Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

Bedah Visi Wabup Madina untuk Forum Kolaborasi Bisnis dan Keluarga Tangguh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Episentrum

 

Satu kalimat yang disampaikan Wakil Bupati Mandailing Natal saat menerima Tim Monitoring PKK Provinsi Sumatera Utara layak mendapat perhatian lebih daripada seremoni yang melatarinya. Ketika ia meminta agar produk-produk lokal hadir dalam setiap rapat pemerintahan dan mendorong percepatan legalitas produk UMKM agar mampu menembus pasar modern, sesungguhnya yang muncul bukan sekadar ajakan membeli produk lokal. Di sana tersimpan embrio sebuah visi pembangunan daerah.

Pertanyaannya, apakah visi itu telah menjadi bagian dari kebijakan yang dirancang secara matang, atau masih sebatas gagasan yang menunggu bentuk? Apakah ia sudah diterjemahkan ke dalam dokumen perencanaan, memperoleh dukungan APBD, memiliki target yang terukur, serta penanggung jawab yang jelas? Ataukah baru sebatas pernyataan yang baik untuk didengar, tetapi belum memiliki konsekuensi administratif?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk meragukan kesungguhan pemerintah. Sebaliknya, ia merupakan bentuk penghormatan terhadap sebuah gagasan yang baik agar tidak berhenti sebagai kutipan berita. Gagasan yang baik layak dikawal hingga menjadi kebijakan yang dapat diukur manfaatnya.

Selama ini pemberdayaan UMKM sering terjebak dalam logika proyek. Ukuran keberhasilan lebih banyak dihitung dari jumlah pelatihan, bantuan alat, bazar, atau kegiatan seremonial yang terlaksana. Padahal, yang dibutuhkan pelaku usaha adalah pasar yang terus bergerak, kemudahan memperoleh legalitas, akses pembiayaan, pendampingan usaha, kemasan yang kompetitif, dan jaringan distribusi yang mampu membawa produk lokal keluar dari batas-batas daerah.

Karena itu, jika pemerintah benar-benar ingin menjadikan produk lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri, maka keberpihakan tersebut harus hadir dalam sistem. Belanja pemerintah perlu memberi ruang yang lebih besar kepada produk UMKM lokal. Pengadaan konsumsi rapat, paket cendera mata resmi, kegiatan pemerintahan, hingga promosi daerah dapat menjadi bagian dari strategi membangun pasar domestik bagi pelaku usaha lokal.

Namun, isu ini sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar bisnis.

Produk lokal yang berkembang berarti usaha keluarga bertumbuh. Usaha keluarga yang bertumbuh akan memperkuat pendapatan rumah tangga. Pendapatan yang lebih baik memberi peluang lebih besar bagi keluarga memenuhi kebutuhan pendidikan anak, kesehatan, gizi, dan kualitas pengasuhan. Memang, keharmonisan keluarga tidak semata-mata ditentukan oleh faktor ekonomi. Akan tetapi, ketahanan ekonomi merupakan salah satu fondasi penting yang membantu keluarga menghadapi tekanan hidup.

Di sinilah pembangunan ekonomi bertemu dengan pembangunan keluarga.

Ironisnya, kedua isu tersebut sering berjalan sendiri-sendiri. Program UMKM berada di meja dinas ekonomi. Program ketahanan keluarga berada di PKK atau perangkat lain yang mengurus pemberdayaan masyarakat. Program pengentasan kemiskinan memiliki jalurnya sendiri. Padahal semuanya berbicara tentang subjek yang sama, yakni keluarga.

Karena itu, Mandailing Natal membutuhkan lebih dari sekadar program. Daerah ini membutuhkan sebuah ekosistem kolaborasi.

Sudah saatnya pemerintah daerah menginisiasi sebuah Forum Kolaborasi Bisnis dan Keluarga Tangguh yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, pelaku UMKM, perbankan, perguruan tinggi, media, organisasi masyarakat sipil seperti Gerep Institute dan Madina Kreatif, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Forum tersebut bukan dimaksudkan sebagai ruang seremonial, melainkan tempat meninjau secara terbuka kondisi UMKM Mandailing Natal, memetakan hambatan, mengukur efektivitas program yang sudah berjalan, menyelaraskan kebijakan lintas sektor, serta merumuskan agenda bersama yang didukung regulasi, anggaran, dan komitmen semua pihak.

Yang dibutuhkan bukan sekadar kritik terhadap “mental proyek”, melainkan keberanian mengubah orientasi pembangunan. Dari mengejar terserapnya anggaran menuju tercapainya dampak. Dari banyaknya kegiatan menuju bertambahnya keluarga yang mandiri. Dari keberhasilan administratif menuju keberhasilan sosial dan ekonomi.

Apabila gagasan yang disampaikan Wakil Bupati benar-benar dikembangkan menjadi kebijakan yang terencana dan kolaboratif, maka ia dapat menjadi salah satu pijakan penting bagi pembangunan Mandailing Natal. Bukan semata karena produk lokal mendapat tempat di meja-meja rapat pemerintahan, melainkan karena dari meja-meja itulah lahir kebijakan yang mampu menguatkan ekonomi keluarga, memperluas kesempatan berusaha, dan pada akhirnya membangun masyarakat yang lebih tangguh.

Sebuah visi akan dikenang bukan karena pernah diucapkan, melainkan karena berhasil diwujudkan. Dan setiap visi yang baik akan selalu membutuhkan ruang dialog, keberanian berkolaborasi, serta kesediaan semua pihak untuk mengawalnya bersama. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Dituntut Tempatkan Guru di Sinunukan dan Batahan

    Pemkab Dituntut Tempatkan Guru di Sinunukan dan Batahan

    • calendar_month Kamis, 9 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Dewan Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Natal dan Batang Natal (DPP Ima Nabana) menggelar seminar tentang perkembangan daerah Nabana pasca 11 tahun mekarnya Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dari Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Dalam seminar yang dilakukan di Kecamatan Sinunukan, Minggu (5/12), ini disebutkan, Pemkab dituntut untuk menempatkan guru di Kecamatan Sinunukan dan Batahan, agar kualitas […]

  • Bentrok Batang Toru ditunggangi dosen

    Bentrok Batang Toru ditunggangi dosen

    • calendar_month Kamis, 8 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, (MO)- Seorang dosen dari Padang Sidempuan terindikasi menjadi otak pelaku bentrok antar petugas kepolisian dan warga Batang Toru yang memprotes adanya penanaman pipa pembuangan air sisa (limbah) proses penambangan PT Agincourt Resources. Hal itu tercetus dari pemeriksaan pihak Polda Sumut terhadap beberapa warga yang diamankan sebagai tersangka pengrusakan dan pembakaran Mapolsek dan kantor Camat […]

  • 4,7 Juta Rupiah Terkumpul Untuk Kurniawan Bocah Tanpa Anus

    4,7 Juta Rupiah Terkumpul Untuk Kurniawan Bocah Tanpa Anus

    • calendar_month Kamis, 26 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)  – Bantuan kepada Karniawan, bocah usia 15 bulan yang mengalami penyakit Atresia (lahir tanpa lobang anus, red) terus mengalir. Beberapa pimpinan media masaa dan organisasi mahasiswa serta organisasi kepemudaan menyerahkan bantuan dana kepada kepada orangtua Karniawan, Kamis (26/5) di RSU Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) Karniawan yang berasal dari Muara Bangko, Kecamatan Ranto […]

  • Ribuan Warga Blokir Jalinsum, Tuntut SMGP Angkat Kaki Dari Madina

    Ribuan Warga Blokir Jalinsum, Tuntut SMGP Angkat Kaki Dari Madina

    • calendar_month Selasa, 11 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ribuan  warga dari lima kecamatan di Mandailing Natal (Madina) menutup jalur negara atau jalan lintas sumatera, Selasa ( 11/11) menuntut pemerintah agar mengeluarkan PT.Sorik Marapi Gheotermal Power (SMGP) dari Madina. Gerakan masyarakat 5 kecamatan ini merupakan lanjutan dari aksi-aksi unjukrasa sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan situasi investasi eksplorasi panas bumi bagi […]

  • Kota Panyabungan Sarang Sampah dan Bau Busuk

    Kota Panyabungan Sarang Sampah dan Bau Busuk

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bendungan Aek Mata yang melintasi inti kota Panyabungan kondisinya sangat kotor akibat sampah menumpuk mengakibatkan wajah ibu kota Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ini rusak dan terkesan tidak terurus. Sampah yang menumpuk di bendungan ini akibat warga kota Panyabungan belum siap secara mental dan cultural menjaga keindahan kota serta parahnya manajemen pengelolaan […]

  • Merusak Konstruksi Tanah, Tinjau Ulang Izin PT BME di Siabu

    Merusak Konstruksi Tanah, Tinjau Ulang Izin PT BME di Siabu

    • calendar_month Sabtu, 7 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN, Secara empiris semua perusahaan tambang pasti akan merusak lingkungan, terutama tambang emas, batubara dan timah, karena bahan tambangnya ada di perut bumi yang harus dibor atau digali baik secara manual maupun secara modern. “ kibatnya kontruksi tanah pegunungan dan lingkungan hidup lainnya akan rusak baik hutan, batuan dan sumber daya alam hayati, flora dan […]

expand_less