Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

APAKAH MEDAN MEDIA KONTEMPORER BUTUH UPAYA “DEKONSTRUKSI”?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
  • print Cetak

 

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution
Pegiat di Gerep Institute

 

 

Ketika Algoritma, Modal, dan Kuasa Mengubah Cara Kita Memahami Pers

“Barangkali yang sedang mengalami krisis bukan media, melainkan cara kita memahami media”.

Setiap kali kualitas pemberitaan dipersoalkan, jawaban yang muncul hampir selalu sama.

Wartawannya harus lebih profesional. Etika jurnalistik harus ditegakkan. Kode etik harus dipatuhi. Uji Kompetensi Wartawan perlu diperluas.

Semua itu benar.

Tetapi mengapa, setelah berbagai instrumen profesionalisme dibangun, kegelisahan publik terhadap media tidak juga benar-benar hilang?

Mengapa masyarakat semakin mudah menuduh media berpihak?

Mengapa berita yang sama melahirkan penafsiran yang saling bertolak belakang?

Mengapa media yang sama dapat dipuji sebagai penjaga demokrasi oleh satu kelompok, tetapi dianggap corong kepentingan oleh kelompok lainnya?

Mungkin persoalannya bukan lagi sekadar kualitas jurnalistik. Mungkin, yang perlu kita pertanyakan adalah paradigma yang selama ini kita gunakan untuk memahami media.

***

Selama puluhan tahun, media dipahami sebagai institusi yang memproduksi dan mendistribusikan informasi.

Paradigma ini lahir ketika ruang publik masih relatif sederhana. Media menghasilkan berita. Masyarakat membaca. Dan, negara membuat pengaturan.

Hubungan di antara ketiganya masih dapat dipetakan secara jelas.

Namun, dunia telah berubah. Hari ini, berita tidak lagi hanya diproduksi oleh perusahaan pers. Bahkan, setiap pemilik telepon pintar dapat menjadi penyiar. Setiap akun media sosial dapat menjadi ruang pemberitaan.

Setiap unggahan dapat menjangkau jutaan orang tanpa pernah melewati meja redaksi.

Dalam situasi seperti itu, apakah definisi lama tentang media masih cukup?

***

Di sinilah filsuf Prancis Jacques Derrida menawarkan pelajaran penting.

Melalui gagasan dekonstruksi, Derrida mengingatkan bahwa makna tidak pernah benar-benar final. Sebuah teks selalu terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsir. Bahasa tidak hanya menyampaikan kenyataan; ia juga membentuk cara kita memahami kenyataan.

Dalam dunia media, pelajaran ini terasa sangat relevan.

Sebuah fakta yang sama dapat melahirkan banyak judul. Satu peristiwa dapat disusun menjadi berbagai narasi. Pilihan kata (diksi), urutan informasi (formasi piramida terbalik), foto yang digunakan, bahkan kalimat pembuka (lead), semuanya memengaruhi cara publik memaknai sebuah berita.

Artinya, media tidak sekadar mencerminkan realitas. Media juga mengonstruksi realitas.

Karena itu, kajian yang berhenti pada Derrida saja belum cukup. Sebab, persoalan media bukan hanya persoalan bahasa.

Media juga merupakan persoalan relasi-kuasa.

***

Di titik inilah pemikiran Michel Foucault menjadi penting.

Foucault mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu.

Siapa yang menentukan apa yang disebut sebagai kebenaran?

Baginya, kebenaran tidak pernah berdiri di luar relasi kuasa. Setiap zaman memiliki “rezim kebenarannya” sendiri, yakni seperangkat mekanisme yang menentukan pengetahuan mana yang dianggap sah, siapa yang dipercaya berbicara, dan narasi apa yang memperoleh ruang paling luas.

Jika gagasan ini dibawa ke dunia media kontemporer, kita akan melihat perubahan yang sangat besar.

Dahulu, redaksi menjadi gerbang utama informasi.

Tapi, hari ini, algoritma platform digital ikut menentukan berita mana yang muncul di layar masyarakat. Jika istilah tiras masih ada, algoritma juga menentukan tiras sebuah media.

Keputusan editorial tidak lagi menjadi satu-satunya penentu. Distribusi informasi kini juga ditentukan oleh mesin, pola konsumsi audiens, dan logika ekonomi perhatian. Dengan kata lain, medan kuasa media telah bergeser.

***

Perubahan itu juga dirasakan oleh media lokal.

Seperti di Mandailing Natal, media tidak lagi hanya bersaing dengan media nasional. Media (online) juga bersaing dengan media sosial, kanal video, grup percakapan, hingga pembuat konten independen.

Persaingan yang muncul tidak lagi sekadar memperebutkan berita.

Media juga bersaing memperebutkan perhatian publik. Akibatnya, ukuran keberhasilan itu sering bergeser.

Kini, kualitas informasi juga dinilai dari jumlah klik. Kedalaman analisis bergeser ke kecepatan unggahan. Indikator kepercayaan publik berubah menjadi jangkauan algoritma.

Di sinilah sesungguhnya kritik terhadap media mulai semakin tajam. Bukan karena wartawan kehilangan kemampuan. Melainkan karena lingkungan (ekosistem) tempat media beroperasi telah berubah secara radikal.

***

Karena itu, barangkali, yang perlu didekonstruksi bukanlah media sebagai institusi. Tetapi, asumsi-asumsi lama kita perlu dikoreksi.

Asumsi bahwa media adalah satu-satunya produsen informasi. Bahwa ruang redaksi merupakan pusat kekuasaan informasi. Objektivitas berarti bebas dari nilai.

Begitu juga asumsi bahwa profesionalisme individu secara otomatis melahirkan institusi yang sehat.

Sekarang, semua asumsi itu patut dipertanyakan kembali. Dikoreksi bukan untuk ditolak seluruhnya. Tetapi, untuk dibaca ulang sesuai dengan realitas zaman.

***

Lalu, apa yang harus dipertahankan? Di sinilah dekonstruksi sering disalahpahami.

Dekonstruksi bukanlah ajakan menghancurkan. Ia adalah upaya membongkar bangunan lama agar kita mengetahui bagian mana yang masih kokoh dan bagian mana yang harus diperbarui.

Dari dekonstruksi itu, kita bisa mengetahui bahwa media tetap membutuhkan etika. Tetap membutuhkan independensi. Mengharuskan verifikasi. Menuntut tanggung jawab sosial.

Akan tetapi, semuanya kini harus dijalankan dalam lanskap yang jauh lebih kompleks. Medan media itu tidak lagi seperti cerita pada saat pertama kali teori-teori klasik komunikasi dirumuskan.

***

Ekosistem media di Mandailing Natal memberi pelajaran yang menarik. Daerah ini memperlihatkan bagaimana media lokal harus menjalankan fungsi sosialnya di tengah pasar yang terbatas, kedekatan relasi sosial yang tinggi, dinamika politik lokal yang intens, serta kompetisi digital yang terus berkembang.

Ia menjadi laboratorium kecil yang menunjukkan bahwa tantangan media bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan ketahanan institusi.

Karena itu, masa depan media lokal tidak cukup dijawab dengan memperbanyak pelatihan jurnalistik dan UKW.

Tidak cukup pula dengan memperkuat perusahaan pers semata melalui SPS, SMSI dan JMSI.

Yang dibutuhkan adalah paradigma baru yang dapat memandang media sebagai institusi adaptif.

Institusi yang mampu menjaga empat keseimbangan sekaligus:

  1. Keseimbangan antara fakta dan kecepatan.
  2. Antara bisnis dan tanggung jawab sosial.
  3. Antara kebebasan dan akuntabilitas, serta
  4. Antara inovasi teknologi dan integritas jurnalistik.

***

Mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya apakah media sedang mengalami krisis.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah cara kita memahami media masih sesuai dengan kenyataan yang sedang kita hadapi?

Jika jawabannya tidak, maka dekonstruksi bukan lagi pilihan akademik.

Ia menjadi kebutuhan praktis.

Bukan untuk meruntuhkan pers.

Melainkan untuk memastikan bahwa di tengah perubahan teknologi, tekanan ekonomi, dan perebutan ruang publik, media tetap mampu menjalankan amanah terbesarnya, yakni:

Menjadi institusi yang menjaga kualitas demokrasi dengan membangun kepercayaan, bukan sekadar memproduksi perhatian.

Sebab, pada akhirnya, masa depan media tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya. Ia ditentukan oleh keberaniannya memperbarui cara berpikir tentang dirinya sendiri. ***

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kabid Dikmenum Mustamin Adakan Rapat Kerja

    Kabid Dikmenum Mustamin Adakan Rapat Kerja

    • calendar_month Jumat, 1 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA (Berita): Seluruh kepala sekolah SMP dan SMK sederjat hadiri rapat kerja untuk meningkatkan mutu pelajaran disekolah untuk menghadapi ijian-ujian yang kan datang pada tahun 2010/ 2011 dan untuk meningkatkan proses belajar mengajar yang lebih baik, mencetak siswa yang handal dan propesional untuk menuju masa depan siswa yang cerah di masa yang akan datang. Seluruh […]

  • Siswi SMP Prostitusi Ini Juga Jual Kakak Kandungnya

    Siswi SMP Prostitusi Ini Juga Jual Kakak Kandungnya

    • calendar_month Senin, 10 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SURABAYA – NA (15), siswi SMP di Surabaya yang berprofesi sebagai mucikari ternyata tidak hanya menjual rekannya sendiri sesama siswi SMP kepada lelaki hidung belang. Dia juga menjual kakak kandungnya sendiri yang usianya tidak beda jauh dengannya. Kakak kandung tersangka ternyata juga ditangkap bersama dua korban lainnya di sebuah hotel di Jalan Darmokali Surabaya, pekan […]

  • Polisi Masih Kepung LBH Medan, Kejar Tersangka Pembakaran di Sorikmas Mining Madina

    Polisi Masih Kepung LBH Medan, Kejar Tersangka Pembakaran di Sorikmas Mining Madina

    • calendar_month Jumat, 3 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN: Polda Sumut berkeras terus mengepung Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan sebelum diserahkannya dua orang yang teridentifikasi sebagai tersangka kasus pembakaran camp PT Sorikmas Mining di Mandailing Natal (Madina). Sementara beberapa pihak berharap pengepungan itu dihentikan dan dilanjutkan dengan cara dialog. Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut AKBP Raden Heru Prakoso menegaskan, personil dari […]

  • KSAD: Status Waspada jika Selisih Hasil Pilpres Kurang dari Lima Persen

    KSAD: Status Waspada jika Selisih Hasil Pilpres Kurang dari Lima Persen

    • calendar_month Minggu, 6 Jul 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    TNI menyebut status waspada jika selisih suara hasil pemilihan presiden (pilpres) 9 Juli besok antara pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK hanya di bawah lima persen. "Kalau selisih nya dibawah lima persen kita waspada, kalau di atas lima persen aman," jelas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Budiman usai menggelar teleconference bersama KPU, Bawaslu dan 17 Pangdam […]

  • HISTORISME MANDAILING

    HISTORISME MANDAILING

    • calendar_month Kamis, 13 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Askolani Nasution Budayawan Mandailing Pengantar Nama Mandailing acapkali diletakkan pada kerangka historis yang tidak sesuai. Peletakan itu tentu karena tidak pernah melalui kajian sejarah dan arkeologi yang relevan. Hal itu yang menyebabkan distorsi sosial dalam berbagai kebutuhan. Historime Mandailing Tentu tidak mudah untuk menentukan kapan manusia dan kebudayaan Mandailing muncul pertama kali di […]

  • Yos Kunjungi Kantor SMSI Madina

    Yos Kunjungi Kantor SMSI Madina

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA-Mandailing Online : pelaksana tugas Kejaksaan Negeri Mandailing Natal Yos A Tarigan  datangi kantor Serikat Media Siber Indonesia ( SMSI ) Mandailing Natal ( Madina ). Ia datang selain sebagai Kepala Kejaksaan juga merasa sebagai bagian dari journalis karena belaiu awal kiprah sebelum menjadi jaksa pernah begelut di dunia journalis. Didepan anggota SMSI, Yos yang […]

expand_less