Minggu, 13 Sep 2026
light_mode

Beranikah Orang Sumut Mendirikan “Pusat Dokumentasi Willem Iskander”?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Muhamad Ludfan Nasution
Anggota Komunitas Pengusul Willem Iskandar Pahlawan Nasional

 

Sati Nasution glr Sutan Iskandar (Willem Iskander)

 

Ada pertanyaan yang layak diajukan kepada kita semua Bangsa Indonesia, khususnya kepada orang Sumatera Utara:

Jika kita begitu yakin bahwa Willem Iskander adalah salah satu pelopor pendidikan bumiputera terbesar yang pernah lahir dari tanah ini, beranikah kita mendirikan sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya sangat menohok.

Sebab selama puluhan tahun, kita nyaris tidak pernah kekurangan pidato tentang pentingnya Willem Iskander. Kita juga tidak kekurangan seminar, webinar, diskusi, lomba menulis, bahkan film dokumenter. Nama Willem Iskander terus disebut dari waktu ke waktu.

Namun, ketika ditanya:

Di mana pusat arsip dan dokumentasi Willem Iskander?

Jawabannya, masih sunyi.
Padahal hampir semua tokoh besar dunia dikenang bukan hanya melalui monumen, melainkan melalui dokumentasi yang terawat.

Mereka memiliki pusat studi. Punya museum. Perpustakaan. Arsipnya terus diperbarui.

Bagaimana dengan tokoh kebanggaan Willem Iskander, Sutan Iskander atau Sati Nasution?

Banyak dokumennya masih tercerai-berai. Sebagian berada dalam buku-buku lama. Sebagian tersimpan di perpustakaan. Tak sedikit yang masih berada di tangan peneliti.

Nah, sebagian lagi, diduga masih bersembunyi di arsip Belanda.

Padahal, semakin jauh kita menelusuri jejak Sati Nasution, semakin tampak betapa besar pekerjaan rumah yang belum kita selesaikan.

Kita tahu nama kecilnya adalah Sati Nasution bergelar Sutan Iskandar.

Kita tahu Sutan Iskander belajar di sekolah bumiputera di Panyabungan.

Kita tahu ia berangkat ke Belanda untuk memperdalam ilmu keguruan.

Kita tahu keponakan Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar itu mendirikan Kweekschool Tanobato pada tahun 1862.

Kita tahu ia menulis Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk.

Kita tahu, Sutan kelahiran Pidoli ini wafat di Amsterdam pada tahun 1876. Tetapi, tahukah kita di mana salinan resmi akta kematiannya?

Tahukah kita nomor register perkawinannya dengan Maria Jacoba Christina Winter?

Tahukah kita seluruh murid yang pernah belajar di Kweekschool Tanobato?

Tahukah kita berapa banyak arsip pendidikan kolonial yang menyebut namanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan satu hal:

Penelitian tentang Willem Iskander belum selesai.

Bahkan, mungkin baru dimulai.

Ironisnya, ketika daerah lain berlomba-lomba membangun pusat dokumentasi tokoh mereka, Sumatera Utara masih sering terjebak pada kebanggaan simbolik.

Kita, tentu saja, sangat bangga memiliki Willem Iskander. Pribumi yang sudah berjasa besar untuk Bumiputera di Nusantara.

Tetapi belum sungguh-sungguh menginventarisasi seluruh jejaknya.

Kita bangga menyebutnya pelopor pendidikan. Tetapi belum mengumpulkan seluruh bukti yang menunjukkan bagaimana pengaruhnya menjalar ke Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh melalui murid-muridnya.

Kita bangga mengusulkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Tetapi belum memiliki satu lembaga khusus yang bertugas menghimpun, merawat, dan mengembangkan seluruh pengetahuan tentang dirinya.

Padahal, justru di situlah fondasi pengakuan sejarah dibangun.

Bayangkan jika suatu hari berdiri sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander.
Tidak harus megah.
Tidak harus mahal.
Bisa dimulai dari satu ruangan.
Satu rak buku.
Satu komputer.
Satu tim kecil yang bekerja dengan tekun.
Di sana terkumpul:
• buku-buku tentang Willem Iskander;
• skripsi, tesis, dan disertasi;
• artikel jurnal;
• kliping koran;
• film Senandung Willem Iskander;
• arsip keluarga;
• foto-foto lama;
• hasil wawancara ahli waris;
• hingga dokumen yang diperoleh dari Belanda.
Lalu semua itu didigitalisasi.
Dibuka untuk peneliti.
Dibuka untuk mahasiswa.
Dibuka untuk masyarakat.
Bukankah itu jauh lebih berharga daripada sekadar memasang spanduk dan baliho setiap tahun?

Lebih jauh lagi, pusat dokumentasi seperti itu bukan hanya tentang Willem Iskander.
Ia akan menjadi rumah bagi ingatan kolektif Mandailing.

Di sana kelak bisa dihimpun pula dokumen tentang tokoh-tokoh lain, termasuk Syekh Mustafa Husein, para raja, ulama, guru, dan pejuang yang membentuk wajah sejarah Mandailing Natal.

Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering memuji para pendahulunya.

Melainkan bangsa yang paling tekun merawat jejak mereka.

Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi:
Apakah Willem Iskander layak menjadi Pahlawan Nasional?

Pertanyaan yang lebih mendesak adalah:
Apakah kita sudah cukup serius merawat warisan intelektualnya?

Sebab sebelum negara memberi gelar kepada Willem Iskander, sejarah terlebih dahulu menguji kesungguhan kita.

Dan mungkin ujian itu dimulai dari sesuatu yang sederhana:
Beranikah orang Sumatera Utara mendirikan sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander?***

Referensi
1. Ardi Ansyah, Willem Iskander (1840–1876): Pelopor Pendidikan di Mandailing Sumatra Utara, Skripsi S1, Universitas Negeri Yogyakarta, 2014.
2. Basyral Hamidy Harahap, berbagai tulisan mengenai Willem Iskander dan sejarah Mandailing.
3. Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk, karya Willem Iskander.
4. Arsip dan kajian mengenai Kweekschool Tanobato yang dikutip dalam penelitian sejarah pendidikan Mandailing.
5. Data biografis Willem Iskander yang tersimpan pada repository Universitas Negeri Yogyakarta dan berbagai publikasi sejarah Mandailing.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Palas Siap Jadi Tuan Rumah UKW

    Pemkab Palas Siap Jadi Tuan Rumah UKW

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Sibuhuan  – Pemerintah Kabupaten Padang Lawas (Palas) siap menjadi tuan rumah pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tahun 2015 yang akan digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di ibukota Kabupaten Palas, Sibuhuan. Hal itu disampaikan Bupati Palas H Ali Sutan Harahap pada acara syukuran sekaligus sosialisasi jurnalistik yang digelar PWI Kabupaten Palas di Gedung Nasional Sibuhuan, Minggu […]

  • Calon mahasiswa Unimed setiap tahun menaik

    Calon mahasiswa Unimed setiap tahun menaik

    • calendar_month Kamis, 20 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Setiap tahunnya, jumlah calon mahasiswa yang berniat masuk ke Universitas Negeri Medan semakin meningkat. Humas Universitas Negeri Medan Muhammad Surip belum dapat merincikan jumlah pasti calon mahasiswa karena proses pendaftaran SNMPTN masih berlangsung. “Jumlah siswa yang mendaftar melalui jalur Bidik Misi mencapai 1845, namun Unimed hanya menyediakan 600 kursi. Tentu presentasi ini menunjukkan […]

  • Dinas Ketapang Madina Laksanakan Gerakan Pangan Murah

    Dinas Ketapang Madina Laksanakan Gerakan Pangan Murah

    • calendar_month Kamis, 14 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah Pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) melalui Dinas Ketahan Pangan (Ketapang) terus bergulir di beberapa Wilayah Madina, Polisi ikut dalam rangka stabilisasi pasokan harga pangan. Taufik Zulhandra Ritonga Kepala Dinas Ketahanan Pangan Madina mengatakan, pasar murah atau gerakan pangan murah ini kali ketiga dalam satu pekan terakhir dilaksanakan. […]

  • Cabub Madina Harun Mustafa Nasution Dicegat Emak Emak Desa Sirangkap

    Cabub Madina Harun Mustafa Nasution Dicegat Emak Emak Desa Sirangkap

    • calendar_month Jumat, 11 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Saat rombongan Calon Bupati Madina Harun Mustafa Nasution melintasi Desa Sirangkap di Kecamatan Panyabungan Timur, segerombolan emak emak tiba tiba cegat iring iringan kendaraan rombongan, sontak rombongan Harun pun berhenti. Harunpun menyempatkan diri tegur sapa dengan emak emak.” Pak Harun, kami dukung bapak jadi Bupati Madina berikurnya karena kami keluarga besar […]

  • PLN Lakukan Pemadaman Selama 8 Jam di Sejumlah Wilayah Taput

    PLN Lakukan Pemadaman Selama 8 Jam di Sejumlah Wilayah Taput

    • calendar_month Sabtu, 1 Des 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tarutung, (MO) – PT PLN Wilayah Sumatera Utara Cabang Sibolga Ranting Tarutung melakukan pemadaman listrik di sejumlah wilayah Kabupaten Taput, diperkirakan selama 8 jam mulai pukul 09.30 hingga pukul 17. 00 wib, Jumat (30/11). Supervisor PT PLN Wilayah Sumatera Utara Cabang Sibolga Ranting Tarutung Rixon Pakpahan kepada Analisa, Jumat (30/11) mengatakan, pemadaman disebabkan karena pihak […]

  • SISTEM HUKUM MANDAILING (2)

    SISTEM HUKUM MANDAILING (2)

    • calendar_month Selasa, 29 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Entitas dan Kontekstualitas Sejarah Oleh : Askolani Nasution Budayawan/Sutradara Sebelum masuknya kolonialisme, pemerintahan desa (harajaon) memiliki sumber penghasilan yang otonom. Raja memiliki lahan persawahan (Saba Bolak) yang sepanjang musim bisa memenuhi kebutuhan pangan kerajaan. Lahan tersebut dipinjamkan kepada penduduk dengan sistem bagi hasil. Bagi hasil persawahan tersebut disimpan dalam gudang (opuk bolon) yang banyaknya cukup […]

expand_less