Jumat, 9 Okt 2026
light_mode

Ray Rangkuti: Hentikan Politisasi Sepakbola

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
  • print Cetak


JAKARTA – Prestasi timnas sepakbola Indonesia yang berhasil sampai ke final piala AFF 200 tak pelak mengundang meningkatnya animo masyarakat Indonesia.

ak luput di antaranya para politisi yang kini seolah mulai berlomba mencuri keuntungan politik dari kemenangan-kemenangan menawan tim nasional. Mulai dari klaim sepihak Presiden SBY yang menyatakan keberhasilan tim nasional adalah kongres pesepakbola yang digagas oleh beliau dilanjutkan dengan nonton bareng ke stadion Senayan hingga jamuan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Melihat gelagat tak sehat tersebut sebaiknya masyarakat Indonesia harus menyatakan secara serentak menolak politisasi timnas Indonesia.

“Selain untuk jangka pendek dan panjang akan dapat merusak kinerja timnas, juga cara-cara murahan mencari popularitas diri dan parpol harus ditolak,” ujar Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti dalam pesan singkatnya, Sabtu(25/12/2010).

Menurut Ray, kemenangan timnas merupakan hasil kinerja rakyat Indonesia yang selalu setia dalam kondisi apapun timnas, memberi dukungan dan perhatian tulus.

Oleh karena itu sudah sejatinya kemenangan-kemenangan menawan timnas ini juga dikembalikan kepada rakyat Indonesia.

“Para politisi sejatinya belajar dari rakyat Indonesia bagaimana cara mencintai negeri ini tanpa pamrih. Berduyun-duyun dengan tangan, kaki dan keringat sendiri, rakyat Indonesia berebut tiket di Istora Senayan agar dapat memberi dukungan secara langsung kepada para pemain,” jelasnya.

Bahkan untuk tujuan itu,lanjut Ray, rakyat Indonesia menjual bahkan sesuatu yang paling penting dalam hidupnya. Datang ke Senayan lalu berhimpitan dan berdesakan sejak pagi untuk sekadar mendapatkan satu atau dua tiket sejak pagi hingga kadang malam hari.

“Merekalah pecinta sejati timnas tanpa harus merasa tampil sebagai pemberi jasa. Politisi kita alih-alih belajar dari sikap satria rakyat Indonesia itu, kini, dengan cara murahan mereka mulai berlomba memperlihatkan seolah paling berjasa dalam membangun timnas. Itu sesuatu yang mereka kerjakan tanpa keringat dan kesulitan yang dahsyat seperti yang dilakukan para pecinta sepakbola Indonesia,” jelasnya.

Lebih jauh Ray melanjutkan, ada hal ironis yang ditunjukkan oleh mereka para politisi, bahkan untuk menonton di Istora dan Bukit Jalil, Kuala Limpur pun mereka meminta fasilitas khusus.

“Kalau tidak tiket gratis setidaknya pelayanan mendapatkan tiket secara mudah tanpa keringat. Itu cara mencintai timnas secara licik, murahan dan tidak bermoral,” tandasnya.
Sumber : Tribun

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yonif 100/Raider Gelar Glalap

    Yonif 100/Raider Gelar Glalap

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Batalyon Infanteri 100/Raider sebagai batalyon pemukul Kodam I/Bukit Barisan yang memiliki semboyan cepat, senyap dan tepat, dituntut selalu cepat dalam melihat perkembangan situasi, senyap dalam mendekati sasaran dan tepat dalam penanggulangan ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan. Demikian ditegaskan Pangdam I/BB Mayjen TNI Leo Siegers yang bertindak sebagai Irup pada Upacara Pembukaan Geladi Lapangan (Glalap) […]

  • Warga Madina Dihimbau Menunda “Horja”

    Warga Madina Dihimbau Menunda “Horja”

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Segenap warga Mandailing Natal yang sudah merencanakan resepsi pernikahan atau “Horja” agar ditunda. Penundaan “mambaen horja” ini satu dari 8 poin himbauan yang tertuang dalam Keputusan Bersama Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tertanggal 27 Maret 2020. Himbauan itu diterbitkan Forkopimda Mandailing Natal mencermati perkembangan terkini Covid-19. Tujuh […]

  • Pemkab Paluta Beres-beres Dapur, Kunjungan Kemenkes Sepi Publikasi

    Pemkab Paluta Beres-beres Dapur, Kunjungan Kemenkes Sepi Publikasi

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Ada suasana yang berbeda di Pemkab Paluta belakangan ini. Geraknya ada. Agendanya padat. Pejabat datang dan pergi. Birokrasi dirapikan. Tetapi semuanya berjalan dengan nada rendah — tidak terlalu gaduh di ruang publik. Termasuk saat tamu dari Kementerian Kesehatan RI datang ke Paluta. Aneh memang. Untuk ukuran daerah, kunjungan kementerian […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 29)

    MARSIDAO-DAO (episode 29)

    • calendar_month Jumat, 10 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara I Huta Donok, tar pukul 5.40 kehe si Pikek maridi tu tapian; Si Poso parorot anggina i bagas. Tarsigop do alai ngot na, harana pature anggina nibaen inangna na kehe mangomo marsidao-dao tu huta balian. Muli tingon tapian, oban do Si Pikek aek sa ember ambaen paridian anggina i […]

  • Harga Karet Tembus Rp19 Ribu per Kg

    Harga Karet Tembus Rp19 Ribu per Kg

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-Para petani karet di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) saat ini sepertinya dapat tersenyum. Pasalnya, harga karet di Pasar Simangambat, Kecamatan Siabu, Jumat (4/2), menembus Rp19 ribu per kilogram (kg). Muhammad Ikhwan Nasution (40), warga Kelurahan Simangambat saat ditemui METRO usai menjual karetnya menuturkan, sejak beberapa pekan terakhir ini, harga karet yang dijualnya di Simangambat terus […]

  • PENDIDIKAN YANG MERAKYAT

    PENDIDIKAN YANG MERAKYAT

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      (Refleksi Hari Pendidikan Nasional)   Oleh:  Abdul Mujib Nasution Dosen STAIM dan IAIN Padang Sidimpuan   Willem Iskandar, tokoh pendidikan berskala nasional jauh sebelum Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, beliau sudah mendirikan lembaga pendidikan untuk menghasilkan guru yang berbasis kerakyatan di tahun 1862. Selain seorang seniman, penulis dan tokoh publik pada masa itu, […]

expand_less