Sabtu, 12 Sep 2026
light_mode

KESUSASTRAAN MANDAILING (2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
  • print Cetak

Oleh: Askolani Nasution
(Bahan pada Sarasehan Kebudayaan Mandailing, Jakarta, 1 Juni 2013)

Beberapa tonggak sastra yang berkembang di kolonial tersebut patut dicatat periode-periode pertumbuhan sastra berikut:

1.Willem Iskander (1840-1876). Ia menulis dalam bahasa Mandailing yang amat imajinatif terutama karena dipengaruhi kemampuannya yang tinggi dalam penguasaan bahasa Melayu. Karya-karyanya dipublikasikan secara luas setelah kematiannya, antara lain:

•“Hendrik Nadenggan Roa, Sada Boekoe Basaon ni Dakdanak.” (Terjemahan). Padang: Van Zadelhoff and Fabritius (1865)

•“Leesboek van W.C. Thurn in het Mandhelingsch Vertaald.” Batavia: Landsdrukkerij. (1871)
•“Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk.” (1872)

•“Taringot di Ragam-ragam ni Parbinotoan dohot Sinaloan ni Alak Eropa.” Naskah ini diadaptasi dari buku “Ceritera Ilmu Kepandaian Orang Putih” yang ditulis oleh Abdullah Munsyi, seorang sastrawan dan ahli tata bahasa Melayu. (1873)

2.Soetan Martua Raja (Siregar). Ia lahir dari keluarga aristokrat di Bagas Lombang Sipirok, berpendidikan HIS, sekolah elite di Pematang Siantar. Karyanya adalah:
•“Hamajuon” (Bahan Bacaan Sekolah Dasar)

•“Doea Sadjoli: Boekoe Siseon ni Dakdanak di Sikola.”
(1917). Buku ini menimbulkan daya kritik terhadap pemikiran anak-anak. Ditulis dengan aksara Latin (Soerat Oelando) yang relatif mengembangkan pedagogik sekuler. Buku ini mengadopsi poda, semacam storyteller yang berisi petuah, ajaran moral dalam konteks tingkat berpikir anak-anak.
•“Ranto Omas” (Golden Chain), 1918.

3.Soetan Hasoendoetan (Sipahutar), penulis novel dan jurnalis. Karya-karyanya:

•Turi-Turian (cerita bertutur, mengisahkan hubungan interaksi antara manusia dengan penguasa langit)

•“Sitti Djaoerah: Padan Djandji na Togoe.” (1927-1929), sebuah serial berbahasa Angkola Mandailing yang dimuat secara berantai dalam 457 halaman. Serial ini dimuat di mingguan “Pustaha” yang terbit di Sibolga. Kisah ini diyakini menjadi alasan pembaca membeli surat kabar tersebut.

Serial ini mengadopsi cerita-cerita epik, turi-turian, dan berbagai terminologi sosial masyarakat Angkola-Mandailing dan ditulis dengan gaya bertutur novel. Ini selaras dengan berkembangnya berbagai novel berbahasa Melayu yang dipublikasikan pemerintah kolonial.

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, masa ini dikenal dengan masa Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20-an. Soetan Hasundutan mengatakan bahwa ia menulis novel roman ini karena terinspirasi dengan novel “Siti Nurbaja” (Marah Rusli, 1922) yang sangat populer ketika itu.

•“Datoek Toengkoe Adji Malim Leman.” (1941), terbitan Sjarief, Pematang Siantar.

4.Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi, menulis buku “Turian-turian ni Raja Gorga di Langit dohot Raja Suasa di Portibi.” Buku ini diterbitkan Pustaka Murni Pematang Siantar bertajuk tahun 1914.

5.Sutan Pangurabaan. Karyanya, “Ampang Limo Bapole.” (1930), “Parkalaan Tondoeng” (1937), “Parpadanan” (1930), dan sebuah buku berbahasa Melayu “Mentjapai Doenia Baroe” (1934). Di samping buku-buku yang ditulis Willem Iskander, buku-bukunya juga menjadi buku bacaan untuk sekolah-sekolah masa kolonial.

6.Soetan Habiaran Siregar menggali bahasa, tari-tarian, dan lagu yang berasal dari Angkola-Mandailing. Ia menulis beberapa turi-turian, antara lain: “Turi-turian ni Tunggal Panaluan”, “Panangkok Saring-Saring tu Tambak na Timbo” (1983), dan lain-lain. Selain itu, ia juga membuat komposisi lagu yang dibuat menggunakan komposisi beat berirama cha-cha.

Selain sastra berbahasa Mandailing Angkola tersebut, penting dicatat tumbuhnya sastra Indonesia yang berbahasa Melayu tetapi dengan mengadopsi warna lokal. Misalnya novel “Azab dan Sengsara” (1921) yang ditulis Merari Siregar. Novel ini mengangkat kontekstual adat dan budaya semacam kawin paksa, warta warisan, hubungan kekerabatan, dan tradisi lokal Mandailing-Angkola.

KESUSASTRAAN MANDAILING KONTEMPORER
Berubahnya kurikulum pendidikan setelah masa kemerdekaan turut menyebabkan memudarnya penggunaan bahasa Mandailing. Selain itu, euforia bangsa yang baru saja merdeka dan menguatnya instrumen-instrumen berkarakter nasional yang tercermin dalam bahasa dan budaya baru bernama “Indonesia” dan teraktualisasi secara masif dalam sistem pendidikan nasional, menjadi kausalitas yang patut ditandai.

Hal ini diperburuk lagi dengan menguatnya “Java Oriented” dalam era Pemerintahan 1965 – 1998. Bahasa Indonesia yang dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan merebaknya bahan bacaan berkultur nasional, semua itu berperan dalam melemahkan “saro ita”. Kurikulum Tahun 2006 yang membuka ruang ‘muatan lokal” ternyata juga gagal ditindaklanjuti daerah dengan penguatan bahasa dan karakteristik daerah.

Sastra literer nyaris mati. Hanya beberapa cerita sporadis yang muncul dalam media massa daerah. Itu juga dengan daya tarik yang diyakini rendah, karena pembaca merasa ‘asing’ dengan bahasa yang digunakan.

Tentu karena ada rentang yang ‘tak termaknai’ antara bahasa sastra Mandailing prakontemporer dengan bahasa Mandailing sebagai lingua-franca dalam konteks modern. Ada gap penguasaan makna bahasa antara penulis dengan penikmat sastra. Itu yang mendorong pemencilan sastra Mandailing.

Tahun 2009, saya menulis cerpen “Parkancitan”. Ketika cerpen itu saya kupas di sekolah, anak-anak menerimanya dengan aneh.

“I kan tu alak na maradong dei. Ho, aha nanga nadongmu? Sugi-sugi pe nga tartabusi ho,” ning ia sungkar. Sip polngit doma au.

Sangajo tie. Na larat mantong iba da. Dung do boto marbagas, lima ma daganak bo, na so unjung dope margonti santut niba. Hum baju ni daganak payah. Pala uida boto baju ni ayah si Butet, ekle baya. Dua pulu taon mantong naso igosok i baju nia. Gosokan takar dope na jolo. Isibakkon soni bulung ni pisangi laos manggosok. Ulang ma milas tu ninna. Na goso ma.(bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Atikah dan Sektor Ekonomi

    Atikah dan Sektor Ekonomi

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara Banyak yang dapat disimpulkan dari hasil bincang-bincang antara Atika Azmi Utammi Nasution, B.AppFin, MFin dengan kalangan pers, kemarin. Kegiatan bincang-bincang di restaurant Dapoer Nenek, Panyabungan, Senin (9/3/2020). Membahas banyak sektor penting di Mandailing Natal (Madina), tentang potensi, kendala, tantangan dan peluang-peluangnya ke depan. Terutama sektor ekonomi, sosial, pemerintahan, daya saing, kompetitif […]

  • Beri Dukungan Aksi Emak-emak Tabuyung, Ketua Fraksi Golkar: Pihak Berwenang Jangan Diam

    Beri Dukungan Aksi Emak-emak Tabuyung, Ketua Fraksi Golkar: Pihak Berwenang Jangan Diam

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Mandailing Natal (Madina) Arsidin Batubara memberi dukungan atas aksi emak-emak di Tabuyung pada Jumat (31/12) lalu yang mendatangi rumah terduga bandar narkoba. Arsidin meminta pihak berwenang untuk tidak tinggal diam dan bertindak seolah tidak tahu dengan keadaan peredaran dan pengaruh narkoba di Tabuyung. Hal itu disampaikan […]

  • Siap Siap, Dukcapil Madina Akan Datangi Kecamatan. Ada Apa Ya

    Siap Siap, Dukcapil Madina Akan Datangi Kecamatan. Ada Apa Ya

    • calendar_month Jumat, 14 Jun 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA-Mandailing Online: Jelang Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Mandailing Mandailing Natal Tahun 2024 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Madina wacanakan akan kembali laksanakan Jemput Bola penjaringan perekaman e-KTP bagi pemula. Ridwan Nasution Kadis Dukcapil Madina pada Mandailing Online Jum’at 14/6/2024 menjelaskan rencananya pada bulan Juli ini, akan kembali dilakuka  kegiatan perekaman e-KTP, Pelayanan dan penjaringan […]

  • 20 Tahun Madina : Arah Kebijakan Pembangunan Tak Jelas

    20 Tahun Madina : Arah Kebijakan Pembangunan Tak Jelas

    • calendar_month Minggu, 10 Mar 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Madailing Online) : Kebijakan arah pembangunan Kabupaten Mandailing Natal dewasa ini tak jelas kemana arahnya. Itu diungkap Anggota DPRD Sumut, H. Fahrizal Efendi Nasution,SH saat menjadi pemateri di Talkshow “Refleksi Dan Rekomendasi 20 Tahun Kabupaten Mandailing Natal” di Abara Hotel, Panyabungan, Minggu (10/3/2019). Dalam dua tahun terakhir saja, dimana anggaran APBD Mandailing Natal […]

  • Jalinsum Paluta Mulai Dilintasi Pemudik

    Jalinsum Paluta Mulai Dilintasi Pemudik

    • calendar_month Senin, 22 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PADANGBOLAK- Para pemudik mulai terlihat melintasi Jalinsum Paluta, kemarin. Namun, jumlahnya masih relatif sedikit. Pantauan METRO, Minggu (21/8) siang, sejumlah mobil berplat B, BL, BE terlihat melintas di Jalinsum Paluta. Mobil-mobil tersebut dipenuhi penumpang dengan tumpukan barang di bagian atas. Beberapa lainnya tampak menggunakan sepedamotor. Salah seorang pemudik roda empat, I Harahap (48), asal perantau […]

  • Tambang Martabe Bantu 13 Poktan di Tapsel

    Tambang Martabe Bantu 13 Poktan di Tapsel

    • calendar_month Senin, 5 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Medan, – PT Agincourt Resources – Tambang Emas Martabe memberikan bantuan pupuk 24,5 ton, bibit padi 7,5 ton dan alat penyemprot 24 unit kepada 13 kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Jumat (2/8). Bantuan berupa pupuk, masing-masing kelompok menerima rata-rata 1,5 ton – 2 ton, bibit padi rata-rata 500 kg dan […]

expand_less