Tokoh Bergelar Sutan (Willem) Iskander Itu Layak Jadi Pahlawan Nasional (bagian 1)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Willem Iskander
Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Banyak yang belum mengenal tokoh Sati Nasution. Termasuk di tanah Mandailing, kampung halamannya. Sungguh, putra kelahiran Pidoli Mandailing ini sudah banyak dibicarakan di forum dan sidang akademik nasional.
Beranjak dari fakta ilmiah itu, Mandailing Online bekerja sama dengan Mandailing Epicentrum menurunkan artikel berseri. Semoga lima-enam seri ke depan melekatkan dimensi historisnya ke memori dan kesadaran publik di Nusantara.
Sejarah Pendidikan Indonesia Terlalu Jawa-Sentris?
Ketika bicara sejarah pendidikan Indonesia, publik hampir otomatis mengingat Ki Hadjar Dewantara. Nama itu memang besar dan layak dihormati. Tetapi pertanyaan mulai muncul ketika sejarah dibaca lebih luas:
> apakah sejarah pendidikan Indonesia terlalu lama ditulis dari sudut Jawa?
Sebab jauh sebelum Taman Siswa lahir tahun 1922, seorang anak Mandailing bernama Willem Iskander sudah mendirikan sekolah guru bumiputera di Tanobato tahun 1862.[1]
Artinya, gagasan pendidikan modern pribumi sebenarnya tidak lahir dari satu pusat saja.
Namun sejarah nasional sering bekerja dengan cara yang unik:
* Tokoh dari pusat kekuasaan lebih mudah dikenal,
* Dokumentasi lebih lengkap,
* Akses ke penerbitan lebih besar, dan
* Akhirnya narasi mereka menjadi “wajah resmi” Indonesia.
Sementara tokoh daerah sering tertinggal di pinggir historiografi nasional.
Padahal sejumlah penelitian menyebut Willem Iskander bukan figur kecil. Sati Nasution disebut sebagai pelopor pendidikan modern di Mandailing dan salah satu perintis pendidikan guru bumiputera di Sumatra Utara.[2]
Ironinya, banyak generasi Indonesia bahkan belum pernah mendengar namanya.
Di titik ini, problemnya bukan sekadar tentang Willem Iskander.
Tetapi juga tentang bagaimana Indonesia membangun ingatan nasionalnya.
Sebab, jika sejarah pendidikan hanya berputar pada tokoh tertentu, maka republik ini berisiko lupa bahwa kecerdasan bangsa dibangun dari banyak titik:
* Jawa,
* Sumatra,
* Sulawesi,
* Minangkabau,
* Mandailing,
* Aceh, dan
* wilayah lain.
Mungkin memang sudah waktunya Indonesia mulai membaca sejarah pendidikan dengan peta yang lebih luas. (bersambung)
Referensi:
[1] [Wikipedia — Willem Iskander](https://en.wikipedia.org/wiki/Willem_Iskander?utm_source=chatgpt.com)
[2] [UNY Eprints — Willem Iskander Pelopor Pendidikan di Mandailing Sumatra Utara](https://eprints.uny.ac.id/21625/?utm_source=chatgpt.com)
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

