Sabtu, 30 Mei 2026
light_mode

Belajar dari Bencana: Kebijakan Melindungi Rakyat, Bukan Demi Keuntungan Sesaat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 13 Des 2025
  • print Cetak

Oleh: Herliana Tri M

Hujan datang, bencana menyapa. Seolah menjadi pemakluman bahwa musibah yang datang karena faktor alam semata. Akhirnya? bencana tak menjadikan kita berbenah dan evaluasi perbaikan keadaan.

Padahal, bencana yang menimpa sebagian wilayah Indonesia saat ini luar biasa efeknya. Ribuan rumah terendam banjir, jumlah korban meninggal dunia akibat hujan deras di sejumlah daerah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mencapai setidaknya 174 orang dan puluhan lainnya dilaporkan masih hilang, hingga Jumat (28/11).  Data yang terhimpun Detik News (1/12/2025) korban jiwa 445 orang dan belum ditemukan sebanyak 209 orang. Tentu ini bukan sekedar angka untuk dihitung semata. Nyawa manusia melayang tak sekedar karena bencana, namun juga efek kelalaian manusia dalam mengambil kebijakan.

Bencana hujan yang menyebabkan banjir serta tanah longsor  juga merusak ribuan rumah dan memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat lebih aman.

Saat Hutan Lindung Alih Fungsi

Dapat dikatakan ini adalah kerusakan lingkungan terparah dampak banjir.
Tak hanya dari segi curah hujan, banjir bandang terlihat parah karena diiiringi oleh menurunnya daya tampung wilayah. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Dr Heri Andreas ST MT.

Pada Saat presipitasi turun, hanya sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai (runoff). Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah.

Alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan dan pemukiman mengurangi kapasitas serapan air di wilayah tersebut. Sehingga  penting menata ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial untuk mitigasi jangka panjang.

Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah akan kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir.

Hutan lindung dengan berbagai macam jenis tanaman baik tanaman berkayu besar, tanaman semak, perdu, ada yang berakar  serabut, tunggang dengan segala macam  karakternya akan saling mendukung, menjaga kesuburan tanah dan memilki daya dukung yang tinggi terhadap penyerapan air hujan.

Hutan  lindung seperti di Sumatera Utara dengan luasan area 1.206.881 hektar  berdasarkan data tahun 2014 dari Badan Pusat Statistik Indonesia, angka ini merupakan bagian dari total kawasan hutan di Sumut yang luasnya mencapai sekitar 3.055.795 hektar menurut data tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik Indonesia.  Kemudian hutan lindung periode 2005-2014 dan 2014-2016, terjadi pengurangan luas sekitar 731.960 hektar. Alih fungsi yang dilakukan oleh perusahaan besar dengan kisaran ratusan ribu hektar tentu memiliki pengaruh besar atas ekosistem disekitarnya. Apalagi kalau kita memperhatikan pengalihan ke perumahan, penambangan, jumlah serapan air tentu jauh sekali berkurangnya.  Peralihan untuk perkebunan yang termasuk tanaman saja mempengaruhi ekosistem, apalagi berubah menjadi bangunan rumah, pabrik dan tambang.

Perkebunan meskipun sama- sama berupa tanaman saja ini masih perlu dikritisi dan memerlukan tinjau akademisnya. Secara umum yang kita ketahui bahwa tanaman perkebunan yang ditanam adalah kelapa sawit.

Kelapa sawit memilki buah dengan biji berkeping satu atau disebut dengan monokotil. Tanaman dengan biji berkeping satu memilki akar serabut, sehingga kelapa sawit merupakan tanaman dengan akar serabut. Akar serabut memiliki ciri khas jenis akar menyebar ke berbagai arah. Terbayang apabila hutan lindung dengan berbagai macam jenisnya berubah menjadi ratusan juta hektar pohon sawit dengan akar serabut yang menyebar dan menutupi permukaan tanah
Maka yang terjadi adalah daya serap terhadap hujan berkurang drastis efek tertutupnya lapisan permukaan tanah dengan akar serabut.  Kondisi ini menjadikan air melaju cepat menuju tempat lebih rendah dan sedikit yang terserap dalam area yang harusnya menjadi hutan lindung dan telah berubah fungsi.

Artinya, bencana ini haruslah dilihat sebagai alarm bangsa ini bahwa ada kebijakan dan perlakuan tak tepat terhadap lingkungan.  Sudah waktunya pemerintah mengambil tanggung jawab atas bencana besar yang telah menghantarkan kerugian baik hilangnya nyawa, harta benda serta usaha yang dikelola masyarakat sebagai sumber mata pencaharian.

Lamban dalam Mengatasi Bencana

Bencana yang menimpa negeri ini tak hanya kali ini saja, bencana besar seperti tsunami Aceh, meletusnya gunung merapi, bahkan berdasarkan data dari USGS dan sumber lainnya, Indonesia memiliki lebih dari 160 gempa bumi berkekuatan 7.0+ dalam skala magnitudo dari periode 1900 sampai sekarang.

Artinya, negara yang belajar tentu dapat mengambil kebijakan baru dan sigap terhadap bencana.  Miris, mitigasi bencana lemah selalu berulang dan terkesan ala kadarnya. Kurangnya sarana dan prasarana penanggulangan bencana pun turut memperburuk keadaan. Lagi-lagi, rakyatlah yang menjadi korban.

Dari sisi menyelesaikan bencana lamban, apalagi pencegahan, bahkan terkesan abai dan lebih memikirkan keuntungan yang hanya dinikmati segelintir orang atau perusahaan yang berkolaborasi dengan penguasa.

Sungguh, bencana ini membuka pandangan masyarakat, bahwa faktor penyebab bencana bukan sekadar cuaca ekstrem atau pasangnya air laut. Justru ketika lingkungan alam tidak rusak, cuaca ekstrem dan banjir rob bisa diatasi. Berarti, alam sebagai  benteng paling tepat untuk menghadapi fenomena ekstrem yang  dirusak oleh kebijakan kurang tepat.

Paradigma kapitalis yang hanya berfikir keuntungan menjadikan alih fungsi hutan lindung begitu menggiurkan. Ibaratnya, dari pada lahan nganggur tidak memberikan manfaat, kenapa tidak dimanfaatkan saja menjadi cuan? Akhirnya inilah yang terjadi, penggundulan hutan untuk alih fungsi menjadikan benteng dari bencana terkikis dan tak mampu membendungnya. Daya dukung alam yang rendah akhirnya harus dihadapi rakyat dengan bencana yang harus ditanggung rakyat.

Paradigma Islam Memandang Alam

Islam menetapkan fungsi penguasa untuk mengurusi urusan umat (raa’in) dan melindungi mereka (junnah). Disinilah fungsi penguasa mengerahkan segala daya untuk menyejahterakan rakyat dan menjauhkan mereka dari semua hal yang membinasakan.
Dengan paradigma ini, penguasa akan senantiasa menjaga alam karena alamlah penjaga alami terhadap peluang bencana.

Apabila bencana terjadi, artinya cepat tanggap dan langkah-langkah harus segera diambil negara untuk mengatasi musibah, pemimpin akan mengambil langkah cepat dengan mengkoordinir wali atau gubernur yang tak mengalami musibah untuk menurunkan bantuan, dan negara akan mengeluarkan dana dari kas negara yang ada untuk menyelesaikan bencana sampai tuntas.  Tak sekedar masyarakat lepas dari bencana, namun menyiapkan sandang pangan serta papannya agar mereka bisa melanjutkan hidup secara normal pasca musibah. Bahkan andai mereka kehilangan mata pencaharain sebagai efek bencana, negara akan menyiapkan untuk lapangan kerja penggantinya.

Inilah gambaran hadirnya penguasa menyelesaikan permasalahan apapun yang hadir di tengah rakyat. Ia benar- benar hadir sebagai penjaga dan pelindung. Wajar pemimpin seperti ini akan dicintai oleh rakyatnya.  Senantiasa dirindukan kehadirannya.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • MPC PP Madina Adakan Berbagai Lomba Jelang Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

    MPC PP Madina Adakan Berbagai Lomba Jelang Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

    • calendar_month Selasa, 28 Sep 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2021 pada Jumat 1 Oktober 2021, Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Mandailing Natal (MPC PP Madina) menggelar berbagai lomba dengan hadiah menarik. Kegiatan bertajuk MPC PP Kab Madina Competition diisi dengan aneka lomba yakni lomba karya tulis ilmiah, fotografi, puisi, dan video kreatif bertemakan patriotisme, […]

  • 69 Orang Pejabat Eselon III dan IV Pemkab Madina Dimutasi

    69 Orang Pejabat Eselon III dan IV Pemkab Madina Dimutasi

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 69 orang pejabat eselon III dan IV di Pemkab Mandailing Natal (Madina) dimutasi, Senin, (4/5). Pelantikan dilakukan Asisten Administrasi, Syahdan Lubis di aula kantor Bupati Madina. Pelantikan ini berdasar surat keputusan Bupati Madina Surat Keputusan Bupati Madina nomor : 821.2/342/K/ 2015 tanggal 29 April 2015 tentang Pengangkatan,Pemindahan dan Pemberhentian […]

  • Karyawan Perusahaan Sawit PT S3 Yang Ditemukan Meninggal Dunia Diduga Belum Terdaftar Sebagai Peserta BPJS Ketenagakerjaan

    Karyawan Perusahaan Sawit PT S3 Yang Ditemukan Meninggal Dunia Diduga Belum Terdaftar Sebagai Peserta BPJS Ketenagakerjaan

    • calendar_month Sabtu, 30 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- PT. Sawit Sukses Sejati ( S3 ) yang beropedasi di Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal ( Madina ) tadi malam Jum’at 29/9/2023 akhirnya mendatangi rumah Mirwan alias Junaidy yang menjadi korban kecelakaan kerja pada Rabu 27/9/2023 kemaren yang mengakibatkan Mirwan/ Junaidy meninggal dunia. Waitir keluarga korban mengaku ,diwakili Humasy […]

  • Pajak Sawit, Pusat Menikmati, Daerah Merana

    Pajak Sawit, Pusat Menikmati, Daerah Merana

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Lokasi perkebunan sawit itu berada di daerah. Tetapi justru pemerintah pusat yang selama ini menikmati uangnya. Yaitu pemasukan dari perkebunan-perkebunan sawit itu. Jenis pemasukan itu termasuk dari Bea Keluar (BK) dan Pungutan Eskpor (PE). Nilainya sangat besar. Daerah? Hanya menerima dampak lingkungan dan kerusakan infrastruktur, seperti kerusakan jalan dan jembatan akibat pengangkutan CPO. Tingginya potensi […]

  • Siap-Siap, Tengah Malam Nanti Harga BBM Non-Subdidi Naik Lagi

    Siap-Siap, Tengah Malam Nanti Harga BBM Non-Subdidi Naik Lagi

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – PT Pertamina kembali menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Berdasarkan surat edaran yang dikeluarkan Pertamina Region III, terhitung mulai Jumat (15/5) pukul 00.00 nanti harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga Pertamax yang semula dibanderol Rp 8.800 akan naik menjadi menjadi Rp 9.600 per liter. Sedangkan Pertamax Plus naik dari […]

  • Kepala BIN: Pilkada Ditunda Jika Daerah Hanya ada Satu Calon

    Kepala BIN: Pilkada Ditunda Jika Daerah Hanya ada Satu Calon

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatakan pilkada serentak bisa ditunda jika ada daerah yang hanya memiliki satu pasangan calon kepala daerah. “Belakangan ini ada beberapa kendala yang tidak disangka-sangka adalah ada Kabupaten atau kota yang tidak ada calonnya. Itu konsekuensinya harus ditunda pada periode berikutnya,” ujar Sutiyoso di Balai Kartini, Jakarta, Kamis […]

expand_less