Minggu, 1 Mar 2026
light_mode

Ivan Batubara dalam Pandangan Tokoh Pemikir Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
  • print Cetak

Ivan Iskandar Batubara. Foto: ist

Tak dapat disangkal, bahwa Mandailing Natal (Madina) saat ini berada dalam kondisi “tidak baik-baik saja”. Pragmatisme terlihat begitu kuat  mencengkram menghujam. Mengalahkan kearifan, kecerdasan, keikhlasan.

Itu tentu membutuhkan penanganan serius.

Dan, Pilkada Madina 2024 dianggap menjadi harapan menghasilkan figur yang pas dan tepat menyelamatkan serta membawa Madina ke arah yang lebih baik, terutama di sektor ekonomi dan sosial plus pemerintahan yang baik berwibawa.

Setidaknya itulah hipotesa dan analisis dari Ludfan Nasution, S.Sos, seorang tokoh pemikir di Madina, Sumatera Utara.

Dalam pandangan Ludfan, figur Ivan Iskandar Batubara dianggap memiliki integritas, kapasitas dan kapabilitas yang sinkron dengan problematika daerahnya.

Berikut kupasan Ludfan Nasution yang dikirim kepada redaksi Mandailing Online, Rabu (20/3/2024) yang kami sajikan secara utuh tidak diedit:

Saya pernah beberapa kali bincang-bincang dengan pengusaha Ivan Iskandar Batubara yang kemudian mendapat gelar adat Patuan Perimpunan Gomgom Mandailing. Saya mencatat beberapa poin buah pikirannya. Ada satu yang prinsipil. Menurutnya, seseorang mestinya dihargai bukan karena apa yang dimiliki dan dibaginya, melainkan bedasarkan kapasitas seutuhnya (integritas), terutama karena kearifan, pemikiran dan budi pekertinya.

Nah, kalau pertanyaannya, bagaimana pandangan dan pendapat saya terhadap Patuan Gomgom yang sudah muncul di bursa balon Bupati Madina?

Begini:
Semua tokoh yang punya integritas baik dan kuat itu, layak dan laik untuk jadi bupati.

Bahkan, ada tokoh yang justru berstatus “wajib jadi bupati” apabila integritas, kapasitas dan kapabilitas yang bersangkutan sinkron (matching) dengan problematika daerahnya.

Makanya, nanti muncul istilah “dosa pilihan”. Seorang Ivan Batubara dalam. Konteks Pilkada Madina 2024, punya pilihan sulit: “dosa besar” atau “dosa kecil”.

Bila tak jadi bupati, itu dosa besar. Bila jadi bupati, itu dosa kecil, lebih ringan.

Logikanya, Ivan Batubara pasti menghindari dosa besar.

Namun, hal-hal ideologis itu pun harus berhadapan dengan fakta sosial-politik dan sosial-ekonomi masyarakat Madina hari ini.

Saya melihat kondisi masyarakat hari ini semakin buruk. Mulai dari tak peduli pada sejarah, kebaikan yang ada di masa lalu, termasuk utang jasa. Parah kan?

Lebih parah lagi, jika masyarakat pun tidak peduli pada arah dan gambaran masa depan, tidak penting kebaikan apa yang bisa didapatkan dan diberikannya nanti. Ini kondisi yang frustrasi (putus asa).

Lebih parah lagi, masyarakat sangat pragmatis, pertimbangan nilainya tidak lagi berdasarkan baik-buruk, sekedar nilai guna saat itu.

Ludfan Nasution

Nah, Pemilu 2024 sudah menjadi lukisan nyata tentang karakteristik masyarakat Madina. Dalam analisis saya, sebagian besar masyarakat Madina hari ini sudah tidak lagi menghiraukan hitungan masa lalu dan masa depan, yang penting harus mendapat sesuatu hari ini terlepas dari pertimbangan baik-buruk. Yang penting dapat uang, tak peduli itu uang haram atau uang halal.

Saya kira, kondisi Madina sudah segila itu.

Nah, menurut saya, hanya ketokohan Patuan Parimpunan Gomgom Mandailing yang cukup tangguh untuk dapat memahami, siap memasuki dan mampu mengatasi kondisi masyarakat Madina yang segila itu.

Jadi, pendapat saya, Patuan Parimpunan Gomgom Mandailing “wajib”  jadi Bupati Madina dan itulah caranya menghindari “dosa besar” dalam politik lokal Madina hari ini.***

Dihantar: Dahlan Batubara

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 7)

    RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 7)

    • calendar_month Senin, 18 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980) Kampung kami itu diapit oleh dua buah gunung merapi aktif, sebelah utara oleh Gunung Sorik Marapi dan Gunung Kulabu di bagian Selatan, Gunung Kulabu itulah yang menjadi hulunya Sungai Batang Gadis yang indah itu. Dalam seminggu kampung kami  ada […]

  • Berkas Rudolf & Saibon Diserahkan ke Jaksa

    Berkas Rudolf & Saibon Diserahkan ke Jaksa

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    TOBASA – Berkas mantan Asisten I Pemkab Tobasa Rudolf Manurung dan mantan Plt Sekda Saibon Sirait yang terlibat dugaan korupsi proyek pembebasan lahan PLTA Asahan III, diserahkan ke Kejaksaan Negeri Balige, Rabu (5/3) sekira pukul 15.00 WIB. Kapolres Tobasa AKBP Edi Fariadi melalui Kasat Reskrim AKP Robert Sembiring didampingi Kanit Tipikor Aiptu M Harahap, Kamis […]

  • Bayi Dibuang di Halaman Rumah Warga

    Bayi Dibuang di Halaman Rumah Warga

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN-Warga Jalan Jamayu Lubis, Kelurahan Sihitang, Kecamatan Padangsidimpuan (Psp) Tenggara, Kota Psp, dihebohkan dengan penemuan sesosok bayi laki-laki yang diperkirakan berusia tiga minggu di perkarangan sebelah kiri rumah Suwaji (51), Minggu (14/11) dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Diduga kuat, bayi malang ini dibuang oleh ibu kandungnya. Suwaji dan istrinya Suriati (47), petani yang menemukan […]

  • Berniatkah Timur reformasi Polri?

    Berniatkah Timur reformasi Polri?

    • calendar_month Jumat, 10 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Markas Komando (Mako) Brimob Kelapa Dua, Depok Jawa Barat, merupakan lokasi yang mendapatkan pengawalan super ketat dari aparat kepolisian. Namun beberapa tahanan yang berada di Rumah Tahanan (Rutan) ini bisa leluasa berplesiran meninggalkan rutan, seperti yang dilakukan oleh terdakwa mafia hukum, Gayus Halomoan Tambunan. Menurut sumber Waspada Online, hal ini tidak hanya dilakukan […]

  • Tertibkan Kafe Penyedia Wanita Penghibur!

    Tertibkan Kafe Penyedia Wanita Penghibur!

    • calendar_month Jumat, 4 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PALUTA, – Maraknya sejumlah kafe yang menyediakan wanita penghibur atau plus-plus di daerah Kecamatan Portibi, khususnya di Desa Padang Bulan akhir-akhir ini makin meresahkan. Untuk itu diminta kepada Satpol PP Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) untuk segera melakukan penertiban. Ketua Ikatan Mahasiswa Portibi dan sekitarnya, PR Harahap mengharapkan agar Pemkab Paluta melalui Satpol PP untuk […]

  • KESUSASTRAAN MANDAILING (2)

    KESUSASTRAAN MANDAILING (2)

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Askolani Nasution (Bahan pada Sarasehan Kebudayaan Mandailing, Jakarta, 1 Juni 2013) Beberapa tonggak sastra yang berkembang di kolonial tersebut patut dicatat periode-periode pertumbuhan sastra berikut: 1.Willem Iskander (1840-1876). Ia menulis dalam bahasa Mandailing yang amat imajinatif terutama karena dipengaruhi kemampuannya yang tinggi dalam penguasaan bahasa Melayu. Karya-karyanya dipublikasikan secara luas setelah kematiannya, antara lain: […]

expand_less