Jumat, 16 Okt 2026
light_mode

Gubuk Terpal, Saksi Kemiskinan yang Terlupakan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 16 Jun 2021
  • print Cetak

Gubuk tenda yang dihuni Suriadi dan keluarga di Desa Rambah, Kecamatan Rambah Hilir, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi Riau. Foto: Kompas.com

Oleh: Alfisyah Ummu Arifah
Guru dan Pegiat Literasi Islam

Menyedihkan dan membuat gerimis hati siapa saja yang melihatnya. Potret kemiskinan di negeri ini memang seperti fenomena gunung es. Data dan fakta yang tersembunyi lebih banyak lagi. Pendataan tak rapih menjadi pangkal persoalan dari kasus kemiskinan serupa. Jika di ibukota ada yang tinggal di bawah jembatan, di tempat sampah dan gunungannya, ada yang di kuburan dan tempat tak layak lainnya.

Seorang laki-laki berusia 45 tahun bernama Suriadi dan istri serta kedua anaknya tinggal di gubuk terpal ini sudah empat tahun. Menurut pengakuan mereka, mereka tak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah setempat.  Fakta tak terbantahkan ini memang belum pernah akan usai. Sistem manusia kapitalisme yang tak mensejahterakan semua manusia inilah yang membuat masyarakat di negara ini bertambah miskin.

Karena keterbatasan ekonomi, pria 45 tahun ini bersama istri dan anak-anaknya terpaksa tinggal di gubuk reot yang dibuat dari terpal plastik di Desa Rambah, Kecamatan Rambah Hilir, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi Riau.

Di gubuk itu, Suriadi tinggal bersama istrinya, Salini Noviani (31) dan dua orang anak perempuan, Nindi Hara Pipah Wina (10) bayi  berusia lebih kurang satu tahun. Suriadi bercerita bahwa sudah empat tahun tinggal di gubuk berukuran 3×4 meter (Kompas.com, 26/04/21).

Padahal salah satu kewajiban asasi seorang pemimpin pada masyarakatnya adalah memudahkan masyarakat memiliki hunian yang layak. Juga memudahkan kepala keluarga untuk mencari nafkah. Artinya lapangan pekerjaan mesti disiapkan negara untuk semua lelaki yang bertanggung jawab pada keluarganya. Satu lagi yang tak boleh lupa adalah menyediakan pakaian layak untuk masyarakat. Maka, jika negara itu beres dalam menjadikan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Itulah kebutuhan asasi seorang warga negara yang harus disediakan penguasanya secara gratis dan murah.

Selain itu, ada kebutuhan kolektif yang harus diberikan secara cuma-cuma oleh negara. Misalnya pendidikan, kesehatan dan jaminan keamanan dalam kehidupan bernegaranya. Siapapun dia mendapatkan pelayanan yang layak.

Jika kini ada yang tak terdata hidup di gubuk terpal, tempat sampah, kolong jembatan sesungguhnya itu fenomena gunung es yang tak nampak. Suatu saat akan menimbulkan masalah bagi negeri ini. Ini juga merupakan gambaran buruknya pelayanan negara terhadap masyarakat.

Prinsip good government ternyata belum tercapai. Pemerintah mesti intropeksi akan hal ini. Beritikad baik untuk memperbaiki keadaan masyarakat. Jangan ada lagi Suriadi yang lain yang tinggal di tempat tak layak. Mereka ada untuk diurus urusannya. Itu amanah dari Allah untuk setiap pemimpin negeri.

Namun jika pemimpin itu masih berfikir dan mengurus urusan masyarakat dengan sistem kapitalisme, masyarakat sejahtera hanya akan menjadi mimpi di siang bolong. Harus ada gebrakan mengganti sistem kapitalisme dengan sistem yang kapabel dalam mengurus masyarakat. Sistem yang tidak cacat, tidak rusak atau merusak serta sistem yang mensejahterakan.

Tentu dengan arahan sang pencipta. Aturan itu adalah aturan ilahi yang bebas dari kesalahan dan kekeliruan dalam melayani masyarakat. Sebab mekanisme untuk mensejahterakan masyarakat sudah teruji selama 13 abad. Tinggal diulangi lagi kegemilangan itu yang kedua kali. Wallahu a’lam bish-showaab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • DAMPAK MERCURY (AIR RAKSA) TERHADAP LINGKUNGAN

    DAMPAK MERCURY (AIR RAKSA) TERHADAP LINGKUNGAN

    • calendar_month Minggu, 5 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Khoiruddin Faslah Siregar Dampak Merkuri terhadap lingkungan Mercury dapat terakumulasi dilingkungan dan dapat meracuni hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme. Acidic permukaan air dapat mengandung signifikan jumlah raksa. Bila nilai pH adalah antara lima dan tujuh, maka konsentrasi raksa di dalam air akan meningkat karena mobilisasi raksa dari dalam tanah. Setelah raksa telah mencapai permukaan […]

  • KontraS Sumut Dampingi Korban Kekerasan Polisi

    KontraS Sumut Dampingi Korban Kekerasan Polisi

    • calendar_month Minggu, 25 Jul 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – KontraS Sumatera Utara menyoroti tindak kekerasan oknum polisi di Sumut terhadap tersangka. Itu terkait kasus dua warga Medan atas nama Rian dan Deva yang diduga telah menjadi korban penyiksaan oknum polisi inisial AS di sekitar Jl. SM. Raja, Medan (29/06/21) akibat dituduh mencuri heandphone milik AS. HP tersebut sebenarnya sudah dikembalikan […]

  • 23 Puskesmas di Madina Sudah Terakreditasi

    23 Puskesmas di Madina Sudah Terakreditasi

    • calendar_month Rabu, 20 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dari 26 jumlah total jumlah puskesmas di Madina, 23 sudah terakreditasi. Dari 23 itu, 20 puskemas diantaranya suratnya sudah turun dan 3 lagi masih dalam proses. Berdasar klasifikasi, dari 20 puskesmas tersebut terdapat 2 Akreditas Utama, 13 Akreditas Madya, dan 5 Akreditas Dasar. Itu diungkap Kepala Dinas Kesehatan Mandailing […]

  • Selama Ramadhan, Jerman Bebaskan Pajak Pemilik Usaha Restoran dan Pasar Muslim

    Selama Ramadhan, Jerman Bebaskan Pajak Pemilik Usaha Restoran dan Pasar Muslim

    • calendar_month Sabtu, 11 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JERMAN (Mandailing Online) – Kanselir Jerman Angela Merkel hari Sabtu (4/6/2016) menandatangani keputusan untuk mengecualikan para pemilik restoran dan pasar Muslim dari pungutan pajak selaman bulan suci Ramadhan. Menurut laporan Russia Today, keputusan itu diambil agar rumah-rumah makan Muslim dapat menurunkan harga makanan untuk umat Islam yang berpuasa di bulan Ramadhan. Angela Merkel, wanita pertama […]

  • 35 Imigran Gelap Asal Srilanka Terdampar di Mandailing Natal

    35 Imigran Gelap Asal Srilanka Terdampar di Mandailing Natal

    • calendar_month Senin, 19 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA, (MO)- Akibat mengalami kerusakan kapal di tengah laut, 35 orang imigran gelap asal Srilanka tujuan Australia terdampar di Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Para imigran tersebut pertama kali ditemukan oleh nelayan tradisional di Kecamatan Natal. Ketika itu kapal motor mereka tengah terombang-ambing di Laut Selat India. Para nelayan tradisional berusaha menolong dengan menarik kapal […]

  • Sekda Langkat Garansi Keamanan Uang Korupsi Syamsul

    Sekda Langkat Garansi Keamanan Uang Korupsi Syamsul

    • calendar_month Sabtu, 7 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LANGKAT- Sekdakab Langkat, Surya Djahisa, meyakinkan uang Rp75 miliar lebih sitaan hasil korupsi mantan bupati Syamsul Arifin yang dikembalikan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) aman dari praktik ilegal. Ya, kendati uang dimasukan ke rekening kas daerah. “Uang itu memang masuk di rekening kas daerah. Berita acaranya jelas, jadi tidak mungkin dapat dipergunakan dengan kegiatan yang aneh-aneh. […]

expand_less