Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Harga Naik Atau Pemakaian BBM Bersubsidi Dibatasi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 8 Jul 2011
  • print Cetak


Depok –
Pemerintah saat ini dihadapkan pada pilihan sulit, ibarat makan buah simalakama, terkait perkiraan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang membengkak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011.

Dua pilihan yang sama sulit adalah menaikkan harga BBM bersubsidi atau menerapkan pembatasan pemakaian BBM bersubsidi agar pembengkakan subsidi BBM dapat diminimalisasikan atau dikurangi. Karena itu meski dua-duanya tidak populer, salah satu alternatif ini harus segera diputuskan.

Kalau tidak, menurut Direktur Eksekutif Inisiatif Efisiensi Energi, Saraswati W Hapsari, Indonesia seperti diramalkan Bank Dunia akan menghadapi kesulitan akibat kenaikan harga minyak mentah dunia yang semula diperkiraan 80 dolar menjadi rata-rata 113 dolar AS per barrel pada Januari hingga Mei 2011.

Kondisi tersebut dinilai Bank Dunia akan mengakibatkan anggaran subsidi BBM melonjak dari target APBN 2011 sebesar Rp95 triliun menjadi sekitar Rp150 triliun. Namun, Bank Dunia juga memberi harapan bahwa ancaman bisa tak menjadi kenyataan – jika ada perubahan kebijakan konsumsi BBM bersubsidi.

Subsidi energi, khususnya BBM menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa dalam sebuah diskusi di Jakarta, perlu direformasi dengan melakukan kenaikan harga atau pembatasan pemakaian BBM bersubsidi.

“Itu harus diputuskan,” kata Fabby.

Pilihan kenaikan harga BBM dia nilai lebih realistis dibanding pembatasan pemakaian BBM bersubsidi. Memang menaikkan harga BBM bersubsidi akan menimbulkan dampak berantai pada kehidupan masyarakat terutama kelompok menengah.

“Tetapi jumlah mereka hanya sekitar 40 juta atau 20 persen dari total penduduk,” katanya.

Oleh karena itu jika alternatif menaikkan harga BBM bersubsidi yang dipilih, ujarnya, maka pemerintah perlu mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kemampuan anggaran dalam menetapkan besaran kenaikan tersebut.

Bila pengaturan pemakaian BBM bersubsidi yang dipilih, dia berpendapat akan menimbulkan dampak sosial dan ekonomi, memicu kelangkaan sehingga menguntungkan spekulan sebab pengawasan sulit dilakukan. Karena itu, lebih baik pemerintah menaikkan harga sesuai daya beli masyarakat dan kemampuan anggaran pemerintah.

Dia juga menyebutkan, jika tidak ada pembatasan penyaluran BBM bersubsidi, total subsidi BBM diperkirakan akan meningkat hingga melampaui Rp130 triliun atau sekitar 30 persen dari total subsidi energi.

“Subsidi menurut dia, tetap diperlukan, hanya perlu ditata agar tepat sasaran. Saat ini lima kelompok pendapatan tertinggi di Indonesia menikmati 45 persen dari total subsidi. Kalau subsidi BBM tahun ini Rp58 triliun, mereka menikmati hampir separuhnya,” ujarnya.

Sementara itu pemerintah menurut Direktur Jenderal Energi dan Sumber Daya Mineral (Dirjen ESDM) Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo, berencana memberlakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.

Meskipun realisasi rencana yang diwacanakan beberapa tahun lalu itu terus mundur,Dirjen ESDM agaknya akan tetap berupaya membatasi konsumsi BBM bersubsidi.

“Rencana itu paling cepat direalisasikan setelah Lebaran 2011,” katanya.

Namun demikian Evita sempat mengatakan, keputusan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi tergantung hasil keputusan sidang kabinet. Awalnya, rencana itu direalisasikan April lalu, namun kemudian ditolak DPR.

Pembatasan konsumsi direalisasikan

Meningkatnya beban anggaran pendapatan dan belanja negara yang harus dialokasikan untuk subsidi BBM, membuat Kementerian Keuangan mendesak agar kebijakan pembatasann konsumsi BBM bersubsidi itu diberlakukan tahun ini untuk menekan angka defisit anggaran.

Pemerintah memperkirakan defisit APBN tahun ini akan naik Rp26,4 triliun menjadi Rp151,1 triliun atau 2,1 persen. Nilai lebih tinggi ketimbang perkiraan defisit APBN 2011 yang sebesar 1,8 persen.

Lagi pula, meski subsidi BBM membengkak, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, hingga saat ini pemerintah belum berniat untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, walau tidak tertutup kemungkinan langkah itu bisa saja diambil.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah berjanji akan berkoordinasi di semua tingkat untuk menjaga agar BBM bersubsidi bisa terkendali. Konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan naik dari 38,6 juta kiloliter menjadi sekitar 40,49 juta kiloliter.

Dia berharap, pengendalian konsumsi BBM bersubsidi ini akan bisa mengontrol anggaran BBM. Pemerintah telah menyiapkan inisiatif pengendalian BBM subsidi sejak Oktober 2010 dan akan terus dipertajam agar dapat diimplementasikan untuk mengendalikan pos subsidi.

Opsi menaikkan harga BBM bersubsidi juga dinilai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) saat ini bukan lagi waktu yang tepat, karena seharusnya hal itu dilakukan bulan Maret, April, Mei 2011 lalu.

Menurut Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan BKF, Andie Megantara dalam lokakarya Reformasi Subsidi Energi Di Indonesia, bulan-bulan itu adalah waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM karena merupakan masa-masa deflasi. Sehingga ketika harga BBM bersubsidi naik, tidak akan menimbulkan inflasi.

“Kalau sekarang dinaikkan sudah telat, justru sulit akan terjadi inflasi akan naik, kemiskinan naik, industri juga kena, dan berdampak pad pertumbuhan ekonomi.Rakyat jadi terbebani, karena liburan sekolah akan segera selesai, kemudian masa panen sudah habis, dan akan masuk bulan puasa serta Natal di akhir tahun,? katanya.

Satu-satunya cara untuk menahan laju konsumsi BBM bersubsidi menurut dia adalah mengurangi volumenya atau menahan kuotanya.

Pemerintah, pengamat, pakar agaknya lebih memilih untuk melakukan pembatasan pemakaian BBM bersubsidi guna mengatasi membengkaknya subsidi BBM dalam APBN 2011. Jika itu opsi terbaik dari yang terburuk dan tidak terlalu memberatkan masyarakat, maka apa lagi yang bisa kita pilih.

Hanya saja, pelaksanaan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi – yang pasti tak luput dari kelemahan – harus dilakukan dengan benar dan pengawasannya diperketat agar tidak timbul masalah baru yang justru lebih membebani masyarakat dan sasarannya tercapai seperti yang diharapkan.
(ANT)
Sumber : (ANTARA News)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Madina, Minyak Tanah Langka dan Mahal

    Di Madina, Minyak Tanah Langka dan Mahal

    • calendar_month Kamis, 9 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Minyak tanah di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) langka. Kalau pun ada harganya melambung hingga mencapai Rp8 ribu per liter. Kondisi ini memaksa warga yang memasak menggunakan kompor minyak beralih memakai kayu bakar. Salah seorang ibu rumah tangga (IRT) di Desa Lumban Dolok, Kecamatan Siabu, Suryani (24), mengaku, pihaknya kesulitan memeroleh minyak tanah. Padahal, minyak tanah […]

  • Di Madina Adik Lantik Abang jadi Sekda

    Di Madina Adik Lantik Abang jadi Sekda

    • calendar_month Rabu, 10 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Panyabungan. Hidayat Batubara selaku Bupati Mandailing Natal (Madina) melantik abangnya, M Daud Batubara sebagai sekretaris daerah (sekda), Selasa (9/8), di aula kantor bupati, kawasan Bukit Paya Loting, Desa Parbangunan, Panyabungan. Sementara itu, di sejumlah sudut kota, khususnya kawasan jalan lintas Sumatera depan kantor bupati terpampang spanduk, antara lain bertulis “Tolak Pemerintahan KKN”. Tidak diketahui siap […]

  • Pemkab Harus Jago Lobi Dana Pusat

    Pemkab Harus Jago Lobi Dana Pusat

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bangun Jalan dan Bandara MADINA; Anggota DPRD Mandailing Natal dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hj Riadoh Rangkuti menilai, banyak pembangunan di kabupaten tersebut terkendala oleh ketiadaan anggaran. Oleh sebab itu Pemkab Madina diimbau untuk terus melobi dana ke pemerintah pusat. ”Kalau dilihat kondisi Jalinsum terutama di Bukit Malintang, itu sangat memprihatinkan. Lihat saja, jalan […]

  • Kisah Bocah Amerika Masuk Islam

    Kisah Bocah Amerika Masuk Islam

    • calendar_month Kamis, 16 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari) Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas. Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan […]

  • IBUKU LEBARAN DI SYURGA

    IBUKU LEBARAN DI SYURGA

    • calendar_month Sabtu, 30 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Cerpen Rina Youlida   “Santi, ayo bangun, mari bantu mamak menyiapkan sahur kita, kamu panaskan air di periuk kecil itu supaya masak nasinya lebih cepat”. “iya mak”, jawabku dengan suara lembut sambil mengucek mataku karena masih terasa sangat berat untuk beranjak dari tempat tidurku yang hanya beralas sebuah tikar tipis dari anyaman daun pandan berduri […]

  • 6 Calon Bupati Palas Terima Nomor Urut

    6 Calon Bupati Palas Terima Nomor Urut

    • calendar_month Jumat, 19 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PALAS, – KPUD Kabupaten Palas resmi menetapkan nomor urut dari 6 pasangan calon bupati dan wakil bupati Palas peserta Pemilukada Palas periode 2013-2018 pada rapat pleno terbuka di Mess Sibuhuan, Kamis (18/7). Penetapan tersebut dituangkan dalam surat keputusan nomor urut calon yang memenuhi syarat sebagai peserta pemilihan bupati dan wakil bupati Kabupaten Palas tahun 2013 […]

expand_less