Senin, 27 Jul 2026
light_mode

Beranikah Orang Sumut Mendirikan “Pusat Dokumentasi Willem Iskander”?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Muhamad Ludfan Nasution
Anggota Komunitas Pengusul Willem Iskandar Pahlawan Nasional

 

Sati Nasution glr Sutan Iskandar (Willem Iskander)

 

Ada pertanyaan yang layak diajukan kepada kita semua Bangsa Indonesia, khususnya kepada orang Sumatera Utara:

Jika kita begitu yakin bahwa Willem Iskander adalah salah satu pelopor pendidikan bumiputera terbesar yang pernah lahir dari tanah ini, beranikah kita mendirikan sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya sangat menohok.

Sebab selama puluhan tahun, kita nyaris tidak pernah kekurangan pidato tentang pentingnya Willem Iskander. Kita juga tidak kekurangan seminar, webinar, diskusi, lomba menulis, bahkan film dokumenter. Nama Willem Iskander terus disebut dari waktu ke waktu.

Namun, ketika ditanya:

Di mana pusat arsip dan dokumentasi Willem Iskander?

Jawabannya, masih sunyi.
Padahal hampir semua tokoh besar dunia dikenang bukan hanya melalui monumen, melainkan melalui dokumentasi yang terawat.

Mereka memiliki pusat studi. Punya museum. Perpustakaan. Arsipnya terus diperbarui.

Bagaimana dengan tokoh kebanggaan Willem Iskander, Sutan Iskander atau Sati Nasution?

Banyak dokumennya masih tercerai-berai. Sebagian berada dalam buku-buku lama. Sebagian tersimpan di perpustakaan. Tak sedikit yang masih berada di tangan peneliti.

Nah, sebagian lagi, diduga masih bersembunyi di arsip Belanda.

Padahal, semakin jauh kita menelusuri jejak Sati Nasution, semakin tampak betapa besar pekerjaan rumah yang belum kita selesaikan.

Kita tahu nama kecilnya adalah Sati Nasution bergelar Sutan Iskandar.

Kita tahu Sutan Iskander belajar di sekolah bumiputera di Panyabungan.

Kita tahu ia berangkat ke Belanda untuk memperdalam ilmu keguruan.

Kita tahu keponakan Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar itu mendirikan Kweekschool Tanobato pada tahun 1862.

Kita tahu ia menulis Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk.

Kita tahu, Sutan kelahiran Pidoli ini wafat di Amsterdam pada tahun 1876. Tetapi, tahukah kita di mana salinan resmi akta kematiannya?

Tahukah kita nomor register perkawinannya dengan Maria Jacoba Christina Winter?

Tahukah kita seluruh murid yang pernah belajar di Kweekschool Tanobato?

Tahukah kita berapa banyak arsip pendidikan kolonial yang menyebut namanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan satu hal:

Penelitian tentang Willem Iskander belum selesai.

Bahkan, mungkin baru dimulai.

Ironisnya, ketika daerah lain berlomba-lomba membangun pusat dokumentasi tokoh mereka, Sumatera Utara masih sering terjebak pada kebanggaan simbolik.

Kita, tentu saja, sangat bangga memiliki Willem Iskander. Pribumi yang sudah berjasa besar untuk Bumiputera di Nusantara.

Tetapi belum sungguh-sungguh menginventarisasi seluruh jejaknya.

Kita bangga menyebutnya pelopor pendidikan. Tetapi belum mengumpulkan seluruh bukti yang menunjukkan bagaimana pengaruhnya menjalar ke Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh melalui murid-muridnya.

Kita bangga mengusulkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Tetapi belum memiliki satu lembaga khusus yang bertugas menghimpun, merawat, dan mengembangkan seluruh pengetahuan tentang dirinya.

Padahal, justru di situlah fondasi pengakuan sejarah dibangun.

Bayangkan jika suatu hari berdiri sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander.
Tidak harus megah.
Tidak harus mahal.
Bisa dimulai dari satu ruangan.
Satu rak buku.
Satu komputer.
Satu tim kecil yang bekerja dengan tekun.
Di sana terkumpul:
• buku-buku tentang Willem Iskander;
• skripsi, tesis, dan disertasi;
• artikel jurnal;
• kliping koran;
• film Senandung Willem Iskander;
• arsip keluarga;
• foto-foto lama;
• hasil wawancara ahli waris;
• hingga dokumen yang diperoleh dari Belanda.
Lalu semua itu didigitalisasi.
Dibuka untuk peneliti.
Dibuka untuk mahasiswa.
Dibuka untuk masyarakat.
Bukankah itu jauh lebih berharga daripada sekadar memasang spanduk dan baliho setiap tahun?

Lebih jauh lagi, pusat dokumentasi seperti itu bukan hanya tentang Willem Iskander.
Ia akan menjadi rumah bagi ingatan kolektif Mandailing.

Di sana kelak bisa dihimpun pula dokumen tentang tokoh-tokoh lain, termasuk Syekh Mustafa Husein, para raja, ulama, guru, dan pejuang yang membentuk wajah sejarah Mandailing Natal.

Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering memuji para pendahulunya.

Melainkan bangsa yang paling tekun merawat jejak mereka.

Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi:
Apakah Willem Iskander layak menjadi Pahlawan Nasional?

Pertanyaan yang lebih mendesak adalah:
Apakah kita sudah cukup serius merawat warisan intelektualnya?

Sebab sebelum negara memberi gelar kepada Willem Iskander, sejarah terlebih dahulu menguji kesungguhan kita.

Dan mungkin ujian itu dimulai dari sesuatu yang sederhana:
Beranikah orang Sumatera Utara mendirikan sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander?***

Referensi
1. Ardi Ansyah, Willem Iskander (1840–1876): Pelopor Pendidikan di Mandailing Sumatra Utara, Skripsi S1, Universitas Negeri Yogyakarta, 2014.
2. Basyral Hamidy Harahap, berbagai tulisan mengenai Willem Iskander dan sejarah Mandailing.
3. Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk, karya Willem Iskander.
4. Arsip dan kajian mengenai Kweekschool Tanobato yang dikutip dalam penelitian sejarah pendidikan Mandailing.
5. Data biografis Willem Iskander yang tersimpan pada repository Universitas Negeri Yogyakarta dan berbagai publikasi sejarah Mandailing.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Puasa Harga Daging Di Madina Rp.140.000

    Jelang Puasa Harga Daging Di Madina Rp.140.000

    • calendar_month Minggu, 5 Jun 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online)-  Menjelang 1 hari  bulan puasa Ramadhan harga daging sapi di beberapa pusat pasar tradisional  di Mandailing Natal  mengalami kenaikan. Dimana pada beberapa hari sebelumnya harga daging sapi sebesar Rp.120.000. namun pada saat ini harganya mencapai antara Rp.130.000 hingga Rp.140.000.-/ Kilo gramnya. Seperti di Pasar Kayu Laut Kecamatan Panyabungan Selatan per kilo […]

  • Produser film hina Nabi Muhammad naik haji

    Produser film hina Nabi Muhammad naik haji

    • calendar_month Senin, 21 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Produser film menghina Nabi Muhammad dan pegiat anti-Islam Arnoud Van Doorn justru menjadi muslim aal tahun ini dan dia pertama kali melakukan ibadah haji kemarin. Dia mengatakan mendapat ketenangan setelah menjadi muslim. Situs irib.ir melaporkan, Senin (21/10), mantan politisi Partai Kebebasan Wilders pimpinan orang anti-Islam terbesar sejagat Greet Wilders mengatakan sangat menyesal telah menghina Islam. […]

  • Kaki Aldi Masih Bisa Diselamatkan, Tanpa Amputasi

    Kaki Aldi Masih Bisa Diselamatkan, Tanpa Amputasi

    • calendar_month Jumat, 16 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kaki kiri Aldi Subhandi Hasibuan dimungkinkan masih bisa diselamatkan dari ancaman amputasi. Kemungkinan itu diketahui setelah Aldi dibawa keluarganya berobat ke Jakarta dengan pola pengobatan medis plus herbal. “Aldi Hasibuan sekarang sedang menjalani pengobatan medis dan herbal. Menurut dokternya, pengeobatan itu bisa sembuh tanpa operasi (amputasi). Tentu saja, kita sangat bersyukur […]

  • Keluarga Husin Sejak Lama Tinggal di ‘Kandang Kambing’

    Keluarga Husin Sejak Lama Tinggal di ‘Kandang Kambing’

    • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Rumah Dibangun, Penyakit Diobati dan Anaknya akan Sekolah Husin (50) warga miskin di Desa Sarakmatua Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang tinggal di rumah kecil dengan ukuran 2 x 2 meter bersama 4 anaknya dan berada di samping kandang kambing akan dapat bantuan dari pemerintah. Bagaimana bentuk bantuan pemerintah bagi Husin yang selama ini […]

  • Ini Penjelasan Atika Tentang Lingkup Tugas Tim Investigasi PLTP

    Ini Penjelasan Atika Tentang Lingkup Tugas Tim Investigasi PLTP

    • calendar_month Rabu, 5 Okt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Hingga kini masih banyak masyarakat Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara yang belum memahami lingkup tugas Tim Investigasi Daerah yang melakukan investigasi pasca peristiwa dugaan paparan zat beracun di lokasi PT SMGP 6 Maret 2022. Akibanya muncul simpang siur penilaian masyarakat terhadap kinerja Tim Investigasi Daerah yang dibentuk Pemkab Madina dan […]

  • Polres Madina Amankan 7.500 Pohon Ganja Siap Panen

    Polres Madina Amankan 7.500 Pohon Ganja Siap Panen

    • calendar_month Senin, 16 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    40 anggota Polres Mandailing Natal (Madina) foto bersama di lokasi ladang ganja di Tor Sihite, Desa Rao-rao, Kecamatan Tambangan, Kabupaten Madina. Kapolres Madina melalui Wakapolres Kompol Hariyamoko didampingi Kasat Narkoba AKP Hendra dan Kabag Ops Kompol Syarifuddin Lubis di Mapolres Madina, Panyabungan, Sabtu (14/01/2012) menjelaskan, pihaknya kembali menemukan 7.500 batang ganja siap panen di atas […]

expand_less