Jumat, 28 Agu 2026
light_mode

Menghitung Energi Sahata di 100 Hari Pertama

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 18 Mar 2025
  • print Cetak

Oleh : Muhammad Ludfan Nasution*

Memang, pertempuran 1-100 harinya belum mulai. Baru persiapan. Baru sosialisasi, pra aktualisasi. Justru karena itu, coba kita hitung-hitung berapa besar energi Sahata dan segenap timnya. Jangan sampai energi itu malah menyublim (menguap) ketika “perang” kian memanas.

Sahata selaku pasangan bupati dan wakil bupati Madina (Mandailing Natal) 2025-2030 adalah satu paket energi (tenaga) besar. Bolehlah kita debut juga “dwi tunggal”. Paduan antara mantan pejabat Bea Cukai dan mantan Wakil Bupati ini sudah sangat mengerti organisasi pemerintahan dan budaya birokrasinya.

Bahkan, mereka sangat faham bagaimana merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi pemerintahan.

Akan tetapi, keberhasilan program/kegiatan pemerintahan di level kabupaten, pun sangat tergantung pada kepiawaian mereka merangkul semua kekuatan menjadi energi yang mumpuni.

Bolehlah, kata kuncinya, konsolidasi. Siapa saja yang mesti dikonsolidasi? Bagaimana menggalang konsolidasinya?

Agar energi yang terhimpun mumpuni (100 persen), Saipullah-Atika harus hitung semua potensi. Mulai dari diri mereka berdua, tim pemenangan, OPD, ormas, OKP, ormawa dan publik Madina. Jangan lupa, penting untuk bersiasat merangkul yang tadinya jadi lawan politik (On Ma) agar kekuatan benar-benar full: utuh, bulat dan satu.

Dwi Tunggal
Di banyak daerah, bahkan sejarah Madina sendiri, cerita tentang dwi tunggal itu retak atau malah pecah berkeping. Artinya, fakta pemaduan dua pribadi menjadi satu unsur pimpinan sering kali gagal.

Di konteks Madina 2025-2030, yang pertama berkonsolidasi adalah bupati yang mantan pejabat Bea Cukai dan wakil bupati yang mantan Wakil Bupati. Terlepas dari romantika hubungan keduanya pada masa pemenangan, mereka mungkin akan tarik-menarik soal kekuasaan dan kewenangan.

Walau teorinya sudah jelas, posisi wakil itu hanya pengisi ruang kosong pemerintahan, kecil kemungkinan sang wabup tak meminta pembagian yang sama — lebih-lebih kalau dalam soal akumulasi pembiayaan juga lumayan atau malah seimbang.

Singkatnya, kalau keduanya beda persepsi dan beda matematika soal beban pembiayaan perahu dan kampanye, upaya konsolidasi selanjutnya pun jelas makin rumit. Bisa-bisa energinya terkuras hingga 50-75 persen.

Jika sang bupati sangat faham dan pengertian, pembagian kewenangan tidak jadi soal dan karena itu tidak akan jadi hal yang mengganjal nantinya. Aman dan nyaman untuk bergerak dari hari pertama hingga hari ke-100 dan lima tahun selanjutnya. Energi besarnya utuh 100 persen.

Konsolidasi ini jadi titik awal yang sangat menentukan ke fase-fase selanjutnya. Mestinya, mulus-mulus sajalah. Toh, untuk membangun Madina sesuai visi-misi, kita butuh energi lebih dari 100 persen.

Tim Pemenangan
Garis besarnya, di dalam tim pemenangan cuma ada dua tim. Tim non-partai dan tim partai politik. Hanya saja, di kedua tim itu sama banyak faksi-nya. Ada yang dari keluarga, profesional, relawan dan simpatisan. Ada yang ikut mengusung ada juga yang cuma pendukung. Dan, di antara semua itu, suka tak suka, ada juga penggembira (tim sorak) dan “panglima talam”.

Apakah semuanya mau mengecilkan ekspektasinya sehingga sabar dan ikhlas saja manakala harus tersingkir atau tak kebagian apa-apa?

Pertanyaan itu teramat sulit untuk dijawab, bahkan oleh “dwi-tunggal”-nya. Jika memang datang dari motivasi untuk mendapatkan sesuatu (fee proyek, jabatan atau keduanya), agak-agak mustahil ekspektasi mereka yang merasa sudah menang itu akan bergeser. Kan yang berdarah-darah tempo hari sudah di posisi menang!

Dengan ekspektasi masing-masing yang cenderung besar, energi yang bisa dihimpun akan sangat minim. Kekecewaan tim pemenangan akan terus menguras energi. Bahkan, bisa-bisa semakin menyedot kekuatan yang tersisa.

OPD
Di tubuh Pemkab Madina juga masih terbagi dalam sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Dwi-tunggal mungkin saja punya catatan tentang keikutsertaan pimpinan masing-masing OPD dalam “upaya-upaya” pemenangan (terlarang). Setidaknya, secara informal, orang-orang birokrat yang mau pasang badan ambil risiko melanggar aturan tentu punya gaya untuk tampil dan punya nilai tawar dalam transisi dan setiap reposisi kelak.

Pasukan pemkab ini juga perlu mendapat pemahaman bahwa kemenangan itu juga terutama milik tim pemenangan. Sehingga pengisian posisi yang lowong kelak harus mempertimbangkan kehendak orang-orang yang ada di tim pemenangan. Tentu saja, ini juga sangat tergantung pada kepiawaian dwi-tunggal itu untuk mendengar yang perlu disimak dan mengabaikan suara-suara yang bikin brisik.

Masing-masing harus sadar, tidak semua yang mengaku loyal dan merapat mau peduli pada energi yang dibutuhkan. Justru sebaliknya, banyak yang berharap Sahata melemah agar mereka bisa bernyanyi dengan suara yang terdengar lebih nyaring.

Dwi-tunggal mestinya bisa bersikap bijak dan tegas sesuai aturan dengan mengabaikan semua kepentingan yang muncul dari kegiatan pemenangan kemarin. Jika tidak, terlalu banyak oknum OPD yang merasa sudah ikut ambil resiko.

Ormas, OKP dan Ormawa
Secara formal, semua organisasi ini ada di luar tim pemenangan. Karena itu, harus ada strategi khusus untuk merangkul semuanya.

Bisa saja dengan siasat mendatangi mereka secara maraton atau mengundang mereka sekaligus. Setidaknya, Sahata bisa komunikasi dan identifikasi. Mereka yang tergolong ormas (organisasi masyarakat), OKP (organisasi kepemudaan) dan ormawa (organisasi mahasiswa) sebagai in-group, out-group atau abu-abu. Sebab, dwi-tunggal harus bisa ambil sikap/tindakan lebih presisi ketika nantinya harus membagi “bola”.

Publik Madina
Pada dasarnya, publik mendukung yang unggul. Paling tidak, sesuai hasil pencoblosan, lebih banyak yang akan kasih support. Namun, dukungan paling minim dari publik adalah doa dan restu, hadir atau tidak hadir. Sahata harus jelas mendapatkan dan mempertahankan dukungan masyarakat luas ini.

Lawan Politik
Konsekuensi Pilkada, tentu ada yang jadi musuh. Jika disederhanakan, karakteristik musuh itu sama. Tak mungkin semua akan berbalik mendukung. Makanya, target minimalnya, mereka jadi kekuatan kritis yang siap sedia menegur atau mengkritik manakala muncul kebijakan yang keliru.

Memang, sebagai kekuatan besar yang sempat jadi lawan politik, mereka tak punya pengaruh buruk yang langsung berdampak signifikan. Tapi, jika komunikasi politiknya cukup canggih, ini bisa jadi energi cadangan, lebih-lebih ketika yang di dalam berulah atau berubah jadi kontra produktif (destroyer, pengganggu).

Simplikasi
Kalau disederhanakan, kalkulasi yang dibutuhkan hanya menghitung kekuatan yang bisa dihimpun agar tersedia energi 100 persen. Jika bisa bertindak cerdik, cerdas dan mulus, debut Sahata akan melejit. Tapi, jika dalam hal hitungan ini berlaku ceroboh, asal-asalan atau cuek-bebek, Sahata akan menjerit kehabisan tenaga/nafas tahun ke tahun dan Madina akan setback lagi jauh ke belakang menelan semua capaian dan mimpi-mimpi indahnya bernama “Madina yang Madani”. Bisa-bisa ungkapannya jadi frustratif lagi: “Madina na Madabu”.

Jangan ya, jangan biarkan Madina kehilangan optimisme dan kembali jadi korban!

*) Penulis adalah jurnalis freelance, alumni IISIP Jakarta dan Anggota DPRD Madina 2014-2019.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Salat Jum’at Jaga Jarak di Masjid Agung Panyabungan

    Salat Jum’at Jaga Jarak di Masjid Agung Panyabungan

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pengurus masjid agung Nur Ala Nur, Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut menerapkan sistem social distancing solat Jum’at, hari ini (18/9/2020). Jarak shaf antar jamaah diberlakukan sebagai upaya mengantisipasi penularan virus corona. Pihak kenaziran memasang tanda silang di lantai masjid untuk mengatur jarak shaf. Pantauan Mandailing Online, jarak antar shaf berkisar setengah meter mengikuti kelebaran petakan kramik […]

  • KKN di Sumbar, Mahasiswa STAIN Madina Dilibatkan Musdes

    KKN di Sumbar, Mahasiswa STAIN Madina Dilibatkan Musdes

    • calendar_month Selasa, 6 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Kuliah Kerja Nyata kelompok 19 dari Mahasiswa STAIN Madina saat dilibatkan Musdes di Desa Lubuk Gadang, Kecamatan Koto Balingka Kabupaten Pasaman Barat ( fikri)SUMBAR -Mandailing Online : ada sejumlah program yang ditawarkan kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 19 dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Madina saat dilibatkan langsung dalam Musyawarah Desa Lubuk […]

  • Ratusan CPNS Mengundurkan Diri, Bukti Gagalnya Sistem Kapitalisme

    Ratusan CPNS Mengundurkan Diri, Bukti Gagalnya Sistem Kapitalisme

    • calendar_month Kamis, 9 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Anita Safitri, S.Pd Anggota Majelis Taklim Islam Kaffah & Madina Menulis Setelah dinyatakan lolos seleksi CPNS 2021, kini ratusan calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) memutuskan untuk mengundurkan diri. Berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang mengundurkan diri sebanyak 100 orang dari 112.513 orang total keseluruhan yang dinyatakan lolos seleksi tersebut. (KOMPAS.com, 27/05/2022) Kepala […]

  • Sekda Palas nyaris aniaya wartawan

    Sekda Palas nyaris aniaya wartawan

    • calendar_month Selasa, 4 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIBUHUAN – Sekda Kabupaten Padanglawas (Palas), Gusnar Hasibuan, nyaris menganiaya salah seorang wartawan di ruang kerjanya. Namun hal tersebut sempat dihindari wartawan. “Kalau tidak menghindar dan menjauh saat diserang, kemungkinan saya sudah babak belur ditinju oknum sekda itu,” ujar Sunardy, oknum wartawan, tadi malam. Dikatakan, kejadian tersebut berawal dari berita yang berjudul “Anggaran Pembinaan Keagamaan […]

  • Jalinsum Madina lenggang

    Jalinsum Madina lenggang

    • calendar_month Senin, 20 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Intensitas kenderaan melalui jalan lintas sumatera (jalinsum) kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, hingga perbatasan Sumatera Barat atau dikenal lintas barat kembali normal. Kenderaan pemudik yang akan balik ke kota besar dan pulau Jawa tidak lagi banyak terlihat, akibatnya jalinsum itu terlihat lengang dan hanya sesekali kenderaan pemudik yang lewat. Berdasarkan pantauan petugas polisi di pos […]

  • Bareng Franda, Norman Jadi Polisi Lagi

    Bareng Franda, Norman Jadi Polisi Lagi

    • calendar_month Senin, 9 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NORMAN memang diberhentikan dengan tidak hormat oleh kepolisian, tempatnya mengabdi sebelum terjun ke dunia hiburan. Namun, itu tidak berarti bahwa dia tidak bisa lagi menjadi bagian dari institusi tersebut. Tentu hal itu tidak terjadi dalam kehidupan nyata. Dia hanya bisa melakukannya dalam film. Hal tersebut terlihat di film Xia Aimei yang diperankan Franda. Dalam film […]

expand_less