Jumat, 16 Okt 2026
light_mode

Dinar-Dirham Mata Uang dengan Ragam Keunggulan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 12 Feb 2021
  • print Cetak

Uang dinar (emas)

 

Beberapa minggu terakhir publik dihebohkan dengan beredarnya isu penangkapan salah satu pegiat pasar muamalah. Menurut pemberitaan, penangkapan itu disebabkan dalam transaksinya di pasar tersebut tidak digunakan mata uang rupiah, melainkan jenis logam mulia berupa Dinar (emas) dan Dirham (perak).

Bareskrim Polri menahan pegiat gerakan Dinar-Dirham tersebut pada Selasa (2/2/2021) malam. Tersangka dijerat berdasarkan dua pasal yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yaitu: Pasal 9 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP dan Pasal 33 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dia terancam hukuman penjara paling lama 15 tahun (Sindonews.com).

Apakah betul dasar penangkapan ini karena transaksi tersebut bertentangan dengan regulasi yang ada? Ataukah ada muatan politik tertentu? Jika yang menjadi dasar penangkapan adalah karena penggunaan mata uang selain rupiah, mengapa di beberapa tempat perlakuan yang sama tidak terjadi? Seperti kita ketahui, penggunaan mata uang asing terjadi di beberapa wilayah perbatasan, juga di daerah yang menjadi pusat wisata. Hal itu sudah berlangsung lama dan tidak ada penindakan.

Banyak anggapan negatif terkait tindakan aparat tersebut yang cenderung diskriminatif. Apalagi terdapat informasi bahwa penggunaan Dinar-Dirham tersebut dikaitkan dengan ide khilafah. Padahal wakaf, yang akhir-akhir ini dijadikan gerakan nasional oleh Pemerintah, juga terkait erat kaitannya dengan syariah dan khilafah. Demikian pula zakat. Lalu mengapa Dinar-Dirham dipermasalahkan?

Dinar dan Dirham: Mata Uang Sesuai Syariah Islam

Sejak Rasulullah saw. sukses mendirikan Daulah Islam di Madinah pasca hijrah, beliau menyetujui penggunaan mata uang Dinar-Dirham sebagai mata uang resmi negara. Dinar-Dirham memang telah lama digunakan oleh masyarakat saat itu.

Rasulullah saw. lalu menyetujui timbangan kaum Quraisy sebagai standar timbangan Dinar-Dirham. Sabda beliau:

اَلْوَزَنُ وَزْنُ أَهْلِ مَكَّةَ وَالْمِكْيَالُ مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ

Timbangan yang berlaku adalah timbangan penduduk Makkah dan takaran yang berlaku adalah takaran penduduk Madinah (HR Abu Dawud).

Jika dibandingkan dengan timbangan sekarang ini, satu Dinar setara dengan 4,25 gram emas dan satu Dirham setara dengan 2,975 gram perak. Berdasarkan hal ini, Islam jelas menghubungkan mata uangnya, yaitu Dinar dan Dirham, dengan emas dan perak.

Dalam Islam, emas dan perak adalah standar baku dalam bertransaksi. Artinya, emas dan perak adalah sistem mata uang yang digunakan sebagai alat tukar. Kesimpulan ini berdasarkan beberapa alasan berikut:

Pertama, ketika Islam melarang penimbunan harta (kanz al-mâl), Islam hanya mengkhususkan larangan penimbunan untuk emas dan perak. Adapun mengumpulkan harta selain emas dan perak tidak disebut kanz al-mâl, melainkan ihtikâr. Jadi jelas larangan ini ditujukan pada alat tukar (medium of exchange). Allah SWT berfirman:

وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيْمٍ

Orang yang menimbun emas dan perak, yang tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahulah mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksaan yang pedih (TQS at-Taubah [9]: 34).

Kedua, Islam telah mengaitkan emas dan perak dengan hukum-hukum yang baku. Ketika Islam menetapkan diyat (denda/tebusan), Islam telah menentukan diyat tersebut dengan ukuran tertentu, yaitu dalam bentuk emas. Saat Islam mewajibkan hukuman potong tangan terhadap praktik pencurian, Islam juga menentukan ukuran tertentu dalam bentuk emas.

Ketiga, Rasulullah saw. telah menetapkan Dinar (emas) dan Dirham (perak) saja sebagai mata uang. Beliau telah membuat standar uang ini dalam bentuk ‘ûqyah, dirham, dâniq, qirâth, mitsqâl dan dinar. Semua ini sudah masyhur digunakan oleh masyarakat dalam bertransaksi. Rasulullah saw. pun mendiamkan hal demikian berlangsung.

Keempat, ketika Allah SWT mewajibkan zakat uang, Allah SWT telah mewajibkan zakat tersebut atas emas dan perak. Allah SWT menentukan nishâb zakatnya dengan nishâb emas dan perak. Adanya zakat uang berupa emas dan perak menunjukkan bahwa mata uang dalam Islam berupa emas dan perak.

Kelima, hukum-hukum tentang transaksi pertukaran mata uang (money changer) hanya dalam bentuk emas dan perak. Semua transaksi dalam bentuk finansial yang dinyatakan dalam Islam hanya dinyatakan dalam emas dan perak.

Berdasarkan hal-hal di atas, jelas bahwa mata uang dalam Islam distandarkan pada emas dan perak dengan jenis dan timbangan yang telah ditentukan. Itulah yang disebut Dinar dan Dirham.

Keunggulan Dinar dan Dirham

Uang yang saat ini kita gunakan sehari-hari adalah uang kertas fiat money. Uang kertas ini dicetak oleh Pemerintah dengan nominal tertentu. Uang kertas ini tidak memiliki nilai intrinsik. Nilai intrinsiknya hanyalah sehelai kertas biasa. Sama dengan kertas lainnya. Pasalnya, Pemerintah tidak menjamin uang kertas tersebut dengan emas atau perak. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Dolar Amerika Serikat juga termasuk fiat money.

Dinar dan Dirham memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan uang kertas fiat money. Pertama: Dinar dan Dirham memenuhi unsur keadilan dibandingkan fiat money. Pasalnya, Dinar dan Dirham memiliki basis yang riil berupa emas dan perak. Sebaliknya, fiat money sama sekali tidak dijamin dengan emas dan perak. Nilai yang tercetak pada uang kertas fiat money tidak akan sama dengan nilai intrinsiknya. Hal ini memunculkan ketidakadilan. Pasalnya, otoritas moneter yang menerbitkan mata uang sudah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari selisih nilai nominal yang tertera dengan nilai intrinsiknya. Sebaliknya, Dinar dan Dirham jelas adil karena antara angka yang tertera dan nilai intrinsiknya sama.

Kedua: Dinar dan Dirham lebih stabil dan tahan terhadap Inflasi. Berdasarkan fakta sejarah, emas dan perak merupakan jenis mata uang yang relatif stabil dibandingkan dengan sistem uang kertas fiat money. Bagaimanapun kuatnya perekonomian suatu negara, jika sistem penopangnya menggunakan uang kertas, negara tersebut rentan terhadap krisis dan cenderung tidak stabil. Bahkan beberapa kejadian yang berkaitan dengan krisis, salah satunya dipicu karena penggunaan sistem uang kertas fiat money. Penggunaan uang kertas bisa dipastikan akan membawa rentetan inflasi. Hal ini berbanding terbalik dengan Dinar dan Dirham yang berbasiskan riil emas dan perak. Penggunaan Dinar dan Dirham akan lebih stabil karena nilai nominal yang tertera setara dengan nilai intrisiknya.

Ketiga: Dinar dan Dirham memiliki aspek penerimaan yang tinggi. Termasuk dalam pertukaran antar mata uang atau dalam perdagangan internasional. Pasalnya, Dinar dan Dirham tidak memerlukan perlindungan nilai karena nilai nominalnya benar-benar dijamin penuh oleh emas dan perak.

Berikut contoh sederhana untuk memahami keunggulan Dinar dan Dirham. Pada tahun 1800 harga emas persatu troy ons setara dengan 19,39 dolar AS. Pada tahun 2004, satu troy ons emas senilai 455,757. Dengan kata lain, selama dua abad berlalu, emas mengalami apresiasi yang luar biasa sebesar 2.250 persen terhadap Dolar.

Contoh berikutnya, pada tahun 1996, Ongkos Naik Haji (ONH) sekitar Rp 7,7 juta. Hal ini setara dengan sekitar 308 gram pada saat itu. Sekarang, pada 2021, ONH anggap saja rata-rata Rp 40 juta. Jika 1 gram emas hari ini seharga Rp 1 juta, dengan kepemilikan 308 gram seperti tahun 1996, maka kita bisa memiliki dana sekitar Rp 308 juta. Dengan jumlah sebesar ini, kita dapat memberangkatkan 7 orang plus uang sakunya.

Fakta-fakta tersebut membuktikan Dinar dan Dirham dapat menjelma menjadi mata uang yang sangat unggul dibandingkan dengan mata uang kertas fiat money manapun. Termasuk Dolar Amerika Serikat sekalipun.

Banyak pihak juga mengakui keunggulan mata uang yang berbasiskan emas. Alan Greenspan, mantan Chairman The Fed, berkata, “Emas masih menjadi bentuk utama pembayaran di dunia. Dalam kondisi ekstrem, tidak ada yang mau menerima uang fiat, tetapi emas selalu diterima.”

Cristopher Wood, seorang analis Emerging Market CLSA, juga mengatakan, “Emas adalah satu-satunya jaminan nyata terhadap ekses-ekses keuangan massif yang masih dirasakan dunia Barat.” Wood juga mengatakan, “Ketika nilai tukar Dolar anjlok, harga emas akan terus naik.”

Hal yang sama disampaikan Robert Mundell, penerima Nobel ekonomi. Ia memperkirakan bahwa emas akan kembali menjadi bagian sistem keuangan internasional pada abad ke-21 (Hamidi, 2007).

Peter Bernstein, seorang pakar keuangan terkemuka dunia, juga mengatakan secara terbuka bahwa ketika semua mata uang kertas berjatuhan, emas akan menunjukkan kesaktiannya. Emas (Dinar) menunjukkan nilai yang stabil dan cenderung menguat terhadap mata uang kertas.

Khatimah

Berdasarkan uraian di atas, sejatinya sebagai seorang Muslim terikat dengan syariah Islam sebagaimana yang telah Allah SWT perintahkan. Termasuk dalam penggunaan mata uang Dinar dan Dirham sebagai alat transaksi. Penggunaan mata uang Dinar dan Dirham sangat jelas basis dalil syariahnya dan fakta keunggulannya.

Hanya saja, penggunaan Dinar dan Dirham sebagai mata uang tentu memerlukan legalitas negara sebagai institusi yang kuat dan berdaulat. Tidak mungkin semuanya bisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali adanya negara yang berani untuk melawan hegemoni Kapitalisme global. Negara ini harus berani berhadapan dengan negara-negara besar yang saat ini mendominasi dunia. Ini semua tentu hanya bisa diwujudkan oleh institusi Daulah Islamiyah yang pernah dicontohkan oleh Rasul saw., yang kemudian dilanjutkan oleh para Sahabat beliau dengan sebutan Khilafah Islamiyah.

WalLahua’lam. []

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

ﻳَﺄِﰐْعَلَى النَاسِ زَمَانﻻَيَنْفَعُ فِيْهِ اِﻻَالدِيْنَارُ وَالدِرهَمُ

Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali Dinar (emas) dan Dirham (perak). (HR Ahmad).

 

Dicopy dari : Buletin Kaffah No. 180 (29 Jumada al-Akhirah 1442 H – 12 Februari 2021 M)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • ‎Masyarakat Huta Tinggi Sambut Tim Safari Ramadhan NU

    ‎Masyarakat Huta Tinggi Sambut Tim Safari Ramadhan NU

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2015
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Ratusan masyarakat Desa Huta Tinggi Kecamatan Puncak Sorik Marapi menyambut baik kehadiran Tim Safari Ramadhan Nahdlatul Ulama Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Selasa, 07,07,2015. Acara yang dilaksanakan di Mesjid Nurul Iman tersebut tiba-tiba ramai dan padat dengan kehadiran tim safari Ramadhan NU. Kepala Desa Huta Tinggi Syarifuddin Nasution mengucapkan terima kasih atas kehadiran tim safari Ramadhan […]

  • Pencarian Identitas Diri Muslimah Spanyol

    Pencarian Identitas Diri Muslimah Spanyol

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        NEW YORK (Mandailing Onlne) – Kalene Santana (19 tahun) masih tergolong muda saat berani memutuskan berpindah keyakinan dari Katolik menjadi seorang muslimah. Perempuan Hispanik keturunan Puerto Rico dan Dominika ini merasa kehidupannya kini lengkap. Lantaran ia hidup dan mencintai kehidupan khas Spanyol, berbahasa Inggris, namun beribadah dengan cara Islam. Santana pun meyakinkan dirinya […]

  • Dodi Martua: Pemerintah Tidak Konsisten Soal SK 44

    Dodi Martua: Pemerintah Tidak Konsisten Soal SK 44

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        Panyabungan (MO)- Pemerintah dinilai tidak konsisten terhadap SK Menhut Nomor 44 Tahun 2005 tentang penunjukan kawasan hutan di Sumut. Ketidakkonsistenan itu diduga akibat amburadulnya proses kelahiran SK 44 tersebut. Hal itu diungkapkan anggota DPRD Mandailing Natal (Madina), Dodi Martua kepada Mandailing Online di gedung DPRD Mandina, kemarin. Salah satu bukti tidak konsistennya pemerintah […]

  • Kapitalis Tani

    Kapitalis Tani

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Menelusur Perusahaan yang Didirikan Petani (bagian 1) Catatan : Dahlan Iskan Akankah revolusi kelembagaan petani bermula dari Wonogiri ini? Dari Wonogiri lah lembaga ”perseroan terbatas” mulai diterapkan. Sejak empat tahun lalu. Tepatnya di desa Kebon Agung, Sidoharjo. Dan kelihatannya mulai berhasil. Saya memilih lewat Ponorogo untuk ke desa ini. Jalannya mulus. Google Map bisa membawa […]

  • PLN Panyabungan : Dalam Waktu Dekat Buka Jaringan Lintas Timur

    PLN Panyabungan : Dalam Waktu Dekat Buka Jaringan Lintas Timur

    • calendar_month Selasa, 1 Des 2015
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala PT PLN Rayon Panyabungan, Yasir Lubis kepada wartawan, kemarin mengatakan, pihaknya telah berupaya untuk membuka jaringan baru di jalur Lintas Timur Panyabungan. “Sudah, kami telah berupaya. Kemarin juga sudah masuk permohonan lagi, kami berupaya dalam waktu dekat sudah bisa,” kata Yasir. Sebelumnya, warga mendasak PLN membuka jaringan di jalur Lintas […]

  • Metode Distribusi Harta dalam Islam

    Metode Distribusi Harta dalam Islam

    • calendar_month Jumat, 5 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Satu-satunya yang bisa diharapkan mengatasi problem ekonomi itu adalah sistem ekonomi Islam. Islam memang tidak mengharuskan persamaan dalam kepemilikan kekayaan, namun Islam tidak membiarkan buruknya distribusi kekayaan. Islam memandang individu sebagai manusia yang harus dipenuhi kebutuhan-kebutuhan primernya secara menyeluruh.   Oleh : Ustaz Rokhmat S Labib   “Masyarakat tidak perlu panik, persedian beras kita cukup […]

expand_less