Kamis, 22 Okt 2026
light_mode

Harga Naik Atau Pemakaian BBM Bersubsidi Dibatasi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 8 Jul 2011
  • print Cetak


Depok –
Pemerintah saat ini dihadapkan pada pilihan sulit, ibarat makan buah simalakama, terkait perkiraan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang membengkak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011.

Dua pilihan yang sama sulit adalah menaikkan harga BBM bersubsidi atau menerapkan pembatasan pemakaian BBM bersubsidi agar pembengkakan subsidi BBM dapat diminimalisasikan atau dikurangi. Karena itu meski dua-duanya tidak populer, salah satu alternatif ini harus segera diputuskan.

Kalau tidak, menurut Direktur Eksekutif Inisiatif Efisiensi Energi, Saraswati W Hapsari, Indonesia seperti diramalkan Bank Dunia akan menghadapi kesulitan akibat kenaikan harga minyak mentah dunia yang semula diperkiraan 80 dolar menjadi rata-rata 113 dolar AS per barrel pada Januari hingga Mei 2011.

Kondisi tersebut dinilai Bank Dunia akan mengakibatkan anggaran subsidi BBM melonjak dari target APBN 2011 sebesar Rp95 triliun menjadi sekitar Rp150 triliun. Namun, Bank Dunia juga memberi harapan bahwa ancaman bisa tak menjadi kenyataan – jika ada perubahan kebijakan konsumsi BBM bersubsidi.

Subsidi energi, khususnya BBM menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa dalam sebuah diskusi di Jakarta, perlu direformasi dengan melakukan kenaikan harga atau pembatasan pemakaian BBM bersubsidi.

“Itu harus diputuskan,” kata Fabby.

Pilihan kenaikan harga BBM dia nilai lebih realistis dibanding pembatasan pemakaian BBM bersubsidi. Memang menaikkan harga BBM bersubsidi akan menimbulkan dampak berantai pada kehidupan masyarakat terutama kelompok menengah.

“Tetapi jumlah mereka hanya sekitar 40 juta atau 20 persen dari total penduduk,” katanya.

Oleh karena itu jika alternatif menaikkan harga BBM bersubsidi yang dipilih, ujarnya, maka pemerintah perlu mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kemampuan anggaran dalam menetapkan besaran kenaikan tersebut.

Bila pengaturan pemakaian BBM bersubsidi yang dipilih, dia berpendapat akan menimbulkan dampak sosial dan ekonomi, memicu kelangkaan sehingga menguntungkan spekulan sebab pengawasan sulit dilakukan. Karena itu, lebih baik pemerintah menaikkan harga sesuai daya beli masyarakat dan kemampuan anggaran pemerintah.

Dia juga menyebutkan, jika tidak ada pembatasan penyaluran BBM bersubsidi, total subsidi BBM diperkirakan akan meningkat hingga melampaui Rp130 triliun atau sekitar 30 persen dari total subsidi energi.

“Subsidi menurut dia, tetap diperlukan, hanya perlu ditata agar tepat sasaran. Saat ini lima kelompok pendapatan tertinggi di Indonesia menikmati 45 persen dari total subsidi. Kalau subsidi BBM tahun ini Rp58 triliun, mereka menikmati hampir separuhnya,” ujarnya.

Sementara itu pemerintah menurut Direktur Jenderal Energi dan Sumber Daya Mineral (Dirjen ESDM) Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo, berencana memberlakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.

Meskipun realisasi rencana yang diwacanakan beberapa tahun lalu itu terus mundur,Dirjen ESDM agaknya akan tetap berupaya membatasi konsumsi BBM bersubsidi.

“Rencana itu paling cepat direalisasikan setelah Lebaran 2011,” katanya.

Namun demikian Evita sempat mengatakan, keputusan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi tergantung hasil keputusan sidang kabinet. Awalnya, rencana itu direalisasikan April lalu, namun kemudian ditolak DPR.

Pembatasan konsumsi direalisasikan

Meningkatnya beban anggaran pendapatan dan belanja negara yang harus dialokasikan untuk subsidi BBM, membuat Kementerian Keuangan mendesak agar kebijakan pembatasann konsumsi BBM bersubsidi itu diberlakukan tahun ini untuk menekan angka defisit anggaran.

Pemerintah memperkirakan defisit APBN tahun ini akan naik Rp26,4 triliun menjadi Rp151,1 triliun atau 2,1 persen. Nilai lebih tinggi ketimbang perkiraan defisit APBN 2011 yang sebesar 1,8 persen.

Lagi pula, meski subsidi BBM membengkak, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, hingga saat ini pemerintah belum berniat untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, walau tidak tertutup kemungkinan langkah itu bisa saja diambil.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah berjanji akan berkoordinasi di semua tingkat untuk menjaga agar BBM bersubsidi bisa terkendali. Konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan naik dari 38,6 juta kiloliter menjadi sekitar 40,49 juta kiloliter.

Dia berharap, pengendalian konsumsi BBM bersubsidi ini akan bisa mengontrol anggaran BBM. Pemerintah telah menyiapkan inisiatif pengendalian BBM subsidi sejak Oktober 2010 dan akan terus dipertajam agar dapat diimplementasikan untuk mengendalikan pos subsidi.

Opsi menaikkan harga BBM bersubsidi juga dinilai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) saat ini bukan lagi waktu yang tepat, karena seharusnya hal itu dilakukan bulan Maret, April, Mei 2011 lalu.

Menurut Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan BKF, Andie Megantara dalam lokakarya Reformasi Subsidi Energi Di Indonesia, bulan-bulan itu adalah waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM karena merupakan masa-masa deflasi. Sehingga ketika harga BBM bersubsidi naik, tidak akan menimbulkan inflasi.

“Kalau sekarang dinaikkan sudah telat, justru sulit akan terjadi inflasi akan naik, kemiskinan naik, industri juga kena, dan berdampak pad pertumbuhan ekonomi.Rakyat jadi terbebani, karena liburan sekolah akan segera selesai, kemudian masa panen sudah habis, dan akan masuk bulan puasa serta Natal di akhir tahun,? katanya.

Satu-satunya cara untuk menahan laju konsumsi BBM bersubsidi menurut dia adalah mengurangi volumenya atau menahan kuotanya.

Pemerintah, pengamat, pakar agaknya lebih memilih untuk melakukan pembatasan pemakaian BBM bersubsidi guna mengatasi membengkaknya subsidi BBM dalam APBN 2011. Jika itu opsi terbaik dari yang terburuk dan tidak terlalu memberatkan masyarakat, maka apa lagi yang bisa kita pilih.

Hanya saja, pelaksanaan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi – yang pasti tak luput dari kelemahan – harus dilakukan dengan benar dan pengawasannya diperketat agar tidak timbul masalah baru yang justru lebih membebani masyarakat dan sasarannya tercapai seperti yang diharapkan.
(ANT)
Sumber : (ANTARA News)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pilkada ulang Bupati Madina 2011

    Pilkada ulang Bupati Madina 2011

    • calendar_month Selasa, 21 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pemilihan kepala daerah ulang bupati dan wakil bupati kabupaten Mandailing Natal direncanakan akan digelar 2011 mendatang mengingat biaya pilkada ulang akan ditamoung dalam APBD 2010. Pj bupati Mandailing Natal, Aspan Sofyan Batubara, mengatakan, sesuai dengan keputusan muspida plus serta dengan Komisi Pemilihan Umum direncanakan Pemilu kada ulang akan digelar 2011 hal tersebut disebabkan akibat keterbatasan […]

  • Pelajar SMA 3 Panyabungan dan SMK Negeri 1 Panyabungan Sumbang Rizky Wasiah

    Pelajar SMA 3 Panyabungan dan SMK Negeri 1 Panyabungan Sumbang Rizky Wasiah

    • calendar_month Kamis, 28 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Bantuan untuk Rizky Wasiah terus mengalir. Para pelajar menyumbangkan uang jajan mereka untuk biaya operasi bayi perempuan penderita usus keluar karena tak memiliki anus itu. Para pelajar SMA Negeri 3 Panyabungan berhasil mengumpul uang sebesar 821.000 rupiah dalam Gerakan Koin Cinta Untuk Rizky Wasiah yang digalang oleh OSIS terhadap kalangan pelajar […]

  • Ketika Fir’aun Berkuasa

    Ketika Fir’aun Berkuasa

    • calendar_month Jumat, 18 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Ketika Fir’aun berkuasa, dirinya dikelilingi pemuka agama, konglomerat, dan juga para penjaga keamanan. Ketika Fir’aun berkuasa, di sisi kanannya ada Bal-am bin Ba’ura. Bal-am adalah seorang pemuka agama, yang dengan penguasaannya atas dalil-dalil agama di zamannya, dia memutar-mutar lidahnya demi membenarkan semua tindakan Fir’aun dan dengan kejinya menuding orang-orang yang memperjuangkan kebenaran sebagai penjahat […]

  • Golkar pasca Amru “Mau dibawa kemana”

    Golkar pasca Amru “Mau dibawa kemana”

    • calendar_month Sabtu, 28 Agt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Perjalanan Pilkada madina telah usai namun bagi Golkar selama ini sebagai partai pendukung incumbent masih terus menyisakan banyak pertanyaan. Mungkin persoalannya masih agak sedikit mengambang, artinya memang perlu waktu tetapi kalau kritikan itu justru sangat mendasar dan disampaikan maka sudah semestinya perlu di terima, di evaluasi dan dikerjakan dengan lebih baik. Dari awal Partai golkar […]

  • Penahanan Syamsul diperpanjang 40 hari

    Penahanan Syamsul diperpanjang 40 hari

    • calendar_month Selasa, 9 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin, sejak Jumat (22/10) lalu remsi ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi APBD Kabupaten Langkat TA 2000-2007 sebesar Rp102,7 miliar. Rabu (10/11) mendatang, masa penahanan pertama Syamsul Arifin selama 20 hari akan habis. KPK sendiri akan memperpanjang masa penahanan kedua selama 40 hari terhadap Syamsul Arifin, […]

  • Akbar Tanjung: Tak ada kandidat titipan

    Akbar Tanjung: Tak ada kandidat titipan

    • calendar_month Kamis, 19 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Politisi nasional Akbar Tanjung menilai, para peserta kandidat Cagubsu pada Pilkada 2013 semakin seru. Terlihat dari partai Golkar tercatat 10 bakal calon yang sudah mendaftar diri menyatakan ikut pada Pilkada Sumut tahun depan. “Yang dilaporkan kepada kita 10 calon dari partai Golkar sudah mendaftar untuk menjadi orang nomor satu di Sumut, namun semuanya […]

expand_less