Selasa, 17 Mar 2026
light_mode

Harga Naik Atau Pemakaian BBM Bersubsidi Dibatasi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 8 Jul 2011
  • print Cetak


Depok –
Pemerintah saat ini dihadapkan pada pilihan sulit, ibarat makan buah simalakama, terkait perkiraan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang membengkak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011.

Dua pilihan yang sama sulit adalah menaikkan harga BBM bersubsidi atau menerapkan pembatasan pemakaian BBM bersubsidi agar pembengkakan subsidi BBM dapat diminimalisasikan atau dikurangi. Karena itu meski dua-duanya tidak populer, salah satu alternatif ini harus segera diputuskan.

Kalau tidak, menurut Direktur Eksekutif Inisiatif Efisiensi Energi, Saraswati W Hapsari, Indonesia seperti diramalkan Bank Dunia akan menghadapi kesulitan akibat kenaikan harga minyak mentah dunia yang semula diperkiraan 80 dolar menjadi rata-rata 113 dolar AS per barrel pada Januari hingga Mei 2011.

Kondisi tersebut dinilai Bank Dunia akan mengakibatkan anggaran subsidi BBM melonjak dari target APBN 2011 sebesar Rp95 triliun menjadi sekitar Rp150 triliun. Namun, Bank Dunia juga memberi harapan bahwa ancaman bisa tak menjadi kenyataan – jika ada perubahan kebijakan konsumsi BBM bersubsidi.

Subsidi energi, khususnya BBM menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa dalam sebuah diskusi di Jakarta, perlu direformasi dengan melakukan kenaikan harga atau pembatasan pemakaian BBM bersubsidi.

“Itu harus diputuskan,” kata Fabby.

Pilihan kenaikan harga BBM dia nilai lebih realistis dibanding pembatasan pemakaian BBM bersubsidi. Memang menaikkan harga BBM bersubsidi akan menimbulkan dampak berantai pada kehidupan masyarakat terutama kelompok menengah.

“Tetapi jumlah mereka hanya sekitar 40 juta atau 20 persen dari total penduduk,” katanya.

Oleh karena itu jika alternatif menaikkan harga BBM bersubsidi yang dipilih, ujarnya, maka pemerintah perlu mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kemampuan anggaran dalam menetapkan besaran kenaikan tersebut.

Bila pengaturan pemakaian BBM bersubsidi yang dipilih, dia berpendapat akan menimbulkan dampak sosial dan ekonomi, memicu kelangkaan sehingga menguntungkan spekulan sebab pengawasan sulit dilakukan. Karena itu, lebih baik pemerintah menaikkan harga sesuai daya beli masyarakat dan kemampuan anggaran pemerintah.

Dia juga menyebutkan, jika tidak ada pembatasan penyaluran BBM bersubsidi, total subsidi BBM diperkirakan akan meningkat hingga melampaui Rp130 triliun atau sekitar 30 persen dari total subsidi energi.

“Subsidi menurut dia, tetap diperlukan, hanya perlu ditata agar tepat sasaran. Saat ini lima kelompok pendapatan tertinggi di Indonesia menikmati 45 persen dari total subsidi. Kalau subsidi BBM tahun ini Rp58 triliun, mereka menikmati hampir separuhnya,” ujarnya.

Sementara itu pemerintah menurut Direktur Jenderal Energi dan Sumber Daya Mineral (Dirjen ESDM) Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo, berencana memberlakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.

Meskipun realisasi rencana yang diwacanakan beberapa tahun lalu itu terus mundur,Dirjen ESDM agaknya akan tetap berupaya membatasi konsumsi BBM bersubsidi.

“Rencana itu paling cepat direalisasikan setelah Lebaran 2011,” katanya.

Namun demikian Evita sempat mengatakan, keputusan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi tergantung hasil keputusan sidang kabinet. Awalnya, rencana itu direalisasikan April lalu, namun kemudian ditolak DPR.

Pembatasan konsumsi direalisasikan

Meningkatnya beban anggaran pendapatan dan belanja negara yang harus dialokasikan untuk subsidi BBM, membuat Kementerian Keuangan mendesak agar kebijakan pembatasann konsumsi BBM bersubsidi itu diberlakukan tahun ini untuk menekan angka defisit anggaran.

Pemerintah memperkirakan defisit APBN tahun ini akan naik Rp26,4 triliun menjadi Rp151,1 triliun atau 2,1 persen. Nilai lebih tinggi ketimbang perkiraan defisit APBN 2011 yang sebesar 1,8 persen.

Lagi pula, meski subsidi BBM membengkak, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, hingga saat ini pemerintah belum berniat untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, walau tidak tertutup kemungkinan langkah itu bisa saja diambil.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah berjanji akan berkoordinasi di semua tingkat untuk menjaga agar BBM bersubsidi bisa terkendali. Konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan naik dari 38,6 juta kiloliter menjadi sekitar 40,49 juta kiloliter.

Dia berharap, pengendalian konsumsi BBM bersubsidi ini akan bisa mengontrol anggaran BBM. Pemerintah telah menyiapkan inisiatif pengendalian BBM subsidi sejak Oktober 2010 dan akan terus dipertajam agar dapat diimplementasikan untuk mengendalikan pos subsidi.

Opsi menaikkan harga BBM bersubsidi juga dinilai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) saat ini bukan lagi waktu yang tepat, karena seharusnya hal itu dilakukan bulan Maret, April, Mei 2011 lalu.

Menurut Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan BKF, Andie Megantara dalam lokakarya Reformasi Subsidi Energi Di Indonesia, bulan-bulan itu adalah waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM karena merupakan masa-masa deflasi. Sehingga ketika harga BBM bersubsidi naik, tidak akan menimbulkan inflasi.

“Kalau sekarang dinaikkan sudah telat, justru sulit akan terjadi inflasi akan naik, kemiskinan naik, industri juga kena, dan berdampak pad pertumbuhan ekonomi.Rakyat jadi terbebani, karena liburan sekolah akan segera selesai, kemudian masa panen sudah habis, dan akan masuk bulan puasa serta Natal di akhir tahun,? katanya.

Satu-satunya cara untuk menahan laju konsumsi BBM bersubsidi menurut dia adalah mengurangi volumenya atau menahan kuotanya.

Pemerintah, pengamat, pakar agaknya lebih memilih untuk melakukan pembatasan pemakaian BBM bersubsidi guna mengatasi membengkaknya subsidi BBM dalam APBN 2011. Jika itu opsi terbaik dari yang terburuk dan tidak terlalu memberatkan masyarakat, maka apa lagi yang bisa kita pilih.

Hanya saja, pelaksanaan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi – yang pasti tak luput dari kelemahan – harus dilakukan dengan benar dan pengawasannya diperketat agar tidak timbul masalah baru yang justru lebih membebani masyarakat dan sasarannya tercapai seperti yang diharapkan.
(ANT)
Sumber : (ANTARA News)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Guru dan Kepsek Jarang Masuk, Proses Belajar di SD N 132 Huta Tua Amburadul

    Guru dan Kepsek Jarang Masuk, Proses Belajar di SD N 132 Huta Tua Amburadul

    • calendar_month Jumat, 19 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN TIMUR -Mandailing Online: Tahun ajaran baru ini harusnya menjadi hari yang menyenangkan bagi siswa, karena sekolah kembali masuk setelah libur kenaikan kelas. Namun hal ini ternyata tidak berlaku bagi siswa SD 132 Huta Tua di Kecamatan Panyabungan Timur, Mandailing Natal. Proses belajar mengajar di sekolah itu amburadul, banyak tenaga pendidik tak masuk mengajar. Penelusuran […]

  • Bupati Buka Pelatihan Satpol PP Tanggap Bencana

    Bupati Buka Pelatihan Satpol PP Tanggap Bencana

    • calendar_month Selasa, 15 Nov 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) HM Jafar Sukhairi Nasution membuka pelatihan bagi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Perlindungan Masyarakat (Linmas) untuk menghadapi bencana alam di Lapangan Masjid agung Nur Ala Nur, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut, Selasa (15/11/2022). Kepala Satpol PP Madina Lis Mulyadi Nasution menyatakan pelatihan berlangsung tanggal 15-17 November […]

  • Pemkab Madina Akui Belum Ada Plasma Untuk Warga Batahan I

    Pemkab Madina Akui Belum Ada Plasma Untuk Warga Batahan I

    • calendar_month Jumat, 15 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPI TAK BERANI MEMBEBERKAN PENYEBABNYA PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Dinas Kehutanan Perkebunan Mandailing Natal mengakui bahwa realisasi kebun plasma dari PT. Palmaris kepada warga Batahan I belum ada. Itu dikatakan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Kehutanan Perkebunan Mandailing Natal, Nirwan,SH menjawab Mandailing Online, Kamis (14/4/2016) di ruang kerjanya. Nirwan mengaku bahwa kebun plasma belum ada […]

  • Asisten III Bantah Jual Proyek Pemerintah

    Asisten III Bantah Jual Proyek Pemerintah

    • calendar_month Jumat, 6 Jun 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Selama ini para kontraktor mengabarkan bahwa salah satu oknum yang terlibat menjual proyek pemerintah daerah adalah Asisten III Pemkab Mandailing Natal (Madina), Samad Lubis, SE. Selain Samad Lubis, ada juga onum anggota DPRD Madina berinisial JS yang disebut-sebut orang dekat bupati terlibat dalam bisnis kongkalikong penjualan proyek tersebut. Ketika persoalan pengarahan […]

  • Seputar 2 Ditikam 1 Tertembak saat Kibotan

    Seputar 2 Ditikam 1 Tertembak saat Kibotan

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sepakat Damai Aksi solidaritas warga Gunung Baringin, Kecamatan Panyabungan Timur, Madina, patut ditiru. Betapa tidak, sekitar 350 keluarga di sana rela merogoh kocek untuk membayar biaya rumah sakit korban penikaman dan penembakan saat kibotan, beberapa malam lalu. Di sisi lain, warga di dua desa tersebut belum mencapai kata sepakat untuk perdamaian. Menurut Tokoh Pemuda Desa […]

  • 500 Anggota TNI Diturunkan Amankan Pilkades Madina

    500 Anggota TNI Diturunkan Amankan Pilkades Madina

    • calendar_month Minggu, 20 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Apel pengamanan Pillkades dan pembagian tugas dilakukan pesaonil TNI dari Kodim 0212/TS di Koramil 13 Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) Minggu 20/8/2023. Apel gabungan ini langsung dihadiri Dandim Letkol.Inf. Amrizal Nasution. Pada Wartawan, Seluruh personil organik Kodim kata Dandim sudah diberi tugas pengamanan ke Desa yang melaksanakan Pilkades pada […]

expand_less