Merawat Pelangi Nusantara: Falsafah Keberagaman Sebagai Jalan Peradaban Islam
- account_circle Erna Dewi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Erna Dewi
Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki ribuan pulau. Luas wilayah Indonesia yang besar berpengaruh terhadap banyaknya keberagaman yang dimiliki. Bangsa Indonesia terdiri dari 1.340 suku, 718 bahasa, dan terbentang di 17.504 pulau. Sejak Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, hingga Kesultanan, Nusantara sudah terbiasa hidup dalam perbedaan. Pedagang Gujarat, Tionghoa, Arab, dan Eropa datang silih berganti, tapi mereka tidak melebur jadi satu. Mereka berbaur, tetap bawa identitas, dan sama-sama membangun peradaban.
Sumpah Pemuda 1928 adalah titik kulminasi, “bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu”. Di situ para pemuda dari berbagai suku sepakat menanggalkan ego kesukuan demi Indonesia. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika lahir bukan untuk menyeragamkan, tapi untuk mempersatukan perbedaan. Keberagaman bisa muncul karena pengaruh kebudayaan asing yang memiliki ciri yang berbeda. Perbedaan tersebut biasanya terjadi lewat komunikasi atau budaya yang mereka bawa ke Indonesia. Sehingga terjadi akulturasi atau pencampuran unsur kebudayaan asing dengan kebudayaan Indonesia. Kondisi itu menjadikan sumber keberagaman tercipta, seperti suku, budaya, ras, dan golongan. Dengan kondisi tersebut menimbulkan perbedaaan dalam masyarakat. Pastinya satu pulau dengan pulau yang lain memiliki perbedaan atau karakteristik masing-masing.
Keberagaman Indonesia adalah ketetapan Tuhan, sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Hujurat:13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. Kata lita’arafu adalah kunci. Tujuan Allah menciptakan kita berbeda adalah agar kita saling mengenal, saling belajar dan saling menguatkan, bukan untuk saling menghina.
Islam datang bukan untuk menghapus perbedaan, Islam datang untuk mengatur perbedaan agar menjadi rahmat. Rasulullah SAW adalah orang yang paling cinta tanah air. Saat hijrah dari Mekah, beliau menoleh dan berkata: “Demi Allah, engkau adalah negeri yang paling aku cintai. Kalau bukan karena kaummu mengusirku, aku tidak akan keluar darimu”. Di Indonesia kita lihat buktinya, ada masjid gaya Jawa, gaya Aceh, gaya Minang. Ada NU, Muhammadiyah, Persis. Ada orang Bugis, Melayu, Jawa, semua salat di shaf yang sama, inilah wajah Islam Nusantara.
Rasulullah SAW hidup di Madinah yang isinya orang muslim, Yahudi, Nasrani, dan musyrik. Banyak sekali contoh keberagaman di Zaman Nabi, di antaranya Adalah:
- Piagam Madinah: Konstitusi pertama yang menjamin hak semua warga negara berbeda agama dan suku, adanya keadilan, keamanan, dan tolong-menolong.
- Menghormati Budaya Lokal: Nabi tidak memaksa semua orang Arab, Beliau mengakui adat selama tidak bertentangan dengan syariat, sesuai dengan kaidah fikih “Adat kebiasaan bisa menjadi hukum”.
- Sahabat dari berbagai latar: Islam datang mempersatukan tanpa menyeragamkan, seperti Bilal dari Habasyah, Salman dari Persia, Shuhaib dari Romawi.
Ada beberapa bentuk keberagaman dalam Islam, di antaranya adalah:
- Keberagaman Mazhab & Pemikiran. Ada 4 madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali. Beda cara qunut, beda cara shalat, tapi tetap satu kiblat. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad murid-guru tapi beda pendapat namun tidak saling menyesatkan.
- Keberagaman Budaya/‘Urf. Lebaran di Jawa ada ketupat, di Minang ada rendang, di Aceh ada kuah pliek. Semua boleh dikonsumsi, selama halal dan tidak ada unsur syirik.
- Keberagaman Bahasa. Al-Qur’an diturunkan bahasa Arab, tapi tafsirnya ada bahasa Indonesia, Jawa dan Bahasa lainnya. Adzan tetap dalam Bahasa Arab, tapi khutbah pakai bahasa lokal agar jamaah paham.
- Keberagaman dalam Muamalah. Ada sistem ekonomi syari’ah, wakaf, zakat, koperasi. Setiap daerah boleh punya model sesuai potensi. Yang penting adalah menerapkan prinsip keadilan dan tidak merugikan sebelah pihak.
Islam dan kebangsaan tidak bertentangan justru saling menguatkan. Islam juga mengajarkan keadilan sebagai pondasi persatuan. Islam mengajarkan musyawarah yang merupakan ruh demokrasi Pancasila. Dan Islam mengajarkan cinta tanah air “hubbul wathan minal iman”, NU dan Muhammadiyah sudah buktikan dengan ikut andil kemerdekaan. Di Indonesia, Islam tidak memaksa semua jadi sama. Islam menyatu dengan budaya lokal, oleh sebab itu lahirlah Islam nusantara yang ramah, toleran, cinta damai.
Keberagaman adalah takdir dari Tuhan, persatuan adalah ikhtiar dari kita. Selama kita masih mau duduk semeja, makan dengan lauk berbeda, tapi minum dari gelas yang sama bernama Indonesia, maka pelangi Nusantara ini tidak akan pernah padam. Selama kita berpegang teguh kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan akhlak Nabi, maka perbedaan tidak akan terpecahkan. Justru akan membuat Islam semakin indah dan Indonesia semakin kuat. Islam itu satu, tapi wajahnya banyak. Dan semuanya indah jika dipandang dengan mata rahmat. ***
- Penulis: Erna Dewi
- Editor: Dahlan Batubara




