Selasa, 14 Jul 2026
light_mode

Tortor Mandailing di Dalam Mollop

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 20 Feb 2019
  • print Cetak

Tortor Naposobulung

 

Catatan : Dahlan Batubara

 

Saya teringat cerpen “Indonesia” karya Putu Wijaya. Berkisah tentang mahasiswi di Amerika Serikat. Yang belajar tari untuk persiapan festival kesenian asli negara-negara asal para mahasiswa.

Si mahasiswi baru menyadari belajar tari ternyata sangat berat.

Sang guru tari menekankan bahwa esensi tarian tradisional itu ketika : gerakan fisik saat menari berada dalam pengaruh jiwa. Pengaruh perasaan. Bukan lagi perintah otak.

Syaraf-syaraf tubuh bergerak oleh getaran jiwa. Jiwa digetarkan oleh hipnotisasi ritme musik.

Tubuh bergerak mengikuti aliran perasaan.

Gemulai tarian kian halus jika jiwa semakin menguasai gerakan fisik.

Dalam bahasa Mandailing ada kosa kata “Mollop”. Antara tidur dan terjaga. Atau setengah sadar.

Tingkatan Mollop tercapai ketika kesadaran oleh kekuatan otak kian memudar.

“Penari Tortor Mandailing berada dalam situasi antara sadar dan terjaga. Mollop,” ungkap Ilham Nasution, guru Gordang Sambilan di Pidoli Lombang, Panyabungan, Madina, ketika saya berbincang dengannya tahun 2012 lalu.

“Tubuh bergerak mengikuti perasaan. Gerakan yang halus ini terpengaruh oleh kendali perasaan, yang mengalir ke urat-urat syaraf penari oleh pengaruh ritme musik. Makanya Tortor Mandailing halus, bergerak lamban dan sakral, penuh makna dan penghayatan,” beber Ilham.

Gerakan mata, tangan, jari tangan dan kaki digerakkan oleh perasaan. Termasuk posisi kepala yang terus menunduk.

Ini menyebabkan gerakan tari tortor Mandailing  lamban, halus, gemulai.

Telapak kaki juga tak pernah terangkat dari lantai. Hanya bergeser. “Manyerep” dalam bahasa Mandailing.

Apabila gerakan tarian Tortor Mandailing masih belum halus, maka si penari harus giat belajar. Agar esensi gerakan Tortor Mandailing tercapai.

Dari sisi pendekatan etnomusikologi. Gerakan tarian yang halus, lamban dan penuh penghayatan merupakan ciri tarian tradisional di berbagai kawasan di Nusantara. Seperti tarian tortor di Mandailing itu.

Jika ada tarian yang sama tetapi gerakannya cendrung kasar, maka dianggap keluar dari esensi tarian induknya. Pendekatan ini bisa menjelaskan bahwa jika ada tarian serupa di suku lain, maka tortor mereka berinduk pada Tortor Mandailing.

Ini juga bisa menjadi kajian lebih lanjut tentang kemungkinan suku itu berasal dari Mandailing yang turut membawa tarian tortor itu ke wilayah baru mereka. Ketiga bermigrasi masa lalu.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Meriah, Resepsi Pernikahan Ustadz Solmed-April Jasmin

    Meriah, Resepsi Pernikahan Ustadz Solmed-April Jasmin

    • calendar_month Rabu, 15 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Nuansa merah dan emas mendominasi ruangan resepsi pernikahan Shaleh Mahmud atau akrab disapa Ustadz Solmed dan April Jasmin di sebuah mesjid di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Ahad kemarin. Pasangan yang sebelumnya telah melakukan ijab kabul pada 11 November 2011 itu nampak serasi berbalut busana khas Tapanuli Selatan. Kemegahan sangat terasa di setiap hal dalam resepsi […]

  • Sikat Habis Pelaku Illegal Loging di Madina
    Tak Berkategori

    Sikat Habis Pelaku Illegal Loging di Madina

    • calendar_month Rabu, 1 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online)  Bupati Madina harus bertindak tegas menindak pelaku illegal di hulu sungai Aek Mata dan Aek Ranto Puran, dengan meminta kepada Polres dan Dishutbun Madina melakukan audit investigasi di hulu kedua sungai tersebut. Bupati harus meminta secara tertulis kapada Polres Madina untuk mengambil langkah-langkah hukum terhadap pelaku illegal loging, dengan dalih pembukaan […]

  • Gordang Sambilan Siantona

    Gordang Sambilan Siantona

    • calendar_month Senin, 27 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Grup Gordang Sambilan Martondi dari Desa Siantona, Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Mandailing Natal, tampil tadi sore di pondok taman Al-Munawaroh, Jalan Lingkar, Panyabungan, Senin (28/8). Pertunjukan dikesempatan ini menonjolkan Saleot, alat musik tiup yang terbuat dari gabungan tanduk kerbau dengan tempurung kelapa. Pondok taman Al-Munawaroh secara rutin mempertunjukkan atraksi Gordang Sambilan dari […]

  • Ini Nasib Pasien Pengguna BPJS Kesehatan

    Ini Nasib Pasien Pengguna BPJS Kesehatan

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Tiurma Simbolon harus menanggung kecewa. Ia tak menyangka bahwa pasien BPJS Kesehatan tak selalu gratis kala berobat. Tiurma adalah istri dari Daulat Hutagalung, pasien penderita penyakit jantung yang dirawat di ruang ICU RS Royal Prima, di Jalan Ayahanda. Sudah enam hari ia menemani suaminya di rumah sakit. Karena tak kunjung sembuh, Tiurma lantas […]

  • Christopher Shelton: Selesai Baca Alquran, Saya Menjadi Muslim

    Christopher Shelton: Selesai Baca Alquran, Saya Menjadi Muslim

    • calendar_month Selasa, 10 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Setiap harinya, Christopher Shelton mendengar teman-temannya tengah membahas Islam. Satu atau dua temannya memang seorang Muslim.  Itu terjadi ketika Shelton duduk di bangku sekolah. “Awalnya ada teman saya seorang Muslim bernama Raphael, ia bercerita banyak tentang Islam. Saat itu, saya belum tertarik mendengar bahasan itu,” ucap dia seperti dikutip arabnews.com, Rabu (4/12). Memasuki kelas sepuluh, […]

  • BATUAN BESAR RERUNTUHAN TAMBANG HUTA BARGOT

    BATUAN BESAR RERUNTUHAN TAMBANG HUTA BARGOT

    • calendar_month Selasa, 12 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Batuan Besar – Material bebatuan yang menimbun korban di dalam tambang emas Huta Bargot, Mandailing Natal, berukuran besar-besar. Tim Basarnas diperkirakan harus memecah bebatuan ini agar mudah disingkirkan untuk mengangkat tubuh korban dari reruntuhan. Foto ini hasil jepretan tim Basarnas ketika tim sudah mampu mencapai titik reruntuhan di kedalam 150 meter di bawah tanah, tempat […]

expand_less