Biografi Willem Iskander: Syarat Kunci Pengusulan Pahlawan Nasional?
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak
Ole: Muhammad Ludfan Nasution
Anggota Komunitas Pengusul Willem Iskander Pahlawan Nasional

Sati Nasution glr Sutan Iskandar (Willem Iskander)
Ada satu pertanyaan yang jarang muncul dalam diskusi tentang Willem Iskander. Padahal pertanyaan ini mungkin lebih penting daripada seminar, webinar, bahkan rekomendasi politik.
Pertanyaannya sederhana:
Sudahkah kita memiliki biografi Willem Iskander yang cukup kuat untuk mengantarkannya menjadi Pahlawan Nasional?
Banyak orang mungkin terkejut mendengar pertanyaan itu. Sebab, yang sering dibicarakan selama ini adalah jasa Willem Iskander. Bukan buku biografi yang mendeskripsikan secara utuh apa, dimana dan bagaimana jasa besar tokoh kita ini.
Padahal, dalam dunia kepahlawanan nasional, keduanya hampir tidak dapat dipisahkan.
Negara tidak pernah memberi gelar Pahlawan Nasional kepada legenda. Negara memberi gelar kepada tokoh sejarah. Dan, tokoh sejarah harus dapat dibuktikan.
Karena itu setiap pengusulan Pahlawan Nasional selalu berakhir pada satu dokumen penting:
riwayat hidup tokoh yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Dalam bahasa yang lebih sederhana: biografi.
Bukan sekadar cerita. Bukan sekadar kebanggaan daerah. Bukan pula sekadar tradisi lisan. Melainkan kisah hidup yang disusun dari arsip, dokumen, kesaksian, dan penelitian.
Lihatlah hampir semua Pahlawan Nasional Indonesia. Di belakang setiap gelar itu selalu berdiri sebuah biografi. Kadang berupa buku. Kadang berupa kumpulan penelitian. Kadang berupa dossier tebal berisi ribuan halaman.
Melalui biografi itulah negara menjawab pertanyaan: Siapa tokoh itu? Apa jasanya? Apa pengaruhnya? Apa bukti sejarahnya?
Mengapa ia layak dikenang oleh seluruh bangsa?
Karena itulah perjuangan Willem Iskander sebenarnya bukan hanya perjuangan administratif.
Bukan hanya mengumpulkan dukungan bupati, gubernur, atau kementerian. Perjuangan sesungguhnya adalah membangun pengetahuan tentang Willem Iskander.
Semakin lengkap biografinya, semakin terang pula kontribusinya bagi bangsa.
Di sinilah ironi itu muncul. Willem Iskander dikenal luas sebagai pelopor pendidikan bumiputera dari Mandailing.
Sati Nasution mendirikan Kweekschool Tanobato pada tahun 1862. Melahirkan generasi guru yang menyebar ke Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Sutan Iskander juga menulis karya sastra yang hingga kini masih dibaca. Mengabdikan hidupnya untuk pendidikan.
Namun hingga hari ini Indonesia belum memiliki satu biografi besar yang benar-benar menyatukan seluruh jejak kehidupannya.
Kita memang memiliki beberapa karya penting. Yang paling menonjol saat ini adalah buku:
Willem Iskander (1840–1876) Sebagai Pejuang Pendidikan dan Pendidik Pejuang Daerah Sumatera Utara.
Buku ini merupakan terbitan Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Utara pada tahun 1997.
Buku ini melibatkan Basyral Hamidy Harahap sebagai konsultan dan Anhar Gonggong sebagai penyunting/penilai.
Nilainya sangat besar.
Namun ia lebih tepat dipandang sebagai fondasi. Belum sebagai biografi definitif.
Padahal kehidupan Willem Iskander menyimpan begitu banyak lapisan yang belum tergali secara utuh.
Bagaimana masa kecil Sati Nasution di Pidoli? Bagaimana hubungan intelektualnya dengan lingkungan Hutasiantar? Seberapa besar pengaruh Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar terhadap pembentukan pikirannya?
Bagaimana perjumpaannya dengan dunia Barat di Belanda? Bagaimana pergulatan batinnya ketika harus memilih antara karier pribadi dan pengabdian kepada bangsanya?
Apa yang sebenarnya terjadi pada bulan-bulan terakhir kehidupannya di Amsterdam?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar rasa ingin tahu.
Mereka adalah bagian dari proses pembuktian sejarah.
Semakin lengkap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, semakin kuat pula posisi Willem Iskander dalam historiografi nasional. Dan semakin kuat historiografinya, semakin kuat pula dasar moral dan akademik untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.
Karena pada akhirnya negara tidak hanya menilai seorang tokoh. Negara menilai bukti tentang tokoh tersebut.
Maka mungkin sudah saatnya perjuangan Willem Iskander memasuki babak baru.
Bukan hanya mengusulkan gelar. Tetapi membangun biografi besar. Biografi yang menghimpun arsip Mandailing. Menelusuri arsip Belanda. Memuat karya sastra, jaringan murid, sejarah Kweekschool Tanobato, hingga jejak kehidupannya di Amsterdam.
Sebuah biografi yang kelak mampu menjawab seluruh pertanyaan tentang Willem Iskander.
Sebab gelar Pahlawan Nasional pada akhirnya bukan sekadar penghormatan. Itu adalah pengakuan negara terhadap sebuah kisah hidup. Dan, kisah hidup itu harus terlebih dahulu ditulis dengan terang.
Mungkin karena itulah pertanyaan paling penting hari ini bukan lagi:
Apakah Willem Iskander layak menjadi Pahlawan Nasional?
Melainkan:
Sudahkah kita menulis Willem Iskander sedemikian utuh sehingga bangsa Indonesia dapat melihat sendiri mengapa Sutan Iskander Nasution layak menjadi Pahlawan Nasional?
Dalam sejarah Indonesia, banyak tokoh menjadi pahlawan karena jasanya. Tetapi tidak sedikit yang baru diakui sebagai pahlawan setelah biografinya berhasil ditulis dengan baik. Maka menulis biografi Willem Iskander mungkin bukan pekerjaan yang terpisah dari perjuangan kepahlawanan; bisa jadi itulah bagian terpenting dari perjuangan itu sendiri. ***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

