Sabtu, 10 Okt 2026
light_mode

Ari Rayo 1980

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 2 Mei 2022
  • print Cetak

Catatan kecil: Askolani Nasution

Rabu, 13 Agustus 1980

Subuh terdengar nyaring takbir di mesjid. Bertalu-talu dengan suara bedug. Anak-anak berebut memukulinya dengan dua stik rotan yang sudah disiapkan.

“Allohu Akbar Walillahilhamdi….”

Tanpa dibangunkan, aku langsung duduk. Tentu saja, sejak semalaman tak nyenyak tidur karena menunggu hari raya.

Tikar pandan sudah digelar. Karung-karung berisi beras juga sudah ditata rapi. Ada atau tidak yang datang, tikar tetap digelar. Tidak satu dua, bisa lebih. Seolah-olah kalau Lebaran, siapa saja boleh datang untuk mencicipi alame dan lemang.

Aku berdiri dan melihat lemari. Ah, baju lebaran masih ada. Segera berlari ke mesjid membawa kain basahan dan sabun dalam ember kecil.

Pancuran sudah riuh. Semua yang tak biasa mandi pun, pagi itu mendadak mandi. Aku juga mesti dan sigap. Karena kakak dan abang juga menunggu sabun kami satu-satunya. Namanya anak paling kecil, aku diberi prioritas untuk pengguna pertama. Dan karena lebaran, sekali setahun kami pakai sabun mandi wangi. Tidak seperti biasa, hanya sabun batang yang dipotong dua bagian.

Selesai mandi, langsung menyorong baju baru. Ah, kebesaran ternyata. Karena Emak sengaja membeli ukuran untuk dua kali lebaran. Tentu saja, belum tentu tahun depan Emak sanggup membeli baju baru lagi.

Aku langsung menyelami Emak yang sudah berkemas sejak subuh tadi. Ketika aku menyorongkan tangan, Emak langsung memelukku.

“Ma nagodangan ko, Amang,” cetus Mak, seakan-akan untuk memuji dirinya sendiri. Tentu saja, ketika Ayah meninggal, aku aku belum lancar berbicara. Tiba-tiba sekarang sudah bisa menyebut maaf

Tak berlama-lama dalam kesedihan, Emak langsung menarikku makan. Harus makan katanya sebelum sholat Id. Lalu Emak mengambil gulai ayam, pahanya yang paling besar.

Dari mesjid terdengar pesan untuk membawa tikar ‘amparan’. Tentu karena kami sholat Id di tanah lapang. Emak sigap menarik beberapa tikar.

“Ayo,” kata Emak. Aku membawa tikar pandan yang lebih kecil. Emak membawa dua yang lebih besar. Sesekali aku menurunkan tikar karena kain sarungku melorot.

Anak-anak lain bersisihan jalan. Mereka juga bersama Ayah Ibu mereka. Semua tentu berbaju baru dan pakai minyak wangi. Wangi minyak merembes sepanjang jalan yang kita lalui.

Beberapa orang seusia abang dan kakak kita tentu memuji baju baru yang aku pakai. Ada yang sambil mencubit pipiku. Emak tertawa saja. Cubitan juga tanda sayang di kampung kami.

Gadis-gadis bergaya dengan sandal merek Lily. Tentu juga para pemuda dengan model yang berbeda. Juga dengan pangkas barunya. Tak lupa juga minyak rambut merek Lavender yang dibeli secuil semalam.

Anak gadis bergaya. Selendang mereka hanya dililitkan di bahu. Bahkan ada yang pakai sal yang dirajut sendiri selama ramadhan. Rambut ikal mereka dibiarkan tergerai. Rambut ikal dianggap modis. Itu jauh sebelum ada shampoo Sansilk yang menyebut cantik itu rambut hitam lurus tergerai.

Bahkan beberapa pemuda sengaja mengkritingkan rambut mereka. Meniru Ahmad Albar dan Junaidi Salat, pemeran film “Ali Topan Anak Jalanan.” Tapi celana mereka malah meniru gaya Arafiq, penyanyi dangdut dengan mode celana yang khas.

Anak-anak tentu juga dengan pangkas baru. Kemarin sampai malam tukang pangkas masih melayani banyak orang. Karena semua ingin bersih sekali setahun saat lebaran. Dan tentu juga pakai minyak rambut. Setidaknya dari santan kelapa. Tangan mereka juga diolesi santan, biar kesannya glowing.

Selesai sholat Id, anak-anak berebut jajan makan pecal, soto, dan cendol. Riuh. Penjualnya sigap melayani. Satu porsi hanya 25 perak. Dan hari itu, semua anak ingin memakan apa saja yang dijual, karena hanya sekali setahun mereka dikasih uang jajan lebih.

Tak lupa berkunjung ke rumah guru-guru. Salaman dan memohon maaf, sambil makan lemang yang diseduh dengan cytroop. Enak betul, legit dan manis. Warna merahnya menggoda. Belinya masih per sloki.

Ada juga mainan pistol air. Harganya 75 perak. Semua mendadak punya pistol air. Di isi dengan air atau gincu. Tentu kalau gincu tak boleh kena baju. Karena kita sayang betul dengan baju baru kita. Padahal anak-anak suka main perang-perangan.

Muda-mudi tentu berbeda. Mereka ingin nonton bioskop ke Panyabungan. Ramai menunggu angkot bermerek “Mandailing”. Anak muda naik ke atap angkot, atau bergayutan di tangga belakang, atau naik truk terbuka. Jalanan hilir mudik kenderaan.

Ada juga tukang foto keliling. Anak-anak gadis bergaya. Cetaknya setelah seminggu habis lebaran. Tidak afdol kalau berfoto tidak latar bunga. Karena itu, yang punya bunga bogenville di kampung akan menjadi sasaran objek foto. Eh, begitu dicetak, ternyata negatif filmnya terbakar. Padahal, itu foto sudah diniatkan jadi oleh-oleh buat pacar yang pulang kampung. Akhirnya hanya dikasih saputangan dan selembar surat kertas wangi.

4 x 4 = 16

Sempat tidak sempat harus dibalas.

Begitu surat itu ditutup sambil belajar membuat tanda tangan. Bangsat!

Poster bioskop bertebaran. Anak-anak berebut poster yang ditebar dari truk terbuka. Truk itu, sambil memajang poster besar di dindingnya, juga membagikan poster di setiap keramaian kampung, juga tanpa henti mengumumkan dari mic toa mereka tentang film yang akan tayang sepanjang hari hingga malam.

“Saksikan malam ini, duel seru antara Amitabachchan dengan Amjad Khan. Film Naseeb. Bersama Hema Malini. Jangan ketinggalan,” kata reporternya seakan-akan reporter bola di tv.

Kami anak-anak hapal nama-nama aktor India, sekalipun tak pernah menonton. Tentu karena poster-poster itu. Bahkan kami selipkan di buku pelajaran. Ada Amitabachchan, Darmendra, Rishi Kapoor, Sashi Kapoor, Jetendra, Sunil Duut, Rajesh Roshan. Ada juga Hemamalini, Jeenat Aman, Sharmila Tagore, Dimple Kapadia, dll. Poster film mereka selalu menarik dan bergaya.

Beberapa anak berkelahi. Tapi sesaat saja. Segera berteman lagi. Tidak ada musuhan sampai berhari-hari. Orang gampang berkelahi dan gampang juga berdamai. Tidak ada dendam yang disimpan.

Beberapa anak naik sepeda ke kampung tetangga. Tentu keluarga yang punya sepeda saja. Kalau bukan sepeda ontel, ya sepeda merek Phoenix yang sangat terkenal waktu itu.

Seharian kita bebas bermain. Bahkan Emak tak risau kalau kita tak pulang makan siang. Bukankah banyak jajanan di hari lebaran?

Beberapa bahkan ke sawah, mandi di kolam. Berkejaran atau adu cepat berenang. Tentu dengan telanjang karena baju baru tak boleh kumal.

Mandi tak pakai sabun juga tak mengapa. Siapa peduli odol merek Delident? Bahkan anak gadis tak peduli ada shampoo Sunsilk berbentuk bubuk layaknya Rinso.

Anak muda bersiul lagu-lagu India sambil menghisap rokok Commodore, Kansas, atau Lovely. Kalau dapat Gudang Garam merah sudah kren rasanya.

Selama lebaran Emak makan sendiri di rumah. Sekarang, ketika Emak sudah tiada, kita yang makan sendiri sambil mengenang masa kecil yang indah bersama Emak.

Ada orang-orang yang pulang kampung. Kita hanya ingin pulang ke masa kecil bersama Emak. Tapi kenangan memang hanya bisa melongok masa lalu, ia tak pernah punya jalan untuk bisa benar-benar kembali.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Songon Gogat Doma Boto Angkang  Boi Nibayoi

    Songon Gogat Doma Boto Angkang Boi Nibayoi

    • calendar_month Jumat, 29 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sinabiarna nagiot ona rampingkoni marpenong-penong jabat songon aruting nahona tuba, martingkat-tingkat boi nai songon gogat bulusoma, arana inda piga pokennaibe napalaluon ni amantai ma ningna caritona nagiot perampingani, pala namaramping mantong ibarat ni suping nanyiak dei boto, manyarira songon bugang nailasiakan doihot lasiak cino, ning Jatulillama markombur laos mangaregep karupuk jangek. Baen kopi paeti Jabulele […]

  • Solusi Menghentikan Segala Bentuk Penghinaan Terhadap Rasululloh

    Solusi Menghentikan Segala Bentuk Penghinaan Terhadap Rasululloh

    • calendar_month Sabtu, 25 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Dahlena Pulungan Pengajar, tinggal di Padangsidempuan Penghinaan terhadap Nabi Muhammad kembali terjadi, beberapa waktu belakangan, dunia dihebohkan dengan penghinaan Nabi Muhammad di India. Dikutip dari Detik.com, (12/6/2022) seorang politikus India melontarkan komentar yang kontroversional soal Nabi Muhammad. Akibatnya memicu kemarahan dari berbagai negara-negara muslim. Mengutip CNBC yang melansir Sputnik News, juru bicara partai Bharatiya […]

  • 17 Puskesmas Terima Komputer

    17 Puskesmas Terima Komputer

    • calendar_month Selasa, 29 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, (MO) – Sebanyak 17 Puskesmas dari 26 Puskesmas yang ada di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menerima 1 unit komputer untuk masing-masing Puskesmas. Bantuan ini merupakan proyek Niece sebagai tanda ucapan terimakasih berakhirnya kerja sama Pemkab Madina melalui dinas kesehatan dengan program kesehatan dunia itu. Penyerahan berlangsung di aula kantor Dinas Kesehatan Madina di komplek […]

  • Hipnotis marak di Madina

    Hipnotis marak di Madina

    • calendar_month Sabtu, 2 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Masyarakat Mandailing Natal diminta untuk lebih berhati-hati, apalagi jangan membawa uang berlebihan serta barang berharga lainnya ke pasar tradional, sebab belakangan ini aksi penipuan bermodus hipnotis mulai marak di Madina. Menurut data yang dihimpun, dari Polsek Kotanopan dan Polres Madina dalam seminggu ini sudah dua kali terjadi penipuan bermodus hipnotis. Pertama terjadi di […]

  • Longsor di Jalur Tambangan, Tiga Desa Sempat Terisolasi

    Longsor di Jalur Tambangan, Tiga Desa Sempat Terisolasi

    • calendar_month Rabu, 15 Mei 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAMBANGAN (Mandailing Online) – Longsor terjadi di jalur jalan raya Tambangan, Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal, Sumut, Senin dini hari (13/5/2024) akibat curah hujan yang tinggi. Tiga desa sempat terisolasi sejak Senin pagi hingga Selasa siang. Yakni Desa Panjaringan, Rao-rao Dolok dan Rao-rao Lombang berpopulasi total sekitar 120 rumah tangga. Secara umum, penduduk ketiga desa ini […]

  • Kepala Desa Harus Transparan Kelola Dana Desa

    Kepala Desa Harus Transparan Kelola Dana Desa

    • calendar_month Rabu, 24 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN(Mandailing Online) – Para kepala desa di Mandailing Natal harus transparan mengelola Dana Desa agar tidak terjebak dalam masalah hukum. “Karena jika penggunaanya disalahgunakan akan menimbulkan proses hukum yang bisa menjerumuskan kades ke penjara,” kata Ketua DPC PDI Perjuangan Madina, Iskandar Hasibuan kepada Mandailing Online di Panyabungan, Rabu (24/8/2016). Dia juga mengingatkan para kepala desa […]

expand_less