Jumat, 3 Jul 2026
light_mode

Saatnya Madina Melahirkan Pebisnis, Bukan Broker Anggaran

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Episentrum

 

 

Gelombang efisiensi anggaran yang melanda pemerintah pusat hingga daerah memunculkan berbagai reaksi. Sebagian mengkhawatirkan perlambatan ekonomi karena proyek berkurang, belanja pemerintah menurun, dan perputaran uang tidak lagi seramai sebelumnya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Namun, di balik situasi tersebut tersimpan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar: mengapa ekonomi daerah begitu bergantung pada APBD?

Jika setiap kali belanja pemerintah dikurangi lalu ekonomi langsung limbung, maka sesungguhnya yang sedang kita hadapi bukan sekadar persoalan efisiensi. Yang sedang diuji adalah fondasi ekonomi daerah itu sendiri.

Selama bertahun-tahun, denyut ekonomi di banyak daerah lebih banyak digerakkan oleh proyek pemerintah. Hotel menunggu kegiatan dinas. Percetakan menunggu spanduk. Jasa katering menunggu rapat. Kontraktor menunggu paket pekerjaan.

Bahkan tidak sedikit pelaku usaha yang lebih sibuk memantau perubahan anggaran dibanding membaca perubahan pasar.

Model seperti ini memang mampu menggerakkan ekonomi dalam jangka pendek. Namun, ia juga melahirkan ketergantungan yang tidak sehat. Ketika anggaran menyusut, aktivitas ekonomi ikut melemah. Ketika proyek berhenti, banyak usaha kehilangan napas.

Di sinilah Mandailing Natal perlu mengambil jalan berbeda.

Daerah ini membutuhkan lebih banyak pebisnis, bukan sekadar pemburu proyek. Lebih banyak pencipta nilai tambah daripada pencari rente. Lebih banyak inovator yang membangun pasar daripada mereka yang hanya menunggu paket pekerjaan diumumkan.

Perbedaan keduanya sangat mendasar.

Pebisnis membangun usaha yang terus hidup meski tahun anggaran berganti. Ia menciptakan produk, membuka lapangan kerja, mengembangkan jaringan pemasaran, dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

Sebaliknya, budaya berburu proyek hanya membuat roda ekonomi berputar mengikuti kalender APBD. Ketika anggaran tersedia, ekonomi ramai. Ketika anggaran diketatkan, semuanya ikut lesu.

Padahal Mandailing Natal memiliki sumber daya yang jauh lebih kaya daripada sekadar belanja pemerintah. Kopi Mandailing telah dikenal luas. Hasil pertanian dan perkebunan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. Industri rumah tangga dapat berkembang jika memperoleh legalitas, pendampingan, akses pembiayaan, dan pasar yang memadai. Pariwisata, ekonomi kreatif, hingga perdagangan digital juga menyimpan peluang yang belum digarap secara maksimal.

Semua itu hanya akan tumbuh apabila orientasi pembangunan bergeser dari ekonomi anggaran menuju ekonomi produktif.

Karena itu, gagasan Wakil Bupati Mandailing Natal agar produk lokal hadir dalam setiap rapat pemerintahan patut dibaca sebagai bagian dari perubahan paradigma. Pemerintah tidak cukup menjadi pembelanja anggaran, tetapi juga perlu menjadi penggerak pasar bagi produk masyarakat. Namun, langkah tersebut harus menjadi awal, bukan tujuan akhir.

Yang lebih penting adalah membangun sebuah ekosistem yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, perbankan, perguruan tinggi, komunitas, dan media dalam satu strategi bersama.

Pemerintah menciptakan regulasi dan keberpihakan. Dunia usaha membuka akses pasar. Komunitas melakukan pendampingan. Akademisi menghadirkan inovasi. Perbankan memperkuat pembiayaan. Media mengawal akuntabilitasnya.

Di sisi lain, perubahan ini juga menuntut keberanian meninggalkan budaya yang selama ini menghambat tumbuhnya ekonomi produktif. Keberhasilan pembangunan tidak lagi diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari bertambahnya usaha yang bertahan, meningkatnya omzet pelaku UMKM, meluasnya kesempatan kerja, dan menguatnya ekonomi keluarga.

Hubungan itu sangat jelas. Ketika usaha tumbuh, lapangan kerja bertambah. Ketika lapangan kerja bertambah, pendapatan keluarga menguat. Ketika keluarga lebih tangguh secara ekonomi, tekanan sosial dapat berkurang.

Sebaliknya, apabila perlambatan ekonomi tidak diimbangi dengan penciptaan peluang usaha baru, maka pengangguran berpotensi meningkat dan kerentanan terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk kriminalitas, juga dapat ikut membesar.

Karena itu, efisiensi anggaran tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman. Ia juga bisa menjadi momentum untuk mengoreksi arah pembangunan daerah.

Mungkin sudah saatnya Mandailing Natal berhenti mengukur kemajuan dari besarnya APBD yang dibelanjakan. Ukuran yang lebih bermakna adalah berapa banyak pengusaha baru yang lahir, berapa banyak produk lokal yang berhasil menembus pasar nasional, berapa banyak keluarga yang naik kelas secara ekonomi, dan berapa banyak anak muda yang memilih membangun usaha daripada menunggu proyek.

Daerah yang kuat bukanlah daerah yang paling banyak menghabiskan anggaran. Daerah yang kuat adalah daerah yang mampu mengubah setiap potensi menjadi nilai tambah, setiap nilai tambah menjadi lapangan kerja, dan setiap lapangan kerja menjadi kesejahteraan bagi keluarga-keluarga yang hidup di dalamnya. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pembangunan Jembatan Tanpa Plank Merek di Sidaing.

    Pembangunan Jembatan Tanpa Plank Merek di Sidaing.

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Pembangunan jembatan tanpa plank merek di titik Sidaing desa Parmompang Kecamatan Panyabungan Timur. (hol)  

  • Pemda Bisa Ambil Alih Otorita Asahan

    Pemda Bisa Ambil Alih Otorita Asahan

    • calendar_month Senin, 16 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Setelah PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) 100 persen menjadi milik pemerintah RI, maka Otorita Asahan ke depan sudah tidak punya peran lagi. Dulunya, Otorita Asahan dibentuk sebagai badan yang mewakili pemerintah RI dalam pengelolaan Inalum, sedangkan pihak Jepang membentuk Nippon Asahan Aluminium (NAA). Lantas mau diapakan Otorita Asahan ke depan? Apakah langsung dibubarkan? […]

  • Penghentian Operasional Tambang Emas Martabe Perburuk Citra RI

    Penghentian Operasional Tambang Emas Martabe Perburuk Citra RI

    • calendar_month Sabtu, 6 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO)-Penghentian sementara operasional tambang Martabe di Tapanuli Selatan, Sumut, merupakan sebuah kerugian besar bagi Indonesia. Terutama bagi citra Indonesia di mata dunia internasional. Bahwa ternyata iklim investasi di negara ini masih tidak kondusif, hanya karena tarik ulur antara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, terkait masalah pemasangan pipa pembuangan sisa limbah […]

  • Kecurangan CPNS diusut

    Kecurangan CPNS diusut

    • calendar_month Rabu, 5 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kalangan DPRD Kota Medan menunjukkan keseriusannya mengusut dugaan permainan dalam penerimaan CPNS Kota Medan 2010. Sejumlah anggota dewan mulai mengumpulkan tandatangan dukungan untuk menjalankan hak angket terhadap permasalah ini. Salah seorang inisiator hak angket DPRD Kota Medan, Ahmad Arif, mengatakan langkah ini dilakukan untuk memudahkan dilakukan investigasi atas dugaan kecurangan seleksi CPNS. “Hak […]

  • Provinsi Kalimantan Utara Disahkan

    Provinsi Kalimantan Utara Disahkan

    • calendar_month Kamis, 25 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Resmi jadi provinsi ke-34. Bersamaan dengan empat kabupaten baru. Sidang paripurna terakhir Dewan Perwakilan Rakyat yang dilakukan pada Kamis, 25 Oktober 2012 ini, lebih ramai dari biasanya. Bukan karena dipenuhi anggota dewan, tapi ada ratusan masyarakat adat yang memenuhi bangku balkon ruang sidang paripurna. Kebanyakan dari mereka, mengenakan baju tradisional masing-masing. Mereka, datang untuk menyambut […]

  • Empat Kesenian Madina Akan Tampil di PRSU

    Empat Kesenian Madina Akan Tampil di PRSU

    • calendar_month Kamis, 17 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal akan menampilkan 4 kesenian mandailing di Pekan Raya Sumatera Utara 18 Maret 2016. Keempat seni itu meliputi pagelaran Gordang Sambilan, tari, musik khas Mandailing dan drama Willem Iskander. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda dan Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Mandailing Natal, Ervin Nasution menjawab Mandailing Online, Kamis […]

expand_less