Rabu, 7 Okt 2026
light_mode

Mencium Aroma Sereh dalam “Model Pembangunan Alternatif” Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

Ketika Pemerintah Belajar Sistem — Organisasi Tani Justru Tidak Diajak

 

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ada sesuatu yang menarik dari langkah Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal belakangan ini.

Di tengah kebiasaan lama pembangunan daerah yang sering berhenti pada pembagian bibit dan proyek musiman, Pemkab Madina justru terlihat mulai bergerak ke arah yang lebih serius: belajar mengelola sereh wangi dari hulu sampai hilir.

Bukan cuma dinas pertanian.
Bukan cuma urusan kebun.

Rombongan yang dibawa bahkan lintas sektor:

* koperasi,
* pemberdayaan desa,
* hingga OPD terkait lainnya.

Kalau dibaca secara serius, ini sebenarnya sinyal penting:

> pemerintah mulai sadar bahwa pertanian bukan sekadar tanam-menananam, tetapi soal membangun sistem ekonomi.

Dan itu patut diapresiasi.

Karena selama ini terlalu banyak program pertanian lahir dengan pola lama:

* bagi bibit,
* foto bersama,
* panen simbolik,
* lalu selesai.

Petani ditinggalkan sendirian menghadapi hilir dan harga pasar yang brutal.

Maka ketika pemerintah mulai bicara “hulu sampai hilir”, publik tentu berharap ada arah baru:

* hilirisasi,
* industri pengolahan,
* koperasi tani,
* akses pasar,
* bahkan rantai ekspor.

Apalagi jika dikaitkan dengan:

* Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution,
* Pelabuhan Palimbungan,
* kawasan ekonomi Batahan,
* dan jalur pantai barat selatan Sumut,

maka sereh wangi memang bisa dibaca sebagai bagian dari “model pembangunan alternatif” Madina:

> ekonomi desa berbasis agroindustri rakyat.

Tetapi justru karena ini terlihat serius, ada satu pertanyaan yang terasa makin mengganggu:

> Mengapa organisasi tani tidak ikut diajak?

Di Madina, publik mengenal adanya kelompok dan jaringan organisasi tani seperti:

* KTNA,
* HKTI,
* hingga berbagai komunitas petani lokal yang selama ini bersentuhan langsung dengan realitas lapangan.

Kalau tujuan kunjungan itu adalah membangun sistem pertanian rakyat, bukankah mereka justru pihak yang paling penting untuk dilibatkan?

Karena birokrasi punya kewenangan.
Tetapi petani punya pengalaman.

Pejabat bisa menyusun program.
Tetapi petani yang memahami:

– karakter lahan,
– keterbatasan infrastruktur,
– keamanan berusaha,
– pola gagal panen,
– permainan tengkulak,
– hingga kenyataan pahit saat harga anjlok.

Dan sering kali, pembangunan pertanian gagal justru karena pemerintah terlalu percaya bahwa semua bisa diselesaikan lewat rapat OPD.

Pertanyaan ini penting bukan untuk menyerang bupati. Justru sebaliknya.

Kalau Pemkab Madina benar-benar ingin membangun model ekonomi pertanian baru, maka pembangunan itu tidak boleh terlalu birokratis. Ia harus melibatkan:

* organisasi tani,
* koperasi petani,
* pelaku penyulingan,
* UMKM,
* bahkan jaringan pemasaran.

Sebab pertanian modern bukan lagi proyek dinas. Ia adalah ekosistem sosial-ekonomi.

Dan ekosistem tidak mungkin hidup kalau petaninya hanya dijadikan objek, bukan subjek.

Di titik inilah aroma sereh itu menjadi menarik.

Karena publik mulai mencium dua kemungkinan sekaligus.

Kemungkinan pertama:

> Madina memang sedang serius membangun model ekonomi desa baru.

Tetapi kemungkinan kedua juga ada:

> jangan-jangan ini masih pembangunan gaya lama — hanya saja kemasannya lebih modern.

Bedanya: dahulu bagi bibit.
Sekarang studi banding.

Padahal inti persoalannya tetap sama:

> apakah rakyat benar-benar dilibatkan sejak awal?

Sebab sejarah pembangunan kita terlalu sering dipenuhi proyek yang terlihat hebat di meja pemerintah, tetapi terasa asing di tangan petani.

Dan kalau organisasi tani saja tidak ikut duduk dalam proses belajar sistem ini, publik berhak bertanya:

> pembangunan sereh wangi ini sebenarnya sedang dibangun bersama petani — atau hanya sedang dibangun untuk petani?***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Madina Naikkan Kelas Sumber PAD. Begini Penjelasan Kaban Bapenda

    Pemkab Madina Naikkan Kelas Sumber PAD. Begini Penjelasan Kaban Bapenda

    • calendar_month Rabu, 22 Okt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) c.q Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) naikkan kelas sumber Pendapatan Asli Daerah. Ahmad Yasir Lubis SP, MM, Kepala Badan Bapenda Madina mengungkapkan sedang melakukan Optimalisasi sistem pengelolaan dan potensi sumber pendapatan untuk kemandirian daerah serta inovasi kebijakan keuangan daerah. Dijelaskan Kaban Bapenda bahwa upaya ini dilakukan untuk […]

  • KASUS NAGA JUANG KE KOMNAS HAM

    KASUS NAGA JUANG KE KOMNAS HAM

    • calendar_month Senin, 25 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      Kapolres: Bukan Penangkapan PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Perlakuan pasukan polisi terhadap para penambang di bukit Sihayo, Kecamatan Naga Juang, Mandailing Natal (Madina) akhirnya diadukan ke Komnas HAM, Senin (25/3). Naskah pengaduan resmi diterima salah seorang Komisioner Komnas HAM, Natalis Pigai, di kantor Komnas HAM, Jakarta. Rombongan yang membawa pengaduan meliputi Ketua Lingkar Madani, Ray […]

  • Masih Dikaji, Pendidikan Gratis Untuk Pesantren

    Masih Dikaji, Pendidikan Gratis Untuk Pesantren

    • calendar_month Rabu, 25 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Panyabungan (MO) – Program pendidikan gratis untuk pesantren dan Madrastah Aliyah masih dikaji pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Upaya itu terkait adanya harapan dari kalangan psantern dan Madrastah Aliyah (MA) agar santri dan pelajar MA turut mendapat program pendidikan gratis. Sejauh ini Pemkab Madina sudah meluncurkan paket program pendidikan gratis untuk tingkat SLTA […]

  • Jembatan Bally Rantopuran Harus Kaji Ulang

    Jembatan Bally Rantopuran Harus Kaji Ulang

    • calendar_month Minggu, 28 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Truk Fuso Banyak Bertonase Diatas 18 Ton PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kalangan supir mulai mengeluhkan jembatan sementara Rantopuran di Jalur Lintas Sumatera titik Desa Gunung Tua, Panyabungan, Mandailing Natal yang sudah teramat rawan karena lantainya sering patah. Para pengguna jalan merasa terancam keselamatannya melewati jembatan jenis bally tersebut jika pemerintah tidak cepat mengkaji kembali kebijakan […]

  • Kritik Marx Terhadap Penyelenggaraan Pemilu Raya Mahasiswa UIN Jakarta

    Kritik Marx Terhadap Penyelenggaraan Pemilu Raya Mahasiswa UIN Jakarta

    • calendar_month Selasa, 19 Mar 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : AGUSTIAR HARIRI LUBIS Mantum Himpunan Mahaiswa Mandailing Natal Jakarta Periode 2017-2018   Karl Marx, tanpa perlu dipertanyakan lagi pemikiran canggihnya yang masih dipergunakan sampai sekarang, pastinya, Aktivis mahasiswa mengetahui apa dan bagaimana pemikiran Karl Marx yang tertuang dalam DAS KAPITAL sehingga mampu mempengaruhi kehidupan sosial disetiap sudut bumi, termasuk kehidupan sosial di pojok […]

  • Danrem 023/KS Instruksikan  Prajurit Tanam Cabai di Polybag

    Danrem 023/KS Instruksikan Prajurit Tanam Cabai di Polybag

    • calendar_month Kamis, 26 Jan 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Danrem 023/KS Kolonel Inf Richard TH Tampubolon menginstruksikan kepada seluruh prajurit di jajarannya menanam cabai di pekarangan rumah maupun di wilayah perkantoran memakai polybag. Hal tersebut disampaikan Richard TH Tampubolon melalui Kapenrem Mayor Arm Ojak Simarmata kepada wartawan, Kamis (26/1/2016) dalam mensiasati lonjakan harga cabai. Jika seluruh prajurit yang ada di […]

expand_less