Senin, 21 Sep 2026
light_mode

SOSOK LUDFAN NASUTION (Kilasan Pasca Rekomendasi PKB)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 18 Jun 2017
  • print Cetak

Ludfan Nasution, S.Sos

 

Catatan : ASKOLANI NASUTION
Budayawan

 

Saya mengenalnya tahun 2009 di radio Start 102.6 FM Panyabungan ketika masih di Lintas Timur, beliau penyiar di radio itu dan saya sering ke sana untuk sekedar minum kopi. Lalu dengan Pak Khoiruddin Faslah Siregar dan Romi Hidayat, kami juga sama-sama menulis buku biografi Amru Daulay. Saya bagian teks narasi biografinya, dan beliau bagian ulasan politisnya.

Kebetulan kami punya latar belakang pekerjaan di media, beliau di salah satu majalah ibu kota, dan saya di sebuah surat kabar kampus. Juga sama-sama penggemar seni. Bedanya, beliau di bidang apresiasi dan kritik seni, saya bagian pekerjanya. Juga sama-sama berlatar komunikasi massa, beliau memang jurusan komunikasi massa, saya bagian desain komunikasi massa. Nyambungnya saya kira di situ.
Lalu ketemu lagi di tempat kerja. Beliau staf ahli Fraksi PKB Madina, saya Kabag Humas, lalu Kabag Persidangan DPRD. Jadi kalau ada paripurna, pasti ketemu. Bahasa Pandangan Fraksi yang beliau buat saya pahami betul. Dari bahasanya langsung saya klaim, itu bahasa Ludfan Nasution. Jadi di tempat kerja kami sering mengulas berbagai konsep politis idealis, mulai dari ideologi partai, sistem kader, perubahan dimensi politis dulu dan kini, teori tata negara, teori pemberdayaan, dan seterusnya.

Kadang-kadang juga kajian politik Islam. Masalah Piagam Madinah masa Rasul, konsep berpikir Nurcholis Majid, pemikiran Ridwan Saidi, Deliar Noer, dan sebagainya. Sekalipun basis khilafiah kami berbeda, tetapi selalu sama dalam hal konsep sosiologi Islam. Selalu menjadi teman diskusi yang menarik.
Ketika masa-masa “Rindang Magnitute” saya juga selalu diundang untuk menjadi panelis dari sisi kebudayaan. Alasannya, jangan semua panelis orang politisi, harus ada juga orang kebudayaan. Saya setuju karena memang politik juga bagian dari kebudayaan, bagian dari desain sosial yang dikemas.
Lalu beberapa kali juga bertemu saat pembentukan “Gerep Institute”. Membahas berbagai persoalan dimensi pembangunan dan efek sosialnya bagi kelompok masyarakat terpinggirkan. Mulai dari persoalan, ekonomi makro, tata ruang dan lingkungan hidup, peran sosial kelas menengah, dan seterusnya. Saya ajak beliau ke rodang, satu kawasan ekonomi kerakyatan berbasis komunitas rawa. Ibu-ibu menggendong anak menyeberangi sungai Batang Angkola, perahu nelayan yang hilir mudik, kebersahajaan rakyat, dan seterusnya.

Saya bilang bahwa ini lebih dari sekedar objek wisata yang potensial, tetapi juga kajian dimensi ekonomi marginal yang kasuistis. Dan beliau kaget, di Mandailing Natal ternyata ada kehidupan yang begitu rupa tapi tidak pernah terekspos media, dan tidak pernah dilirik studi-studi sosiologi. Padahal kawasan ini menyangkut ribuan orang dan beberapa desa yang potensial dalam desain sosial politis.
Lalu merembet ke kajian jurnalistik. Tentu karena beliau Wakil Pemimpin Redaksi di Malintang Pos. Tentang konsep media secara umum, susahnya membangun media di tengah pembaca yang tidak tertarik dengan koran, efek media berbasis online, pergeseran profesionalisme wartawan, idealisme jurnalis, dan seterusnya. Tentu tentang berbagai teori tentang pers sesuai dengan jurusannya sebagai sarjana komunikasi, dan sesuai pandangan saya sebagai mantan dosen mata kuliah jurnalistik.

Saya bilang bahwa beliau lebih cocok sebagai penulis kolom, bukan wartawan. Tapi kolomnya juga untuk kelas menengah ke atas, karena bahasanya memang selalu menggunakan kalimat majemuk dengan banyak pola, plus bahasa intelektual. Mungkin karena beliau banyak membaca kolom Emha Ainun Najib.
Tapi paling menarik kalau topiknya masalah seni. Beliau misalnya, menginginkan drama yang murni teater. Saya bilang bahwa untuk penonton awam teater relatf belum berterima. Karena kadar seninya terlalu tinggi. Katanya, mengapa kami menggunakan dubbing, karena efek sastranya rendah. Saya bilang, di Mandailing Natal di mana saya dapat pentas drama yang menyediakan sistem audio yang kompatibel tanpa dubing. Teater di sini masih barang langka. Pada akhirnya seni juga harus tunduk kepada kondisi situasional.
Tapi kami sama-sama merindukan Mandiling Natal yang punya Gedung Kebudayaan, ada panggung teater, ada anak-anak yang setiap minggu mementaskan teater, ada lomba-lomba seni tradisi, ada dukungan finansial sebagaimana daerah lain, dan seterusnya. Saya bilang bahwa itu hanya terjadi kalau beliau sudah menjadi anggota DPRD, karena hanya efektif kalau ada dorongan dari ruang dewan. Dan harus dimulai dari membangun antusiasme. Tentu karena kami bercermin dari gedung-gedung kesenian di kota lain yang rutin mementaskan berbagai karya seni.
Karena itu, begitu kemarin saya tahu bahwa PKB telah memberikan rekomendasi kepada beliau untuk ditetapkan sebagai anggota DPRD dari PKB, saya segera ingat semua konsep-konsep itu. Tapi tentu, sebagaimana kata orang pesisir, “inda ka salasai dunia ko dek awak surang,” angan-angan yang banyak itu segera saya pendam.

Seorang Ludfan memerlukan tambahan mukjizat untuk mengubah banyak hal di tengah kondisi sosial politis yang tidak melihat ruang kebudayaan sebagai ruang yang efektif untuk mengubah tatanan sosial. Cina berubah karena “Revolusi Kebudayaan” dari Deng, dan di Amerika Serikat pelajaran Seni Sastra menentukan kelulusan. Tapi di sini, apa yang lebih berharga dari sebuah sejarah!

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua PP Kutambaru Tewas Dibantai

    Ketua PP Kutambaru Tewas Dibantai

    • calendar_month Minggu, 17 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SALAPIAN- Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila (PP) Kecamatan Kutambaru (dulu Salapian, Red), Sopan Perangin-angin (32), tewas bersimbah darah, Rabu (13/7) malam. Sekujur tubuhnya penuh luka menganga diduga akibat tebasan senjata tajam. Menurut sumber POSMETRO MEDAN (grup Sumut Pos) di kepolisian, pembunuhan itu terjadi pukul 20.30 WIB di sebuah warung di Dusun Penusunan, Desa […]

  • Bupati Madina dan Mandailing Malaysia Akan Teken MoU Kerjasama

    Bupati Madina dan Mandailing Malaysia Akan Teken MoU Kerjasama

    • calendar_month Rabu, 21 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) dan pihak Mandailing Malaysia akan menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) kerjasama pada 23 November mendandatang di Panyabungan. Kerjasama ini meliputi bidang kebudayaan, silaturrahim, ekonomi, tenaga kerja dan pemerintahan. Pihak Mandailing Malaysia diwakili Presiden Persatuan Halak Mandailing Malaysia (PHMM), Ramli Abdul Karim Hasibuan. “Penandatanganan MoU itu dilakukan ditengah […]

  • Tuntutan Pendemo ke Pj Bupati & DPRD

    Tuntutan Pendemo ke Pj Bupati & DPRD

    • calendar_month Jumat, 29 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-; Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Mandailing Natal (AMP2M) bersama Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Satma PP) berdemonstrasi ke kantor Pemkab dan DPRD Madina, Kamis (28/10). Mereka meminta pejabat terkait bertanggung jawab atas defisit anggaran tahun 2010 yang berjumlah Rp19,7 miliar, dan mendesak Pejabat (Pj) Bupati Aspan Batubara dan DPRD membentuk tim auditor defisit anggaran tersebut. […]

  • Solmed Rajin Shalawat dan Ngaji demi Anak

    Solmed Rajin Shalawat dan Ngaji demi Anak

    • calendar_month Sabtu, 28 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    TANGERANG, – Kehidupan rumah tangga Ustaz Solmed dan April Jasmine kian bahagia setelah kehadiran anak pertamanya yang dinamai Sultan. Meski cukup sibuk, Ustad Solmed tetap memberi perhatian kepada bayinya yang baru berusia dua bulan itu. “Ustaz suka bacain shalawat, suka bacain Alquran juga. Itu hampir tiap hari,” kata April Jasmine, di kediaman Nassar-Muzdalifah di Tangerang […]

  • 10 tahun, PU klaim bangun 4.400 Km jalan

    10 tahun, PU klaim bangun 4.400 Km jalan

    • calendar_month Selasa, 25 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto mengemukakan, dalam kurun waktu dua periode kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yaitu periode 2004-2014, pemerintah telah membangun jalan nasional sepanjang 4400 kilometer (km). “Dulu panjang jalan nasional 34000 km saat ini 38000 km. Tambahan itu dari pembangunan jalan baru, ada juga dari jalan yang biasa berubah […]

  • Daftar Tunggu Calon Haji Madina Tembus Tahun 2027

    Daftar Tunggu Calon Haji Madina Tembus Tahun 2027

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Daftar tunggu calon jemaah haji di Mandailing Natal  sampai saat ini sudah mencapai tahun 2027. Hal ini berdasarkan estimasi dari jumlah calon jemah haji Madina yang sudah mendaftar  mencapai 6431 orang. Demikian diungkap Kepala Kementerian Agama Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Drs. Muskin Batubara, M.Pd didampingi Kasi Haji Ahmad Zainul Khobir […]

expand_less