Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Nasib Guru Honorer yang Masih Terpinggirkan, Mestinya Setara UMR

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 2 Agt 2013
  • print Cetak

JANJI ANGKAT: Presiden SBY saat menghadiri Kongres PGRI ke-XXI di Istora Senayan Jakarta.

Jutaan guru honorer masih belum memperoleh penghasilan atau gaji yang layak. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) memperjuangkan supaya guru honorer itu mendapatkan gaji minimal setara dengan upah minimum kabupaten atau kota. Mereka telah melayangkan surat permintaan itu langsung ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ketua Umum PGRI Sulistyo mengatakan, saat ini baru DKI Jakarta saja yang memiliki komitmen memberikan gaji guru honorer minimal setara dengan upah minimum provinsi (UMP). “Komitmen ini sudah disampaikan lagsung Gubernur Jokowi (Joko Widodo, red). Dan sepertinya bakal dijalankan,” katanya kemarin. Sulistyo mengatakan komitmen Gubernur DKI akan memberikan gaji guru honorer sebesar Rp 2,4 juta per bulan.

Sulistyo berharap langkah DKI Jakarta ini diikuti daerah-daerah lain. Seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang memiliki jumlah guru honorer cukup besar. Dia menuturkan gaji guru honorer saat ini sangat memprihatinkan. Penghasilan resmi yang diberikan pemerintah melalui tunjangan fungsional guru tidak tetap (GTT) hanya antara Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan.

“Kita tahun BBM baru saja naik, tetapi tunjangan fungsional guru honorer tetap. Tentu memprihatinkan,” kata pria yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPR) dari Provinsi Jawa Tengah itu.

Sulistyo mengatakan pemberlakukan gaji guru honorer setara dengan upah minimum provinsi, kabupaten, atau kota tidak serta merta harus seratus persen. Dia mengatakan upaya itu bisa dijalankan bertahap. “Yang penting komitmennya,” ujar dia.

Pihak PGRI mengusulkan skema baru pemberian tunjangan fungsional guru swasta kepada Presiden. Tahapannya adalah pada 2014 minimal tunjangan fungsional guru honorer sebesar Rp 500 ribu per bulan. Tahun berikutnya naik menjadi Rp 750 ribu per bulan. Lalu pada 2016 naik menjadi Rp 1 juta per bulan. Baru pada 2017 nanti tunjangan guru non PNS setara dengan upah minimum regional. “Setelah itu pada 2018 tunjangan guru honorer lebih besar dari UMR,” jelas Sulistyo.

Dia mengatakan PGRI akan mengawal penganggaran gaji guru secara umum di postur Rancangan APBN 2014. Dia mengatakan saat ini RAPBN 2014 sedang dalam pembahasan di internal pemerintah. “Informasi yang saya terima, porsi untuk gaji dan tunjangan guru di APBN mencapai 50 persen,” papar Sulistyo.

Selain urusan tunjangan, Sulistyo juga menyangkan data pemerintah terhadap keberadaan guru honorer masih lemah. Dia menuturkan saat ini Kementerina Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) belum memiliki data akurat jumlah guru honorer di Indonesia. “Dulu Kemendikbud pernah bertekad membentuk satgas (satuan tugas) pengangkatan guru honorer menjadi PNS. Tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjanjikan pengangkatan guru honorer dan guru bantu menjadi PNS akan dipercepat. Dikatakan, sejak 2004 Ibu Negara Ani Yudhoyono sudah menerima ribuan pesan pendek dari guru honorer yang meminta diangkat menjadi PNS. Ada yang marah, setengah marah, bahkan ada yang marah sekali karena lama tidak diangkat menjadi PNS.
“Saya lihat guru honorer belum diangkat. Maka saya buat kebijakan jutaan guru harus diangkat,” katanya.

Presiden SBY menyesalkan masih banyaknya masalah dan kendala pada proses pengangkatan guru. ”Daerah harus menghitung secara cermat jumlah guru yang mau diangkat agar tidak ada guru yang dirugikan,” tuturnya.

Bahkan, saat ini, presiden sudah memerintahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendagri, Kemenpan dan RB, Kemenag dan Sesneg untuk membantu proses percepatan pengangkatan guru honorer tersebut. ”Menteri-menteri harus mengundang gubernur seIndonesia untuk cari solusi dan memecahkan masalah guru bantu dan honorer yang belum diangkat,” jelasnya.

Bagaimana dengan Pemprov DKI Jakarta? Salah satu solusi sementara yang dilakukan adalah dengan memberikan Kartu Jakarta Sehat (KJS) kepada para guru honorer. ”KJS diberikan sebagai pengganti tunjangan kesehatan,” kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emmawati.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Taufik Yudi Mulyanto, DKI Jakarta memiliki 11.751 guru honorer dan 5.757 guru bantu. Guru honorer di sekolah negeri mendapat uang transportasi Rp 400 ribu per bulan dari APBD. Sementara guru bantu mendapat tambahan uang transportasi Rp 550 ribu per bulan dari APBD dan Rp 1 juta per bulan dari APBN.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan pemberian KJS bagi guru honorer itu bukan rencana dadakan, melainkan sudah terprogram pada saat merancang program Kartu Jakarta Sehat. (rul/wok)

Nasib Guru Honorer
– Yang tercatat pemerintah pusat : sekitar 650 ribu
– Yang belum tercatat (di daerah) : sekitar 400 ribu
– Rata-rata pendapatan saat ini : Rp 250-300 ribu/bulan
– Usul PGRI untuk 2014 : Minimal Rp 500 ribu/bulan
– Usul PGRI untuk 2015 : Minimal Rp 750 ribu/bulan
– Usul PGRI untuk 2016 : Minimal Rp 1 juta/bulan
– Usul PGRI untuk 2017 : Setara UMR

(Jpnn)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tetapkan Ramadhan, Mui Madina Tunggu Ketetapan Kemenag.

    Tetapkan Ramadhan, Mui Madina Tunggu Ketetapan Kemenag.

    • calendar_month Minggu, 5 Jun 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam penetapan Ramadhan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Mandailing Natal masih menunggu ketetapan dari Kementrian Agama Republik Indonesia. Demikian dikatakan Ketu MUI Kabupaten Mandailing Natal, Mahmudin Pasaribu, menjawab Mandailing Online di Panyabungan, Minggu, (5/6). Dikatakannya mengingat sidang isbat penetapan puasa itu dilaksanakan oleh Kemenag, pihaknya  hingga saat ini masih menunggu ketetapan resmi […]

  • Harlan Batubara Harus Buka Nama Pejabat Penerima Aliran Dana Terminal

    Harlan Batubara Harus Buka Nama Pejabat Penerima Aliran Dana Terminal

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Dinas Perhubungan Madina, Harlan Batubara dihimbau agar mengungkapkan kepada siapa saja aliran dana penggelembungan dana pembelian lahan terminal Panyabungan. “Janganlah Pak Harlan dan pak Zulalikan (PPTK  di Dinas Perhubungan) saja yang menangung resiko, pasti ada pejabat diatasnya yang terlibat,” kata Abdul Mukmin Pulungan, warga Panyabungan kepada Mandailing Online, Rabu (6/4/2016) […]

  • Mewaspadai  Agenda Moderasi di Sekolah Negeri Berbalut Toleransi

    Mewaspadai  Agenda Moderasi di Sekolah Negeri Berbalut Toleransi

    • calendar_month Selasa, 9 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Jagat berita nasional sedang diramaikan kasus penggunaan seragam hijab yang dikabarkan mengundang pemaksaan. Meskipun telah beredar klarifikasi dari pihak alumni sekolah yang menjadi objek kasus, bahwa dirinya tidak pernah merasa dipaksa untuk mengikuti peraturan sekolah yang mewajibkan berbusana muslim. Ia justru menyatakan dengan rela dan senang […]

  • Berobat Gratis Pakai KTP Terus Berlanjut Jika SAHATA Terpilih

    Berobat Gratis Pakai KTP Terus Berlanjut Jika SAHATA Terpilih

    • calendar_month Minggu, 3 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAMBANGAN (Mandailing Online) – Berobat gratis ke Puskesmas dan rumah sakit pakai E-KTP bagi masyarakat Kabupaten Mandailing Natal (Madina) akan dilanjutkan apabila pasangan calon bupati dan wakil bupati Madina nomor urut 2, H. Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi (SAHATA) terpilih sebagai pemenang di Pilkada Madina 2024. Berobat gratis itu merupakan program nasional bernama Universal […]

  • Kasus Maga, Polisi Tetapkan 5 Tersangka

    Kasus Maga, Polisi Tetapkan 5 Tersangka

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Mandailing Natal (Madina) sejauh ini telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus pengeroyokan di Desa Maga Lombang, Kecamatan Lembah Sorik Marapi. Pengeroyokan terjadi pada Selasa (20/1) oleh massa seratusan orang menyebabkan Ispara Sakti Nasution alias 'Adek' (50) warga Desa Maga Lombang meninggal dunia. “Sementara ini ada sekitar lima orang […]

  • Naposo Bulung, BPD, LPM, PKK dan Kopdes di Madina dalam Ancaman Nihilisme!

    Naposo Bulung, BPD, LPM, PKK dan Kopdes di Madina dalam Ancaman Nihilisme!

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Lembaga sosial level desa, seperti Naposo Nauli Bulung (NNB), BPD, LPM, PKK dan Kopdes nampaknya masih ada. Akan tetapi, kalau dilihat dari geliat dan vitalitasnya, semunya dalam kondisi yang lemah. Di momen 5 Mei ini, perlu memunculkan kecurigaan. Kuat dugaan, organisasi desa (ordes) itu terjebak dan dikhawatirkan kontribusinya jadi […]

expand_less