Kamis, 13 Agu 2026
light_mode

MENUJU TAPSEL YANG LEBIH TANGGUH (Bagian 3 – selesai)

  • account_circle Ludfan Nasution
  • calendar_month 7 menit yang lalu
  • print Cetak

Lari Full Speed, Tapsel Membangun Selesai

Membaca Visi Gus Irawan dan Mimpi Membalik “Tak Pernah Selesai”

 

Oleh: Ludfan Nasution
Koordinator Mandailing Epicentrum

 

Ada satu ungkapan satir lama yang menarik untuk dikenang ketika berbicara tentang pembangunan Tapanuli Selatan.

Tapsel pernah dipelesetkan dalam anekdot sebagai “tak pernah selesai.”

Ungkapan itu tentu bukan ukuran ilmiah tentang pembangunan sebuah daerah.

Tetapi sebagai satire sosial, ia menyimpan pesan: ada pekerjaan-pekerjaan pembangunan yang terasa terlalu lama, ada persoalan yang berulang, dan ada ekspektasi masyarakat yang tidak selalu menemukan titik tuntas.

Kini waktunya membalik anekdot itu.

Bukan dengan membantahnya.

Tetapi dengan membuktikan sebaliknya.

Dan di sinilah visi pembangunan yang dibawa Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, menjadi menarik untuk dibaca.

 

Meloncat dari Recovery

Kalau dua gagasan sebelumnya kita rangkai, sebenarnya ada satu alur besar.

Pertama, Gus Irawan mendorong Tapsel melihat bencana bukan sekadar sebagai kerusakan yang harus dipulihkan, tetapi sebagai momentum membangun resilience.

Kedua, ia melihat konservasi Batang Toru tidak cukup berhenti pada perlindungan ekosistem. Ada peluang ekonomi hijau—termasuk carbon credit—yang dapat memberi nilai ekonomi kepada kelestarian.

Maka tahap berikutnya logis:

kalau fondasi semakin kuat dan peluang semakin terbuka, Tapsel harus berlari.

Full speed.

Tetapi berlari dengan arah.

 

Arti “Selesai Membangun”?

Ini pertanyaan penting.

Selesai membangun bukan berarti seluruh pembangunan Tapsel suatu hari akan berhenti.

Tidak mungkin.

Daerah akan selalu berkembang.

Kebutuhan akan selalu berubah.

Teknologi akan terus bergerak.

Generasi baru akan selalu membawa tuntutan baru.

Maka “selesai” harus dimaknai secara lebih substantif.

Selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang memang harus diselesaikan.

Jalan yang menjadi penghambat ekonomi dibangun.

Jembatan yang mengisolasi masyarakat diselesaikan.

Irigasi yang mengganggu produktivitas diperbaiki.

Pelayanan publik dibenahi.

Kawasan ekonomi dikembangkan.

Pertanian dinaikkan produktivitasnya.

UMKM diperkuat.

Lapangan kerja diperluas.

Dan yang paling penting:

masyarakat naik kelas.

 

Ukurannya Bukan Beton

Pembangunan memang membutuhkan beton.

Membutuhkan jalan.

Membutuhkan jembatan.

Membutuhkan gedung.

Membutuhkan jaringan listrik dan internet.

Tetapi beton bukan tujuan.

Ia hanya alat.

Tujuan akhirnya adalah manusia.

Karena itu, “Tapsel Membangun Selesai” harus diukur dari pertanyaan yang sangat sederhana:

Apakah masyarakat lebih sejahtera?

Apakah pendapatan meningkat?

Apakah petani lebih produktif?

Apakah anak muda memperoleh pekerjaan yang layak?

Apakah UMKM tumbuh?

Apakah desa semakin kuat?

Apakah kemiskinan menurun?

Apakah pelayanan publik semakin mudah?

Apakah investasi menghasilkan manfaat lokal?

Apakah lingkungan tetap terjaga?

Kalau jawabannya semakin banyak “ya”, maka Tapsel sedang menuju pembangunan yang selesai dalam pengertian substantif.

 

Full Speed: Semua Bergerak

Tetapi satu hal harus diakui:

Bupati tidak mungkin berlari sendirian.

Gagasan besar Gus Irawan hanya akan menjadi visi pemerintah kalau berhenti di meja pemerintah.

Ia akan menjadi visi Tapsel kalau menjadi agenda bersama.

Pemerintah pusat harus ikut.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara harus ikut.

DPRD harus ikut.

Perguruan tinggi harus ikut.

Dunia usaha harus ikut.

Perbankan dan lembaga pembiayaan harus ikut.

NGO dan komunitas harus ikut.

Diaspora Tapsel harus ikut.

Dan masyarakat harus menjadi pelaku utama.

Sebab daerah tidak dibangun oleh seorang kepala daerah.

Kepala daerah memberi arah; seluruh ekosistem pembangunan yang membuat arah itu menjadi kenyataan.

 

Membalik Sejarah Persepsi

Di sinilah anekdot “tak pernah selesai” memperoleh makna baru.

Mungkin Tapsel tidak perlu lagi sibuk menjelaskan bahwa anekdot itu keliru.

Biarkan sejarah pembangunan yang menjawab.

Jika jalan selesai.

Jika konektivitas selesai.

Jika pertanian naik kelas.

Jika investasi menghasilkan pekerjaan.

Jika desa berkembang.

Jika Batang Toru tetap lestari.

Jika ekonomi karbon memberi manfaat kepada masyarakat.

Jika pendapatan masyarakat meningkat.

Jika anak muda memiliki alasan untuk membangun masa depan di daerahnya sendiri—

maka anekdot itu akan kehilangan relevansinya dengan sendirinya.

Karena masyarakat telah melihat kenyataan baru.

 

Tapsel: Selesai Membangun

Ini yang perlu ditegaskan.

“Membangun selesai” bukan berarti Tapsel berhenti membangun.

Justru sebaliknya.

Ia berarti Tapsel berhasil menyelesaikan satu fase sejarah pembangunan dan siap memasuki fase berikutnya.

Dari daerah yang sibuk mengejar ketertinggalan menjadi daerah yang mampu menciptakan keunggulan.

Dari sekadar memulihkan bencana menjadi daerah yang tangguh.

Dari sekadar memiliki hutan menjadi daerah yang mampu mengubah aset ekologis menjadi ekonomi hijau.

Dari sekadar membangun infrastruktur menjadi daerah yang membangun kesejahteraan.

Dan dari berjalan pelan — lari full speed.

Kalau Gus Irawan ingin membawa Tapsel ke arah itu, maka tantangannya sekarang bukan lagi bagaimana menyampaikan visi.

Visinya sudah mulai terdengar.

Tantangannya adalah bagaimana membuat visi itu menjadi desain kebijakan, proyek nyata, investasi, kolaborasi dan—pada akhirnya—hasil yang dirasakan masyarakat.

Di situlah seluruh stakeholder Tapsel harus mengambil bagian.

Karena Tapsel bukan milik Bupatinya.

Tapsel milik masyarakatnya.

Tetapi sebuah daerah memang membutuhkan pemimpin yang berani mengatakan:

“Kita punya arah. Mari kita bergerak.”

Dan mungkin inilah saatnya Tapsel membalik anekdot lama itu.

Dulu: “tak pernah selesai.”

Kini: Tapsel Membangun Selesai.

Pekerjaan rampung.

Masyarakat sejahtera.

Ekonomi naik kelas.

Alam tetap terjaga.

Dan setelah itu?

Bukan berhenti.

Tetapi berlari lebih jauh.

Full speed, Tapsel.

 

  • Penulis: Ludfan Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Video: Perayaan HUTRI di Siabu Diisi Berbagai Perlombaan

    Video: Perayaan HUTRI di Siabu Diisi Berbagai Perlombaan

    • calendar_month Selasa, 9 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-77 Republik Indonesia, forum koordinasi pimpinan kecamatan (Forkopimcam) Siabu menggelar beberapa perlombaan seperti tari kreasi, lomba lari, kaligrafi, dan lainnya. Ragam perlombaan itu mulai diselenggarakan sejak 29 Juli sampai dengan 17 Agustus 2020. Perlombaan ini menyasar siswa berbagai tingkatan dan masyarakat.  

  • Bupati Madina Santuni Yatim Piatu dan Jompo

    Bupati Madina Santuni Yatim Piatu dan Jompo

    • calendar_month Jumat, 16 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      LINGGA BAYU (Mandailing Online) – Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution menyantuni anak yatim dan jompo di Pasar Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu, Kamis (15/10). Penyantunan ini menyelingi acara pengajian akbar peringatan Tahun Baru Hijiriah 1437 dihadiri seribuan masyarakat. Santunan diserahkan kepada 200 anak yatim dan piatu serta 11 otangtua jompo di kawasan Kecamatan Lingga […]

  • Banjir Bandang Malintang Terparah Dibanding Hutabargot

    Banjir Bandang Malintang Terparah Dibanding Hutabargot

    • calendar_month Senin, 27 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di Mandailing natal, Selain di Kecamatan Bukit Malintang, banjir bandang juga melanda Kecamatan Hutabargot. Berdasar data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina yang diperoleh, Senin, jumlah kerusakan lebih besar di Kecamatan Bukit Malintang. Di Kecamatan Bukit Malintang, 3 unit rumah hanyut, sebelas unit rumah rusak berat dan 100 unit […]

  • KPU Madina Tatar Personil  PPK

    KPU Madina Tatar Personil PPK

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing  Online) – KPU Mandailing Natal menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada semua personil PKK (Panitia Pemilihan Kecamatan) se-Mandailing Natal, di aula Hotel Rindang, Panyabungan, Kamis (11/6). Bimtek yang dijadwal berlangsung dari Kamis hingga Jum’at dan diikuti 115 orang PPK ini dalam upaya meningkatkan penguasan tehnis pelaksanaan tahapan-tahapan Pilkada Madina di jajaran penyelenggara tingkat […]

  • Bupati Madina Buka Kompetisi Suzuki Cup I

    Bupati Madina Buka Kompetisi Suzuki Cup I

    • calendar_month Sabtu, 7 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Bupati Mandailing Natal (Madina) melalui Kadispora Pariwisata dan Budaya Drs Ansor Nasution MM membuka kompetisi Sepak Bola Suzuki Cup I Panyabungan Barat. Acara pembukaan berlangsung di lapangan hijau Kelurahan Longat Kecamatan Panyabungan Barat, Jumat sore (6/1). Bupati Madina melalui Kadispora Pariwisata dan Budaya Drs Ansor MM dalam arahannya mengatakan agar kompetisi ini dijadikan sebagai […]

  • Perkuat Silaturahmi, Pomparan Marga Rangkuti Ulosi Kapolres dan Dandim Labuhan Batu

    Perkuat Silaturahmi, Pomparan Marga Rangkuti Ulosi Kapolres dan Dandim Labuhan Batu

    • calendar_month Minggu, 9 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam rangka memperkuat tali silaturahmi, Pomparan Marga Rangkuti mangulosi Kapolres Labuhan Batu AKBP Anhar Arlia Rangkuti dan Dandim Muhammad Faizal Rangkuti, di Aek Nabara, Kabupaten Labuhan Batu, Sumut, Minggu (9/10). Silaturahmi ini digelar dengan harapan Anhar dan Faizal turut membesarkan persaudaraan marga Rangkuti di wilayah Labuhan Batu. Tokoh pemuda marga Rangkuti […]

expand_less