Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

Menemukan Peradaban dalam Prasasti Sorik Marapi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 11 Mar 2020
  • print Cetak

Askolani Nasution

Catatan : Askolani Nasution

Ketika melihat dokumen “Prasasti Sorik Marapi” saya segera berpikir banyak hal, hal yang saya tahu juga menjadi pikiran para arkeolog yang mendalami prasasti ini :

1) Di mana pusat peradaban sekitar Gunung Sorik Marapi, sehingga prasasti itu diletakkan di puncak gunung tertinggi di Kabupaten Mandailing Natal itu?

2) Untuk masyarakat mana prasasti itu dibuat,

3) Apakah kita manusia Mandailing yang sekarang adalah garis keturunan langsung dari manusia di kawasan Mandailing yang hidup pada masa prasasti itu dibuat?

Sebagai informasi awal, Prasasti Sorik Marapi ditemukan 1891, masa kolonialisme ketika perkebunan kopi telah mencapai puncaknya di kawasan Asisten Residen Angkola-Mandailing. Pada masa itu, Tano Bato, kota terdekat dari Gunung Sorik Marapi, sampai-sampai memiliki 22 PAL gudang kopi yang akan diekspor ke Eropah melalui Pelabuhan Pantai Barat.

Salah satu prasasti Sorik Marapi

Kolonialisme Belanda memang bukan hanya membawa ahli-ahli demografi, perkebunan, sosial budaya, agama, tetapi mereka juga membawa arkeolog dan antropolog ke daerah jajahan. Tentu saja maksudnya, selain untuk memahami tanah jajahan, juga untuk membuka kemungkinan peluang-peluang bagi keuntungan kolonialisme. Karena itulah prasasti ini ditemukan. Penemuan itu lebih awal dibanding penemuan candi Simangambat tahun 1920 oleh Schnitger. Prasasti Sorik Marapi kemudian disimpan di Museum Nasional, Jakarta dengan nomor inventaris D 53, D 65, D 83, dan D 84. Prasasti ini menjadi buku terbuka yang menarik para arkeolog dan sejarawan untuk mendeskripsikan kontekstualitas sosial masa itu.

Prasasti D84, misalnya, terdapat tulisan “Swasti çakawarsa atita 1164 bulan asuji suklapaksa trayodasi manggalawāra sana tatakala caitya bhagi sira”. Oleh epigrafis Damais (1911-1966) diterjemahkan sebagai “Selamat tahun saka setelah 1164 bulan asuji paruh terang tanggal 13 hari manggala, ketika bangunan suci diberikan kepada mereka/beliau).

Dari terjemahan tersebut dapat dipahami bahwa:

1) Prasasti itu dibuat tahun saka 1164. Tahun itu diyakini bersamaan dengan tanggal 27 Juli 1242. Menurut kitab “Pararaton”, masa itu adalah masa pemerintahan Anusapati (1227-1248) dari Kerajaan Singosari. Kerajaan itu bukan hanya meluaskan kekuasaannya ke seluruh Jawa, tetapi sampai ke Pulau Sumatera yang ketika itu dibawah pengaruh Kerajaan Sri Wijaya.

2) Ada bangunan suci yang diberikan kepada “beliau”. “Beliau” dalam prasasti tersebut diyakini merujuk kepada Ken Arok yang meninggal tahun 1227. Ken Arok adalah maharaja penting yang membawa kebesaran bagi Kerajaan Singosari dan diyakini sebagai titisan dewa.

Kembali ke asumsi awal, sebuah prasasti pada jamaknya selalu berada di dekat sebuah peradaban penting yang menjadi pusat kerajaan. Kota Yogyakarta misalnya, diyakini lahir dari sebuah peradaban gunung “Merapi”, yakni Kerajaan Mataram Kuno. Peradaban itu punah ketika Gunung Merapi meletus tahun 1006.

Ketika prasasti Sorik Marapi dibuat, tahun 1242 Masehi, sebelum periode kerajaan-kerajaan bermarga Nasution, kerajaan mana yang berperadaban tinggi di lembah gunung Sorik Marapi? Apakah peradaban itu, kalau ada di lembah Sorik Marapi, juga punah karena letusan?

Sebagai catatan, Sorik Marapi meletus pertama tercatat tahun 1830, jauh sebelum itu tentu pernah ada letusan lain tapi tidak tercatat. Karena sekalipun peradaban Mandailing misalnya telah mengenal aksara, tetapi aksara Mandailing tidak pernah digunakan untuk mencatat peristiwa. Sebab, budaya Mandailing lebih kuat dalam tradisi verbal, bukan literasi.

Adanya peradaban penting masa Prasasti Sorik Marapi bukan hal yang muskil. Pada abad 9 – 11 misalnya, atau bahkan disebut sejak abad ke lima, Mandailing sudah menjadi jalur perdagangan penting. Jalur itu disebut menghubungkan Barus – Barumun – Pasaman. Jalur pedalaman itu terkait dengan peran Sungai Batang Gadis, Batang Angkola dan Sungai Barumun sebagai jalur perdagangan penting.

Menurut arkeolog Ari Soedewo, asal kata Mandailing bisa juga terkait dengan kata [mandala]. Mandala adalah diagram berbentuk tertentu sebagai lambang alam semesta dan menjadi tempat meditasi. Jika terkait dengan sebutan “bangunan suci”, nama kawasan Mandala Sena, di Kecamatan Lembah Sorik Marapi, patut menjadi asumsi awal sebagai tempat meditasi dari bangunan suci dimaksud. Setidaknya, Desa Mandala Sena menyimpan jejak penting dalam peradaban prasasti Sorik Marapi. Tentu saja semuanya harus ditindaklanjuti dengan penelitian yang lebih mendalam. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tapteng Pecahkan Rekor MURI Bakar Ikan

    Tapteng Pecahkan Rekor MURI Bakar Ikan

    • calendar_month Sabtu, 25 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Barus- (MO), Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) berhasil mencatatkan namanya di buku catatan Museum Rekor Indonesia (MURI), dengan memecahkan rekor bakar ikan terpanjang dalam sejarah Indonesia. “Kami mengucapkan selamat kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng, dengan bangga dan hormat, MURI memberikan apresiasi setinggi-tingginya dan berhak menerima Sertifikat Rekor Indonesia,” kata Tim MURI, Wawan dipanggung lokasi bakar ikan, […]

  • Partuturan di Dalam Masyarakat Mandailing

    Partuturan di Dalam Masyarakat Mandailing

    • calendar_month Sabtu, 22 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bahasa adalah refleksi dan identitas yang paling kokoh dari sebuah budaya. Bahasa Mandailing merupakan identitas orang Mandailing yang dipelihara dan dikembangkan sebagai pengemban kebudayaan dan tata kemasyarakatan Mandailing. Asal bahasa Mandailing merupakan perkembangan dari Proto- Malayo-Polinesia yang selanjutnya diklasififikasikan ke dalam sub kelompok Malayo Polinesia Barat (Western Malayo-Polynesia) menurut Robert Blust. Fungsi bahasa Mandailing menurut […]

  • Tim Liverpool Tiba di Indonesia

    Tim Liverpool Tiba di Indonesia

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JAKARTA, – Liverpool FC akhirnya menginjakkan kakinya di Indonesia. The Reds tiba di Indonesia melalui Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Rabu (17/7) sekitar pukul 14.07 WIB dengan menumpang pesawat khusus dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Liverpool dipimpin oleh sang kapten Steven Gerrard dan pelatih Brendan Rodgers. Rombongan disambut meriah oleh petugas bandara saat menuruni tangga yang […]

  • Harlan Batubara Harus Buka Nama Pejabat Penerima Aliran Dana Terminal

    Harlan Batubara Harus Buka Nama Pejabat Penerima Aliran Dana Terminal

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Dinas Perhubungan Madina, Harlan Batubara dihimbau agar mengungkapkan kepada siapa saja aliran dana penggelembungan dana pembelian lahan terminal Panyabungan. “Janganlah Pak Harlan dan pak Zulalikan (PPTK  di Dinas Perhubungan) saja yang menangung resiko, pasti ada pejabat diatasnya yang terlibat,” kata Abdul Mukmin Pulungan, warga Panyabungan kepada Mandailing Online, Rabu (6/4/2016) […]

  • Muspida Madina Belum Kunjungi Korban Kebakaran Kotanopan

    Muspida Madina Belum Kunjungi Korban Kebakaran Kotanopan

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandailing Online) – Hingga Jum’at sore (5/6), belum satupun pejabat muspida Mandailing Natal (Madina) mengunjungi korban kebakaran di Desa Ujung Marisi, Kecamatan Kotanopan. Hanya Muspika yang sudah berada di sana, antara lain pihak Polsek Kotanopan dan pihak Koramil. Saat ini, sebagian keluarga korban kebakaran terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat yang disediakan Badan Penanggulangan […]

  • KPK dukung tim independen kasus Novel

    KPK dukung tim independen kasus Novel

    • calendar_month Sabtu, 13 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Komisi Pemberantasan Korupsi mendukung pembentukan tim independen atas tuduhan terhadap Novel Baswedan dalam kasus penganiayaan berat. Saat ini, posisi Novel tidak berubah, baik sebagai penyidik di KPK maupun ketua salah satu tim penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara di Korps Lalu Lintas Polri. ”Kalau ada tim independen, itu bisa menjadi semacam […]

expand_less