Jumat, 28 Agu 2026
light_mode

Belajar dari Bencana: Kebijakan Melindungi Rakyat, Bukan Demi Keuntungan Sesaat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 13 Des 2025
  • print Cetak

Oleh: Herliana Tri M

Hujan datang, bencana menyapa. Seolah menjadi pemakluman bahwa musibah yang datang karena faktor alam semata. Akhirnya? bencana tak menjadikan kita berbenah dan evaluasi perbaikan keadaan.

Padahal, bencana yang menimpa sebagian wilayah Indonesia saat ini luar biasa efeknya. Ribuan rumah terendam banjir, jumlah korban meninggal dunia akibat hujan deras di sejumlah daerah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mencapai setidaknya 174 orang dan puluhan lainnya dilaporkan masih hilang, hingga Jumat (28/11).  Data yang terhimpun Detik News (1/12/2025) korban jiwa 445 orang dan belum ditemukan sebanyak 209 orang. Tentu ini bukan sekedar angka untuk dihitung semata. Nyawa manusia melayang tak sekedar karena bencana, namun juga efek kelalaian manusia dalam mengambil kebijakan.

Bencana hujan yang menyebabkan banjir serta tanah longsor  juga merusak ribuan rumah dan memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat lebih aman.

Saat Hutan Lindung Alih Fungsi

Dapat dikatakan ini adalah kerusakan lingkungan terparah dampak banjir.
Tak hanya dari segi curah hujan, banjir bandang terlihat parah karena diiiringi oleh menurunnya daya tampung wilayah. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Dr Heri Andreas ST MT.

Pada Saat presipitasi turun, hanya sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai (runoff). Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah.

Alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan dan pemukiman mengurangi kapasitas serapan air di wilayah tersebut. Sehingga  penting menata ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial untuk mitigasi jangka panjang.

Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah akan kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir.

Hutan lindung dengan berbagai macam jenis tanaman baik tanaman berkayu besar, tanaman semak, perdu, ada yang berakar  serabut, tunggang dengan segala macam  karakternya akan saling mendukung, menjaga kesuburan tanah dan memilki daya dukung yang tinggi terhadap penyerapan air hujan.

Hutan  lindung seperti di Sumatera Utara dengan luasan area 1.206.881 hektar  berdasarkan data tahun 2014 dari Badan Pusat Statistik Indonesia, angka ini merupakan bagian dari total kawasan hutan di Sumut yang luasnya mencapai sekitar 3.055.795 hektar menurut data tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik Indonesia.  Kemudian hutan lindung periode 2005-2014 dan 2014-2016, terjadi pengurangan luas sekitar 731.960 hektar. Alih fungsi yang dilakukan oleh perusahaan besar dengan kisaran ratusan ribu hektar tentu memiliki pengaruh besar atas ekosistem disekitarnya. Apalagi kalau kita memperhatikan pengalihan ke perumahan, penambangan, jumlah serapan air tentu jauh sekali berkurangnya.  Peralihan untuk perkebunan yang termasuk tanaman saja mempengaruhi ekosistem, apalagi berubah menjadi bangunan rumah, pabrik dan tambang.

Perkebunan meskipun sama- sama berupa tanaman saja ini masih perlu dikritisi dan memerlukan tinjau akademisnya. Secara umum yang kita ketahui bahwa tanaman perkebunan yang ditanam adalah kelapa sawit.

Kelapa sawit memilki buah dengan biji berkeping satu atau disebut dengan monokotil. Tanaman dengan biji berkeping satu memilki akar serabut, sehingga kelapa sawit merupakan tanaman dengan akar serabut. Akar serabut memiliki ciri khas jenis akar menyebar ke berbagai arah. Terbayang apabila hutan lindung dengan berbagai macam jenisnya berubah menjadi ratusan juta hektar pohon sawit dengan akar serabut yang menyebar dan menutupi permukaan tanah
Maka yang terjadi adalah daya serap terhadap hujan berkurang drastis efek tertutupnya lapisan permukaan tanah dengan akar serabut.  Kondisi ini menjadikan air melaju cepat menuju tempat lebih rendah dan sedikit yang terserap dalam area yang harusnya menjadi hutan lindung dan telah berubah fungsi.

Artinya, bencana ini haruslah dilihat sebagai alarm bangsa ini bahwa ada kebijakan dan perlakuan tak tepat terhadap lingkungan.  Sudah waktunya pemerintah mengambil tanggung jawab atas bencana besar yang telah menghantarkan kerugian baik hilangnya nyawa, harta benda serta usaha yang dikelola masyarakat sebagai sumber mata pencaharian.

Lamban dalam Mengatasi Bencana

Bencana yang menimpa negeri ini tak hanya kali ini saja, bencana besar seperti tsunami Aceh, meletusnya gunung merapi, bahkan berdasarkan data dari USGS dan sumber lainnya, Indonesia memiliki lebih dari 160 gempa bumi berkekuatan 7.0+ dalam skala magnitudo dari periode 1900 sampai sekarang.

Artinya, negara yang belajar tentu dapat mengambil kebijakan baru dan sigap terhadap bencana.  Miris, mitigasi bencana lemah selalu berulang dan terkesan ala kadarnya. Kurangnya sarana dan prasarana penanggulangan bencana pun turut memperburuk keadaan. Lagi-lagi, rakyatlah yang menjadi korban.

Dari sisi menyelesaikan bencana lamban, apalagi pencegahan, bahkan terkesan abai dan lebih memikirkan keuntungan yang hanya dinikmati segelintir orang atau perusahaan yang berkolaborasi dengan penguasa.

Sungguh, bencana ini membuka pandangan masyarakat, bahwa faktor penyebab bencana bukan sekadar cuaca ekstrem atau pasangnya air laut. Justru ketika lingkungan alam tidak rusak, cuaca ekstrem dan banjir rob bisa diatasi. Berarti, alam sebagai  benteng paling tepat untuk menghadapi fenomena ekstrem yang  dirusak oleh kebijakan kurang tepat.

Paradigma kapitalis yang hanya berfikir keuntungan menjadikan alih fungsi hutan lindung begitu menggiurkan. Ibaratnya, dari pada lahan nganggur tidak memberikan manfaat, kenapa tidak dimanfaatkan saja menjadi cuan? Akhirnya inilah yang terjadi, penggundulan hutan untuk alih fungsi menjadikan benteng dari bencana terkikis dan tak mampu membendungnya. Daya dukung alam yang rendah akhirnya harus dihadapi rakyat dengan bencana yang harus ditanggung rakyat.

Paradigma Islam Memandang Alam

Islam menetapkan fungsi penguasa untuk mengurusi urusan umat (raa’in) dan melindungi mereka (junnah). Disinilah fungsi penguasa mengerahkan segala daya untuk menyejahterakan rakyat dan menjauhkan mereka dari semua hal yang membinasakan.
Dengan paradigma ini, penguasa akan senantiasa menjaga alam karena alamlah penjaga alami terhadap peluang bencana.

Apabila bencana terjadi, artinya cepat tanggap dan langkah-langkah harus segera diambil negara untuk mengatasi musibah, pemimpin akan mengambil langkah cepat dengan mengkoordinir wali atau gubernur yang tak mengalami musibah untuk menurunkan bantuan, dan negara akan mengeluarkan dana dari kas negara yang ada untuk menyelesaikan bencana sampai tuntas.  Tak sekedar masyarakat lepas dari bencana, namun menyiapkan sandang pangan serta papannya agar mereka bisa melanjutkan hidup secara normal pasca musibah. Bahkan andai mereka kehilangan mata pencaharain sebagai efek bencana, negara akan menyiapkan untuk lapangan kerja penggantinya.

Inilah gambaran hadirnya penguasa menyelesaikan permasalahan apapun yang hadir di tengah rakyat. Ia benar- benar hadir sebagai penjaga dan pelindung. Wajar pemimpin seperti ini akan dicintai oleh rakyatnya.  Senantiasa dirindukan kehadirannya.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 500-an Mahasiswa, OKP dan Pelajar Madina Tolak RUU KPK dan KUHP

    500-an Mahasiswa, OKP dan Pelajar Madina Tolak RUU KPK dan KUHP

    • calendar_month Jumat, 27 Sep 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 500 mahasiswa, pelajar dan organisasi kepemudaan berunjukrasa ke gedung DPRD Mandailing Natal, Jum’at (27/9/2019) menolak revisi UU KUHP dan UU KPK. Unjukrasa ini berlangsung sejak pukul 9.20 WIB. Massa bergerak pawai dari masjid agung Nur Ala Nur menuju gedung DPRD Mandailing Natal (Madina) yang berjarak sekira 1,5 kilo meter. […]

  • 150 Miliar APBN Tahun ini Untuk Pembangunan Jalan di Batahan dan Muara Batang Gadis

    150 Miliar APBN Tahun ini Untuk Pembangunan Jalan di Batahan dan Muara Batang Gadis

    • calendar_month Selasa, 25 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) demi menunjang infrastruktur Kawasan Ekonomi Khusus ( KEK ) di Kabupaten Mandailing Natal, Presiden melalui Impres nya tahun ini mengalokasikan anggaran untuk pembangunan jalan  pelabuhan Palimbungan Batahan di Kecamatan Batahan senilai Rp 100 miliar. Selain di Kecamatan Batahan, di Kecamatan Muara Batang Gadis juga dialokasikan anggaran senilai Rp 50 miliar. Bupati […]

  • Usai Nonton Debat, Fahrizal Sebut Saipullah Calon Bupati Kelas Menteri

    Usai Nonton Debat, Fahrizal Sebut Saipullah Calon Bupati Kelas Menteri

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PALUTA (Mandailing Online) – Ketua DPD Partai Hanura Mandailing Natal (Madina) Fahrizal Efendi Nasution menilai wawasan dan pengalaman birokrasi calon bupati Madina nomor urut 2, H. Saipullah Nasution, boleh dibilang sudah sekelas menteri. Dia menyampaikan penilaian itu usai menonton debat publik Pilkada Madina 2024. “Wawasan dan pengalaman Saipullah itu boleh kita bilang sudah sekelas menteri,” […]

  • Warga Sihepeng Blokade Jalinsum Protes Tangkap Lepas Narkoba. Polisi Temukam Belasan Bungkus Narkoba Jenis Sabu

    Warga Sihepeng Blokade Jalinsum Protes Tangkap Lepas Narkoba. Polisi Temukam Belasan Bungkus Narkoba Jenis Sabu

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Ratusan masyarakat sehepeng di Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) menggelar aksi blokade jalan lintas sumatera. Aksi ini dilakukan warga sebagai bentuk protes terhadap dugaan tangkap lepas pelaku pengguna narkoba. Senin 10/2/2024 Aksi yang digelar warga sihepeng raya itu sempat menimbulkan kemacetan jalur lintas sumatera. aksi warga ini […]

  • DPC Ikanas Sambut Positif Sertifikat Bebas Frambusia untuk Madina

    DPC Ikanas Sambut Positif Sertifikat Bebas Frambusia untuk Madina

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) memperoleh Sertifikat Eradikasi Frambusia mendapatkan respon positif dari DPC Khusus Ikanas Madina. Penghargaan untuk daerah bebas Frambusia tersebut diterima oleh Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution di sela-sela Peringatan Hari Malaria Sedunia yang dipusatkan di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (31/5). Ketua […]

  • Tiga Kandidat Bupati Madina Yang Muncul

    Tiga Kandidat Bupati Madina Yang Muncul

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Meski tahapan pendaftaran bakal calon bupati Madina ke KPU diperkirakan bulan Juni, namun sejauh ini sudah muncul 3 kandidat yang mendaftar ke partai-partai politik. Ketiga nama itu adalah Saparuddin Haji Lubis, Ivan Iskandar Batubara dan Dahlan Hasan Nasution. Saparuddin Haji Lubis atau akrab dipanggil Akong berasal dari kalangan dunia usaha. […]

expand_less