Kamis, 11 Jun 2026
light_mode

KESUSASTRAAN MANDAILING (2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
  • print Cetak

Oleh: Askolani Nasution
(Bahan pada Sarasehan Kebudayaan Mandailing, Jakarta, 1 Juni 2013)

Beberapa tonggak sastra yang berkembang di kolonial tersebut patut dicatat periode-periode pertumbuhan sastra berikut:

1.Willem Iskander (1840-1876). Ia menulis dalam bahasa Mandailing yang amat imajinatif terutama karena dipengaruhi kemampuannya yang tinggi dalam penguasaan bahasa Melayu. Karya-karyanya dipublikasikan secara luas setelah kematiannya, antara lain:

•“Hendrik Nadenggan Roa, Sada Boekoe Basaon ni Dakdanak.” (Terjemahan). Padang: Van Zadelhoff and Fabritius (1865)

•“Leesboek van W.C. Thurn in het Mandhelingsch Vertaald.” Batavia: Landsdrukkerij. (1871)
•“Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk.” (1872)

•“Taringot di Ragam-ragam ni Parbinotoan dohot Sinaloan ni Alak Eropa.” Naskah ini diadaptasi dari buku “Ceritera Ilmu Kepandaian Orang Putih” yang ditulis oleh Abdullah Munsyi, seorang sastrawan dan ahli tata bahasa Melayu. (1873)

2.Soetan Martua Raja (Siregar). Ia lahir dari keluarga aristokrat di Bagas Lombang Sipirok, berpendidikan HIS, sekolah elite di Pematang Siantar. Karyanya adalah:
•“Hamajuon” (Bahan Bacaan Sekolah Dasar)

•“Doea Sadjoli: Boekoe Siseon ni Dakdanak di Sikola.”
(1917). Buku ini menimbulkan daya kritik terhadap pemikiran anak-anak. Ditulis dengan aksara Latin (Soerat Oelando) yang relatif mengembangkan pedagogik sekuler. Buku ini mengadopsi poda, semacam storyteller yang berisi petuah, ajaran moral dalam konteks tingkat berpikir anak-anak.
•“Ranto Omas” (Golden Chain), 1918.

3.Soetan Hasoendoetan (Sipahutar), penulis novel dan jurnalis. Karya-karyanya:

•Turi-Turian (cerita bertutur, mengisahkan hubungan interaksi antara manusia dengan penguasa langit)

•“Sitti Djaoerah: Padan Djandji na Togoe.” (1927-1929), sebuah serial berbahasa Angkola Mandailing yang dimuat secara berantai dalam 457 halaman. Serial ini dimuat di mingguan “Pustaha” yang terbit di Sibolga. Kisah ini diyakini menjadi alasan pembaca membeli surat kabar tersebut.

Serial ini mengadopsi cerita-cerita epik, turi-turian, dan berbagai terminologi sosial masyarakat Angkola-Mandailing dan ditulis dengan gaya bertutur novel. Ini selaras dengan berkembangnya berbagai novel berbahasa Melayu yang dipublikasikan pemerintah kolonial.

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, masa ini dikenal dengan masa Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20-an. Soetan Hasundutan mengatakan bahwa ia menulis novel roman ini karena terinspirasi dengan novel “Siti Nurbaja” (Marah Rusli, 1922) yang sangat populer ketika itu.

•“Datoek Toengkoe Adji Malim Leman.” (1941), terbitan Sjarief, Pematang Siantar.

4.Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi, menulis buku “Turian-turian ni Raja Gorga di Langit dohot Raja Suasa di Portibi.” Buku ini diterbitkan Pustaka Murni Pematang Siantar bertajuk tahun 1914.

5.Sutan Pangurabaan. Karyanya, “Ampang Limo Bapole.” (1930), “Parkalaan Tondoeng” (1937), “Parpadanan” (1930), dan sebuah buku berbahasa Melayu “Mentjapai Doenia Baroe” (1934). Di samping buku-buku yang ditulis Willem Iskander, buku-bukunya juga menjadi buku bacaan untuk sekolah-sekolah masa kolonial.

6.Soetan Habiaran Siregar menggali bahasa, tari-tarian, dan lagu yang berasal dari Angkola-Mandailing. Ia menulis beberapa turi-turian, antara lain: “Turi-turian ni Tunggal Panaluan”, “Panangkok Saring-Saring tu Tambak na Timbo” (1983), dan lain-lain. Selain itu, ia juga membuat komposisi lagu yang dibuat menggunakan komposisi beat berirama cha-cha.

Selain sastra berbahasa Mandailing Angkola tersebut, penting dicatat tumbuhnya sastra Indonesia yang berbahasa Melayu tetapi dengan mengadopsi warna lokal. Misalnya novel “Azab dan Sengsara” (1921) yang ditulis Merari Siregar. Novel ini mengangkat kontekstual adat dan budaya semacam kawin paksa, warta warisan, hubungan kekerabatan, dan tradisi lokal Mandailing-Angkola.

KESUSASTRAAN MANDAILING KONTEMPORER
Berubahnya kurikulum pendidikan setelah masa kemerdekaan turut menyebabkan memudarnya penggunaan bahasa Mandailing. Selain itu, euforia bangsa yang baru saja merdeka dan menguatnya instrumen-instrumen berkarakter nasional yang tercermin dalam bahasa dan budaya baru bernama “Indonesia” dan teraktualisasi secara masif dalam sistem pendidikan nasional, menjadi kausalitas yang patut ditandai.

Hal ini diperburuk lagi dengan menguatnya “Java Oriented” dalam era Pemerintahan 1965 – 1998. Bahasa Indonesia yang dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan merebaknya bahan bacaan berkultur nasional, semua itu berperan dalam melemahkan “saro ita”. Kurikulum Tahun 2006 yang membuka ruang ‘muatan lokal” ternyata juga gagal ditindaklanjuti daerah dengan penguatan bahasa dan karakteristik daerah.

Sastra literer nyaris mati. Hanya beberapa cerita sporadis yang muncul dalam media massa daerah. Itu juga dengan daya tarik yang diyakini rendah, karena pembaca merasa ‘asing’ dengan bahasa yang digunakan.

Tentu karena ada rentang yang ‘tak termaknai’ antara bahasa sastra Mandailing prakontemporer dengan bahasa Mandailing sebagai lingua-franca dalam konteks modern. Ada gap penguasaan makna bahasa antara penulis dengan penikmat sastra. Itu yang mendorong pemencilan sastra Mandailing.

Tahun 2009, saya menulis cerpen “Parkancitan”. Ketika cerpen itu saya kupas di sekolah, anak-anak menerimanya dengan aneh.

“I kan tu alak na maradong dei. Ho, aha nanga nadongmu? Sugi-sugi pe nga tartabusi ho,” ning ia sungkar. Sip polngit doma au.

Sangajo tie. Na larat mantong iba da. Dung do boto marbagas, lima ma daganak bo, na so unjung dope margonti santut niba. Hum baju ni daganak payah. Pala uida boto baju ni ayah si Butet, ekle baya. Dua pulu taon mantong naso igosok i baju nia. Gosokan takar dope na jolo. Isibakkon soni bulung ni pisangi laos manggosok. Ulang ma milas tu ninna. Na goso ma.(bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Golkar Tak Masalah Ical Dicopot dari Ketua Harian Setgab Koalisi

    Golkar Tak Masalah Ical Dicopot dari Ketua Harian Setgab Koalisi

    • calendar_month Senin, 11 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Partai Golkar membenarkan Ketua Umumnya, Aburizal Bakrie saat ini tidak menjabat lagi sebagai Ketua Harian Setgab Koalisi. “Memang benar Pak Ical menjadi Wakil Ketua Setgab,” ujar Ketua DPP Golkar, Priyo Budi Santoso saat ditemui di gedung DPR, Jakarta, Senin(11/4/2011). Menurut Priyo, pihaknya mengaku tak bermasalah Ical dicopot dari Ketua Harian Setgab Koalisi. Mereka […]

  • KPU Madina Tetapkan Dahlan-Sukhairi dan Yusuf-Imron

    KPU Madina Tetapkan Dahlan-Sukhairi dan Yusuf-Imron

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mandailing Natal, Senin (24/8) menetapkan dua pasangan calon bupati/wakil bupati untuk Pilkada Madina 2015. Kedua pasangan yang ditetapkan adalah pasangan Drs. H. Dahlan Hasan Nasution-H. Jakfar Sukhairi Nasution dan pasangan Drs. HM. Yusuf Nasution,Msi – H. Imron Lubis,S.Pd.MM. Penetapan kedua pasangan ini berdasar Keputusan KPU Mandailing Natal […]

  • Jalur Natal-Batahan Akan Diaspal Tahun 2014

    Jalur Natal-Batahan Akan Diaspal Tahun 2014

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    foto Plt.Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jalur Natal-Batahan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sepanjang 20 kilo meter bakal direhab tahun 2014 dengan nilai anggaran sekitar 260 milyar rupiah pola multiyears. Kepastian itu diungkapkan Plt. Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution dihadapan tokoh-tokoh Pantai Barat ketika audiensi tadi siang. “Apa yang menjadi harapan masyarakat […]

  • Nazaruddin Akhirnya Tiba di Indonesia

    Nazaruddin Akhirnya Tiba di Indonesia

    • calendar_month Minggu, 14 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta, Sosok M Nazaruddin tidak henti-hentinya memancing kontroversi setelah namanya terseret dalam kasus dugaan suap untuk proyek pembangunan Wisma Atlet Jakabaring di Palembang, Sumatera Selatan. Tak sampai 24 jam setelah ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Nazaruddin berhasil melarikan diri ke Singapura dan sempat bersembunyi untuk beberapa lama di negara tetangga itu dengan dalih […]

  • Cermati Seleksi Calon Anggota KPID Sumut, Praktisi Hukum Solahuddin Hasibuan Berharap Proses dan Hasil Terbaik

    Cermati Seleksi Calon Anggota KPID Sumut, Praktisi Hukum Solahuddin Hasibuan Berharap Proses dan Hasil Terbaik

    • calendar_month Kamis, 20 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mencermati Proses Seleksi Calon Anggota KPID Sumut periode 2021-2024 dari sejumlah pemberitaan, Praktisi Hukum Solahuddin Hasibuan, SH berharap agar tahapan dan proses yang sudah mendekati final berjalan baik. “Berdasarkan hasil pencermatan kami, tahapan dan proses yang berjalan hingga Fit and Proper Test (FPT) di Komisi A DPRD Sumut berjalan mulus. Kita […]

  • Gerobak Penuh Darah Ditinggal Polisi

    Gerobak Penuh Darah Ditinggal Polisi

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Nur Iman, Korban Salah Sasaran yang Tewas saat Baku Tembak Densus 88 dan Teroris Baku tembak antara Densus 88 dan dua orang yang terduga teroris dini hari kemarin memakan korban warga sipil. Nur Iman, yang sehari-hari berjualan hik (makanan khas Solo), tewas dalam baku tembak itu. Benarkah dia hanya korban salah sasaran? Bagaimana kesaksian warga […]

expand_less