Rabu, 15 Jul 2026
light_mode

Hartono Tenang Setelah Kembali ke Islam

  • account_circle Redaksi Abdul Holik
  • calendar_month Selasa, 17 Des 2013
  • print Cetak

Acara di radio membuatnya tertarik mempelajari Islam lebih dalam.

Hartono (25 tahun) lahir dari keluarga Islam. Namun, ia besar tanpa pendidikan agama. Hal ini membuat jiwanya kosong.

Ia mengaku selama itu ia tak pernah mendalami Islam secara sungguh-sungguh. “Saya blank sama sekali tentang Islam,” ujarnya kepada Republika lewat sambungan telepon, pekan lalu.

Ia merasa pemahaman agamanya sangat dangkal. Tak hanya sekali ia mempunyai pikiran untuk keluar dari Islam karena ia merasa tak pernah bisa memetik apa pun selama menjadi Islam.

Saat remaja, kekosongan jiwanya ini semakin memuncak. Ia banyak bergaul dengan orang-orang di luar Islam karena ia merasa lebih cocok.

Melalui internet yang sedang booming di kota tempat tinggalnya, Yogyakarta, ia mendapatkan banyak informasi tanpa filter.

Ia kemudian mengenal lebih jauh tentang agama lain selain Islam. Salah satu yang membuatnya tertarik kala itu adalah agama Buddha.

Ia merasa cocok dengan agama Buddha. Hartono banyak membaca dan mempelajarinya lebih lanjut. Selama empat tahun ia tekun mempelajari agama ini dan banyak mempraktikkan ritual-ritual yang dilakukan oleh para pemeluknya.

Ia melakukan meditasi, percaya pada prinsip jalan kebenaran melalui delapan ruas kemuliaan, percaya dengan orang harus bisa benar dalam pandangan, pikiran, dan perkataan, serta percaya dengan hukum-hukum agama Buddha.

Ia pun mengambil keputusan bulat ingin berpindah agama. Ia ingin masuk menjadi pengikut Buddha. Namun, orang tuanya melarang keras dengan apa yang dilakukannya.

Meski mereka bukan Muslim yang rajin beribadah, mereka tak mau anaknya pindah agama dan mencoreng nama baik keluarga. Bahkan, mereka mengancam akan mengusir Hartono dari rumah jika berani nekat berpindah agama.

Hartono remaja kala itu merasa gundah. Akhirnya, ia memutuskan tetap mantap pada kepercayaan Buddha meski statusnya di KTP Islam.

Ketika di sekolah, ia mengikuti pelajaran agama Islam dengan tak acuh, hanya mencatat, dan tidak bisa memahami apa yang dibicarakan oleh guru agamanya.

Ketika ujian agama berlangsung, ia mati-matian belajar menghafal surat-surat pendek, bacaan shalat, serta praktik shalat jenazah dalam waktu dua minggu.

Meski tak mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran agama Islam, yang penting ia bisa merasa lega bisa lulus.

Usianya semakin bertambah, kemantapan hatinya pada Buddha pun semakin meningkat. Meski di KTP tertulis beragama Islam, ketika ia ditanya temannya mengapa tidak shalat, Hartono akan dengan mantap menjawab bahwa ia percaya dengan Buddha.

Dan, alasan mengapa ia tetap Islam di KTP karena ia takut kepada orang tuanya yang nanti akan mengusirnya jika ia berpindah agama.

Ia bahkan pernah menelepon salah satu vihara Buddha yang berada di Malang, Jawa Timur. Ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk masuk ke agama Buddha pada salah satu pemuka yang diteleponnya, ia kaget dengan jawaban yang diberikan.

“Biksu tersebut justru bilang, jika saya pindah ke Buddha, berarti saya belum benar-benar memahami Islam. Dengan panjang lebar ia menjelaskan semua agama itu baik dan menyuruh saya untuk memahami Islam lebih dalam lagi,” katanya menjelaskan.

Selama mempelajari agama lain, ia tak jua mendapatkan ketenangan jiwa. Bahkan, ia merasa hidupnya sangat sulit. Berbagai musibah singgah kepadanya, juga rezeki yang sangat sulit ia temukan.

Ketika ia mendapatkan rezeki, ia selalu merasa tidak sebanding, dan kemudian langsung cepat habis entah ke mana tanpa ia sadari.

Hingga suatu hari, secara tak sengaja ia mendengarkan radio. Sebuah stasiun radio menyiarkan acara MTA (Majelis Tafsir Alquran).

Ia tertarik mendengarkan ceramah Ustaz Sukino dari Surakarta yang memberikan penjelasan pada pertanyaan dari para pendengar.

Ia kagum dengan sang ustaz yang bisa menjawab mantap semua pertanyaan dengan memuaskan. Ia merasakan hatinya menjadi tenang setelah mendengarkan acara radio tersebut. Peristiwa ini terjadi sekitar enam bulan yang lalu.

Acara tersebut membuatnya penasaran. Ia kemudian mencari lebih lanjut sosok sang ustaz dan konsep acara tersebut. Melalui internet, khususnya Youtube, ia menemukan banyak hal yang membuka hatinya. “Saya merasa mendapatkan hidayah,” ujarnya.

Saat itu, terdengar azan maghrib berkumandang. Setelah itu, ia pun mengambil air wudhu dan ikut shalat berjamaah di masjid dekat rumahnya. “Saya lupa semua bacaan shalat, yang saya ingat hanya al-Fatihah. Saya hanya mengikuti gerakan imam dan jamaah lainnya. Saya menangis di akhir sujud saya,” kata Hartono.

Ia sadar, Islam ternyata tak seperti yang dibayangkannya selama ini. Banyak yang belum ia pahami dan gali dari Alquran. “Selama ini saya hanya menuruti ego dan emosi saya, saya terlalu arogan dan tak pernah mengkaji lebih dalam,” akunya.

Ia merasa dilapangkan jalannya untuk kembali menuju Islam. Hartono pun mencari tahu lebih banyak tentang Islam sebenarnya dan ia puas ternyata semua pertanyaannya bisa ia temukan jawabannya melalui tafsir Alquran dan hadis.

Ia pun rajin mengikuti pengajian dan  banyak bertanya tentang apa pun yang membuatnya ragu tentang Islam selama ini. Mempelajari Islam kembali, kali ini lebih meresap ke jiwa, membuat hatinya tenang, lebih adem ayem.

Jalannya kembali ke Islam itu membuat hidupnya semakin baik. Ia merasa ketika memahami Islam sepenuhnya, itu bukan berarti hanya melakukan shalat dan dipamerkan kepada orang lain. Sebab, Islam lebih dari itu.(rmol)

  • Penulis: Redaksi Abdul Holik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jembatan Kelok 9 siap diresmikan

    Jembatan Kelok 9 siap diresmikan

    • calendar_month Senin, 28 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta (Mandailing Online) – Jembatan Kelok 9 yang sudah dilaksanakan pembangunannya sejak tahun 2003 di Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat telah rampung dan siap diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di akhir Bulan Oktober ini. Jembatan yang memiliki panjang mencapai 943 meter dan jalan penghubung sepanjang 2.089 meter telah dipasang rambu – rambu dan sudah […]

  • Banyak korupsi di Pemkab Madina

    Banyak korupsi di Pemkab Madina

    • calendar_month Minggu, 5 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Banyak kasus dugaan korupsi ditubuh Kabupaten Madina ditemukan Badan Pemeriksaan Keuangan RI. Kasus ini, seharusnya ditindaklanjuti oleh para anggota DPRD Madina, seperti halnya dugaan korupsi proyek pembangunan. Seorang aktivis LSM Putra Bangsa Madina, Abdul Waris Ray kepada Waspada Online, tadi sore mengungkapkan, ” Temuan dugaan korupsi di Pemkab Madina oleh BPK RI, pada anggaran 2009 […]

  • Karut Marut Dana Desa (bagian 3)

    Karut Marut Dana Desa (bagian 3)

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Askolani Nasution Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI Nomor 2 tahun 2015 Tentang “Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa” menetapkan bahwa Musyawarah Desa merupakan keputusan tertinggi dalam pengambilan keputusan menyangkut pelaksanaan Dana Desa. Tragisnya, Musyawarah Desa acapkali hanya dianggap sebagai pelengkap penderita. Substansinya diabaikan. Bahkan item-item yang […]

  • Pj Bupati Madina Tepungtawari Calhaj Dinas Pendidikan

    Pj Bupati Madina Tepungtawari Calhaj Dinas Pendidikan

    • calendar_month Senin, 4 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pj Bupati Mandailing Natal (Madina) Ir Aspan Sofian Batubara MM menepungtawari pegawai Dinas Pendidikan yang akan berangkat menunaikan ibadah haji di di Gedung Serba Guna Parabungan, Kecamatan Panyabungan, Ahad (03/10/2010). Kepala Dinas Pendidikan Madina Drs Musaddad Daulay MM dalam sambutannya mengatakan, tepung tawar bagi pegawai Dinas Pendidikan dan guru-guru yang berangkat menunaikan ibadah haji […]

  • Hukum Membangun Makam, Bolehkah?

    Hukum Membangun Makam, Bolehkah?

    • calendar_month Sabtu, 28 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Oleh: Mashih Nashrullah Perbedaan terletak pada penyikapan hadis. Permasalahan ini memang terbilang klasik. Deretan kitab fikih generasi salaf pun telah banyak mengupas tema ini sesuai dengan corak mazhab masing-masing. Namun, membahas topik ini selalu memantik perhatian. Selain karena fenomena ini terus berulang di masyarakat, isu ini tak jarang terhembus ke permukaan dan menjadi bahan saling […]

  • Ini Dia Dokumen Kelengkapan Persyaratan Calon Kepala Desa

    Ini Dia Dokumen Kelengkapan Persyaratan Calon Kepala Desa

    • calendar_month Jumat, 21 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tahapan pendaftaran bakal calon kepala desa akan dimulai pada 31 Oktober hingga 08 November 2016, maka para bakal calon harus mempersiapkan dokumen persyaratan. Berdasar Pasal 28 Ayat (2) Peraturan Bupati Kabupaten Mandailing Natal Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, Pengangkatan, Pelantikan dan Pemberhentian Kepala Desa, calon […]

expand_less