Jumat, 28 Agu 2026
light_mode

Jika Industri Madina Bisa Lompat, Ekonomi Sumut Bakal Loncat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

Jalan mulai dibuka. Bandara sudah operasi. Pelabuhan bersiap jadi bagian KEK. Tetapi, mampukah Mandailing Natal bikin lompatan dan menjadi mesin baru ekkonomi Sumatera Utara?

Setiap kali angka pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara diumumkan, perhatian publik hampir selalu tertuju pada Medan, kawasan industri, dan angka investasi besar.

Tetapi di balik itu, ada pertanyaan yang lebih penting:
siapa sebenarnya yang sedang dipersiapkan menjadi mesin ekonomi baru Sumut?

Dan jika pertanyaan itu diajukan dengan jujur, maka nama Mandailing Natal (Madina) seharusnya mulai masuk dalam percakapan serius.

Sebab untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Madina perlahan mulai memiliki kombinasi yang jarang dimiliki daerah lain:
jalan, bandara, pelabuhan, potensi energi, dan rencana lokasi KEK (Kawasan Ekonomi Khusus.

Masalahnya, tinggal satu:
apakah semua itu akan disatukan menjadi arah ekonomi besar —
atau kembali berhenti sebagai proyek yang berdiri sendiri-sendiri?

Hari ini akses jalan lintas dan konektivitas kawasan pantai barat Sumut perlahan membaik. Mobilitas barang dan manusia mulai lebih terbuka dibanding satu dekade lalu.

Lalu, hadir Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution di Bukit Malintang. Bandara ini sebenarnya bukan sekadar fasilitas transportasi udara.

JBAH Nasution adalah simbol yang menegaskan bahwa Madina mulai diposisikan sebagai daerah yang punya konektivitas strategis di Sumatera Utara.

Tetapi, bandara hanya akan menjadi bangunan mahal jika tidak diikuti pertumbuhan ekonomi riil di sekitarnya. Karena bandara hidup bukan semata karena pesawat mendarat, melainkan karena ada:

  • arus manusia,
  • investasi,
  • barang,
  • industri, dan
  • aktivitas ekonomi yang membuat penerbangan menjadi kebutuhan.

Pertanyaannya: Apakah
Madina sudah menyiapkan itu?

Atau, bandara hanya akan sibuk pada seremoni dan perebutan rute penerbangan?

Begitu pula dengan Pelabuhan Palimbungan di kawasan Pantai Barat Madina.

Jika benar-benar dikembangkan serius, pelabuhan ini seharusnya bisa mengubah posisi Madina dari daerah pinggiran menjadi simpul logistik baru.

Bayangkan. Hasil perkebunan, perikanan,
komoditas pertanian,
hingga produk hilirisasi lokal tidak lagi seluruhnya bergerak memutar lewat jalur timur Sumatera. Madina bisa membuka jalur ekonomi baru langsung ke pantai barat.

Tetapi lagi-lagi:
pelabuhan tidak otomatis menciptakan lompatan ekonomi. Banyak daerah memiliki pelabuhan, namun tetap miskin transformasi, karena tidak pernah membangun industri di belakangnya.

Pelabuhan tanpa kawasan produksi hanya akan menjadi tempat kapal singgah sebentar.

Yang paling menarik tentu rencana lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batahan. Jika ini benar-benar matang, maka untuk pertama kalinya Madina memiliki peluang menjadi:

  • pusat industri baru,
  • kawasan pengolahan,
  • simpul investasi, dan
  • gerbang ekonomi pantai barat Sumut.

Tetapi sejarah Indonesia juga penuh dengan proyek kawasan ekonomi yang megah di atas kertas — lalu kehilangan nyawa karena tidak punya ekosistem.

KEK bukan sekadar plang investasi. Zona bisnis membutuhkan:

  • kepastian regulasi,
  • ketersediaan energi,
  • pelabuhan aktif,
  • jalan logistik,
  • tenaga kerja terampil, dan
  • keberanian politik pembangunan jangka panjang.

Kalau tidak, lokasi itu hanya akan menjadi kawasan dengan baliho besar dan rumput liar.

Di titik inilah Madina sebenarnya sedang berada di persimpangan sejarah. Untuk pertama kalinya, daerah ini mulai memiliki elemen dasar pembangunan modern:

  • konektivitas,
  • akses logistik,
  • potensi energi, dan
  • ruang industrialisasi.

Tetapi, pertanyaannya jauh lebih dalam: Apakah elite politik daerah benar-benar memiliki imajinasi ekonomi untuk menyatukan semua itu?

Karena problem terbesar banyak daerah bukan kekurangan proyek.
Melainkan kekurangan visi dalam memilih arah.

Jalan dibangun tanpa desain industri.
Bandara hadir tanpa ekosistem usaha.
Pelabuhan direncanakan tanpa rantai produksi. Investasi masuk tanpa hilirisasi lokal.

Akibatnya, pembangunan tampak ramai, tetapi tidak pernah benar-benar menciptakan ledakan ekonomi untuk operasional proyek masa depan.

Jika Sumatera Utara ingin mendapatkan kembali daya hentaknya, maka daerah seperti Madina tidak boleh lagi diposisikan hanya sebagai penonton pembangunan.

Madina harus menjadi laboratorium pertumbuhan baru:
tempat hilirisasi dimulai,
ekonomi desa dinaikkan kelasnya,
pantai barat dihidupkan,
dan sumber daya lokal diolah menjadi kekuatan industri.

Karena mungkin masa depan Sumut tidak lagi ditentukan oleh seberapa padat Medan berdiri — melainkan oleh apakah daerah-daerah seperti Mandailing Natal akhirnya berhasil berubah dari halaman belakang menjadi pusat energi ekonomi baru.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Gabah Tinggi Tak Pengaruhi NTP

    Harga Gabah Tinggi Tak Pengaruhi NTP

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari 2012 harga rata-rata gabah kualitas kering panen di tingkat petani naik 7,86% dari bulan sebelumnya menjadi Rp4.406 per kilogram (kg). Menurut Pelaksana Tugas Kepala BPS, Suryamin, di Jakarta, Rabu (1/2), harga rata-rata gabah kualitas kering panen di penggilingan selama Januari 2012 juga naik 7,82% dari bulan sebelumnya […]

  • Pemkab Madina Aneh, Panggil Wartawan Karena Berita Tambang Emas Ilegal Diduga Melibatkan Kades

    Pemkab Madina Aneh, Panggil Wartawan Karena Berita Tambang Emas Ilegal Diduga Melibatkan Kades

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA -Mandailing Online: Pemkab Madina mulai berlagak aneh, untuk memenuhi unsur pemeriksaan terhadap Kepala Desa Simpang Banyak dengan dugaan keterlibatan kegiatan Penambangan Tanpa Izin (PETI) lewat Inspektorat Madina memanggil wartawan untuk dimintai keterangan. Melalui surat nomor : 700/1185/Insp/2025 Tanggal 14 Agustus 2025, bersifat Penting, memanggil Sahren Hasibuan salah satu wartawan media online di Madina. hal […]

  • 700 Relawan H. Aswin Ikuti Pembekalan

    700 Relawan H. Aswin Ikuti Pembekalan

    • calendar_month Sabtu, 23 Feb 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 700 tim Relawan Kordinator TPS dan Kecamatan untuk calon anggota DPR-RI H.Aswin mengikuti kegiatan pembekalan di Payabungan, Sabtu (23/2/2019). Pembekalan untuk relawan dari 8 kecamatan ini berlangsung di gedung GOR Banjar Sibaguri, Panyabungan III. Relawan berasal dari Kecamatan Panyabungan, Panyabungan Timur, Panyabungan Barat, Panyabungan Utara, Hutabargot, Naga Juang, Bukit Malintang […]

  • PT.PSU Serobot Lahan di Batang Natal, DPRDSU Diminta Turun Tangan

    PT.PSU Serobot Lahan di Batang Natal, DPRDSU Diminta Turun Tangan

    • calendar_month Senin, 6 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Warga Desa Muara Parlampungan, Rantobi, Aek Manggis dan Adangkahan di Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal (Madina) meminta DPRD Sumatera Utara turun lansung ke lokasi PT. Perkebunan Sumatera Utara (PT.PSU). Pasalnya, masyarakat di empat desa itu saat ini kondisi resah atas penyerobotan lahan yang diduga dilakukan oleh PT.PSU. Warga mengklaim perusahaan […]

  • APBD Madina 2014 Disahkan Sebesar 847,2 Milyar

    APBD Madina 2014 Disahkan Sebesar 847,2 Milyar

    • calendar_month Rabu, 18 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPRD Mandailing Natal (Madina) menetapkan dan mengesahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2014 sebesar 847, 2 milyar rupiah. Pengesahan dilakukan pada rapat paripurna DPRD Madina, Selasa (18/12/2013) dipimpin Ketua DPRD Madina, As Imran Khaytami, dihadiri Plt. Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution serta pihak muspida. Pagu anggaran pendapatan ditetapkan sebesar […]

  • Malaria Serang Tabuyung, Seorang Warga Meninggal

    Malaria Serang Tabuyung, Seorang Warga Meninggal

    • calendar_month Kamis, 28 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Sejumlah warga Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terserang penyakit malaria dan telah menewaskan salah seorang warga. Denip (35) salah seorang warga Tabuyung yang terserang Malaria hingga dirawat di RS Permata Madina, Panyabungan, Selasa (26/04/2011) mengungkapkan, sejumlah warga khususnya pekerja di salah satu perusahaan di Tabuyung diduga terjangkit malaria dalam […]

expand_less