Sabtu, 1 Agu 2026
light_mode

SOSOK LUDFAN NASUTION (Kilasan Pasca Rekomendasi PKB)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 18 Jun 2017
  • print Cetak

Ludfan Nasution, S.Sos

 

Catatan : ASKOLANI NASUTION
Budayawan

 

Saya mengenalnya tahun 2009 di radio Start 102.6 FM Panyabungan ketika masih di Lintas Timur, beliau penyiar di radio itu dan saya sering ke sana untuk sekedar minum kopi. Lalu dengan Pak Khoiruddin Faslah Siregar dan Romi Hidayat, kami juga sama-sama menulis buku biografi Amru Daulay. Saya bagian teks narasi biografinya, dan beliau bagian ulasan politisnya.

Kebetulan kami punya latar belakang pekerjaan di media, beliau di salah satu majalah ibu kota, dan saya di sebuah surat kabar kampus. Juga sama-sama penggemar seni. Bedanya, beliau di bidang apresiasi dan kritik seni, saya bagian pekerjanya. Juga sama-sama berlatar komunikasi massa, beliau memang jurusan komunikasi massa, saya bagian desain komunikasi massa. Nyambungnya saya kira di situ.
Lalu ketemu lagi di tempat kerja. Beliau staf ahli Fraksi PKB Madina, saya Kabag Humas, lalu Kabag Persidangan DPRD. Jadi kalau ada paripurna, pasti ketemu. Bahasa Pandangan Fraksi yang beliau buat saya pahami betul. Dari bahasanya langsung saya klaim, itu bahasa Ludfan Nasution. Jadi di tempat kerja kami sering mengulas berbagai konsep politis idealis, mulai dari ideologi partai, sistem kader, perubahan dimensi politis dulu dan kini, teori tata negara, teori pemberdayaan, dan seterusnya.

Kadang-kadang juga kajian politik Islam. Masalah Piagam Madinah masa Rasul, konsep berpikir Nurcholis Majid, pemikiran Ridwan Saidi, Deliar Noer, dan sebagainya. Sekalipun basis khilafiah kami berbeda, tetapi selalu sama dalam hal konsep sosiologi Islam. Selalu menjadi teman diskusi yang menarik.
Ketika masa-masa “Rindang Magnitute” saya juga selalu diundang untuk menjadi panelis dari sisi kebudayaan. Alasannya, jangan semua panelis orang politisi, harus ada juga orang kebudayaan. Saya setuju karena memang politik juga bagian dari kebudayaan, bagian dari desain sosial yang dikemas.
Lalu beberapa kali juga bertemu saat pembentukan “Gerep Institute”. Membahas berbagai persoalan dimensi pembangunan dan efek sosialnya bagi kelompok masyarakat terpinggirkan. Mulai dari persoalan, ekonomi makro, tata ruang dan lingkungan hidup, peran sosial kelas menengah, dan seterusnya. Saya ajak beliau ke rodang, satu kawasan ekonomi kerakyatan berbasis komunitas rawa. Ibu-ibu menggendong anak menyeberangi sungai Batang Angkola, perahu nelayan yang hilir mudik, kebersahajaan rakyat, dan seterusnya.

Saya bilang bahwa ini lebih dari sekedar objek wisata yang potensial, tetapi juga kajian dimensi ekonomi marginal yang kasuistis. Dan beliau kaget, di Mandailing Natal ternyata ada kehidupan yang begitu rupa tapi tidak pernah terekspos media, dan tidak pernah dilirik studi-studi sosiologi. Padahal kawasan ini menyangkut ribuan orang dan beberapa desa yang potensial dalam desain sosial politis.
Lalu merembet ke kajian jurnalistik. Tentu karena beliau Wakil Pemimpin Redaksi di Malintang Pos. Tentang konsep media secara umum, susahnya membangun media di tengah pembaca yang tidak tertarik dengan koran, efek media berbasis online, pergeseran profesionalisme wartawan, idealisme jurnalis, dan seterusnya. Tentu tentang berbagai teori tentang pers sesuai dengan jurusannya sebagai sarjana komunikasi, dan sesuai pandangan saya sebagai mantan dosen mata kuliah jurnalistik.

Saya bilang bahwa beliau lebih cocok sebagai penulis kolom, bukan wartawan. Tapi kolomnya juga untuk kelas menengah ke atas, karena bahasanya memang selalu menggunakan kalimat majemuk dengan banyak pola, plus bahasa intelektual. Mungkin karena beliau banyak membaca kolom Emha Ainun Najib.
Tapi paling menarik kalau topiknya masalah seni. Beliau misalnya, menginginkan drama yang murni teater. Saya bilang bahwa untuk penonton awam teater relatf belum berterima. Karena kadar seninya terlalu tinggi. Katanya, mengapa kami menggunakan dubbing, karena efek sastranya rendah. Saya bilang, di Mandailing Natal di mana saya dapat pentas drama yang menyediakan sistem audio yang kompatibel tanpa dubing. Teater di sini masih barang langka. Pada akhirnya seni juga harus tunduk kepada kondisi situasional.
Tapi kami sama-sama merindukan Mandiling Natal yang punya Gedung Kebudayaan, ada panggung teater, ada anak-anak yang setiap minggu mementaskan teater, ada lomba-lomba seni tradisi, ada dukungan finansial sebagaimana daerah lain, dan seterusnya. Saya bilang bahwa itu hanya terjadi kalau beliau sudah menjadi anggota DPRD, karena hanya efektif kalau ada dorongan dari ruang dewan. Dan harus dimulai dari membangun antusiasme. Tentu karena kami bercermin dari gedung-gedung kesenian di kota lain yang rutin mementaskan berbagai karya seni.
Karena itu, begitu kemarin saya tahu bahwa PKB telah memberikan rekomendasi kepada beliau untuk ditetapkan sebagai anggota DPRD dari PKB, saya segera ingat semua konsep-konsep itu. Tapi tentu, sebagaimana kata orang pesisir, “inda ka salasai dunia ko dek awak surang,” angan-angan yang banyak itu segera saya pendam.

Seorang Ludfan memerlukan tambahan mukjizat untuk mengubah banyak hal di tengah kondisi sosial politis yang tidak melihat ruang kebudayaan sebagai ruang yang efektif untuk mengubah tatanan sosial. Cina berubah karena “Revolusi Kebudayaan” dari Deng, dan di Amerika Serikat pelajaran Seni Sastra menentukan kelulusan. Tapi di sini, apa yang lebih berharga dari sebuah sejarah!

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kabid Pasar Jamin Seluruh Pedagang Tempati Relokasi Pasar Baru Panyabungan

    Kabid Pasar Jamin Seluruh Pedagang Tempati Relokasi Pasar Baru Panyabungan

    • calendar_month Jumat, 3 Agt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Pemkab Mandailing Natal menjamin seluruh pedagang akan ditampung di lokasi relokasi Pasar Baru Panyabungan. Itu dipastikan Kabid Pasar Dinas Perindustrian Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal, Akhyar Rangkuti menjawab Mandailing Online, kemarin di ruang kerjanya. Dikatakannya, seluruh pedagang, baik yang selama ini di kios, los maupun pedagang yang selama ini menempati pelataran […]

  • Bulang Manuk dan Bulang Pusako Bulang Tonun: Identitas Mandailing yang Hampir Terlupakan di Era Digital

    Bulang Manuk dan Bulang Pusako Bulang Tonun: Identitas Mandailing yang Hampir Terlupakan di Era Digital

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bulang Manuk, Bulang Pusako Mandailing, Bulan Tonun Oleh: Dina Syarifah Nasution, M.Pd …. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial, sebuah budaya akan semakin dikenal apabila semakin sering diperlihatkan kepada publik. Hari ini, media sosial bukan hanya menjadi tempat berbagi foto dan video, tetapi juga telah menjadi salah satu tolok ukur bagaimana sebuah […]

  • Wabub Lantik 12 Eselon 3 Dan 4

    Wabub Lantik 12 Eselon 3 Dan 4

    • calendar_month Jumat, 23 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-Isu Mutasi yang selama ini berkembang di lingkungan Pemkab Madina akhirnya benar-benar terwujud. Kamis (22/9) Wakil Bupati (wabup) Madina, Drs Dahlan Hasan Nasution melantik 12 pejabat eselon 3 dan 4. Adapun ke-12 pejabat yang dilantik di Aula Sekretariat Komplek perkantoran Paya Loting Pemkab Madina ini adalah, drg Bidasari menjadi Direktur RSU Panyabungan menggantikan drg Ismail […]

  • Tindak Lanjuti Surat Kapolres, Bupati Tinjau Ulang Jadwal Pilkades

    Tindak Lanjuti Surat Kapolres, Bupati Tinjau Ulang Jadwal Pilkades

    • calendar_month Senin, 12 Des 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Jafar Sukhairi Nasution mengatakan akan meninjau ulang jadwal pemilihan kepala desa (Pilkades) pada Desember 2022 ini sehubungan dengan keluarnya surat Kepala Polisi Resor Madina AKBP H. M. Chairul Akbar tentang Penjadwalan Ulang Tahapan Pemungutan Suara Pilkades Mandailing Natal. “Kami sudah menerima surat itu, dan tentu […]

  • Terkait Tingginya Harga Mitan

    Terkait Tingginya Harga Mitan

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Dinilai Tak Maksimal Awasi MADINA- Tingginya harga minyak tanah (mitan) di sejumlah kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sejak sebulan lalu hingga saat ini dikecam Ketua Komisi II DPRD Madina, Ir H Alimakmur. Dia menuding Pemkab tidak maksimal mengawasi harga jual, sehingga harga mitan di sejumlah pedagang mencapai Rp9.000-Rp10.000 per liter. Ir H Alimakmur kepada […]

  • MAMBAYU YANG MAKIN SEDIKIT

    • calendar_month Minggu, 26 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Omline) – Meski jumlahnya tak banyak, masa sekarang aktivitas “mambayu” (mengayam tikar) di kalangan kaum ibu di Mandailing masih dijumpai di beberpa desa. Faktor ekspansi produk-produk tikar pabrikan, aktivitas mambayu di kalangan wanita Mandailing juga berfaktor mulai berubahnya pola hidup dan pola pandang masyarakat Mandailing secara umum kepada hal-hal yang bersifat pragmatis. Berbeda […]

expand_less