Belajar dari Literasi Iran yang Mengguncang Dunia
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 2 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)
Ketidaktundukan Iran terhadap agresor Amerika Serikat dan Israel dibuktikan dengan ketahanan luar biasa mereka dalam perang terbuka yang sudah berlangsung selama kurun waktu empat bulan terakhir, sejak serangan gabungan meletus akhir Februari lalu. Di bawah ribuan bahkan jutaan hujan bom yang melumpuhkan berbagai infrastruktur penting, Iran menolak bertekuk lutut dan malah sebaliknya justru terus memperlihatkan taji militernya yang mandiri. Dari ketahanan mental dan fisik yang luar biasa mereka di tengah desing peluru inilah, lahir sebuah tulisan ringan ini, sebuah upaya kecil untuk meneropong hulu kekuatan mereka yang sebenarnya ternyata bukan terletak di dalam bungker-bungker rahasia, melainkan di ruang-ruang kelas dan laboratorium.
Siapapun orangnya dipastikan kaget melihat bagaimana Iran punya nyali sebesar itu untuk berdiri tegak menghadapi kepungan kekuatan raksasa global. Perang yang dalam kalkulasi Amerika Serikat hanya membutuhkan tiga atau empat hari untuk membuat Iran menyerah nyatanya malah berlangsung dalam hitungan bulan hingga saat ini. Sesuatu yang diluar nalar rasional mereka.
Dalam panggung perang asimetris hari ini, lompatan teknologi Iran justru semakin “gila-gilaan”. Di saat akses pasokan dari luar dikunci rapat, mereka malah sanggup memproduksi massal drone kamikaze Shahed yang super presisi, menguasai ruang siber, hingga meluncurkan rudal balistik hipersonik. Daya kejut geopolitik ini menyisakan satu teka-teki besar bagi para pakar sains dan teknologi dunia, dari mana datangnya pasokan otak encer di negeri yang puluhan tahun diisolasi ini?
Jawabannya ada pada revolusi pendidikan dan literasi berskala masif yang diam-diam mereka rawat sejak lama.
Puluhan dekade mereka diembargo dari segala sudut, dikepung sangsi keuangan dan yang lainnya seakan tidak nyata pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat, dirasakan ya tapi tidak untuk dikeluhkan apalagi untuk diratapi. Ketika transaksi keuangan global disumbat selama puluhan tahun, sel-sel terkecil kehidupan bermasyarakat bawah dipaksa “kurang gizi” secara sistemik. Mulai dari langka dan mahalnya obat-obatan, rantai pangan yang terganggu, hingga kertas yang sempat bertransformasi jadi barang mewah.
Secara sosiologis, tekanan berat seperti ini seharusnya membuat masyarakat frustrasi dan hancur total. Namun faktanya semua hambatan itu malah menjadi pemicu untuk melakukan terobosan dan lompatan sehingga anak muda Iran malah mencatatkan angka literasi yang justru meroket kokoh mendekati 98 persen.
Kalau mau paham kenapa Iran punya kalkulasi nyali sekuat itu, kita harus melihat siapa orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan mereka. Di saat banyak negara diisi oleh politisi yang cuma modal tenar, instan atau punya modal besar, namun justru sistem pemerintahan Iran dijalankan oleh jaringan teknokrat berpendidikan tinggi yang sangat ketat.
Faktanya, sebagian besar pejabat di jajaran menteri, anggota legislatif, sampai komando militer Iran adalah orang-orang yang sudah “kenyang” makan bangku kuliah tingkat lanjut. Jajaran menteri mereka didominasi lulusan S2 and Ph.D (Doktor) dari kampus-kampus top, sementara lebih dari separuh anggota parlemen mengantongi gelar akademik pascasarjana.
Bukti paling nyata bisa melihat langsung pada pemimpin eksekutif mereka hari ini. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sama sekali bukan politisi karier biasa, melainkan seorang profesor dan dokter spesialis senior di bidang bedah jantung dan pembuluh darah (cardiovascular surgeon).
Di tengah perang yang masih berkecamuk, beliau ini sesekali masih terpantau turun langsung ke ruang operasi rumah sakit. Saya dan mungkin juga anda sempat beberapa kali melihat video dan foto otentik saat sang presiden memakai baju jubah hijau khas ruang operasi yang belakangan viral di berbagai media sosial dunia. Nyatanya memang beliau masih aktif sebagai dokter.
Jadi jangan heran kalau jajaran birokrat di bawahnya termasuk para menteri dan diplomat yang sering debat di forum internasional atau wara-wiri di media digital adalah orang-orang dengan gelar Ph.D yang fasih membaca data riset. Ketika negara diurus oleh sekumpulan akademisi, kebijakan menghadapi embargo tidak lagi diambil pakai insting politik atau emosi sesaat, tapi dirumuskan lewat hitung-hitungan ilmiah yang presisi. Nyali besar Iran itu lahir dari kalkulasi otak yang matang, bukan sekadar nekat mencari mati.
Kombinasi otak encer ini makin lengkap kalau kita melihat sosok Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang wajahnya sumringah dan dihasiasi dengan senyum tipisnya. Ketenangan dan ketampanannya sering dibicarakan di jagat media sosial dunia.
Jangan terkecoh dengan pembawaannya yang “cool” saat menghadapi cecaran wartawan Barat. Di balik performa diplomasi digitalnya yang memikat di platform global, Araghchi adalah jebolan tulen perguruan tinggi top dengan kualifikasi akademik yang sangat mentereng. Ia bukan diplomat “karbitan”, melainkan seorang sarjana Hubungan Internasional dari Teheran yang kemudian terbang ke Inggris untuk menyelesaikan gelar Master (S2) hingga Ph.D (Doktor/S3) di bidang Politik Internasional dari Universitas Kent.
Akibat embargo yang sudah puluhan tahun tersebut mengakibatkan begitu banyak transaksi perbankan internasional diblokir, kampus-kampus di Iran langsung kehilangan akses untuk berlangganan sejumlah jurnal ilmiah internasional, sama sekali tidak bisa membeli perangkat lunak (software) berlisensi, dan yang paling fatal sama sekali kesulitan memesan suku cadang laboratorium canggih.
Kondisi inilah yang membuat dunia akademik mereka sempat “batuk-batuk, sebuah situasi di mana institusi pendidikan dipaksa bernapas dan berkembang tanpa pasokan informasi segar dari dunia luar.
Di tingkat bawah, efek domino sanksi memicu inflasi “gila-gilaan” yang membuat harga barang kebutuhan pokok melonjak. Kertas bahkan sempat jadi barang mewah yang mahal sekali. Buku teks, gadget buat belajar, sampai biaya ujian sertifikasi internasional kayak TOEFL atau IELTS harganya selangit dan susah dijangkau sama kantong masyarakat kelas pekerja.
Belum lagi ditambah aturan luar negeri yang sengaja mempersulit visa buat pelajar Iran karena kampus luar negeri secara sepihak membatalkan kerja sama antar kampus. Iran, negeri para mullah yang dari dulu terkenal dengan sejuta hikayat, dongeng seribu satu malam, dan warisan mistisisme Persia yang legendaris, sama sekali tidak mengalami kemunduran berpikir namun justru sedang membangun hikayat modren.
Secara sederhana ilmu fisika memberi pelajaran nyata, tekanan tinggi di ruang tertutup tidak selamanya selalu menghancurkan benda di dalamnya. Namun adakalanya tekanan itu justru membuat strukturnya makin padat dan keras. Masyarakat Iran juga demikian. Kondisi serba sulit itu justru melahirkan cara bertahan hidup yang sangat unik di masyarakat.
Bagi orang-orang keturunan Persia, sastra itu bukan cuma hiburan orang kaya, tapi sudah jadi DNA mereka. Sangsi dunia membuat mereka tidak punya banyak pilihan hiburan modern, karena itu orang Iran memilih “berlibur” melihat ke dalam diri sendiri: mereka pulang ke rumah sastra mereka. Tradisi membaca puisi-puisi karya penyair klasik seperti Hafez, Rumi, dan Ferdowsi menjadi “santapan” di ruang tamu bersama keluarga untuk menjadi obat penenang jiwa sekaligus cara menjaga budaya. Di sinilah literasi naik kelas, membaca bukan lagi sekadar urusan mengeja huruf di atas kertas, tapi sudah jadi bentuk perlawanan batin agar tidak “stres” karena diisolasi dunia.
Karena tidak memiliki hubungan dengan dunia luar, para dosen, insinyur, dan guru-guru lokal terpaksa memutar otak untuk membuat ekosistem sendiri. Industri penerbitan lokal langsung bergerak maju melakukan penerjemahan massal terhadap buku-buku sains dunia ke dalam bahasa Persia supaya mahasiswa dan kalangan akademisi tidak ketinggalan ilmu.
Dunia digital juga sama. Begitu akses ke software Barat diblokir, komunitas ahli komputer Iran ramai-ramai mengembangkan perangkat lunak berbasis open source (sumber terbuka) dan menciptakan platform belajar daring lokal. Mereka awalnya terpaksa mandiri sebelum waktunya, tapi keterpaksaan ini justru menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Ketanngguhan mereka menjadi nyata.
Di balik semua cerita tentang bagaimana “survival” itu terjadi, kejutan paling dashat sebenarnya datang dari kaum perempuannya. Selama puluhan tahun berita-berita media Barat selalu penuh dengan narasi ekstrim, menggambarkan perempuan Iran sebagai korban yang terkurung di dalam rumah, lemah, tidak memiliki daya, pasif, dan ruang geraknya dikunci rapat oleh aturan agama yang kaku. Tapi kalau kita lihat data aslinya di lapangan, cerita itu langsung patah semua.
Bagi perempuan Iran, memiliki pendidikan tinggi adalah cita-cita yang dipergunakan untuk senjata utama untuk meretas kemiskinan, kebodohan sekaligus modal untuk menentukan nasib mereka sendiri. Berdasarkan data resmi UNESCO terbaru, angka literasi di kalangan anak muda perempuan di Iran sudah menembus angka yang bikin geleng-geleng kepala yakni 99 persen. Angka ini bukan cuma modal bisa baca papan pengumuman di jalan, tapi tiket masuk ke jenjang pendidikan tinggi.
Sekitar 60 sampai 65 persen kursi kuliah di universitas-universitas Iran hari ini justru diisi kaum perempuan. Yang lebih hebat lagi, data dari UNESCO dan World Bank menunjukkan bahwa perempuan Iran mendominasi 65 hingga 70 persen lulusan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Di dunia medis pun sama, sekitar 60 persen dari total dokter dan tenaga kesehatan di sana adalah perempuan. Ini adalah sebuah angka yang bahkan mengalahkan statistik pendidikan di beberapa negara maju di Barat.
Ada satu hal psikologis yang menarik dari fenomena ini yakni hilangnya rasa takut mereka terhadap perang fisik. Bagi perempuan Iran modern yang dari kecil sudah kenyang terhadap urusan embargo, desing peluru, atau ancaman serangan siber, urusan perang fisik tidak membuat mental mereka ciut.
Justru, ketakutan terbesar yang sering lewat di kepala mereka adalah kalau konflik geopolitik ini membuat waktu dan kesempatan mereka untuk belajar jadi makin sempit. Mereka tidak takut kehilangan barang-barang mewah, tapi mereka cemas kalau ruang riset, akses perpustakaan, dan waktu buat mengkaji ilmu jadi terganggu gara-gara perang. Pendidikan di mata mereka sudah berubah; bukan lagi sekadar formalitas cari ijazah, tapi sebuah benteng pertahanan hidup. Satu-satunya harta yang tak bakal bisa disita oleh sanksi internasional, dan tak bakal hancur meski dijatuhin bom oleh musuh.
Ketika kita memandang Iran dengan segala kedigdayaan otaknya di tengah cekikan dunia, cermin besar itu mendadak berbalik ke arah kita, Indonesia. Kontradiksi yang tersaji sungguh teramat pedih dan “menampar” wajah bangsa kita sendiri.
Bayangkan saja, negara yang dikepung sanksi, uangnya diisolasi, kertasnya mahal, dan ruang gerak akademisnya disumbat. Tapi anak mudanya “gila” belajar, perpustakaannya penuh, dan universitasnya melahirkan jajaran doktor penemu teknologi militer.
Sementara kita di Indonesia? Aman dari desing peluru, punya kekayaan alam melimpah, bebas berdagang dengan siapa saja di dunia, internet kita cepat, akses buku impor terbuka lebar, dan ponsel canggih ada di genggaman hampir setiap anak. Namun, apa yang terjadi dengan isi kepala bangsanya?
Tentu saja merasa miris jika melihat realitas di sekitar lingkungan kita sendiri. Tingkat literasi sangat rendah. Kita adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial paling banyak dan paling “cerewet” sedunia, tapi ironisnya, menurut data PISA (Programme for International Student Assessment), tingkat literasi membaca anak-anak kita konsisten jeblok di papan bawah global. Kita punya akses tak terbatas pada informasi, tapi rata-rata anak muda kita lebih betah menghabiskan waktu berjam-jam menonton konten hiburan dangkal, terjebak lingkaran setan judi online, narkoba merajalela, penyakit sosial tak terbendung atau tawuran massal dipicu provokasi receh di grup WA.
Kontradiksi yang paling ironis juga terlihat jelas pada struktur elite kekuasaan. Ketika pucuk pimpinan di Iran diisi oleh jajaran profesor dan ilmuwan bergelar Ph.D yang terbiasa adu argumen memakai data ilmiah namun panggung politik Indonesia hari ini justru makin akrab dengan pragmatisme instan. Syarat menjadi pemimpin atau pejabat publik di negara kita tidak lagi menuntut kedalaman isi kepala, melainkan seberapa tebal modal finansial, seberapa kuat jaringan dinasti, atau seberapa viral “gimik” politik yang bisa dijual di media sosial demi mendulang popularitas. Kebijakan publik sering kali lahir dari kompromi politik jangka pendek atau bagi-bagi jatah kekuasaan, bukan dari hasil kajian sains yang mendalam.
Ini adalah sebuah paradoks pembangunan manusia yang sangat telanjang. Iran membuktikan bahwa kemiskinan materi akibat embargo luar tidak bisa melumpuhkan bangsa yang isi kepalanya kaya. Sementara Indonesia menjadi peringatan nyata bahwa kelimpahan materi dan kebebasan fisik sama sekali tidak akan ada gunanya jika masyarakatnya mengalami kemiskinan berpikir.
Kita benar-benar perlu belajar lebih jauh, lebih dalam, dan lebih serius tentang arti literasi dari Iran. Kita harus sadar bahwa musuh terbesar yang bisa menghancurkan masa depan sebuah bangsa bukan hanya soal embargo ekonomi atau serbuan militer dari luar, melainkan kebodohan, rasa malas membaca, dan kedangkalan berpikir yang kita rawat sendiri di dalam rumah kita.
Wallohu Aqlam Bisshawab.
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

