SIDIMPUAN EPISENTRUM TABAGSEL, GEJOLAK DAN BARA SEKAM (Bagian 2)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 22 jam yang lalu
- print Cetak

Sidempuan Membangun: Kota Tua Itu Harus Berhenti Bertengkar dengan Dirinya Sendiri
Dari konflik elite menuju gagasan besar membangun pusat baru Tabagsel
Tetapi mungkin Sidimpuan memang sedang membutuhkan satu kejutan besar: sebuah alasan untuk berhenti bertarung kecil. Karena sesungguhnya, problem terbesar kota ini bukan kekurangan elite.
Justru terlalu banyak elite. Terlalu banyak tokoh. Terlalu banyak jaringan. Terlalu banyak energi habis untuk mengelola pengaruh.
Sementara kota berjalan lambat merespon tuntutan rakyat. Mengangkat harkat dan martabatnya.
Padahal secara historis, Sidimpuan pernah menjadi:
* pusat pendidikan,
* ruang tumbuh intelektual Tabagsel,
* simpul perdagangan, dan
* kota yang melahirkan banyak tokoh Sumatera Utara dan pejabat tinggi negara.
Artinya:
modal sosialnya sudah ada: besar. Lebih dari cukup.
Yang hilang hanya satu:
imajinasi dan visi besar.
Maka, gagasan “Sidempuan Membangun” seharusnya tidak berhenti sebagai slogan pembangunan fisik.
Narasi ini harus menjadi perubahan cara berpikir.
Bahwa Sidimpuan tidak boleh lagi berpikir sebagai:
kota kecil yang sibuk menjaga ego lokal.
Tetapi harus mulai melihat dirinya sebagai:
pusat masa depan kawasan di sisi selatan Sumatera Utara.
Karena kota yang ingin maju tidak cukup hanya membangun jalan dan kantor.
Episentrum itu harus membangun:
* visi,
* kolaborasi, dan
* rasa percaya diri kolektif.
Dan mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
Sidimpuan perlu berhenti bertanya:
> “siapa yang paling berkuasa?”
Lalu selanjutnya segera bertanya:
> “kota ini mau dibawa ke mana?”
( Bersambung )
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

