Jumat, 26 Jun 2026
light_mode

Angkola-Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 8 Sep 2022
  • print Cetak

Catatan ringkas: Askolani Nasution
Budayawan

Dalam bahasa Mandailing-Angkola “batang” bermakna muara sungai. Misalnya, sungai Batang Natal, artinya sungai yang bermuara ke Natal. Seluruh geografis yang dilewati sungai itu sampai bermuara ke Natal dinamai “alak” Batang Natal.

Sungai Batang Angkola artinya sungai yang bermuara ke wilayah Angkola. Jadi, semua kawasan yang dilalui sungai itu disebut “alak” Angkola.

Semua kawasan yang dilalui sungai Barumun disebut “alak” Barumun. Semua yang dilewati Batang Gadis disebut “alak” Mandailing. Dan seterusnya.

(Lalu, apa Batang Gadis juga sungai yang bermuara ke Gadis? Ya, itu ke Singkuang, pelabuhan perdagangan. Gadis = jual, dagang. Singkuang justru nama yang diberikan pedagang Tionghoa.)

Itu pengelompokan wilayah geografis. Bukan pengelompokan budaya. Budayanya hanya satu: namanya budaya Mandailing-Angkola. Lalu dibuat lebih simpel oleh orang di kawasan itu. Orang yang tinggal di wilayah geografis Mandailing menyebut “adat Mandailing”. Orang yang bermukim di wilayah geografis Angkola menyebutnya “adat Angkola”. Tidak ada kebudayaan Padang Bolak. Tidak ada kebudayaan Sipirok, Batang Toru, dan lain-lain.

Mandailing dan Angkola hanya beda aksentuasi saja. Bukan dua adat dan budaya yang berbeda. Ketika di kawasan geografis Padang Bolak, beda sentuhan lagi. Tentu karena beda alamnya: dominan padang rumput, kerbau dan lembu, buah malaka, dan lain-lain. Karena itu masakannya juga sedikit berbeda. Juga ketika di Sipirok karena alamnya yang sejuk. Sampai ke aroma kopinya juga berbeda.

Terus, yang berbeda budaya apa (untuk kawasan Tabagsel)? Itu suku Ulu Muara Sipongi, suku Lubu di lembah Tor Sihite, dan suku Pesisir di Pantai Barat Mandailing. Hanya itu.

Mandailing dan Angkola tidak juga berbeda bahasa. Tidak juga berbeda aksara. Bedanya hanya di tingkat lafal saja. Misalnya kata [kampung] dalam logat Mandailing diucapkan menjadi [kappung] dalam logat Angkola. Penulisannya sama. Makanya Sidimpuan tidak ditulis Sidippuan.

Tidak percaya? Coba baca naskah-naskah lama yang ditulis oleh Soetan Martoea Radja Siregar (Doea Sadjoli), Sutan Pangurabaan Pane (Tolbok Haleon), dan buku berbahasa Mandailing-Angkola lain yang terbit sebelum merdeka. Penulisannya ya seperti bahasa di Mandailing sekarang. Karena memang tidak berbeda.

Sejarah juga tidak berbeda. Sama-sama mengalami dominasi kerajaan Sri Wiyaya, Majapahit, Aru, dan lain-lain.

Hanya pusat peradaban yang berpindah-pindah karena kolonialisme. Kerajaan Mandala Holing atau kerajaan Kalingga yang berpusat di delta sungai Barumun memang wilayah kekuasaannya sampai ke Mandailing. Kata Mandailing juga dipercaya berasal dari Mandala Holing, atau kerajaan orang Kalingga. Makanya aneh kalau orang di bekas wilayah kerajaan Kalingga tidak merasa orang Mandailing.

Istilah Angkola muncul karena serbuan pasukan Rajendra Chola I ke wilayah Barumun hingga Mandailing tahun 1030 masehi. Rajendra Chola itu dari India. Lalu mereka memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan apa yang disebut Angkola sekarang. Sebelum 1030 tidak ada istilah Angkola. Bahkan saat itu namanya baru Chola.

Penguatan istilah Angkola terjadi pada masa kolonialisme Belanda. Tahun 1840 muncul Asisten Residen Mandailing Ankola (ankola, tidak pakai huruf G).

Mengapa ada yang tidak mau disebut Mandailing atau Angkola. Itu karena egosentris raja-raja tradisional yang menguasai kawasan Tabagsel sebelum merdeka. Misalnya Mandailing Julu dikuasai marga Lubis, Mandailing Godang dikuasai raja Nasution, Dalimunthe menguasai Sigalangan, dan seterusya.

Padahal, jauh sebelum kerajaan-kerajaan yang muncul di abad ke 15 itu, semua satu kawasan sejarah yang sama.

Itu diperburuk lagi oleh pemerintah yang seakan-akan membedakan Mandailing dan Angkola. Lalu dibuatlah kamus Bahasa Angkola oleh Balai Bahasa Sumatera Utara. Dibuat juga kamus Bahasa Mandailing oleh yang lain. Seolah-olah dua sistem bahasa yang berbeda. Padahal kamus itu, semua orang Tabagsel (Tapanuli Bagian Selatan) bisa memahaminya, baik Angkola maupun Mandailing. Mengapa dua bahasa yang makna bahasanya sama, dikelompokkan atas dua bahasa yang berbeda?

Maksud saya hanya ingin mengatakan bahwa Mandailing dan Angkola itu sama. Jangan merasa berbeda dan membuat perpecahan hanya karena ego personal atau karena tidak tahu sejarah. Sebutan Mandailing saja atau Angkola saja, hanya untuk memperpendek kata, sebatas penunjuk kawasan geografis; jangan diartikan dua budaya yang berbeda. Hanya kawasan yang berbeda karena pemukiman di dua bantaran sungai yang berbeda. Bantaran itu berbeda karena beda gunung sebagai sumber sungai: Dolok Malea, Dolok Lubuk Raya, Sibual Buali, Sanggarudang, dan lain-lain.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • KESUSASTRAAN MANDAILING (3-selesai)

    KESUSASTRAAN MANDAILING (3-selesai)

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Askolani Nasution   SASTRA ENTERTAINMENT Sastra dalam lirik lagu patut ditandai sebagai bentuk sastra. Tentu karena kita meyakini bahwa lirik lagu merupakan musikalisasi puisi. Hal ini menjadi penting karena pada saat sastra literer Mandailing meredup, musikalisasi puisi tersebut menguat perannya. Lirik lagu Mandailing bukan hanya ungkapan perasaan, tetapi beberapa penulis lagu ternyata mampu […]

  • Diduga Terlibat Percaloan CPNS

    Diduga Terlibat Percaloan CPNS

    • calendar_month Rabu, 16 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Mantan Kepala BKD Terancam Dipenjara TANJUNGBALAI (Mandailing Online) – Setelah dicopot dari jabatannya, dan gagal menjadi staf ahli Walikota karena tidak hadir saat pelantikan, BAS,SSos, mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Diklat dikabarkan terancam terjerat hukum. Beredar kabar, BAS terlibat percaloan CPNS formasi 2012 lalu. Sumber terpercaya di Mapolres Tanjungbalai, Selasa (15/10) mengatakan, belum […]

  • Reses Sobir di Manyabar, dari Infra hingga Ekonomi

    Reses Sobir di Manyabar, dari Infra hingga Ekonomi

    • calendar_month Senin, 23 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Lanjutan pambangunan jalan usaha tani sepanjang sekitar 850 meter menjadi salah satu ajuan Desa Manyabar, Panyabungan saat reses anggota DPRD Madina dari Partai Golkar, Sobir Lubis,SH melakukan reses di Desa itu, Senin (23/12/2019). Sepanjang 30 meter telah dibangun menggunakan Dana Desa. Sehingga sekitar 800 meter lagi membutuhkan dukungan dana dari APBD Madina. Menurut Kepala […]

  • Bupati Buka Turnamen Futsal IMA Madina Cup

    Bupati Buka Turnamen Futsal IMA Madina Cup

    • calendar_month Sabtu, 12 Nov 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina), HM Ja’far Sukhairi Nasution membuka pertandingan semi open olahraga futsal Ikatan Mahasiswa Madina STAIN Cup I di lapangan Nurin Futsal, Komplek Pinago Desa Pidoli Lombang Kecamatan Panyabungan, Sabtu (12/11/2022). Bupati didampingi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Madina, Miswaruddin Daulay dan beberapa organisasi perangkat daerah.Kemudian dari […]

  • DPRD dan Pemkab Madina Setujui Ranperda RPJMD Tahun 2021-2026

    DPRD dan Pemkab Madina Setujui Ranperda RPJMD Tahun 2021-2026

    • calendar_month Rabu, 16 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Setelah melewati pembahasan pansus, DPRD dan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) menyetujui rancangan peraturan daerah (Ranperda) tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2021-2026. Persetujuan tersebut diambil melalui rapat paripurna Persetujuan Bersama Ranperda RPJMD pada Rabu (16/2) di ruang paripurna DPRD, Desa Parbangunan, Panyabungan. Rapat tersebut dipimpin langsung oleh […]

  • Pemkab Madina Akui Belum Ada Plasma Untuk Warga Batahan I

    Pemkab Madina Akui Belum Ada Plasma Untuk Warga Batahan I

    • calendar_month Jumat, 15 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPI TAK BERANI MEMBEBERKAN PENYEBABNYA PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Dinas Kehutanan Perkebunan Mandailing Natal mengakui bahwa realisasi kebun plasma dari PT. Palmaris kepada warga Batahan I belum ada. Itu dikatakan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Kehutanan Perkebunan Mandailing Natal, Nirwan,SH menjawab Mandailing Online, Kamis (14/4/2016) di ruang kerjanya. Nirwan mengaku bahwa kebun plasma belum ada […]

expand_less