Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Menghitung Energi Sahata di 100 Hari Pertama

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 18 Mar 2025
  • print Cetak

Oleh : Muhammad Ludfan Nasution*

Memang, pertempuran 1-100 harinya belum mulai. Baru persiapan. Baru sosialisasi, pra aktualisasi. Justru karena itu, coba kita hitung-hitung berapa besar energi Sahata dan segenap timnya. Jangan sampai energi itu malah menyublim (menguap) ketika “perang” kian memanas.

Sahata selaku pasangan bupati dan wakil bupati Madina (Mandailing Natal) 2025-2030 adalah satu paket energi (tenaga) besar. Bolehlah kita debut juga “dwi tunggal”. Paduan antara mantan pejabat Bea Cukai dan mantan Wakil Bupati ini sudah sangat mengerti organisasi pemerintahan dan budaya birokrasinya.

Bahkan, mereka sangat faham bagaimana merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi pemerintahan.

Akan tetapi, keberhasilan program/kegiatan pemerintahan di level kabupaten, pun sangat tergantung pada kepiawaian mereka merangkul semua kekuatan menjadi energi yang mumpuni.

Bolehlah, kata kuncinya, konsolidasi. Siapa saja yang mesti dikonsolidasi? Bagaimana menggalang konsolidasinya?

Agar energi yang terhimpun mumpuni (100 persen), Saipullah-Atika harus hitung semua potensi. Mulai dari diri mereka berdua, tim pemenangan, OPD, ormas, OKP, ormawa dan publik Madina. Jangan lupa, penting untuk bersiasat merangkul yang tadinya jadi lawan politik (On Ma) agar kekuatan benar-benar full: utuh, bulat dan satu.

Dwi Tunggal
Di banyak daerah, bahkan sejarah Madina sendiri, cerita tentang dwi tunggal itu retak atau malah pecah berkeping. Artinya, fakta pemaduan dua pribadi menjadi satu unsur pimpinan sering kali gagal.

Di konteks Madina 2025-2030, yang pertama berkonsolidasi adalah bupati yang mantan pejabat Bea Cukai dan wakil bupati yang mantan Wakil Bupati. Terlepas dari romantika hubungan keduanya pada masa pemenangan, mereka mungkin akan tarik-menarik soal kekuasaan dan kewenangan.

Walau teorinya sudah jelas, posisi wakil itu hanya pengisi ruang kosong pemerintahan, kecil kemungkinan sang wabup tak meminta pembagian yang sama — lebih-lebih kalau dalam soal akumulasi pembiayaan juga lumayan atau malah seimbang.

Singkatnya, kalau keduanya beda persepsi dan beda matematika soal beban pembiayaan perahu dan kampanye, upaya konsolidasi selanjutnya pun jelas makin rumit. Bisa-bisa energinya terkuras hingga 50-75 persen.

Jika sang bupati sangat faham dan pengertian, pembagian kewenangan tidak jadi soal dan karena itu tidak akan jadi hal yang mengganjal nantinya. Aman dan nyaman untuk bergerak dari hari pertama hingga hari ke-100 dan lima tahun selanjutnya. Energi besarnya utuh 100 persen.

Konsolidasi ini jadi titik awal yang sangat menentukan ke fase-fase selanjutnya. Mestinya, mulus-mulus sajalah. Toh, untuk membangun Madina sesuai visi-misi, kita butuh energi lebih dari 100 persen.

Tim Pemenangan
Garis besarnya, di dalam tim pemenangan cuma ada dua tim. Tim non-partai dan tim partai politik. Hanya saja, di kedua tim itu sama banyak faksi-nya. Ada yang dari keluarga, profesional, relawan dan simpatisan. Ada yang ikut mengusung ada juga yang cuma pendukung. Dan, di antara semua itu, suka tak suka, ada juga penggembira (tim sorak) dan “panglima talam”.

Apakah semuanya mau mengecilkan ekspektasinya sehingga sabar dan ikhlas saja manakala harus tersingkir atau tak kebagian apa-apa?

Pertanyaan itu teramat sulit untuk dijawab, bahkan oleh “dwi-tunggal”-nya. Jika memang datang dari motivasi untuk mendapatkan sesuatu (fee proyek, jabatan atau keduanya), agak-agak mustahil ekspektasi mereka yang merasa sudah menang itu akan bergeser. Kan yang berdarah-darah tempo hari sudah di posisi menang!

Dengan ekspektasi masing-masing yang cenderung besar, energi yang bisa dihimpun akan sangat minim. Kekecewaan tim pemenangan akan terus menguras energi. Bahkan, bisa-bisa semakin menyedot kekuatan yang tersisa.

OPD
Di tubuh Pemkab Madina juga masih terbagi dalam sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Dwi-tunggal mungkin saja punya catatan tentang keikutsertaan pimpinan masing-masing OPD dalam “upaya-upaya” pemenangan (terlarang). Setidaknya, secara informal, orang-orang birokrat yang mau pasang badan ambil risiko melanggar aturan tentu punya gaya untuk tampil dan punya nilai tawar dalam transisi dan setiap reposisi kelak.

Pasukan pemkab ini juga perlu mendapat pemahaman bahwa kemenangan itu juga terutama milik tim pemenangan. Sehingga pengisian posisi yang lowong kelak harus mempertimbangkan kehendak orang-orang yang ada di tim pemenangan. Tentu saja, ini juga sangat tergantung pada kepiawaian dwi-tunggal itu untuk mendengar yang perlu disimak dan mengabaikan suara-suara yang bikin brisik.

Masing-masing harus sadar, tidak semua yang mengaku loyal dan merapat mau peduli pada energi yang dibutuhkan. Justru sebaliknya, banyak yang berharap Sahata melemah agar mereka bisa bernyanyi dengan suara yang terdengar lebih nyaring.

Dwi-tunggal mestinya bisa bersikap bijak dan tegas sesuai aturan dengan mengabaikan semua kepentingan yang muncul dari kegiatan pemenangan kemarin. Jika tidak, terlalu banyak oknum OPD yang merasa sudah ikut ambil resiko.

Ormas, OKP dan Ormawa
Secara formal, semua organisasi ini ada di luar tim pemenangan. Karena itu, harus ada strategi khusus untuk merangkul semuanya.

Bisa saja dengan siasat mendatangi mereka secara maraton atau mengundang mereka sekaligus. Setidaknya, Sahata bisa komunikasi dan identifikasi. Mereka yang tergolong ormas (organisasi masyarakat), OKP (organisasi kepemudaan) dan ormawa (organisasi mahasiswa) sebagai in-group, out-group atau abu-abu. Sebab, dwi-tunggal harus bisa ambil sikap/tindakan lebih presisi ketika nantinya harus membagi “bola”.

Publik Madina
Pada dasarnya, publik mendukung yang unggul. Paling tidak, sesuai hasil pencoblosan, lebih banyak yang akan kasih support. Namun, dukungan paling minim dari publik adalah doa dan restu, hadir atau tidak hadir. Sahata harus jelas mendapatkan dan mempertahankan dukungan masyarakat luas ini.

Lawan Politik
Konsekuensi Pilkada, tentu ada yang jadi musuh. Jika disederhanakan, karakteristik musuh itu sama. Tak mungkin semua akan berbalik mendukung. Makanya, target minimalnya, mereka jadi kekuatan kritis yang siap sedia menegur atau mengkritik manakala muncul kebijakan yang keliru.

Memang, sebagai kekuatan besar yang sempat jadi lawan politik, mereka tak punya pengaruh buruk yang langsung berdampak signifikan. Tapi, jika komunikasi politiknya cukup canggih, ini bisa jadi energi cadangan, lebih-lebih ketika yang di dalam berulah atau berubah jadi kontra produktif (destroyer, pengganggu).

Simplikasi
Kalau disederhanakan, kalkulasi yang dibutuhkan hanya menghitung kekuatan yang bisa dihimpun agar tersedia energi 100 persen. Jika bisa bertindak cerdik, cerdas dan mulus, debut Sahata akan melejit. Tapi, jika dalam hal hitungan ini berlaku ceroboh, asal-asalan atau cuek-bebek, Sahata akan menjerit kehabisan tenaga/nafas tahun ke tahun dan Madina akan setback lagi jauh ke belakang menelan semua capaian dan mimpi-mimpi indahnya bernama “Madina yang Madani”. Bisa-bisa ungkapannya jadi frustratif lagi: “Madina na Madabu”.

Jangan ya, jangan biarkan Madina kehilangan optimisme dan kembali jadi korban!

*) Penulis adalah jurnalis freelance, alumni IISIP Jakarta dan Anggota DPRD Madina 2014-2019.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perceraian, Rapuhnya Ikatan Rumah Tangga di Negara Sekuler

    Perceraian, Rapuhnya Ikatan Rumah Tangga di Negara Sekuler

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Intan Marfuah Aktivis Muslimah Pengadilan Agama Kelas II Tanah Grogot menangani perkara perceraian di Kabupaten Paser selama 2024 sebanyak 507 perkara, terdiri dari cerai gugat dan cerai talak. Jumlah perkara ini meningkat dibanding 2023 yang hanya 497 kasus. “Penyebab perceraian bermula dari pertengkaran antara suami-istri. Selain itu permasalahan ekonomi, perselingkuhan, dan masih lainnya,” kata […]

  • Madina Butuh Parit antara Panyabungan – Pagur

    Madina Butuh Parit antara Panyabungan – Pagur

    • calendar_month Selasa, 23 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Saat ini sedang berlangsung pembangunan dan rehabilitasi pemeliharaan jalan antara (Madina). Nilai proyeknya Rp1,038 milyar. Hanya saja rencana pembangunan jalan tersebut tidak disertai pembuatan parit, sehingga dikhwatirkan umur jalan tidak akan lama. “Kita mengharapkan Pemkab Madina untuk membangun parit jalan sepanjang proyek tersebut,” ujar Abdul Kholik Nasution, tokoh masyarakat Panyabungan Timur kepada MedanBisnis, Senin […]

  • Soal Panyabungan Macet, Akibat Keterbatasan Terminal

    Soal Panyabungan Macet, Akibat Keterbatasan Terminal

    • calendar_month Selasa, 12 Jun 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kemacetan di depan Pasar Baru Panyabungan, diduga akiat lemahnya Pemkab Madina melakukan penertiban angkutan umum yang parkir di badan jalan. “Tiap hari itu bang, angkutan umum parkir di badan jalan. Ya, macetlah. Kayaknya Pemkab tak berani sama pengusaha angkutan,” kata Leman Lubis, warga Panyabungan kepada Mandailing Online, Selasa (12/6/2018). Jalan raya […]

  • Bahaya Terlalu Banyak Bersumpah

    Bahaya Terlalu Banyak Bersumpah

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      Oleh: Badrul Tamam Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Perseteruan Eyang Subur versus Adi Bing Slamet-Arya Wiguna membuat heboh jagat hiburan tanah air. Tayangan infotainment secara massif berhasil menyihir masyarakat. Banyak orang meniru dan mengabadikan aksi maki dan umbar aib […]

  • Wakil Bupati Madina : Pembukaan Jalan Raya Madina-Palas Diharap Dongkrak Ekonomi Masyarakat

    Wakil Bupati Madina : Pembukaan Jalan Raya Madina-Palas Diharap Dongkrak Ekonomi Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 8 Agt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Pembukaan badan jalan raya jalur Madina-Palas diharapkan akan mendongkrak laju pertumbuhan perdagagan, jasa dan industri. Hal itu dikatakan Wakil Bupati Madina, Jakfar Sukhairi Nasution, Selasa (8/8/2017) menyusul penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) pembukaan jalar Madina-Palas. Penandatanganan MoU itu dilakukan Dirjen Bina Marga Kementerian PU dan Pangdam I/BB serta Kepala Balai […]

  • Dana Bos Di Panyabungan Timur seakan jadi Rahasia bagi Public

    Dana Bos Di Panyabungan Timur seakan jadi Rahasia bagi Public

    • calendar_month Minggu, 31 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sekolah SD/SLTP Dikecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal belum sepenuhnya memberikan informasi penggunaan dana Bos bagi sekolah. Padahal undang-undang nomor 14 tahun 2008 mengamanatkan Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Public. Ketertutupan informasi ini seakan pemantauan dan pemonitoringan dari insatansi terkait dinilai terkesan masih kurang maksimal.

expand_less