Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Batu Tulis dan Girp (Alat Belajar Anak Masa Lalu)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 23 Des 2022
  • print Cetak

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi
Pembina Forum Pendidik Madina

Sada dua tolu ning na gurui
Opat lima onom mangiut sipitui
Roma si salapan dohot sambilan i
Gonop ma bilangan so ro si sapului
Ulang di tijuran batu tulis i
Um denggan ma di basu dohot aek tawar i

Ini bagian syair dari lagu yang sangat top pada masa awal tahun tujuh puluhan yang sampai saat ini tidak diketahui dengan pasti siapa pengarangnya. Mungkin dia seorang pendidik sehingga tidak berniat untuk dikenal dan mengkomersilkan lagu yang sangat top saat itu. Sebagai pendidik dengan karakter pahlawan tanpa tanda jasa, mungkin pengarang lagu anonim ini hanya ingin lagu tersebut menjadi bagian dari alat sarana memudahkan belajar berhitung bagi anak-anak masa itu.

Pada bagian akhir syair ini tertulis “Ulang di tijuran batu tulis i. Um denggan ma dibasu dohot aek tawar i”. Artinya “Jangan diludahi Batu Tulis, Lebih baik dicuci dengan air tawar” yang menggambar kebiasan praktik anak dalam membersihkan alat tulisnya yang terbuat dari batu tersebut. Tentu ini juga menggambarkan kebenaran tentang keberadaan Batu Tulis sebagai alat belajar bagi anak sekolah masa lalu di Mandailing.

Batu tulis adalah alat bantu belajar untuk keperluan menulis di masa lalu bagi anak di sekolah. Alat tulis ini berupa kepingan batu yang sangat pipih, dibingkai dengan kayu sekelilingnya yang berfungsi untuk pelindung sekaligus asesoris untuk memperindah. Berbagai referensi menyebut batu tulis ini terbuat dari lempengan batu karbon yang dicetak segi empat. Batu ini berwarna hitam dengan permukaan cukup halus pada kedua sisi, sehingga bisa digores.
Ukuran ketebalan kepipihannya hampir sama tebalnya dengan tablet dan ukuran luasnya mirip laptop dengan berbagai ukuran juga. Mungkin bila ada dijumpai saat ini sangatlah mirip dengan tablet hanya saja isinya tentu sangat berbeda. Batu tulis yang diberbagai wilayah disebut dengan Sabak, sangat mudah pecah bila terkena benturan atau terjatuh dari tangan.

Pena untuk menggores di batu tulis seperti disebut sebelumnya disebut namanya Girf. Oleh bangsa Mandailing, Girf ini disebut Geref, mungkin karena kebiasaan dalam penggunaan lapas bahasa di Mandailing. Geref ini terbuat dari jenis batu yang sama dengan Batu Tulis. Bedanya bentuk penanya dibuat seperti pensil dengan ukuran panjang sekitar sepuluh cm dengan diameter sekitar tiga mm. Geref ini akan patah bila terjatuh, karena batu kecil panjang ini sangat mudah patah.

Cara menggunakan batu tulis, selalu berpasangan dengan grif. Batu tulis berfungsi sebagai media tulis sedangkan grip adalah alat tulisnya. Mungkin hal ini berhubungan pula dengan sebutan tempat menyimpan pensil atau balpen sampai saat ini disebut doosgrip, bukan doospen. Bagian yang runcing digoreskan ke bagian batu tulis yang relatif licin sehingga munculnya goresan yang dapat membentuk huruf, angka atau lukisan. Hasil goresan grip dari sisi bagian yang runcing di permukaan batu tulis, akan menghasilkan goresan seperti menulis pada kertas menggunakan pensil, tetapi agak lebih jelas dari tulisan pensil di kertas.

Batu tulis yang kurang lebih selebar laptop ini, tentu tidak dapat menampung banyak konten di dalamnya. Sehingga hampir setiap saat harus dihapus karena konten pelajaran yang bergerak terus. Jadi bukanlah peranti yang dapat menyimpan berkas permanen, tapi hanya digunakan sementara waktu untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru.  Setelah selesai, dapat dihapus dan ditulisi dengan materi pelajaran lainnya, begitu seterusnya. Tentu ada tuntutan yang tinggi terhadap kemampuan menghafal oleh peserta didik. Jadi sangat beda dengan kekinian yang dapat menyimpan dan mengarsipkan konten pelajaran. Dapat dibayangkan bagaimana fungsinya saat itu dengan bagaimana proses  belajar harus dilakukan oleh guru yang setiap saat, dimana konten pelajaran harus di hapus.

Cara menghapus batu tulis dari goresan konten yang ada di atasnya adalah dengan menggunakan air yang diusapkan ke atas permukaan batu tulis yang dituliskan. Bagi pelajar yang usianya masih sangat muda tentu akan merasa lebih praktis menggunakan ijur (ludah) dan mengusapnya dengan tangan. Tentulah meraka belum memahami betul tentang efek kesehatan, etika dan kenyamanan dari bau yang ditimbulkan ludah tersebut. Ini pulalah yang mungkin melatarbelakangi sang pencipta lagu di atas sampai menyinggung kondisi tersebut pada bagian akhir dari syair lagu berbahasa daerah tersebut. Cara lain menghapusnya dapat dengan menggunakan bagian batang besar bunga Angrek yang tumbuh di batang pokok kelapa. Benda ini dipotong bagian ujungnya lalu diusapkan ke batu tulis.

Sampai masa awal tahun tujuh puluhan, batu tulis merupakan alat bantu belajar yang sangat handal. Bahkan di berbagai pelosok Mandailing satu-satunya alat tulis masa itu untuk anak sekolah. Buku masih tergolong mahal bahkan boleh disebut langka sehingga sebahagian tempat seperti di kampungku Alahankae di Ulu Pungkut sulit untuk ditemukan.

Batu tulis ini mungkin dapat dikategorikan sebagai buku tulis kuno. Hal ini terlihat dari berbagai referensi yang menyebut bahwa di Indonesia sampai pada tahun 1960-an batu tulis masih sangat handal untuk alat bantu belajar tulis menulis. Saat ini sudah sulit untuk menemukannya, dan mungkin akan ditemukan pada museum-museum berbasis pendidikan.

Peran batu tulis dengan berbagai tahapan telah jauh berubah. Era milenial ini telah menggunakan peranti digital modern yang mirip dengan bentuk batu tulis, yaitu komputer tablet. Batu tulis digital ini bukan hanya berfungsi sebagai peranti untuk menulis dan berhitung tetapi juga digunakan sebagai alat komunikasi dan fungsi komputer untuk berbagai keperluan.

Dr. M. Daud Batubara, Msi

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Limbah Pengolahan Emas atau Tong Beroperasi Bebas. Warga Mulai Resah Dampak Kimia nya

    Limbah Pengolahan Emas atau Tong Beroperasi Bebas. Warga Mulai Resah Dampak Kimia nya

    • calendar_month Senin, 22 Sep 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online )- tong raksasa untuk pengolahan material pasiran mengandung emas di jalan irigasi desa panyabungan jae, kecamatan panyabungan kota, kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) mersahkan masyarakat. Pasalnya pengolahan emas ini beroperasi dengan menggunakan bahan kimia berbahaya. Inisial ND diduga menjadi pengusaha nya. Aparat penegak hukumpun terkesan tak berani menyentuh nya meski […]

  • Inilah Data Korban Bencana Asap di Riau

    Inilah Data Korban Bencana Asap di Riau

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    PEKANBARU – Korban akibat kabut asap yang melanda Provinsi Riau terus bertambah. Bahkan dalam satu hari penambahan korban mencapai 1.000 jiwa. Data ini berasal dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota se Riau. Kepala UPT Penanggulangan Krisis Dinkes Riau Jhon Kenedi, menyatakan saat ini jumlah laporan korban kabut asap yang masuk di Diskes Riau telah mencapai 9.386 orang. […]

  • Jalan Berlubang Kerap Makan Korban

    Jalan Berlubang Kerap Makan Korban

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Karena, sekitar 2 tahun tidak kunjung diperbaiki, lubang besar di badan Jalan Abri Lama di Kelurahan Kotasiantar, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Madina kerap dan siap menunggu korban. Sementara, warga hanya bisa menancapkan pokok kayu di lubang tersebut agar tidak terjadi kecelakaan lalulintas (lakalantas) lagi. Amatan METRO, Minggu (29/1) sejumlah kendaraan yang melintas di jalan ini […]

  • SBY: Penegak Hukum Harus Bersih dari Korupsi

    SBY: Penegak Hukum Harus Bersih dari Korupsi

    • calendar_month Kamis, 2 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta, Penegak hukum harus bersih dari korupsi. Jangan sampai sebagai pihak yang bertugas melakukan perang terhadap korupsi justru malah tidak beres. Upaya pemberantasan korupsi tidak akan maksimal. “Cegah dan berantas korupsi di lingkungan penegak hukum. Sebagai yang menghunus pedang, penegak hukum harus yang berdiri paling depan,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan di acara […]

  • Meriahkan HUT ke 78 RI di Panyabungan Sisakan Sampah

    Meriahkan HUT ke 78 RI di Panyabungan Sisakan Sampah

    • calendar_month Rabu, 16 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ): Meriahkan HUT ke 78 Republik Indonesia dengan mengadakan karnaval budaya di sepanjang jalan kota Panyabungan sore ini Rabu 16/8/2023 menyisakan 4 sampai 5 ton sampah. Sepanjang jalan mulai dari Taman Kota Panyabungan sampai Pasar Baru tumpukan sampah plastik dan bekas botol minuman berserakan, sejumlah siswa peserta karnaval terlihat ambil bagian dalam […]

  • Batalnya Sunnatullah Karena Allah  Memenangkan Suatu Kaum

    Batalnya Sunnatullah Karena Allah  Memenangkan Suatu Kaum

    • calendar_month Jumat, 20 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Alfisyah Ummu Arifah, S.Pd Pendidik dan Pegiat Literasi Islam Kota Medan Terkadang manusia lupa akan satu perkara yang dihadapinya. Dia sejenak lupa bahwa dia hidup bersandar pada yang lainnya. Faktor x tempat dia bersandar itu, bahkan tak dipikirkannya. Saat kesulitan menimpa manusia tadi, manusia lupa ingin mengadu kepada siapa. Begitulah, sesuai namanya. Al-Insan yang […]

expand_less