Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Ketika Pementasan Drama “Sibaroar Raja Nasakti” Berdimanesi Kronologis

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 30 Sep 2017
  • print Cetak

Satu adegan drama Sibaroar

Catatan : Dahlan Batubara

Setelah sukses mementaskan drama “Multatuli” bulan Juli lalu, kini Jeges Art kembali menorehkan kesuksesan mementaskan drama “Sibaroar Raja Nasakti” di Gedung Serbaguna Panyabungan, Sabtu (30/9/2017).

Drama ini diselenggarakan kerjasama Jeges Art dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Sibaroar Raja Nasakti” ini dikemas dalam bentuk drama musikal, mengangkat kisah Sibaroar, leluhur marga Nasution di tanah Mandailing.

Di pementasan ini, Askolani Nasution selaku sutradara terlihat meminimalisir dialog-dialog yang menguras emosi dan dialog yang berdimensi kekuatan makna (berbeda dengan gaya khas Askolani, baik dalam teater maupun bentuk film garapannya selama ini yang sangat menitikberatkan pada dialog-dialog sarat makna).

Adegan demi adegan dititikberatkan pada unsur kronologis etape perjalanan kisah tokoh utama, Sibaroar. Itu bisa dipahami mengingat drama ini mengangkat kisah seorang tokoh legandaris dari dimensi biograpis.

Dimulai dengan adegan penemuan bayi di semak-semak oleh para “hulubalang” yang mengawal Raja Pulungan dan Permaisuri dalam satu aktifitas di hutan.  Bayi itu kemudian dipelihara oleh Raja Pulungan melalui ibu asuh bernama Sauwa .  Bayi itu kemudian diberi nama Sibaroar.

Sejak dibawa dari hutan hingga tumbuh besar di lingkungan kerajaan, seorang perempuan dari jenis mahluk halus selalu mengikutinya. Ini mencuatkan hipotesa bahwa mahluk halus itu ibu kandung Sibaroar. Dalam bahasa Mandailing kerap disebut “orang bunian”. Memang, dalam banyak cerita lisan (volkstory), ada keyakinan bahwa mahluk halus itu berhubungan dengan manusia hingga melahirkan bayi manusia.

Drama ini hanya mengisahkan rentang perjalanan hidup Sibaroar sejak bayi hingga berusia sekitar 7 tahunan.

Bayi Sibaror ternyata membawa berkah kepada raja. Sebab, permaisuri yang selama ini tak kunjung melahirkan anak, justru hamil di tahun itu dan melahirkan bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Sutan.

Sibaroar tumbuh dengan tubuh yang sangat sehat serta memiliki kecerdasan yang bagus. Kecerdasannya dalam mempelajari bela diri jauh lebih unggul dibanding Sutan sang pangeran.

Di suatu ketika, sang raja mendapat wangsit untuk menumbalkan nyawa seorang anak laki-laki dalam proses pendirian bangunan sopo godang. Para datu kerajaan dalam penerawangan supranatural menetapkan Sibaroar yang harus dijadikan tumbal.

Selanjutnya, penasehat raja mengusulkan agar kening Sibaroar ditandai dengan tulisan lambang X agar para hulubalang yang akan melakukan eksekusi nantinya tidak salah orang, sebab Sibaroar saban hari selalu bersama dengan Sutan. Dan kening Sibaroar pun ditandai dengan tulisan lambang X.

Tetapi, di satu waktu, ketika Sibaroar dan Sutan sedang berdua melakukan  latihan, Sutan bertanya mengapa ada tanda X di kening Sibaroar. Dan Sibaroar menyatakan itu ditulis oleh seorang hulubalang. Ternyata Sutan justru berkeinginan kuat memiliki lambang X itu. Maka lambang X yang di kening Sibaroar dihapus, lantas kening Sutan ditulis lambang X.

Pasca eksekusi, kerajaan heboh, sebab Sutan telah tewas di lobang pondasi sopo godang. Sementara, Sibaroar telah dilarikan oleh Sauwa. Raja murka, dan memerintahkan untuk menangkap Sibaroar dan Sauwa untuk dibunuh.

Dalam pengejaran itu, Sibaroar dan Sauwa selalu selamat. Perempuan makhluk halus yang selama ini mengikuti Sibaroar mampu menyembunyikan keduanya dari incaran para hulubalang. Peran mahluk halus itu sangat besar dalam menyelamatkan Sibaroar dan Sauwa. Bahkan, ketika pelarian itu harus menyeberangi Sungai Batang Gadis yang meluap ganas, para hulubalang tak mampu menyeberanginya, tetapi  Sibaroar dan Sauwa berhasil mencapai seberang sungai berkat bantuan mahluk halus itu.

Drama pun berakhir. Lampu panggung menyala. Penonton terpelongo, karena sutradara hanya mengisahkan hidup Sibaroar sampai batas selamat di seberang sungai. Perjalanan selanjutnya hingga menjadi raja tak dikisahkan.

Walau demikian,  tanda-tanda kesaktian Sibaroar sudah terlihat. Tanda-tanda itu paling tidak terlihat dalam dua mement kehidupan Sibaroar kecil , yakni ketika timbulnya kesalahan orang pada eksekusi penumbalan. Tanda-tanda kesaktian kedua ketika pelarian itu.

Sebagai drama musikal, Jeges Art mampu menumbuhkan warna Mandailing yang kental dalam penggarapan musiknya. Selain itu, Aes Syukri yang menangani musik latar juga sangat piawai sehingga drama sangat terasa kuat oleh dukungan musik dan suara-suara alam.

Drama itu juga terasa sangat kuat dari sisi peran. Sejumlah aktor dari Jeges Art yang dilibatkan membantu pemain pendatang baru sangat mempengaruhi kekuatan adegan dalam drama ini.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bersih Bersih Sungai Aek Mata Terus Digalakkan

    Bersih Bersih Sungai Aek Mata Terus Digalakkan

    • calendar_month Jumat, 9 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dinas Lingkungan Hidup Madina terus gulirkan pembersihan sungai aek mata, demi menjaga kelestarian sungai, meminimalisir banjir serta menjaga habitat Flora dan Fauna sungai. Pagi tadi Jum’at 10/7, ratusan orang turun ke sungai melakukan pembersihan aliran sungai. Ada dari TNI, Polri dan Intansi di Pemkab Madina. Inisiasi kegiatan ini sendiri datang dari […]

  • Operasi Patuh Toba, 1.120 Kenderaan Ditilang

    Operasi Patuh Toba, 1.120 Kenderaan Ditilang

    • calendar_month Selasa, 23 Mei 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 1.120 penilangan terhadap pengendara terjadi selama Operasi Patuh Toba 2017 yang dilakukan Polres Mandailing Natal. Operasi itu berlangsung selama 11 hari, sejak tanggal 9 hingga 22 Mei 2017 di berbagai kawasan Mandailing Natal. Selain tindak penilangan, teguran tertulis sebanyak 171. Demikian disampaikan Kasat Lantas Polres Madina, AKP Hendri ND […]

  • Bupati Madina Harus Bisa Jadikan BUMD Traktor PAD

    Bupati Madina Harus Bisa Jadikan BUMD Traktor PAD

    • calendar_month Selasa, 2 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pj Bupati Mandailing Natal, Ir Aspan Sofyan Batubara MM harus memutar balik keberadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Madina sebagai perusahaan plat merah yang di biayai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) setiap tahun menjadi tractor Penghasilan Asli Daerah (PAD). “BUMD Madina harus punya SOP (Standar Operasional Prosedur) dan punya pemimpin yang punya kualifikasi dan […]

  • Pemkab Madina Gagal Tertibkan Penambang Liar

    Pemkab Madina Gagal Tertibkan Penambang Liar

    • calendar_month Selasa, 15 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Meski menimbulkan protes dari masyarakat, namun pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sepertinya ‘membiarkan’ tambang emas tradisional liar itu beroperasi. Soalnya, penambang masih melakukan aktivitasnya di lokasi tambang. Informasi dihimpun METRO, Senin (14/2) dari sejumlah warga, tambang emas masih sulit dihentikan kegiatannya karena beberapa warga sudah menikmati hasil dari tambang tersebut. Disusul dana penertiban penambang […]

  • Mobil Terseret Kereta Api 150 Meter, Dua Tewas

    Mobil Terseret Kereta Api 150 Meter, Dua Tewas

    • calendar_month Jumat, 18 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LUBUK PAKAM- Kecelakaan di perlintasan kereta api (KA) kembali terjadi. Minggu (13/3), KA Kelas Eksekutif Sei Bilah menyeruduk kijang kapsul warna hitam mengenakan nopol dinas (warna merah) BB 158 F, di Desa Tumpatan Pasar Sore Kecamatan Beringin, sekitar pukul 15.30 WIB. Akibat peritiswa ini pengemudi mobil Ali Usman (53) warga Desa Kampung Sepiah, Kota Padang […]

  • Buaya di Sungai Kunkun Sudah Memangsa Manusia, Pemda Harus Tegas

    Buaya di Sungai Kunkun Sudah Memangsa Manusia, Pemda Harus Tegas

    • calendar_month Senin, 28 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NATAL (Mandailing Online) – Pemerintah Mandailing Natal dan pihak keamanan diminta segera melakukan langkah-langkah penting dalam upaya mengamankan warga dari serangan buaya di Sungai Kunkun. Peristiwa serangan buaya terhadap Desimawati Halawa, warga Dusun Bulung Gadung, Desa Sundutan Tigo, Kecamatan Natal, Minggu (27/5) sore sangat memprihatinkan. Korban meninggal dunia akibat serangan buaya di sungai itu. […]

expand_less