Jumat, 6 Nov 2026
light_mode

Beranikah Orang Sumut Mendirikan “Pusat Dokumentasi Willem Iskander”?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Muhamad Ludfan Nasution
Anggota Komunitas Pengusul Willem Iskandar Pahlawan Nasional

 

Sati Nasution glr Sutan Iskandar (Willem Iskander)

 

Ada pertanyaan yang layak diajukan kepada kita semua Bangsa Indonesia, khususnya kepada orang Sumatera Utara:

Jika kita begitu yakin bahwa Willem Iskander adalah salah satu pelopor pendidikan bumiputera terbesar yang pernah lahir dari tanah ini, beranikah kita mendirikan sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya sangat menohok.

Sebab selama puluhan tahun, kita nyaris tidak pernah kekurangan pidato tentang pentingnya Willem Iskander. Kita juga tidak kekurangan seminar, webinar, diskusi, lomba menulis, bahkan film dokumenter. Nama Willem Iskander terus disebut dari waktu ke waktu.

Namun, ketika ditanya:

Di mana pusat arsip dan dokumentasi Willem Iskander?

Jawabannya, masih sunyi.
Padahal hampir semua tokoh besar dunia dikenang bukan hanya melalui monumen, melainkan melalui dokumentasi yang terawat.

Mereka memiliki pusat studi. Punya museum. Perpustakaan. Arsipnya terus diperbarui.

Bagaimana dengan tokoh kebanggaan Willem Iskander, Sutan Iskander atau Sati Nasution?

Banyak dokumennya masih tercerai-berai. Sebagian berada dalam buku-buku lama. Sebagian tersimpan di perpustakaan. Tak sedikit yang masih berada di tangan peneliti.

Nah, sebagian lagi, diduga masih bersembunyi di arsip Belanda.

Padahal, semakin jauh kita menelusuri jejak Sati Nasution, semakin tampak betapa besar pekerjaan rumah yang belum kita selesaikan.

Kita tahu nama kecilnya adalah Sati Nasution bergelar Sutan Iskandar.

Kita tahu Sutan Iskander belajar di sekolah bumiputera di Panyabungan.

Kita tahu ia berangkat ke Belanda untuk memperdalam ilmu keguruan.

Kita tahu keponakan Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar itu mendirikan Kweekschool Tanobato pada tahun 1862.

Kita tahu ia menulis Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk.

Kita tahu, Sutan kelahiran Pidoli ini wafat di Amsterdam pada tahun 1876. Tetapi, tahukah kita di mana salinan resmi akta kematiannya?

Tahukah kita nomor register perkawinannya dengan Maria Jacoba Christina Winter?

Tahukah kita seluruh murid yang pernah belajar di Kweekschool Tanobato?

Tahukah kita berapa banyak arsip pendidikan kolonial yang menyebut namanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan satu hal:

Penelitian tentang Willem Iskander belum selesai.

Bahkan, mungkin baru dimulai.

Ironisnya, ketika daerah lain berlomba-lomba membangun pusat dokumentasi tokoh mereka, Sumatera Utara masih sering terjebak pada kebanggaan simbolik.

Kita, tentu saja, sangat bangga memiliki Willem Iskander. Pribumi yang sudah berjasa besar untuk Bumiputera di Nusantara.

Tetapi belum sungguh-sungguh menginventarisasi seluruh jejaknya.

Kita bangga menyebutnya pelopor pendidikan. Tetapi belum mengumpulkan seluruh bukti yang menunjukkan bagaimana pengaruhnya menjalar ke Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh melalui murid-muridnya.

Kita bangga mengusulkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Tetapi belum memiliki satu lembaga khusus yang bertugas menghimpun, merawat, dan mengembangkan seluruh pengetahuan tentang dirinya.

Padahal, justru di situlah fondasi pengakuan sejarah dibangun.

Bayangkan jika suatu hari berdiri sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander.
Tidak harus megah.
Tidak harus mahal.
Bisa dimulai dari satu ruangan.
Satu rak buku.
Satu komputer.
Satu tim kecil yang bekerja dengan tekun.
Di sana terkumpul:
• buku-buku tentang Willem Iskander;
• skripsi, tesis, dan disertasi;
• artikel jurnal;
• kliping koran;
• film Senandung Willem Iskander;
• arsip keluarga;
• foto-foto lama;
• hasil wawancara ahli waris;
• hingga dokumen yang diperoleh dari Belanda.
Lalu semua itu didigitalisasi.
Dibuka untuk peneliti.
Dibuka untuk mahasiswa.
Dibuka untuk masyarakat.
Bukankah itu jauh lebih berharga daripada sekadar memasang spanduk dan baliho setiap tahun?

Lebih jauh lagi, pusat dokumentasi seperti itu bukan hanya tentang Willem Iskander.
Ia akan menjadi rumah bagi ingatan kolektif Mandailing.

Di sana kelak bisa dihimpun pula dokumen tentang tokoh-tokoh lain, termasuk Syekh Mustafa Husein, para raja, ulama, guru, dan pejuang yang membentuk wajah sejarah Mandailing Natal.

Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering memuji para pendahulunya.

Melainkan bangsa yang paling tekun merawat jejak mereka.

Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi:
Apakah Willem Iskander layak menjadi Pahlawan Nasional?

Pertanyaan yang lebih mendesak adalah:
Apakah kita sudah cukup serius merawat warisan intelektualnya?

Sebab sebelum negara memberi gelar kepada Willem Iskander, sejarah terlebih dahulu menguji kesungguhan kita.

Dan mungkin ujian itu dimulai dari sesuatu yang sederhana:
Beranikah orang Sumatera Utara mendirikan sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander?***

Referensi
1. Ardi Ansyah, Willem Iskander (1840–1876): Pelopor Pendidikan di Mandailing Sumatra Utara, Skripsi S1, Universitas Negeri Yogyakarta, 2014.
2. Basyral Hamidy Harahap, berbagai tulisan mengenai Willem Iskander dan sejarah Mandailing.
3. Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk, karya Willem Iskander.
4. Arsip dan kajian mengenai Kweekschool Tanobato yang dikutip dalam penelitian sejarah pendidikan Mandailing.
5. Data biografis Willem Iskander yang tersimpan pada repository Universitas Negeri Yogyakarta dan berbagai publikasi sejarah Mandailing.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 8 Korban Meninggal di Tambang Huta Bargot Sudah Dievakuasi

    8 Korban Meninggal di Tambang Huta Bargot Sudah Dievakuasi

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jumlah korban meninggal dunia di lobang tambang emas Huta Bargot yang sudah berhasil dievakuasi sebanyak 8 orang. Sejauh ini belum diketahui apakah masih ada yang tertinggal atau hanya total 8 orang. Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mandailing Natal (Madina) sejauh ini juga belum diketahui apakah sudah terjun ke lokasi atau […]

  • Tata Batas Gunung Manaon-Adian Jior Berpotensi Picu Konflik

    Tata Batas Gunung Manaon-Adian Jior Berpotensi Picu Konflik

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Masyarakat Desa Gunung Manaon Kecamatan Panyabungan mendesak Pemkab Mandailing Natal (Madina) menuntaskan tata batas Desa Gunung Manaon dengan Desa Adian Jior. Sebab, persoalan tata batas kedua desa itu sudah memicu konflik antar warga dua desa yang sewaktu-waktu dapat meledak pemicu bentrok fisik yang membahayakan. Itu dikatakan Nasution bersama warga Gunung […]

  • Urus Naik Golongan, Guru Dimintai Uang

    Urus Naik Golongan, Guru Dimintai Uang

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PALUTA – Sejumlah guru di Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) mengaku dipersulit beberapa oknum di Dinas Pendidikan (Disdik) Paluta saat hendak mengurus naik golongan. Mereka juga dimintai sejumlah uang dengan dalih untuk menghitung angka kredit jam kerja. Menurut guru-guru yang meminta namanya tidak dituliskan ini, meskipun sudah dimintai uang dengan nominal antara Rp1 […]

  • Sumut Tembus Angka 8.241 Positif Corona, Terbanyak di Sumatera

    Sumut Tembus Angka 8.241 Positif Corona, Terbanyak di Sumatera

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Positif virus Corona atau COVID-19 di Sumatera Utara (Sumut) menembus angka 8.241 kasus. Angka ini menempatkan Sumut sebagai provinsi sebaran virus corona terbanyak di pulau Sumatera. Berdasarkan data dari tim Humas BNPB yang dilansir Detik.com, terdapat tambahan 131 kasus baru pada Jumat (11/9/2020). Dari jumlah tersebut, 4.959 orang dinyatakan sembuh dan […]

  • Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014. Ruang I. (Sesi I) Hari :  Senin, Pukul : 08.00 s/d 10.00 wib Tanggal : 15 Desember 2014   NO.   RUANG UJIAN   NO. PESERTA   NAMA PESERTA 1 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB 1 52132000777 SERIANI 2 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB 1 52132000778 […]

  • Ironi Negeri Hukum, Aparat Penegak Hukum Langgar Hukum

    Ironi Negeri Hukum, Aparat Penegak Hukum Langgar Hukum

    • calendar_month Rabu, 8 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Khadijah Nelly, M.Pd Akademisi dan Pemerhati Sosial Masyakarat   Awal Desember kembali masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kasus yang sangat miris dan mengiris hati dengan viralnya kasus oknum polisi yang menghamili dan memaksa pacarnya aborsi hingga berujung pada bunuh diri dari sang korban. Atas kejadian ini, luapan emosi dan keprihatinan netizen ramai diungkapkan di medsos, […]

expand_less