MERAH PUTIH DARI PASUNDAN
- account_circle Dr. Daud Batubara
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak
(Refleksi Semangat Juang Ekonomi Rakyat Mandailing)

Oleh: Dr. M. Daud Batubara
Pegiat Ke-Mandailing-an pada Gerep Institute
Ironi Semangat Ke-Mandailing-an
Setiap menjelang Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pemandangan yang hampir selalu hadir di berbagai sudut jalan Kota Kipang (Panyabungan), Ibu Kota Kabupaten Mandailing Natal, berderet pedagang musiman yang menjual bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga berbagai Atribut Peringatan Hari Kemerdekaan. Fenomena ini berlangsung hampir setiap tahun.
Yang menarik, ketika pedagang ini diajak berdialog, terdengar khas dialek Bahasa Sunda muncul. Ketertarikan dengan dialek ini membuat penulis tertarik menelusuri lebih banyak tentang para pedagang ini. Ternyata, sebagian besar pedagang tersebut bukan berasal dari Mandailing sendiri, melainkan dari Pasundan, Jawa Barat, yang berjarak ribuan kilometer dari Mandailing. Mereka datang menyeberangi lautan, menempuh perjalanan panjang, dan tinggal sementara di pinggiran Kota Kipang, lalu menjual bendera untuk keperluan rumah, sekolah kantor dan lainnya.
Fenomena ini sesungguhnya menyimpan pertanyaan yang layak direnungkan. Bukan tentang siapa yang berdagang, karena setiap warga negara berhak mencari nafkah di mana pun di Indonesia. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa peluang ekonomi yang hadir setiap tahun justru lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yang datang dari daerah yang sangat jauh, sementara masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan peluang tersebut justru relatif sedikit yang menggarapnya.
Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan Sejarah Mandailing sendiri. Sejak dahulu, masyarakat Mandailing dikenal sebagai masyarakat yang memiliki naluri ekonomi yang kuat. Tradisi pedagang dan ekonomi sebagai gambaran keberanian merantau, membaca peluang, dan membangun kehidupan di berbagai daerah, memastikan kalau orang Mandailing tidak pernah asing dengan dunia perdagangan.
Di banyak kota besar Indonesia, bahkan hingga ke negeri jiran Malaysia, masyarakat Mandailing dikenal sebagai pedagang, pengusaha, pemilik toko, hingga pelaku usaha di berbagai sektor. Semangat itu lahir dari karakter yang ditempa oleh perjuangan hidup. Sepertinya tak ada alasan keterbatasan untuk menyerah, melainkan dorongan untuk mencari jalan keluar yang selalu jadi watak. Karena itu, nama Mandailing tidak hanya dikenal melalui tokoh-tokoh perjuangan nasional, tetapi juga melalui keberhasilan masyarakatnya membangun kehidupan ekonomi di berbagai daerah.
Ironisnya, saat ini, ketika peluang ekonomi hadir tepat di depan mata, justru masyarakat dari luar yang lebih dahulu menangkap kesempatan tersebut. Pedagang-pedagang dari Tanah Sunda (Pasundan) datang dengan modal yang tidak sedikit. Mereka harus mengeluarkan biaya transportasi yang banyak, menginap selama berminggu-minggu, berani membawa stok barang dalam jumlah besar, menghadapi ketidakpastian cuaca, hingga menanggung risiko barang tidak habis terjual. Namun semua risiko itu tetap mereka ambil karena mereka melihat adanya peluang keuntungan.
Di sinilah letak pelajaran penting yang patut direnungkan. Bila seseorang bersedia menempuh perjalanan beribu kilometer untuk menjual bendera di Mandailing, berarti secara ekonomi masih terdapat ruang keuntungan yang cukup menarik. Tidak mungkin aktivitas itu dilakukan berulang kali setiap tahun apabila tidak memberikan hasil yang memadai.
Maka muncullah pertanyaan berikutnya. Apakah keuntungan dari menjual bendera sebenarnya terlalu kecil sehingga masyarakat lokal tidak tertarik? Jika demikian, mengapa pedagang dari luar tetap datang setiap tahun? Ataukah persoalannya bukan pada besar kecilnya keuntungan, melainkan pada cara memandang peluang usaha?
Ada pula pertanyaan lain yang tidak kalah penting. Apakah masyarakat Mandailing tidak mampu memproduksi bendera sendiri? Tentu pertanyaan ini sulit dijawab dengan alasan kemampuan. Menjahit bendera bukanlah pekerjaan yang memerlukan teknologi tinggi. Diyakini banyak penjahit lokal memiliki keterampilan yang memadai. Bahkan usaha konveksi skala kecil pun sebenarnya dapat memproduksi bendera jika terdapat kemauan dan perencanaan yang baik.
Kalaupun alasan yang dikemukakan adalah harga produksi dari Tanah Pasundan lebih murah, maka pertanyaan berikutnya adalah mengapa bisa lebih murah? Tentu, jawabannya dapat ditelusuri melalui prinsip-prinsip ekonomi. Daerah-daerah di Jawa Barat telah lama memiliki sentra industri tekstil dan konveksi. Produksi dilakukan dalam jumlah besar sehingga biaya per-unit menjadi lebih rendah. Kain diperoleh langsung dari pabrik, tenaga kerja tersedia dalam jumlah banyak, mesin produksi digunakan secara terus-menerus, dan jaringan distribusi telah terbentuk selama bertahun-tahun. Akibatnya, harga jual menjadi kompetitif.
Namun, harga murah bukan satu-satunya alasan keberhasilan mereka. Yang lebih penting adalah keberanian mengambil risiko (nilai utama jiwa wirausaha). Mereka rela meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu, membawa barang dagangan ke daerah yang belum tentu mereka kenal, demi memperoleh penghasilan. Keberanian semacam ini merupakan modal sosial yang sangat kuat.
Padahal, bila ditinjau dari sisi biaya, masyarakat Mandailing justru memiliki sejumlah keunggulan. Mereka tidak perlu mengeluarkan ongkos perjalanan lintas pulau, tidak memerlukan biaya penginapan, tidak menanggung risiko distribusi jarak jauh, dan lebih memahami karakter masyarakat setempat. Secara teori ekonomi, posisi masyarakat lokal seharusnya lebih menguntungkan dibanding pedagang yang datang dari luar daerah.
Karena itu, fenomena ini, mungkin bukan sekadar persoalan perdagangan bendera. Ia mencerminkan perubahan cara masyarakat memandang peluang ekonomi. Bisa jadi, sebagian masyarakat kini lebih memilih menunggu kesempatan daripada menciptakan kesempatan. Bisa pula terjadi pergeseran orientasi pekerjaan, dimana pekerjaan musiman dipandang kurang menarik dibanding pekerjaan lain, meskipun secara ekonomi sebenarnya tetap menguntungkan.
Refleksi ini juga membawa kita kepada semangat juang yang diwariskan oleh para tokoh Mandailing. Daerah ini telah melahirkan banyak pejuang yang mempertaruhkan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kemerdekaan bangsa. Semangat mereka adalah keberanian menghadapi tantangan dan kesediaan berkorban demi masa depan yang lebih baik. Semangat itu tidak semestinya berhenti sebagai kisah sejarah yang hanya dikenang setiap tanggal 17 Agustus.
Pada masa kini, bentuk perjuangan memang telah berubah. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata melawan penjajah, kini perjuangan diwujudkan melalui penguatan ekonomi masyarakat, penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan kemampuan membaca peluang usaha. Kemandirian ekonomi merupakan salah satu bentuk nyata mengisi kemerdekaan.
Dalam konteks itulah, kehadiran pedagang dari Tanah Pasundan setiap menjelang Hari Proklamasi dapat dipandang sebagai cermin sekaligus pengingat. Mereka mengajarkan bahwa peluang tidak mengenal batas wilayah. Jarak yang jauh bukan penghalang untuk bekerja keras. Semangat itu patut dihargai.
Namun pada saat yang sama, masyarakat Mandailing juga patut bertanya kepada diri sendiri: mengapa peluang yang ada di halaman sendiri justru lebih dahulu dimanfaatkan oleh orang yang datang dari tempat yang begitu jauh? Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan siapa pun, justru sebaliknya, ia dapat menjadi bahan evaluasi bersama. Mungkin sudah saatnya masyarakat Mandailing kembali menghidupkan (parata na malos) karakter kewirausahaan yang dahulu menjadi kebanggaan. Bukan hanya berdagang di negeri orang, tetapi juga mampu mengembangkan potensi ekonomi di tanah kelahirannya sendiri.
Momentum Hari Kemerdekaan seharusnya tidak hanya diisi dengan memasang Merah Putih, tetapi juga penting untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan ekonomi. Bendera yang berkibar adalah simbol pengorbanan para pendahulu, akan lebih bermakna apabila simbol itu juga mengingatkan kita bahwa kemerdekaan harus terus diisi dengan kerja keras, keberanian mengambil peluang dan semangat untuk mandiri.
Apabila setiap tahun masyarakat dari Bandung dan berbagai daerah di Tanah Pasundan mampu melihat Mandailing sebagai tempat yang layak untuk mencari rezeki, sesungguhnya itu merupakan bukti bahwa Mandailing masih memiliki potensi ekonomi yang besar. Tantangannya bukan terletak pada ada atau tidaknya peluang, melainkan pada sejauh mana masyarakat lokal mampu melihat, mengolah dan memanfaatkannya.
Semangat juang para pendahulu tidak akan hidup hanya melalui upacara dan pidato. Semangat itu akan benar-benar hidup apabila diwariskan dalam bentuk keberanian membangun usaha, menciptakan nilai tambah, mengembangkan industri kecil, serta menjadikan setiap peluang ekonomi sebagai bagian dari perjuangan memajukan masyarakat. Itulah makna kemerdekaan yang terus relevan dari masa ke masa: berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka, sekaligus menjadi masyarakat yang mandiri secara ekonomi.
Menghidupkan Kembali Warisan Semangat Berdagang
Masyarakat Mandailing pada tradisinya, tidak pernah dikenal sebagai masyarakat yang menunggu kesempatan datang. Mereka adalah pencipta kesempatan. Tradisi Ke-Mandailing-an merantau (hijrah) bukan sekadar perpindahan tempat untuk mencari nafkah, melainkan sebuah filosofi hidup: berani meninggalkan zona nyaman, membaca peluang, bekerja keras, dan membangun kehormatan melalui usaha yang halal. Karena itu, di banyak daerah di Indonesia, nama Mandailing identik dengan ketekunan, kejujuran, dan kemampuan beradaptasi dalam dunia usaha.
Semangat tersebut juga tercermin pada banyak tokoh Mandailing yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa. Mereka bukan hanya pejuang dalam arti mengangkat senjata, tetapi juga pejuang dalam pendidikan, pemerintahan dan pembangunan ekonomi. Nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukanlah kemewahan, melainkan keberanian menghadapi tantangan serta keyakinan bahwa kerja keras adalah jalan menuju kemajuan.
Oleh karena itu, fenomena pedagang bendera dari Tanah Pasundan, tentu tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin. Pasar tersebut menunjukkan bahwa peluang ekonomi tetap ada bagi siapa saja yang bersedia bekerja keras. Jika orang yang datang jauh-jauh dari Bandung rela menempuh perjalanan berhari-hari, menyeberangi lautan, mengeluarkan biaya transportasi dan hidup sementara di Mandailing demi menjual bendera Merah Putih, sesungguhnya mereka sedang memberikan pelajaran sederhana bahwa keuntungan sering kali ditemukan oleh mereka yang berani mengambil peluang.
Barangkali inilah saatnya semangat Ke-Mandailing-an dimaknai kembali (parata na malos), bukan semata-mata sebagai tradisi merantau ke daerah lain, tetapi juga sebagai keberanian melihat potensi yang ada di kampung halaman sendiri. Sebab, membangun ekonomi daerah tidak hanya dilakukan oleh pemerintah atau investor besar. Ia juga tumbuh dari usaha-usaha kecil masyarakat yang mampu menangkap peluang musiman, mengembangkan produk lokal, memperkuat keterampilan menjahit, konveksi, perdagangan, hingga membangun jejaring pemasaran yang lebih baik.
Harapan Kebangkitan Ekonomi Mandailing
Hari Kemerdekaan hendaknya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat juang dalam bentuk yang sesuai dengan tantangan zaman. Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut kemerdekaan, maka hari ini perjuangan diwujudkan dengan membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Setiap peluang usaha yang mampu dikelola oleh masyarakat lokal sesungguhnya merupakan bagian dari upaya mengisi kemerdekaan dengan karya nyata.
Harapannya, pada tahun-tahun mendatang, semakin banyak putra-putri Mandailing yang tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga menjadi produsen, penjahit, pedagang, dan pelaku usaha yang memanfaatkan momentum ekonomi di daerahnya sendiri. Kehadiran saudara-saudara dari Tanah Pasundan tetap patut dihargai sebagai bagian dari persaudaraan dalam bingkai Indonesia.
Namun, akan menjadi kebanggaan tersendiri apabila semangat kewirausahaan masyarakat Mandailing kembali tumbuh, sehingga peluang-peluang ekonomi yang lahir di tanah Bumi Gordang Sambilan dapat semakin banyak dikelola oleh tangan-tangan masyarakatnya sendiri.
Pada akhirnya, Merah Putih yang berkibar setiap Bulan Agustus bukan hanya menjadi simbol kemerdekaan bangsa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan tidak boleh padam. Semangat itu harus terus hidup dalam keberanian membaca peluang, bekerja keras, saling menguatkan dan membangun ekonomi yang mandiri.
Dengan demikian, Mandailing tidak hanya dikenal sebagai Tanah Para Pejuang dalam sejarah, tetapi juga sebagai tanah yang terus melahirkan pejuang-pejuang ekonomi bagi masa depan masyarakatnya.***
- Penulis: Dr. Daud Batubara
- Editor: Dahlan Batubara

