Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

Investasi Kapitalis Berkedok Wisata Medis?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 11 Nov 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan sejumlah rumah sakit (RS) asing akan masuk ke tanah air. Mereka berasal dari Australia hingga Singapura. Hal itu disampaikan Luhut dalam acara Outlook 2021: The Year of Opportunity yang digelar secara virtual, Rabu (21/10/2020). Mulanya, dia menyinggung ongkos yang dikeluarkan setiap tahun untuk wisata medis yang mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 7 miliar.

Oleh karena itu, pemerintah berkeinginan untuk mendorong investasi RS asing di dalam negeri. Ia mengungkapkan, ada beberapa RS yang sudah diajak berinvestasi. Mereka antara lain Mayo Clinic, John Hopkins Medicine, dan Anderson Hospital. Ihwal wisata medis ini pernah disinggung Luhut beberapa waktu lalu. Ia pun memerintahkan BKPM yang dikepalai oleh Bahlil Lahadalia mendatangkan RS asing ke Indonesia. Permintaan Luhut diiringi dengan rencana pemerintah untuk memperbolehkan dan mengizinkan dokter asing lebih banyak di Indonesia.

Dikutip dari Instagram resminya, Luhut mengatakan rencana ini dikaji karena berbagai pertimbangan, di antaranya adalah fakta bahwa bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan medis sebesar US$ 3,000 – 10,000 per orang. Menurut Luhut, lewat wisata medis ini nantinya pemerintah ingin Indonesia melakukan diversifikasi ekonomi, menarik investasi luar negeri, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan industri layanan kesehatan di Indonesia, serta menahan laju layanan kesehatan serta devisa kita agar tidak mengalir ke negara-negara yang lebih sejahtera. (cncbindonesia. 23/10/2020)

Hidup dalam naungan kapitalisme sungguh pelik. Setiap permasalahan yang muncul diambil langkah penyelesaian tetapi justru mengundang banyak question mark dan mendatangkan problem—problem cabang yang baru. Sehingga akar permasalahannya tidak tersentuh dan masalah tak kunjung beres. Apalagi jika bicara soal poin kesehatan alias dunia medis. Dalam dunia bisnis kapitalis, medis adalah salah satu lahan basah yang menggiurkan. Jadi, wajar-wajar saja jika penguasa yang isi kepalanya adalah kapitalisme tidak mengabaikan aspek kehidupan yag satu ini sebagai peluang keuntungan material.

Dunia medis bukan hanya mengalami banyak masalah di dalam negeri. Bahkan di luar negeri dengan teknologi canggih sekalipun, tidak lepas dari skandal bisnis. Tentu saja, pada keadaan ini, pasien atau masyarakat secara umum adalah korbannya. Itulah cara mereka meraup keuntungan. Bayangkan saja, mulai dari bisnis obat, alat, hingga kini mendatangkan medical tools sampai kepada RS serta tenaga medisnya. Apakah hal ini akan menguntungkan Indoneisa seperti ucapan Luhut? Atau justru malah sebaliknya? Tentu menjawabnya harus dilakukan analisis dengan sudut pandang yang shahih.

Pertama, wisata medis yang selama ini berlangsung dari dan oleh Indonesia ke luar negeri sebenarnya sudah lama dilakukan. Semisal program changed student atau studi banding ke luar negeri. Program ini tentu saja merogok kantong Negara. Namun, tujuan penyelenggaraannya sebenarnya mulia. Yaitu untuk belajar demi peningkatan keilmuwan dunia kesehatan di kalangan medis Indonesia. Sehinggaa ketika paramedis kembali ke tanah air, mereka akan membawa bayak ilmu dan pengalaman di luar negeri. Kelak, semua itu akan membantu masyarakat dalam mendapatkan pelayanan medis terbaik. Dan sudah menjadi kewajiban Negara meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat dalam semua aspek kehidupan, terlebih aspek kesehatan.

Kedua, jika sekarang praktek wisata medis harus diganti dengan mendatangkan perangkatnya ke Indonesia , apakah akan lebih efektif dan menghemat dana? Itukah tujuan utama wisata medis yang dicanangkan Luhut? Ataukah ada maksud lain? Sebab Luhut terlihat antusias mengeluarkan ide kerjasama dengan asing dalam bidang kesehatan khususnya RS dan prangkat-perangkatnya, padahal Luut sendiri bukanlah orang medis atau bukan Menkes. Jika alasannya menghemat dana Negara, lalu darimana dana mendatangkan tenaga medis asing ke Indonesia? Siapa yang membiayai pendirian RS internasional tersebut? Free kah? Atau semua dibangun diatas perjanjian utang baru?

Ketiga, alasan Luhut untuk mencanangkan program wisata medis agar memberikan banyak kemajuan seperti tenaga internasional, RS stanndar internasional, lapangan kerja, dan menahan masyarakat tidak berobat ke luar negeri lagi seperti Singapura. Harapan Luhut tersebut sangat bagus. Betul, disatu sisi masyarakat Indonesia banyak berobat ke luar negeri karena merasa pelayanan dan peralatannya jauh lebih memuaskan meskipun harus mengendorkan tabungan.

Kekecewaan masyarakat terhadap layanan medis di dalam negeri yang jauh dari keramahan servis dan minimnya peralatan yang canggih bukanlah rahasia lagi. Sudah menjadi keluhan umum mayoritas pesakit. Lalu jika dikaitkan dengan ketersediaan lapangan kerja, ini juga sulit diterima. Bagaimana mungkin RS kelas internasional akan merekrut tenaga dari Indonesia sementara sarjana medis Indonesia tidak fasih bahasa internasional secara mayoritas? Andaipun ada yang bias, hanya  terhitung jari bukan? Selebihnya, mereka yang dari luar negeri jualah pengisi posisi-posisi di RS Internasional tersebut.

Keempat, wisata medis yang dicanangkan oleh pemerintah melalui usulan Luhut terlihat hanyalah pesanan para pemodal bisnis kesehatan. Dan ide tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh Indonesia dari hasil kerjasama antarnegara yang notabene hanya merugikan bangsa ini. Belum lagi tenaga medis Indonesia akan kehilangan lapangan kerja sebab diisi paramedis asing. Dan tentu juga akan kalah saing walaupun klinik dan RS milik anak bangsa banyak didirikan. Pelayanan dan fasilitas lokal tentu hanya akan menyentuh kalangan menengah ke bawah.

Kelima, jika klinik dan RS dalam negeri mengikuti standar internasional, tentu butuh modal banyak. Untuk mendapatkan modal kembali dan keuntungan, pihak klinik  dan RS akan membuat biaya berobat yang sangat sulit dijangkau masyarakat luas. Walhasil, kesehatan akan semakin terpuruk dalam hal pengelolaan juga pelayanan. Dengan kata lain, hanya mereka yang mampulah nantinya bisa menyentuh faislitas bagus. Ada harga ada barang! Begitulah istilah pasar kapitalis! Sadis bukan?

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa wisata medis ala Luhut hanyalah bisnis kapitaliisme yang terus ingin mencengram negeri ini. Hingga bidang kesehatan pun, kapitalisme tidak mengizinkan Indonesia mengelola sendiri. Tidak ada lagi kedaulatan bahkan untuk hidup sehat dengan mudah dan murah di negeri sendiri. Kesehatan dan nyawa rakyat pun kian tergadai oleh peraturan-peraturan dzalim kapitalis ala rezim.

Tentu sangat berbeda jauh dengan praktek pengelolaan dalam sistem Islam. Sistem Islam telah menunjukkan bukti bahwa pengelolaan kesehatan di bawah syariat Islam telah memberikan sumbangan luar biasa terhadap ilmu dan teknologi pengobatan dunia. Dimana tidak ada satupun peradaban sebelumnya yang mampu melakukan demikian.

Islam memandang bahwa kesehatan adalah kebutuhan pokok manusia/rakyat. Pengelolaannya wajib ditangani oleh pemimpin. Pelayanan kesehatan harus murah dan mudah. haram menggadaikannya kepada pihak swasta apalagi asing yang bertujuan untuk komersialisasi/bisnis kapitalis. Keilmuwan dan teknologi kesehatan bisa saja dipelajari dari luar atau mendatangkan tenaga luar ke dalam negeri atau wisata medis. Hanya saja, tujuannya adalah untuk Negara dan rakyat. Bukan karpet merah bagi pengusaha /pebisnis kesehatan seperti kapitalisme.

Sudah semakin jelas, bahwa kapitalisme yang diadopsi penguasa negeri ini telah membawa rakyat semakin sengsara dan tidak jelas arah. Bahkan untuk sehat pun harus disetir oleh kapitalisme. Semua aspek kehidupan telah dikepung kapitalisme dan tinggal menunggu jurang kehancuran.

Oleh karena itu, saatnya generasi negeri ini bangkit dan menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa harapan satu-satunya untuk Indonesia bebas tekanan dan komersialisasi kaum kapitalisme global hanyalah dengan menerapkan syariat Islam secara totalitas. Wallahu’alam bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Oleh-oleh yang Dibawa PDM dari Pesta Sains Nasional di IPB

    Oleh-oleh yang Dibawa PDM dari Pesta Sains Nasional di IPB

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masuk Kategori 3 Besar Guru Terbaik dan Segudang Pengalaman BORNEO-TAPSEL; Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM) bersaing ketat di Pesta Sains Nasional IPB Bogor, pada Jumat (12/11) sampai Minggu (14/11) lalu. Pada ajang bergengsi tersebut, guru Darul Mursyid atas nama Lailina SP masuk 3 besar kategori guru terbaik pada Workshop Cara Belajar Sains yang […]

  • Pemkab Madina Akui Mayoritas Karyawan PT.M3 Dari Luar

    Pemkab Madina Akui Mayoritas Karyawan PT.M3 Dari Luar

    • calendar_month Rabu, 8 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –Kabid Tenaga Kerja Dinas Dukcapil Sosnakertrans Mandailing Natal (Madina), H.Sahbilal Rasyid mengakui bahwa mayoritas tenaga kerja di PT. Madina Madani Mining (PT.M3). “Pada umumnya berasal dari luar daerah, kalaupun ada dari putra daerah hanya mengisi lowongan keamanan dan buruh,” katanya menjawab wartawan, Selasa ( 07/01/2014) terkait munculnya keresahan warga Kelurahan Tapus atas […]

  • Merasa Hak-hak Dikangkangi, Karyawan PT.RMM Unjukrasa

    Merasa Hak-hak Dikangkangi, Karyawan PT.RMM Unjukrasa

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      NATAL (Mandailing Online) – Ratusan karyawan dan karyawati melakukan unjukrasa ke kantor distrik PT.RMM (Rimba Mujur Mahkota) Kebun Sikarakara, Kecamatan Natal, Mandailing Natal (Madina), Selasa (14/04). Pengunjukrasa mengaku, sudah sekian lama hak-hak para karyawan dan karyawati yang telah dikangkangi oleh pihak perusahaan sebagaimana diatur pada Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Mereka menuntut […]

  • Pemkab Madina Alokasikan Anggaran Kematian dan Kecelakaan Kerja. Segini Besarannya

    Pemkab Madina Alokasikan Anggaran Kematian dan Kecelakaan Kerja. Segini Besarannya

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) alokasikan dana Belanja Iuran Jaminan Kematian bagi Pekerja Rentan dan Belanja Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja bagi Pekerja Rentan untuk 2500 orang di Seluruh Kabupaten. Dari data yang dihimpun Mandailing Online alokasi dana itu bersumber dari APBD tahun 2025 Senilai Rp. Rp. 201.008.000., total […]

  • PWI Madina Desak Poldasu Usut Pembunuh Wartawan di Labuhanbatu

    PWI Madina Desak Poldasu Usut Pembunuh Wartawan di Labuhanbatu

    • calendar_month Jumat, 1 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – PWI Mandailing Natal mendesak Polda Sumut mengusut lebih dalam kasus pembunuhan dua orang wartawan di Labuhanbatu, Sumatera Utara. “Siapapun pelaku dan aktor di balik kasus pembunuhan dua wartawan tersebut harus dihukum setimpal. Karena bagaimanapun kekerasan terhadap Pers harus dihapuskan,” kata Ketua PWI Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Muhammad Ridwan Lubis didampingi […]

  • Direktur MATA Optimis Kejaksaan dan Polisi Pelajari Dugaan Kecurangan Rekrutmen PPPK Madina

    Direktur MATA Optimis Kejaksaan dan Polisi Pelajari Dugaan Kecurangan Rekrutmen PPPK Madina

    • calendar_month Rabu, 27 Des 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MEDAN ( Mandailing Online )- Direktur MATA Pelayanan Publik Abyadi Siregar, optimis pihak kepolisian atau kejaksaan Mandailing Natal (Madina) sedang mempelajari kasus dugaan kecurangan rekrutmen calon PPPK di daerah tersebut. Apalagi persoalan hukum ini sudah viral beberapa hari terakhir. “Sebagai penegak hukum yang profesional, kepolisian atau kejaksaan pastilah merespon dan mengatensi setiap isu-isu kasus hukum […]

expand_less