Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Wawancara dengan Askolani CEO Tympanum Novem (Bagian II)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 14 Nov 2012
  • print Cetak

Banyak kemajuan yang sudah dicapai Tympanum Novem sejak muncul tahun lalu melalui film perdana Mandailing “Biola Na Mabugang”. Banyak pihak yang menyebutkan bahwa film ini mengawali gerbong dinamika genre baru dalam segmen hiburan di kawasan Mandailing dan bekas daerah Tapanuli Selatan secara umum. Dalam sebuah kesempatan di tengah-tengah penggarapan film “Lilu”, kami menyempatkan wawancara dengan Askolani Nasution, CEO Tympanum Novem.

BAGIAN II


Kenapa baru sekarang ada gerakan model Tympanum?

Saya yakin, bukan hanya kami yang prihatin terhadap kondisi seni budaya kita. Jauh sebelum ini juga sudah muncul berbagai diskursus tentang eksistensi seni budaya Mandailing di kalangan seniman dan budayawan kita, bahkan di lingkungan kelas sosial tertentu. Dulu kita berharap muncul melalui wadah organisasi seniman budayawan daerah. Tapi sampai sekarang tak ada wadah yang representatif semacam itu. Karena itu, kita kumpulkan kawan-kawan seide, dan terbentuklah Tympanum Novem tahun lalu.

Apa sebenarnya yang membuat Anda prihatin?

Nyaris tak ada perhatian kita terhadap pakem seni budaya Mandailing. Budaya misalnya hanya tampak dalam prosesi pesta pernikahan saja. Di luar itu nyaris pudar semua. Ada kecenderungan di hampir setiap etnis dengan makin memudarnya karakteristik lokal dan tanpa disadari ada transformasi yang masif ke bentuk budaya nasional yang diusung media massa. Selain itu, makin banyak ekspansi bahasa Indonesia terhadap bahasa lokal, sehingga tiap hari ada saja idiom bahasa lokal yang digantikan bahasa nasional. Itu ancaman, karena hanya menunggu waktu bahasa-bahasa daerah ini akan punah. Coba saja baca buku-buku berbahasa daerah kita, makin banyak diksi yang tidak kita pahami. Itu pertanda ancaman kepunahan. Ada kematian bahasa. Dan itu diakui dalam ilmu linguistik.

Karena itu Anda menggunakan bahasa Mandailing Klasik dalam Film “Biola Na Mabugang” dan “Tias”?

Benar. Kita berniat menghidupkan kembali bahasa purba itu. Kami kira itu dulu beresiko karena cerita akan sulit dipahami. Ternyata tidak, itu malah memancing keingintahuan anak-anak terhadap muatan maknanya. Bahkan menjadi daya tarik film. Karena bagi sebagian penonton berumur, itu membangkitkan nostalgia ke masa anak-anak. Dan penelitian membuktikan bahwa rata-rata manusia Timur pikirannya lebih terkooptasi terhadap masa lalu dibandingkan masa depan. Itu menjadi salah satu acuan pemasaran bagi banyak bisnis media. Kita harus jeli melihat pangsa pasar ini.

Anda belajar pemasaran juga, ya?

Ya, harus. Sebagus apapun kemasannya, kalau isinya tak mendatangkan daya tarik pasar, tetap gagal namanya. Tiap produk seni budaya harus berorientasi pasar, kalau tidak, kita tidak survive. Bengkel Teater Rendra juga begitu, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Riantiarno, Butet Kertajasa, dan lain-lain. Kalau tidak bagaimana mereka bisa makan. Tentu saja sepanjang kita tetap bisa menjaga dimensi-dimensi pemberdayaan sosialnya, mencerdaskan, ada idealisme, perfeksionis. Jangan juga melulu market oriented seperti sebagian besar produk televisi kita. Itu pelacuran seni namanya. Kita mengeksploitasi seni dan manusia hanya untuk bisa tetap berjuang. Tympanum bergerak dalam ranah itu.

Itu konsep Anda atau konsep Tympanum?

Saya yakin kawan-kawan di Tympanum rata-rata memahami itu. Itu terbukti dari empat produksi yang sudah kita buat. Saya kenal orang-orang Tympanum bukan setahun dua tahun lagi. Aes, Fikri, Ewin saya kenal sebagai seniman murni. Mereka bahkan rela tidak dibayar kalau itu menyangkut penguatan sosial. Dan itu sering kita diskusikan. Kita juga beranjak dari keterbukaan, kejujuran komunual. Tak banyak cingcong. Kalau nyaman, ya kerja; kalau tak nyaman ya keluar. Kita tak mau ribut-ribut soal jasa misalnya. Bukan seniman kalau semua diukur dengan materi, dan bukan seniman kalau bawaannya kasar. Itu mungkin yang bisa menguatkan kita di Tympanum.

Apa target Tympanum sebenarnya?

(Diam sebentar). Kita terlalu banyak keinginan. Ingin ada pakem musik mandailing yang benar-benar tampak karakter Mandailingnya mulai dari ornamen, komposisi, ritme, dan lirik. Kita ingin film Mandailing yang dicintai warganya, yang jelas tampak karakter lokalnya mulai dari bahasa, perwajahan, kostum, hingga ilustrasi musik. Kita ingin menghidupkan kembali idiom dan diksi bahasa Mandailing yang hampir punah. Kita ingin karakter Mandailing tampak dalam ornamen gedung, pola perkampungan, bahkan pemerintahan. Kita ingin karakter Mandailing tampak dalam software berbasis IT. Kita ingin buku-buku yang ber-roh Mandailing. Kita ingin mengukuhkan sejarah perdaban Mandailing.


Revolusi Kebudayaan targetnya?

Kesimpulannya mungkin begitu. Tapi tentu tetap ada orang yang trauma dengan sebutan revolusi karena mungkin mencaman bagi kemapanan tertentu. Itu semua kerja berat dan tak mungkin kami lakukan sendiri. Tapi ada atau tidak dukungan, insya allah tetap kami lakukan. Karena selalu harus ada martir untuk setiap perubahan sosial. Dan akan butuh waktu lama, banyak cobaan, dan lain-lain. Tak apa-apa. Jangan ada pembiaran terhadap keruntuhan budaya kita. Jangan sampai Mandailing seperti punahnya peradaban Inca (tertawa)

Sejak kapan Anda punya pikiran seperti ini?

Tiap orang tak bisa menghindar dari dinamika daya tarik pemikiran. Dalam analisa berpikir saya sebenarnya amat western, saya menolak segala yang menentang logika, kecuali pengakuan terhadap Tuhan, karena itu butuh kerendahhatian manusia. Saya amat yakin kita jangan hanya menjadi spesialis, harus juga generalis. Kita mesti belajar banyak hal mulai dari filsafat, ilmu logika, ilmu sosial, ekonomi (makro dan mikro), budaya, seni, komunikasi, dan teori-teori pemberdayaan, psikologi juga. Kita semua butuh pengetahuan untuk bisa mengemas sesuatu. Makin efektif pendekatan, makin rendah cost-nya, itu prinsip marketing dalam arti luas (ekonomi, politik, logika, dan lain-lain). Misalnya, kalau seseorang bisa kita tarik simpatinya dengan sapaan yang menenangkan, mengapa harus dengan membayar tiket? Hiduplah dengan lentur, sepanjang tetap pada langkah penguatan potensi diri. Hiduplah dengan banyak tujuan, tak baik terlalu sederhana dalam berpikir.

Hidup seperti itu apa tidak capek?

Jangan bilang capek untuk hidup yang hanya sekali. Itu tidak menghargai hidup namanya. Tuhan memperpanjang umur kita bukan tanpa maksud saya kira. Walaupun alam ini rumit dan semua atas kehendak Tuhan, Tuhan tetap mengenal kita sebagai ciptaannya. Kematian saya kira bukan sekedar takdir, tetapi batas berakhirnya kesempatan untuk melakukan sesuatu. Karena itu, jika tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, sama artinya dengan mengakhiri hidup kita sendiri.(MO/Holik)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Proyek Pemerintah Belum Setahun Sudah Rusak

    Proyek Pemerintah Belum Setahun Sudah Rusak

    • calendar_month Jumat, 6 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LINGGA BAYU (Mandailing Oniline) – Pemerintah dihimbau mengubah pola kebijakan pertanggungjawaban pemakaian uang negara dari pola pertanggungjawaban administrasi kepada pola pertangungjawaban kualitas. Sistem pertanggungjawaban administrasi memiliki banyak kelemahan, dibuktikan banyaknya pembangunan sarana publik yang tidak tepat sasaran dan tidak berkualitas. Bahkan banyak bangunan pemerintah yang mubazir. Sistem pertanggungjawaban administrasi hanya memfokuskan pada hitungan kecocokan antara […]

  • Mengapa KPU Madina Berubah-ubah?

    Mengapa KPU Madina Berubah-ubah?

    • calendar_month Sabtu, 1 Mei 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan: Dahlan Batubara Pemimpin Redaksi Mandailing Online Pada tanggal 28 April 2021 KPU Madina menyatakan menunda penetapan pemenang Pilkada Madina. Padahal sejatinya jadwal Penetapan Calon Terpilih adalah tanggal 30 April 2021 sampai dengan 3 Mei 2021. Tetapi, pada hari Sabtu tanggal 1 Mei 2021 Ketua KPU Madina, Fadillah Syarif berbalik arah. Kepada media massa Fadillah […]

  • Pekan Budaya Memalukan

    Pekan Budaya Memalukan

    • calendar_month Rabu, 20 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        Oleh : Dahlan Batubara   Nama kegiatannya : Pekan Kebudayaan Mandailing Natal 2019. Lazimnya pekan budaya itu lamanya sepekan atau hampir sepekan atau lebih dari sepekan. Tapi hanya 1 hari. Sewajibnya pekan budaya itu diisi ragam kegiatan : festival, pagelaran, pameran, forum kajian hingga ragam perlombaan. Ternyata kegiatan-kegiatan itu tak ada. Alhasil acara […]

  • Dahlan Hasan : Aswin Parinduri Selalu Dampingi Saya ke Jakarta

    Dahlan Hasan : Aswin Parinduri Selalu Dampingi Saya ke Jakarta

    • calendar_month Jumat, 22 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dahlan Hasan Nasution menyatakan bahwa Aswin Parinduri merupakan tokoh yang memiliki perhatian kuat dalam pembangunan Mandailing Natal. Aswin Parinduri selama ini sangat banyak meluangkan waktu membantunya di Jakarta untuk meyakinkan pemerintah Indonesia dalam memperoleh dukungan pembangunan daerah. “Pak Aswin lah yang selama ini selalu mendampingi saya ke Jakarta,” ungkap […]

  • Trans Medan segera beroperasi

    Trans Medan segera beroperasi

    • calendar_month Kamis, 19 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Medan akan segera mengoperasikan sistem angkutan umum massal (Trans Medan) sebagai salah satu upaya dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Selain itu akan diikuti dengan evaluasi terhadap pengaturan arah lalu lintas serta beberapa kebijakan lainnya. Demikian disampaikan Kadishub Medan Renward Parapat, di Balai Kota Medan, hari ini. “Semua ini […]

  • Tahun 2024, Senilai 7,8 M Anggaran Untuk Hotmix Ruas Jalan Simpang Siobon-Aek Mata

    Tahun 2024, Senilai 7,8 M Anggaran Untuk Hotmix Ruas Jalan Simpang Siobon-Aek Mata

    • calendar_month Kamis, 9 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )-Dinas PUPR Mandailing Natal ( Madina ) tahun 2024 telah mendapat alokasi anggaran Dana Alokasi Khusus atau DAK Bidang Jalan senilai Rp 7,8 miliar untuk pembangunan jalan hotmix ruas jalan simpang siobon -aek mata, Kecamatan Panyabungan. Agar tidak ada kendala saat pelaksanaan pekerjaan, Dinas PUPR Madina Kamis 9/11/2023 melaksanakan Long Segmen […]

expand_less