Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

Tympanum Garap Film “Lilu”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 22 Okt 2012
  • print Cetak

Film Lilu 211012
SIABU (Mandailing Online) – Kemajuan sinematografi di Mandailing Natal, Sumatera Utara terus berkibar. Ini tak terlepas dari para sineas Mandailing yang kian banyak melahirkan karya-karya meramaikan kancah perfilman di tanah air.

Setelah meraih rangkaian sukses memproduksi films berbasis Mandailing “Biola Na Mabugang”, “Biola Na Mabugang II- Tias Ni Bugang”, lalu “Tias Part II”, Tympanum Novem Films kembali menggarap film baru berjudul “Lilu”.

Berbeda dengan film-film terdahulu, “Lilu” ini bergenre anak-anak. “Kita ingin sebuah tontonan bagi anak-anak yang selain berdimensi kearifan lokal, juga bermuatan pendidikan, pencerahan budaya, dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan,” kata sutradara Askolani Nasution, Minggu (21/10).

Sinopsis “Lilu” tentang tokoh Sangkot, Laung, Gundur, Bibun, Munir, Melati, dan Bunga sebagai teman sepermainan. Ketika mandi-mandi di sungai, mereka tertarik melihat sebilah bambu yang hanyut di sungai, yang ternyata berisi peta harta karun.

Peta itu ternyata jatuh dari kawanan pencari harta karun. Sangkot dan kawan-kawan lalu mengikuti jejak peta itu dan terperangkap dalam petualangan hutan yang seru. Bersamaan dengan itu, sekelompok pencari harta karun menemukan tokoh Melati. Melati lalu disekap untuk memancing kawan-kawannya mengembalikan peta tersebut. Tapi begitu tahu tempat penyekapan Melati, Sangkot segera merancang pembebasannya dengan cerdik.

Film ini, selain mendeskripsikan petualangan hutan dengan berbagai tantangannya, juga menonjolkan berbagai kecerdikan survival di hutan dengan mengandalkan teori-teori pelajaran IPA di sekolah dasar.
Misalnya, menghidupkan api tanpa pemantik, merebus tanpa wadah, listrik DC berbahan ubi kayu, teori-teori pegas, tumbukan, pertumbuhan lumut, gaya berat, kalor, dan lain-lain. Dengan begitu IPA bukan hanya sekedar rumus dan konsep, tetapi bisa menjadi aktual dalam kehidupan sekitar manusia.

Tentang pemilihan tema anak-anak, menurut Askolani, karena sampai hari ini belum ada film tentang dunia anak-anak berkarakter Mandailing. Memang ada film nasional berdimensi anak-anak, Petualangan Sherina misalnya, Ambilkan Bulan, dan lain-lain. Tapi itu juga sudah lama sekali. Apalagi film-film tersebut juga bukan berkarakter Mandailing.

Televisi memang banyak memuat film kartun untuk anak-anak, tetapi materi ceritanya amat membuat miris karena sama sekali tidak menumbuhkan kearifan lokal, lanjutnya. Lebih parahnya lagi, banyak film-film tersebut yang berbau menyesatkan karena menampilkan tokoh-tokoh binatang yang dalam konteks Mandailing sangat tidak nyaman dilihat. Dan itu yang tiap hari ditonton anak-anak kita.

Apalagi, menurut penelitian, rata-rata anak menghabiskan delapan jam setiap harinya di depan televisi. “Ini tidak bisa dibiarkan, karena itu Tympanum menawarkan pilihan yang lebih arif,” kata Askolani di sela-sela pengambilan gambar hari Minggu (21/10) lalu.

Diperankan oleh enam orang anak-anak: Nanda, Reza, Nanda, Rifky, Gundur, dan Nona yang mampu memperlihatkan adegan-adegan yang ekspresif. Seperti biasa, Tim Tympanum berbagi tugas. Cerita/Sutradara: Askolani; Kamera/Editor: Ahmad Syukri; Artistik/Cinematografi: Ali Fikri; Casting/Fotografi: Erwin Tampas, dan Lighting/Properti: Fadhli Husein.

Pengambilan gambar sepenuhnya dilakukan di sekitar Kecamatan Bukit Malintang dan Kecamatan Siabu. Tentang pemilihan lokasi ini, Askolani mengatakan, “Setting yang kita butuhkan hutan dengan berbagai kekayaan floranya. Karena itu, kita tak perlu lokasi yang jauh. Apalagi para pemainnya anak sekolah, kita mengambil gambar setelah pulang sekolah.”
Harus diakui, tahun ini memang mendadak ada daya tarik yang luas terhadap budaya Mandailing, suatu hal yang nyaris tidak ditemukan selama beberapa dasawarsa terakhir. Dulu tak ada produser yang mau produk yang berbahasa Mandailing.

Sekarang malah sebaliknya, semua berlomba mengatasnamakan Mandailing, sekalipun isinya sama sekali tak menggambarkan karakteristik Mandailing. Ini sepatutnya menjadi hal yang patut disikapi secara bijak. Kalau momen ini tak dimanfaatkan, ke depan karakteristik Mandailing ini akan lenyap, kata Askolani. Lihat saja lagu-lagu Mandailing, pilihan kata dan gambar yang disuguhkan amat tidak menggambarkan Mandailing lagi. Seharusnya kita miris melihat ini.(lik)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Delapan Rumah Terbakar di Longat

    Delapan Rumah Terbakar di Longat

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) – Setidaknya 4 rumah hangus total dan 4 rusak dalam peristiwa kebakaran di Kelurahan Longat, Panyabungan Barat, Mandailing Natal, Rabu siang (22/4/2020). Belum diketahui pasti penyebab kebakaran tersebut. Warga menyebutkan, kobaran api dengan cepat menjalar ke rumah warga lainnya karena angin yang bertiup kencang. Warga berramai ramai memadamkan api secara manual. […]

  • Pembunuh Guru SD Ditangkap

    Pembunuh Guru SD Ditangkap

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Tersangka pembunuh Eliza (45), Guru SD di Desa Bandar Panjang, Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), akhirnya ditangkap polisi. Pelaku ternyata mantan murid korban berinisial HA (21) yang juga warga Bandar Panjang. Kapolres Madina AKBP Hirbak Wahyu Setiawan yang dikonfirmasi wartawan di kantornya di Panyabungan, Kamis (16/12/2010), mengatakan awalnya polisi sangat kesulitan mengungkap […]

  • Madina dilanda cuaca ekstrim

    Madina dilanda cuaca ekstrim

    • calendar_month Kamis, 4 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Hujan masih terus melanda hampir diseluruh wilayah yang ada di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), sehingga mengakibatkan prekonomian masyarakat terganggu bahkan mengancam terjadinya badai di wilayah pantai Barat Madina serta longsor. Sejumlah wilayah yang ada di Madina, intensitas hujan cukup tinggi dan bisa mengakibatkan longsor disejumlah titik, seperti yang terlihat di Jempata Merah menuju […]

  • Tentara Dihajar Massa

    Tentara Dihajar Massa

    • calendar_month Kamis, 30 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Seorang prajurit TNI AL, Praka Impol Sianipar (30) kritis setelah dipukuli warga di kawasan Jalan Krakatau Ujung Kelurahan Tanjung Mulia Kecamatan Medan Deli, Medan. Prajurit yang bertugas di Satkamla Lantamal I Belawan ini menjadi sasaran amuk massa saat akan melerai sekelompok pemuda yang terlibat keributan. Informasi diperoleh, Rabu (29/1) kemarin, menyebutkan, penganiayaan dialami […]

  • PT SMGP Diminta Jaga Harmonisasi dengan Masyarakat

    PT SMGP Diminta Jaga Harmonisasi dengan Masyarakat

    • calendar_month Kamis, 17 Mar 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – PT SMGP diminta untuk menjaga harmonisasi dengan masyarakat di wilayah kerja perusahaan (WKP) dengan melakukan berbagai langkah yang tepat dan tidak buru-buru mengklaim setiap permasalahan yang terjadi. Hal itu disampaikan Ketua DPRD Mandailing Natal (Madina) saat mengikuti rapat investigasi lapangan terkait dugaan kebocoran gas yang mengakibatkan puluhan warga Desa Sibanggor dilarikan […]

  • Kinerja Kapoldasu perlu dievaluasi

    Kinerja Kapoldasu perlu dievaluasi

    • calendar_month Jumat, 2 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, (MO) – Banyak eleman masyarakat meminta agar kinerja Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapolda Sumut) Irjen Polisi Wisjnu Amat Sastro dievaluasi, terkait banyak kasus yang mencoreng citra kepolisian di daerah Sumut. Seperti kasus tehanan kabur dari dua Polsek di Kota Medan dengan jangka waktu yang tidak terlalu lama dan adanya bentrok fisik antar Kepoilisian […]

expand_less