Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

Saatnya Madina Melahirkan Pebisnis, Bukan Broker Anggaran

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Episentrum

 

 

Gelombang efisiensi anggaran yang melanda pemerintah pusat hingga daerah memunculkan berbagai reaksi. Sebagian mengkhawatirkan perlambatan ekonomi karena proyek berkurang, belanja pemerintah menurun, dan perputaran uang tidak lagi seramai sebelumnya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Namun, di balik situasi tersebut tersimpan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar: mengapa ekonomi daerah begitu bergantung pada APBD?

Jika setiap kali belanja pemerintah dikurangi lalu ekonomi langsung limbung, maka sesungguhnya yang sedang kita hadapi bukan sekadar persoalan efisiensi. Yang sedang diuji adalah fondasi ekonomi daerah itu sendiri.

Selama bertahun-tahun, denyut ekonomi di banyak daerah lebih banyak digerakkan oleh proyek pemerintah. Hotel menunggu kegiatan dinas. Percetakan menunggu spanduk. Jasa katering menunggu rapat. Kontraktor menunggu paket pekerjaan.

Bahkan tidak sedikit pelaku usaha yang lebih sibuk memantau perubahan anggaran dibanding membaca perubahan pasar.

Model seperti ini memang mampu menggerakkan ekonomi dalam jangka pendek. Namun, ia juga melahirkan ketergantungan yang tidak sehat. Ketika anggaran menyusut, aktivitas ekonomi ikut melemah. Ketika proyek berhenti, banyak usaha kehilangan napas.

Di sinilah Mandailing Natal perlu mengambil jalan berbeda.

Daerah ini membutuhkan lebih banyak pebisnis, bukan sekadar pemburu proyek. Lebih banyak pencipta nilai tambah daripada pencari rente. Lebih banyak inovator yang membangun pasar daripada mereka yang hanya menunggu paket pekerjaan diumumkan.

Perbedaan keduanya sangat mendasar.

Pebisnis membangun usaha yang terus hidup meski tahun anggaran berganti. Ia menciptakan produk, membuka lapangan kerja, mengembangkan jaringan pemasaran, dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

Sebaliknya, budaya berburu proyek hanya membuat roda ekonomi berputar mengikuti kalender APBD. Ketika anggaran tersedia, ekonomi ramai. Ketika anggaran diketatkan, semuanya ikut lesu.

Padahal Mandailing Natal memiliki sumber daya yang jauh lebih kaya daripada sekadar belanja pemerintah. Kopi Mandailing telah dikenal luas. Hasil pertanian dan perkebunan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. Industri rumah tangga dapat berkembang jika memperoleh legalitas, pendampingan, akses pembiayaan, dan pasar yang memadai. Pariwisata, ekonomi kreatif, hingga perdagangan digital juga menyimpan peluang yang belum digarap secara maksimal.

Semua itu hanya akan tumbuh apabila orientasi pembangunan bergeser dari ekonomi anggaran menuju ekonomi produktif.

Karena itu, gagasan Wakil Bupati Mandailing Natal agar produk lokal hadir dalam setiap rapat pemerintahan patut dibaca sebagai bagian dari perubahan paradigma. Pemerintah tidak cukup menjadi pembelanja anggaran, tetapi juga perlu menjadi penggerak pasar bagi produk masyarakat. Namun, langkah tersebut harus menjadi awal, bukan tujuan akhir.

Yang lebih penting adalah membangun sebuah ekosistem yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, perbankan, perguruan tinggi, komunitas, dan media dalam satu strategi bersama.

Pemerintah menciptakan regulasi dan keberpihakan. Dunia usaha membuka akses pasar. Komunitas melakukan pendampingan. Akademisi menghadirkan inovasi. Perbankan memperkuat pembiayaan. Media mengawal akuntabilitasnya.

Di sisi lain, perubahan ini juga menuntut keberanian meninggalkan budaya yang selama ini menghambat tumbuhnya ekonomi produktif. Keberhasilan pembangunan tidak lagi diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari bertambahnya usaha yang bertahan, meningkatnya omzet pelaku UMKM, meluasnya kesempatan kerja, dan menguatnya ekonomi keluarga.

Hubungan itu sangat jelas. Ketika usaha tumbuh, lapangan kerja bertambah. Ketika lapangan kerja bertambah, pendapatan keluarga menguat. Ketika keluarga lebih tangguh secara ekonomi, tekanan sosial dapat berkurang.

Sebaliknya, apabila perlambatan ekonomi tidak diimbangi dengan penciptaan peluang usaha baru, maka pengangguran berpotensi meningkat dan kerentanan terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk kriminalitas, juga dapat ikut membesar.

Karena itu, efisiensi anggaran tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman. Ia juga bisa menjadi momentum untuk mengoreksi arah pembangunan daerah.

Mungkin sudah saatnya Mandailing Natal berhenti mengukur kemajuan dari besarnya APBD yang dibelanjakan. Ukuran yang lebih bermakna adalah berapa banyak pengusaha baru yang lahir, berapa banyak produk lokal yang berhasil menembus pasar nasional, berapa banyak keluarga yang naik kelas secara ekonomi, dan berapa banyak anak muda yang memilih membangun usaha daripada menunggu proyek.

Daerah yang kuat bukanlah daerah yang paling banyak menghabiskan anggaran. Daerah yang kuat adalah daerah yang mampu mengubah setiap potensi menjadi nilai tambah, setiap nilai tambah menjadi lapangan kerja, dan setiap lapangan kerja menjadi kesejahteraan bagi keluarga-keluarga yang hidup di dalamnya. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tambang Emas Ilegal Bermunculan

    Tambang Emas Ilegal Bermunculan

    • calendar_month Senin, 28 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Distamben Tapteng akan Lakukan Penertiban Pandan (Mandailing Online) – Aktifitas penambangan emas ilegal di Desa Gunung Marijo, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), semakin meresahkan masyarat desa sekitar. Warga khawatir aktifitas para penambang yang disinyalir menggunaan bahan kimia seperti merkuri itu berdampak negatif secara langsung kepada masyarakat dan lingkungan hidup sekitar lokasi pertambangan. Masyarakat amat […]

  • Pemilih Diberi Rp10 Ribu Hadir pada Pilkades

    Pemilih Diberi Rp10 Ribu Hadir pada Pilkades

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Untuk merangsang agar seluruh masyarakat Desa Gunungtua Lumban Pasir, Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) hadir pada pemilihan kepala desa (Pilkades), panitia memberikan uang kepada seluruh pemilih yang memiliki hak suara. Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Pilkades Gunungtua Lumban Pasir, Dahler Lubis SPd kepada METRO usai pelaksanaan pilkades, Kamis (16/12). Pemberian uang kepada pemilih […]

  • Penerima BLT Tak Transparan, Warga Sinonoan Akan Polisikan Kepdes

    Penerima BLT Tak Transparan, Warga Sinonoan Akan Polisikan Kepdes

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Puluhan warga Desa Sinonoan Kecamatan Siabu mendatangi Polres Madina Kamis (21/5) siang. Warga hendak mengadukan semrawutnya penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa 2020 di desa mereka. Diantara poin yang dikeluhkan : pemerintah desa kurang transparan menentukan warga penerima manfaat. Banyak yang kategori berhak tak masuk daftar. Edy Saputra Nasution gelar […]

  • Penghuni Rumah Syok Mengetahui Rumah Huniannya Terbakar

    Penghuni Rumah Syok Mengetahui Rumah Huniannya Terbakar

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Zainuddin penguni rumah kontrakan yang terbakar sore tadi di Banjar tinggi, Kelurahan Panyabungan III, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) mengaku merasa syok mengetahui rumah kontrakan yang dihuninya beserta isinya ludes terbakar. “Saya tahu rumah saya terbakar setelah dihubungi warga sekitar sini. Saat kejadian memang saya sedang tidak dirumah. […]

  • Muspida Madina Pesta Durian

    Muspida Madina Pesta Durian

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Banyak cara untuk merayakan kemenangan Timnas Indonesia atas Filipina pada leg kedua semifinal Piala AFF. Di Kabupaten Mandailing Natal misalnya, Bupati Madina Aspan Sofian Batubara, Ketua DPRD Madina As Imran Khaitami Daulay, Kajari Panyabungan Danang Purwoko, Kapolres Madina AKBP Hirbak Wahyu Setiawan dan Ketua Pengadilana Negeri Panyabungan Ikhwan Effendi Nasution, menggelar syukuran dengan makan Durian […]

  • Koperasi Mitra Manindo Kian Energik, Buka Kantor di Kotanopan dan Siabu

    Koperasi Mitra Manindo Kian Energik, Buka Kantor di Kotanopan dan Siabu

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Setelah enam tahun menapak dan menggeliat berjuang melawan bank rentenir yang mencekik pelaku usaha, Koperasi Mitra Manindo yang berbasis syariah makin energik dengan mengelola dana senilai Rp 5 milyar. Selain sudah membuka dua kantor kas di Panyabungan, jasa keuangan syariah ini juga sudah membuka kantor di Siabu dan Kotanopan. Dalam […]

expand_less