkin sudah waktunya Sumut berhenti sekadar merasa besar — lalu mulai berani menentukan lompatan.

Pemerintah daerah, dunia kampus, pelaku usaha, hingga elite politik tidak cukup hanya menjaga stabilitas angka pertumbuhan. Mereka harus mulai membangun “visi ekonomi baru” yang lebih berani:

Hilirisasi sawit dan pertanian, industri pengolahan berbasis pelabuhan, penguatan kawasan pantai barat,
pengembangan ekonomi kreatif anak muda, hingga transformasi UMKM menjadi rantai industri modern.

Sumut tidak kekurangan sumber daya. Yang mulai terasa langka justru keberanian membangun arah.

Dan, mungkin, di situlah pekerjaan paling mendesak hari ini:
Bukan sekadar membuat ekonomi tetap tumbuh,
tetapi mengembalikan keyakinan bahwa Sumatera Utara masih mampu menjadi kekuatan yang mengejutkan masa depan.***

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Janji Atika Menyediakan Kapal Tangkap Nelayan di Madina Zonk

    Janji Atika Menyediakan Kapal Tangkap Nelayan di Madina Zonk

    • calendar_month Kamis, 21 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) lama tak terdengar gebrakan Dinas Kelautan Kabupaten Mandailing Natal( Madina ) dalam mendongkrak peningkatana tarap hidup nelayan tradiaional di Kabupaten ini seolah Dinas itu hanya sebagai pelengkap saja dalam Pemerintahan Suhkairi- Atika. Masih segar dalam ingatan Masyarakat, saat debat kandidat Calon Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal, Atika Azmi Utammi […]

  • Debat Publik Pilkada Madina, Saipullah-Atika Unggul Telak

    Debat Publik Pilkada Madina, Saipullah-Atika Unggul Telak

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PALUTA (Mandailing Online) – Pasangan calon (paslon) nomor urut 2 Saipullah Nasution-Atika Azmi Utammi Nasution lebih menguasai realita dalam acara Debat Publik Pilkada Mandailing Natal (Madina), Kamis (14/11/2024) Debat Publik berlangsung di Sapadia Hall, Gunung Tua, Padang Lawas Utara (Paluta), Sumut. Di sisi lain, paslon nomor urut 1 Harun Mustafa Nasution-M. Ichwan Hussein Nasution gagal […]

  • Dianggap Kodrat, Adakah Sebagai Sinyal Penerimaan Seks Menyimpang?

    Dianggap Kodrat, Adakah Sebagai Sinyal Penerimaan Seks Menyimpang?

    • calendar_month Jumat, 9 Jun 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I Dosen “LGBT itu sebagai kodrat kan tidak bisa dilarang.” Kalimat ini menjadi viral di sosial media yang kemudian menjadi perbincangan banyak pihak. Kalimat tersebut tentu saja mengejutkan rakyat Indonesia. Karena belum ada tokoh manapun yang notabene Muslim berani secara gamblang memberikan pernyataan demikian. Pernyataan tersebut disampaikan oleh seorang Menteri, professor yang […]

  • Gatot: Sengketa Tapal Batas Sumut-Riau Tunggu Mendagri

    Gatot: Sengketa Tapal Batas Sumut-Riau Tunggu Mendagri

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTAPINANG : Permasalahan sengketa tapal batas antara Propinsi Sumatera Utara (Sumut) dan Propinsi Riau masih menunggu kepastian dari Kementrian Dalam Negeri RI. Perbatasan tersebut melibatkan tiga Kabupaten di Sumut dan dua Kabupaten di Riau. Yakni, Kabupaten Padang Lawas, Labuhanbatu Selatan (Labusel) dan Labuhabatu, Sumut. Sementara di Propinsi Riau di antaranya Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dan […]

  • Kepala Desa Gunungtua Jae Diadukan ke Polisi

    Kepala Desa Gunungtua Jae Diadukan ke Polisi

    • calendar_month Senin, 3 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Desa Gunungtua Jae, Kecamatan Panyabungan, Madina ditengarai tak lagi kapabel. Kepercayaan rakyat kepada Kepala Desa, Mardan Rangkuti terlihat kian menurun. Hari ini, Senin (3/2/2020) warga Gunungtua Jae mengadukan kepala desa mereka ke Polres Madina. Berkas pengaduan diterima Kasi Umum Polres Madina. Dua hari sebelumnya atau Sabtu (1/2) warga juga melakukan […]

  • Pilih Mana, CSR Tak Seberapa Atau Kelola SDAE, Rakyat Sejahtera?

    Pilih Mana, CSR Tak Seberapa Atau Kelola SDAE, Rakyat Sejahtera?

    • calendar_month Rabu, 1 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Djumriah Lina Johan Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Hadi Mulyadi melayangkan protes karena Rp 200 miliar dana CSR perusahaan tambang batu bara di wilayahnya disalurkan ke kampus-kampus di pulau Jawa. Dia tidak terima, karena selama ini perusahaan tersebut mengeruk sumber daya alam di Kaltim, namun tidak memperhatikan pendidikan di […]

expand_less