Senin, 20 Jul 2026
light_mode

Saatnya Madina Melahirkan Pebisnis, Bukan Broker Anggaran

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Episentrum

 

 

Gelombang efisiensi anggaran yang melanda pemerintah pusat hingga daerah memunculkan berbagai reaksi. Sebagian mengkhawatirkan perlambatan ekonomi karena proyek berkurang, belanja pemerintah menurun, dan perputaran uang tidak lagi seramai sebelumnya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Namun, di balik situasi tersebut tersimpan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar: mengapa ekonomi daerah begitu bergantung pada APBD?

Jika setiap kali belanja pemerintah dikurangi lalu ekonomi langsung limbung, maka sesungguhnya yang sedang kita hadapi bukan sekadar persoalan efisiensi. Yang sedang diuji adalah fondasi ekonomi daerah itu sendiri.

Selama bertahun-tahun, denyut ekonomi di banyak daerah lebih banyak digerakkan oleh proyek pemerintah. Hotel menunggu kegiatan dinas. Percetakan menunggu spanduk. Jasa katering menunggu rapat. Kontraktor menunggu paket pekerjaan.

Bahkan tidak sedikit pelaku usaha yang lebih sibuk memantau perubahan anggaran dibanding membaca perubahan pasar.

Model seperti ini memang mampu menggerakkan ekonomi dalam jangka pendek. Namun, ia juga melahirkan ketergantungan yang tidak sehat. Ketika anggaran menyusut, aktivitas ekonomi ikut melemah. Ketika proyek berhenti, banyak usaha kehilangan napas.

Di sinilah Mandailing Natal perlu mengambil jalan berbeda.

Daerah ini membutuhkan lebih banyak pebisnis, bukan sekadar pemburu proyek. Lebih banyak pencipta nilai tambah daripada pencari rente. Lebih banyak inovator yang membangun pasar daripada mereka yang hanya menunggu paket pekerjaan diumumkan.

Perbedaan keduanya sangat mendasar.

Pebisnis membangun usaha yang terus hidup meski tahun anggaran berganti. Ia menciptakan produk, membuka lapangan kerja, mengembangkan jaringan pemasaran, dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

Sebaliknya, budaya berburu proyek hanya membuat roda ekonomi berputar mengikuti kalender APBD. Ketika anggaran tersedia, ekonomi ramai. Ketika anggaran diketatkan, semuanya ikut lesu.

Padahal Mandailing Natal memiliki sumber daya yang jauh lebih kaya daripada sekadar belanja pemerintah. Kopi Mandailing telah dikenal luas. Hasil pertanian dan perkebunan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. Industri rumah tangga dapat berkembang jika memperoleh legalitas, pendampingan, akses pembiayaan, dan pasar yang memadai. Pariwisata, ekonomi kreatif, hingga perdagangan digital juga menyimpan peluang yang belum digarap secara maksimal.

Semua itu hanya akan tumbuh apabila orientasi pembangunan bergeser dari ekonomi anggaran menuju ekonomi produktif.

Karena itu, gagasan Wakil Bupati Mandailing Natal agar produk lokal hadir dalam setiap rapat pemerintahan patut dibaca sebagai bagian dari perubahan paradigma. Pemerintah tidak cukup menjadi pembelanja anggaran, tetapi juga perlu menjadi penggerak pasar bagi produk masyarakat. Namun, langkah tersebut harus menjadi awal, bukan tujuan akhir.

Yang lebih penting adalah membangun sebuah ekosistem yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, perbankan, perguruan tinggi, komunitas, dan media dalam satu strategi bersama.

Pemerintah menciptakan regulasi dan keberpihakan. Dunia usaha membuka akses pasar. Komunitas melakukan pendampingan. Akademisi menghadirkan inovasi. Perbankan memperkuat pembiayaan. Media mengawal akuntabilitasnya.

Di sisi lain, perubahan ini juga menuntut keberanian meninggalkan budaya yang selama ini menghambat tumbuhnya ekonomi produktif. Keberhasilan pembangunan tidak lagi diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari bertambahnya usaha yang bertahan, meningkatnya omzet pelaku UMKM, meluasnya kesempatan kerja, dan menguatnya ekonomi keluarga.

Hubungan itu sangat jelas. Ketika usaha tumbuh, lapangan kerja bertambah. Ketika lapangan kerja bertambah, pendapatan keluarga menguat. Ketika keluarga lebih tangguh secara ekonomi, tekanan sosial dapat berkurang.

Sebaliknya, apabila perlambatan ekonomi tidak diimbangi dengan penciptaan peluang usaha baru, maka pengangguran berpotensi meningkat dan kerentanan terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk kriminalitas, juga dapat ikut membesar.

Karena itu, efisiensi anggaran tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman. Ia juga bisa menjadi momentum untuk mengoreksi arah pembangunan daerah.

Mungkin sudah saatnya Mandailing Natal berhenti mengukur kemajuan dari besarnya APBD yang dibelanjakan. Ukuran yang lebih bermakna adalah berapa banyak pengusaha baru yang lahir, berapa banyak produk lokal yang berhasil menembus pasar nasional, berapa banyak keluarga yang naik kelas secara ekonomi, dan berapa banyak anak muda yang memilih membangun usaha daripada menunggu proyek.

Daerah yang kuat bukanlah daerah yang paling banyak menghabiskan anggaran. Daerah yang kuat adalah daerah yang mampu mengubah setiap potensi menjadi nilai tambah, setiap nilai tambah menjadi lapangan kerja, dan setiap lapangan kerja menjadi kesejahteraan bagi keluarga-keluarga yang hidup di dalamnya. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Calo Sulit Diberantas

    Calo Sulit Diberantas

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Upaya pemberantasan percaloan di instansi pemerintahan sulit diberantas jika mental birokrat belum dibenahi. Selain itu budaya masyarakat yang ingin dipermudah dan cepat dalam setiap urusan, menjadi salah satu celah memuluskan praktek percaloan. Hal ini dikatakan Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Provinsi Sumatera Utara Hidayat di Gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Jumat (26/11/2010). […]

  • 13 Desa di Panyabungan Timur Akan Gelar Pilkades, 3 Desa Jadi Perhatian Serius

    13 Desa di Panyabungan Timur Akan Gelar Pilkades, 3 Desa Jadi Perhatian Serius

    • calendar_month Sabtu, 19 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )-Demi menciptakan Pilkades damai yang akan digelar serentak 21 Agustus 2023 mendatang, Camat Panyabungan Timur, Mandailing Natal ( Madina ) menggelar rapat pematangan pelaksanaan Pilkades di wilayah nya Sabtu 19/8/2023. Rapat yang dihadiri Pihak Kecamatan, Polisi, unsur kepanitiaan Pilkades, Pj Kades dan BPD itu dipimpin langsung Rahmad Rizky Ramadhan selaku Camat Panyabungan […]

  • BPBD Madina Cari Korban Hanyut di Aek Galoga

    BPBD Madina Cari Korban Hanyut di Aek Galoga

    • calendar_month Selasa, 13 Nov 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tim BPBD Madina bersama warga hingga kini masih melakukan pencarian Roni Rizky yang hanyut di Sungai Batang Gadis, titik Aek Galoga, Selasa (13/11/2018). Berdasar informasi yang dihimpun di lapangan, remaja warga Aek Galoga, Panyabungan, Mandailing Natal itu hanyut ketika melompat ke sungai mengejar bola. Dia dan rekan-rekannya bermain bola di lapangan […]

  • Rp 500 Miliar Dikucurkan untuk Jalan Nasional Sibolga-Tapteng

    Rp 500 Miliar Dikucurkan untuk Jalan Nasional Sibolga-Tapteng

    • calendar_month Jumat, 27 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Sibolga – Mulai tahun 2014, Pemerintah Pusat mengalokasikan dana Rp 500 miliar lebih untuk perbaikan seluruh ruas jalan Nasional yang rusak di wilayah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Menurut Kepala Satker PPK 12 Sibolga Cs Siduhuaro Dachi, dana itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) murni sebesar Rp 70 miliar, juga […]

  • Desa Kumpulan Setia Hutabargot Masih Jalan Tanah

    Desa Kumpulan Setia Hutabargot Masih Jalan Tanah

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    HUTA BARGOT (Mandailing Online) – Kabupaten Mandailing sudah berusia 15 tahun lebih, namun masih banyak desa-desa yang masih minim infrastruktur jalan, termasuk Desa Kumpulan Setia Kecamatan Huta Bargot yang hanya berjarak beberapa kilo meter dari ibukota kabupaten, Panyabungan. Desa ini juga berada di kecamatan yang terkenal dengan tambang batuan emasnya. ”Jalan masih tanah, apabila dalam […]

  • Rangkaian HPN 2026 Banten, Bupati Serang Gelar Gala Dinner Bersama SMSI 

    Rangkaian HPN 2026 Banten, Bupati Serang Gelar Gala Dinner Bersama SMSI 

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    SERANG ( Mandailing Online ): Bertempat di pendopo rumah dinas Bupati Serang Provinsi Banten. Bupati Serang, Hj Ratu Rachmatuzakiyah, S. Pd, MM diwakili sekda, Zaldi Dhuhana menjamu Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) makan malam bersama (Gala Dinner). Gala dinner yang dilaksanakan sekira pukul 19.00 wib ini dihadiri ketua umum SMSI, Firdaus, pengurus pusat dan seluruh […]

expand_less