Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Dari Focus Group Discussion : Batak itu Ahistoris, Tak Ditemukan dalam Hasanah Kuno

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 24 Okt 2017
  • print Cetak

Dr Phil Ichwan Azhari dan Prof Usman Pelly dalam Focus Group Discussion di Hotel Madani, Medan, Senin (23/10/2017)

Mandailing menolak secara tegas disebut atau bagian dari Batak, bahkan perbantahan etnik Mandailing dikelompokkan dalam etnik Batak telah berlangsung lebih dari 100 tahun.Karena Batak adalah istilah atau pelabelan oleh orang asing khususnya Belanda.

Hal ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Mandailing bukan Batak yang berlangsung di VIP Restoran Hotel Madani, Senin (23/10/2017).

Hadir dalam FGD peneliti dan sejarawan Dr Phil Ichwan Azhari, antropolog Prof Usman Pelly, dan juga peneliti Pussis Universitas Negeri Medan (UNIMED) Erron Damanik serta puluhan peserta dari berbagai kalangan. Hadir juga kalangan wartawan.

Eron Damanik mengungkapkan, Mandailing telah menolak disebut Batak sejak 1922, Karo menolak disebut Batak sejak 1952, Simalungun menolak disebut Batak sejak 1963, lalu Pakpak menolak disebut Batak sejak 1964, juga Nias menolak disebut Batak sejak 1952, namun Toba dan Angkola tetap kukuh menerima disebut Batak. Mengutip Vinner (1980) perbedaan mendasar dari kelompok etnik yang disatukan adalah bahasa. Keenam etnik tersebut memiliki perbedaan bahasa yang mencolok.

“Tidak ada yang disebut Batak, yang ada adalah Mandailing, Toba, Pakpak, Karo, Simalungun dan Angkola. Batak adalah ahistoris,” tegasnya seraya menyebut itu diketahuinya berdasarkan teori yang ada.

Antropolog Usman Pelly mengungkapkan, “tidak ada satu pun kata Batak yang bisa ditemukan dalam khasanah atau pun manuskrip kuno baik dari khasanah Toba, Angkola, Karo, Pakpak, Simalungun apalagi Mandailing. “Misalnya dalam stempel Raja Sisingamangaraja XII hanya tertulis Ahu Si Raja Toba, tidak ada si Raja Batak. Batak tidak ada dalam khasanah pustaka baik Toba, Angkola, apalagi Mandailing,” kata Usman Pelly.

Hal ini menurut Usman, adalah pendapat akademis. Bukan pendapat untuk memecah belah persatuan apalagi pendapat dalam konteks kepentingan politik elektoral.

Sejarawan Ichwan Azhari mengungkapkan berdasarkan banyak literatur, Batak digunakan para peneliti asing untuk menunjukkan lokasi geografis masyarakat. Batak digunakan untuk mendeskripsikan masyarakat yang mendiami wilayah hinterland atau dataran tinggi. Sedangkan masyarakat pesisir diidentikan dengan melayu.

Istilah Batak awalnya digunakan peneliti asing untuk menyebut masyarakat tak beradab, atau istilah yang tidak diinginkan lalu bergeser menjadi istilah untuk menggambarkan masyarakat di pegunungan, kemudian berproses menjadi identitas dan kebanggaan.

Identitas ini kemudian mendapat perbantahan utamanya dari masyarakat Mandailing. Mandailing menolak disebut sebagai Batak. “Tidak ada yang konsisten menolak Batak selain Mandailing,” kata Ichwan.

Batak menurut Ichwan, muncul karena adanya penulis yang setuju penggunaan istilah Batak untuk menggambarkan etnik-etnik yang ada mulai dari Mandailing, Toba, Angkola, Karo, Pakpak hingga Simalungun. Kondisi ini diperparah dengan minimnya riset yang dilakukan. Riset-riset selama ini justru didominasi oleh peneliti asing. “Untuk bisa melawan itu sebanyak mungkin bisa menulis melakukan riset-riset, kegelisahan-kegelisahan ini bisa melahirkan kajian-kajian,” ungkapnya.

Peneliti Erron Damanik secara rinci menegaskan dijadikan enam etnis menjadi sub etnik dalam batak dimulai dari Payung Bangun. Payung kemudian menginspirasi antropolog Koentjaraningrat yang menulis buku “Manusia dan Kebudayaan” yang kemudian menjadi referensi. Dalam salah satu bab buku tersebut, ada bab yang menjelaskan Batak dan memasukkan Mandailing, Toba, Angkola, Karo, Pakpak hingga Simalungun kedalam Batak. “Marsden menolak itu tidak homogen,” katanya. (http://sentralberita.com/husni)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sidak Pembangunan Sejumlah Ruas Jalan, Elpiyanti Harahap Minta Kontraktor Kejar Progres Dengan Kedepankan Kualitas

    Sidak Pembangunan Sejumlah Ruas Jalan, Elpiyanti Harahap Minta Kontraktor Kejar Progres Dengan Kedepankan Kualitas

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA- Mandailing Online : Pengerjaan proyek jalan di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) tahun anggaran 2024 sumber dana dari Dana Alokasi Khusus ( DAK) yang diposkan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penata Ruang (PUPR) terus dikebut pengerjaannya dengan mengedepankan kualitas. Pj Kadis PUPR Madina Elpiyanti Harahap bersama sejumlah Kepala Bidang beberapa hari terkahir pun melakukan […]

  • Atika: Pemkab Madina Jaga Inflasi Tak Melonjak

    Atika: Pemkab Madina Jaga Inflasi Tak Melonjak

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) menjaga inflasi daerah agar tidak melonjak tak terkontrol dengan Gerakan Pangan Murah untuk komoditas beras sebanyak tujuh ton pada Kamis, 14 Agustus 2025. “Ini adalah komitmen kami menjalankan perintah Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga angka inflasi tidak melonjak tak terkontrol di tengah situasi ekonomi […]

  • Kepala Desa di Madina Nihil Visi Ekonomi, Akibatnya Dana Desa Tak Berdampak Memakmurkan Rakyat

    Kepala Desa di Madina Nihil Visi Ekonomi, Akibatnya Dana Desa Tak Berdampak Memakmurkan Rakyat

    • calendar_month Selasa, 4 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mayoritas kepala desa di Mandailing Natal (Madina) tidak memiliki visi terhadap pengembangan perekonomian desa. Hal itu dibuktikan minimnya jumlah desa yang mengarahkan Dana Desa bagi upaya pertumbuhan ekonomi desa. “Niat pemerintah Indonesia memajukan ekonomi penduduk desa melalui Dana Desa justru mentok di tangan kepala desa,” kata Maruli Borotan, warga Panyabungan […]

  • Sungai Aek Mata dan Sungai Rantopuran Meluap

    Sungai Aek Mata dan Sungai Rantopuran Meluap

    • calendar_month Selasa, 15 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sungai Aek Mata yang membelah kota Panyabungan, Mandailing Natal meluap, Selasa sore (15/11). Luapan arus cukup mengkhawatirkan, sehingga  sekira pukul 17.00 WIB masjid di Kelurahan Panyabungan III  mengeluarkan pengumuman supaya masyarakat waspada melihat naiknya debit air sungai. Warga yang bermukim di kawasan bantaran sungai terlihat panik, karena sebagian pemukiman sudah dibanjiri […]

  • Tambang emas di Madina longsor, 1 tewas puluhan tertimbun

    Tambang emas di Madina longsor, 1 tewas puluhan tertimbun

    • calendar_month Rabu, 6 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, (MO) – Pertambangan emas milik masyarakat di Desa Hutajulu, Kecamatan Hutabargot, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara mengalami longsor dan menyebabkan sejumlah penambang tertimbun, Selasa. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mandailing Natal Rizfan Juliardi mengatakan, peristiwa longsor itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Dari pencarian dan penggalian yang dilakukan bersama personel kepolisian, pihaknya […]

  • Seorang Advokat Madina Penuhi Panggilan Polisi Kasus Dugaan Penganiayaan

    Seorang Advokat Madina Penuhi Panggilan Polisi Kasus Dugaan Penganiayaan

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Seorang Advokat berinisial S dilaporkan ke Kepolisian atas dugaan tindak pidana penganiayaan pasca melakukan persidangan di Pengadilan Agama Panyabungan. Subur Siregar, S.H., selaku kuasa Hukum mengatakan kliennya Aspar Zulhandi telah melaporkan S yang merupakan seorang advokat atau pengacara pihak penggugat atau Istri Pelapor dalam perkara cerai gugat dan hak pasca perceraian. […]

expand_less