Sabtu, 16 Mei 2026
light_mode

Ogah Larut di Isu “Siti Mawarni”, Bobby Fokus Gas Sumut

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Di akhir pekan ini, publik bolek pilih santai. Ogah bicara soal politik. Tapi, politik hari ini tidak selalu keras, ketus atau sarkas. Kebijakan politis juga punya sisi human interest.

Karena itu, ngobrol soal politik tak harus tegang. Bisa santai. Tergantung sudut pandang.

Seperti juga Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution. Tak mau ujuk-ujuk komentar soal lagu “Siti Mawarni” dan “Halo Pak Gubernur, Dimana Anda?” Ogah nimbrung di vitalitasnya.

Padahal, kalau mau, Gubsu bisa saja mendominasi panggung itu. Tapi, Bobby Nasution malah pilih tetap fokus memacu progres Sumut.

Makanya, ketika memang makin sulit dibedakan ruang politik dari panggung hiburan rakyat. Kadang rapat resmi berjam-jam pun tidak mendapat perhatian.
Tetapi, satu lagu sederhana dari Labuhanbatu bisa berputar dari medsos ke warung kopi dan arisan kaum ibu, lalu masuk ke ruang politik Sumatera Utara.

Belakangan, pusaran itu datang dari lagu viral: “Siti Mawarni Incek Anak Labuhan Batu.”

Lagu karya Amin Wahyudi Harahap itu awalnya ramai karena liriknya yang menyindir maraknya narkoba di Sumut. Nama “Siti Mawarni” sendiri disebut sebagai tokoh fiktif — semacam simbol keresahan sosial yang dibungkus musik Melayu sederhana.

Tetapi seperti biasa di Indonesia, satu viral tidak pernah datang sendirian.

Sesudah “Siti Mawarni” meledak, muncul lagi lagu lain yang lebih menusuk: “Halo Pak Gubernur, Anda Dimana?”

Di sini, yang disentil bukan bandar sabu.
Melainkan jalan rusak di Labuhanbatu.

Dan mendadak, politik Sumut terasa seperti panggung campuran antara satire rakyat, kritik sosial, dan perang persepsi digital. Sunghuh, sangat memikat.

 

Dari Jalan Berlubang ke Timeline Media Sosial

Lagu itu sederhana. Tidak memakai teori politik. Tidak penuh istilah birokrasi. Tetapi, justru karena kesederhanaannya, kritiknya terasa dekat dengan rakyat.

“Halo Pak Gubernur lihatlah jalan kami…”

Kalimat pendek itu mungkin lebih cepat masuk ke kepala warga dibanding pidato pembangunan sepanjang dua jam.

Karena rakyat punya ukuran yang sangat konkret terhadap kekuasaan. Mereka mungkin lupa angka pertumbuhan ekonomi, tetapi mereka ingat jalan mana yang bikin motor oleng setiap pagi dan berapa jumlah warga yang celaka karenanya.

Dan di era algoritma hari ini, kritik yang dinyanyikan sering lebih kuat daripada kritik yang dibacakan.

Polisi Pilih Main, Bobby Ogah Hanyut

Yang tak kalah menarik, aparat kepolisian justru tidak defensif hadapi lagu viral “Siti Mawarni”.

Polda Sumut membaca lagu itu sebagai bentuk aspirasi sosial tentang narkoba. Kapolda Sumut bahkan menjadikannya semacam momentum moral untuk kampanye pemberantasan narkotika.

Di titik ini, situasinya menjadi unik: lagu rakyat yang awalnya terdengar seperti sindiran, malah diambil aparat sebagai energi sosial.

Artinya, Sumut hari ini sedang hidup di era baru:
musik viral bisa berubah menjadi narasi politik dan kebijakan publik.

Beda dengan itu, Gubsu punya gestur lain. Di tengah riuh “Siti Mawarni” dan lagu jalan berlubang itu, Bobby Nasution tampaknya memilih strategi yang berbeda.

Gubsu tidak terlihat terlalu larut dalam pusaran komentar personal. Tidak juga sibuk membalas seluruh spekulasi media sosial.

Sebaliknya, Bobby terus membawa pesan yang sama:

  • percepatan pembangunan,
  • pembenahan infrastruktur,
  • investasi,
  • konektivitas wilayah,
  • dan progres Sumut.

Seolah ada satu pesan yang ingin ditegaskan:

media sosial boleh gaduh, pemerintahan tetap harus jalan bergegas.

Dan sejauh ini, narasi “gas percepatan” memang terus dipakai Bobby dalam banyak agenda pemerintahannya.

Melawan Cerita Jalan Rusak dengan Penegasan Anggaran

Masalahnya, rakyat tidak hidup di konferensi pers. Bahkan jauh dari podium eksekutif. Mereka hidup di jalan berlubang. Di truk yang terguncang.
Di motor yang selip saat hujan turun.

Karena itu, lagu dari Labuhanbatu itu sebenarnya bukan sekadar hiburan receh.
Karya kreatif itu adalah alarm sosial.

Dan menariknya, Pemprov Sumut sebenarnya memang sudah mulai menurunkan anggaran besar untuk kawasan Labuhanbatu dan jalur penghubung pantai barat.

Salah satu yang terbesar adalah proyek: Ruas Jalan Aek Nabara – Negeri Lama – Tanjung Sarang Elang yang bakal.menelan anggaran sekitar Rp158 miliar.

Proyek itu disebut masuk tahap tender dan dirancang multiyears untuk penanganan jalan rusak sekitar 26 kilometer.

Selain itu, Pemprov Sumut juga menyiapkan:

  • sekitar Rp100 miliar untuk pembangunan jalan,
  • dan sekitar Rp20 miliar untuk pembangunan jembatan di kawasan Aek Bilah yang rawan longsor dan banjir.

Bahkan, Bobby Nasution sendiri sempat mengakui bahwa kondisi sejumlah jalur di kawasan itu memang “luar biasa rusak” dan menurut warga sudah puluhan tahun minim penanganan serius.

Artinya, problemnya sekarang bukan lagi sekadar ada atau tidak ada anggaran. Uangnya sudah mulai turun.
Tender mulai berjalan.
Proyek mulai bergerak.

Tetapi di era media sosial, rakyat tidak mengukur pembangunan dari angka APBD. Tapi, dari soal apakah ban motornya masih menghantam lubang yang sama setiap pagi.

 

Era Lagu Melawan Pidato

Dulu, kritik kepada penguasa datang lewat demonstrasi atau editorial koran.

Sekarang berbeda.

Hari ini, seorang warga cukup membuat lagu sederhana, mengunggahnya ke medsos, lalu seluruh provinsi ikut menyanyikannya.

Kekuasaan tidak lagi punya kemewahan untuk sepenuhnya mengontrol narasi.
Karena algoritma lebih menyukai hal-hal yang:

  • emosional,
  • sederhana,
  • dekat dengan keresahan rakyat,
  • dan mudah dijadikan suara latar video pendek.

Dan mungkin itulah sebabnya lagu-lagu seperti itu terasa begitu cepat menyebar dan mendapat respon besar.

Mengapa?

Karena rakyat merasa sedang mendengar suara mereka sendiri.

Pada akhirnya, politik selalu kembali ke hal paling konkret:
jalan.

Bukan trending topic.
Bukan klarifikasi.
Bukan algoritma.

Karena rakyat mungkin bisa terbawa emosi mendengar lagu viral semalam suntuk. Tetapi keesokan paginya mereka tetap harus melewati lubang yang sama.

Dan mungkin di situlah tantangan terbesar Bobby hari ini:

Membuktikan bahwa “gas percepatan” bukan cuma slogan politik,
melainkan benar-benar terasa sampai ke jalan berlubang yang kini sudah berubah menjadi lagu rakyat Labuhanbatu.***

 

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Al Washliyah Madina Peringati Milad ke-91

    Al Washliyah Madina Peringati Milad ke-91

    • calendar_month Minggu, 5 Des 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Al Jam’iyatul Washliyah Madina mengggelar peringatan milad ke-91 organisasi Islam itu di Gedung Dakwah Al Washliyah Madina Jl. Sutan Soripada Mulia No 19, Kelurahan Kayujati, Minggu (5/12). Ketua PR Al Washliyah Madina Drs. H. Amir Hasibuan dalam arahannya menjelaskan, mendekati usia satu abad Al Washliyah harus punya peran penting dalam memberikan […]

  • Kantor KPU & Panwas Dijaga Ketat

    Kantor KPU & Panwas Dijaga Ketat

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Hasil Olah TKP: Rumah Dilempar Bensin lalu Dibakar MADINA- Polres Mandailing Natal, hingga kemarin (4/2), belum menetapkan tersangka pelaku pembakaran rumah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Madina Jefri Antoni SH. Namun, dari hasil olah tempat kejadian perkara, polisi memperkirakan pelaku lebih dari satu orang. Terkait pembakaran rumah Jefri tersebut, Polres menempatkan empat personel di kantor […]

  • Rektor USU: Pendidikan itu Mahal

    Rektor USU: Pendidikan itu Mahal

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tapsel- Rektor USU Prof Syahril Pasaribu dalam orasi ilmiahnya, di acara pelantikan 117 siswa SMAN 2 Plus Sipirok, TA 2011/2012, menyampaikan bahwa pendidikan sekarang ini cukup sulit, mahal, dan penuh persaingan. “Saya minta kepada seluruh siswa dan siswi SMAN 2 Plus Sipirok, khsusnya yang baru diterima di tahun ajaran 2011/2012, tekunlah belajar. Jangan sia-siakan kesempatan […]

  • Harga Gabah Tinggi Tak Pengaruhi NTP

    Harga Gabah Tinggi Tak Pengaruhi NTP

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari 2012 harga rata-rata gabah kualitas kering panen di tingkat petani naik 7,86% dari bulan sebelumnya menjadi Rp4.406 per kilogram (kg). Menurut Pelaksana Tugas Kepala BPS, Suryamin, di Jakarta, Rabu (1/2), harga rata-rata gabah kualitas kering panen di penggilingan selama Januari 2012 juga naik 7,82% dari bulan sebelumnya […]

  • 14 Ranperda Terpendam 1 Tahun di DPRD Palas

    14 Ranperda Terpendam 1 Tahun di DPRD Palas

    • calendar_month Rabu, 23 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PALAS (Mandailing Online) – Sebanyak 14 rancangan peraturan daerah (Ranperda) Kabupaten Palas terpendam hampir satu tahun lamanya di Sekretariat DPRD Palas dan tidak dibahas oleh anggota DPRD Palas atau sejak 2012. Dimana sesuai hasil informasi dari sekretariat DPRD Palas, berdasarkan surat Bupati No.1888-34/8061/2012 tanggal 12 Desember TA 2012 dan Nomor 180/596/2013 tanggal 30 Januari 2013 […]

  • Halangi Pilkada ulang dipenjarakan

    Halangi Pilkada ulang dipenjarakan

    • calendar_month Kamis, 14 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut, Irham Buana Nasution menegaskan, siapapun yang menghalang-halangi pelaksanaan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pelaksanaan Pilkada ulang di Madina, Tebingtinggi dan Tanjungbalai dapat terancam sanksi pidana. “Itu jelas diatur dalam undang-undang. Artinya keputusan MK itu harus dilaksanakan, bila dilanggar maka dipenjarakan” katanya, pagi ini. Ditegaskan, kalau putusan MK […]

expand_less