Rabu, 9 Sep 2026
light_mode

Lynette Wehner: Alquran Seperti Ditulis Untukku

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 26 Nov 2013
  • print Cetak

Kisah Lynette Wehner memeluk Islam bermula ketika ia bekerja di sebuah sekolah Islam. Sikap profesionalnya itu menafikan kekhawatiran keluarganya. “Anda pasti akan menjadi Muslim,” ungkap Wehner, menirukan pandangan mertuanya, seperti dilansir onislam.net, Senin (25/11).

Perkataan mertuannya itu memang membekas dipikirannya. Namun, ia tidak memungkiri memiliki sebuah kelas lebih penting ketimbang harus khawatir soal mertuannya. Sejak lama, Wehner inigin menjadi guru. Ia ingin memiliki kelas, tempat dia mendidik anak-anak.

“Kenakan jilbab dan berpakaian Islami memang hal yang asing. Yang saya pikirkan saat itu adalah, saya orang yang terbuka dengan apapun, dan bertekad ini akan menjadi pengalaman berharga bagi saya,” ucapnya.

Di hari pertama, semua berjalan lancar. Sikap gugup Wahner mencari ketika teman-teman sesama guru menciptakan suasana yang nyaman bagi Wehner. Sikap temannya inilah yang membekas di hati Wehner. “Saya pikir seorang Muslim itu kaku, tegas dan serius. Nyatanya, mereka terlihat santai. Jadi, selama ini stereotip yang berkembang itu tidak benar,” ucapnya.

Tak terasa, sudah setahun Wehner mengabdi. Tidak ada tekanan apalagi intimidasi. Wehner justru semakin menikmati, jauh lebih menikmati ketimbang ia dalam lingkungan gereja. “Yang membuat saya heran itu, mengapa anak didik saya sendiri, yang Muslim, tahu cerita-cerita di Injil. Lalu mereka mulai banyak bertanya soal agamaku,” ucapnya.

Wehner memang besar dalam tradisi Katolik. Namun, ia tidak merasa nyaman dengan itu. Itu sebabnya, banyak hal dilakukannya guna memberikan rasa nyaman ketika berkomunikasi dengan Tuhan. Ia ingin hatinya merasakan kehadiran Tuhan.

Sejak menjadi guru di sekolah Islam itulah, dan mendapatkan banyak pertanyaan tentang ajaran Kristen, mendorong Wehner lebih dalam mempelajari agamanya. Di luar itu, Wehner mulai membaca buku-buku tentang Islam yang ditinggalkan anak didiknya.

Mulailah Wehner bertanya tentang ajaran Islam kepada guru-guru lain. Dialog diantara Wehner dan temannya berlangsung intensif dan mendalam. Wehner begitu bersemangat menemukan banyak hal baru dalam Islam dan Muslim.

“Saya mulai membaca Alquran. Memang ini tidak membuat nyaman keluarga saya,” ucapnya.

Ketika membaca Alquran, Wehner begitu takjub, Bibirnya gemetar, tubuhnya mengigil. “Apa yang dituliskan seperti untuk saya. Saya menangis. Namun, ada yang menghambat saya menerimanya dalam hati,” ucap dia.

Bertahun-tahun membaca dan berdiskusi dengan banyak orang. Pada akhirnya, Wehner tak bisa menahan diri. Ia pergi ke kamar anaknya, lalu ia berdoa kepada Allah. “Untuk kali pertama, saya tidak berdoa kepada Yesus. Ini membuat saya sempat khawatir apakah telah melakukan hal yang benar. Saya takut Yesus marah kepada saya,” ucapnya.

“Saya hanya bisa menangis setelah itu. Saya belum pernah merasa dekat dengan Tuhan. Tapi Alhamdulillah, keputusan saya sudah bulat dan saya menjadi Muslim, Alhamdulillah,” kata dia.(rmol)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • BUKU MUATAN LOKAL MADINA, ADA APA?

    BUKU MUATAN LOKAL MADINA, ADA APA?

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Wawancara dengan Askolani Nasution Dinas Pendidikan Mandailing Natal (Madina) telah memakai buku “Mengenal Lebih Dekat Mandailing Natal” dalam menerapkan kurikulum Muatan Lokal di sekolah-sekolah dasar kelas IV,V,VI se-Madina tahun 2012 lalu sesuai dengan amanat undang-undang. Buku ini dinilai para kalangan sebagai buku yang paling memenuhi syarat sebagai buku pegangan murid untuk pelajaran muatan lokal. Bahkan […]

  • Harga Karet Terendah Dalam Lima Tahun Terakhir

    Harga Karet Terendah Dalam Lima Tahun Terakhir

    • calendar_month Sabtu, 4 Okt 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Medan – Tekanan terhadap harga karet di pasar dunia belum berakhir. Memasuki awal Oktober, harga karet diperdagangkan di bawah US$1,38 per kg yang merupakan harga terendah dalam 69 bulan terakhir atau sekitar lima tahun terakhir. Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah mengungkapkan, khusus selama sepekan terakhir, melemahnya harga karet dipicu turunnya harga […]

  • 26 Angota DPRD Madina Usulkan Hak Interpelasi Kepada Bupati

    26 Angota DPRD Madina Usulkan Hak Interpelasi Kepada Bupati

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 26 anggota DPRD Mandailing Natal (Madina) dari berbagai fraksi berbeda akhirnya secara resmi mengajukan usul hak interpelasi kepada Bupati Dahlan Hasan Nasution terkait kondisi Kabupaten Madina serta pengelolaan pemerintahan yang dinilai banyak masalah.   Dokumen usul hak interpelasi ini diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Madina, Arminsyah Batubara […]

  • Rembug Harian KTNA Madina : Penyebaran Inovasi dan Mendorong Segmen Bisnis Pertanian

    Rembug Harian KTNA Madina : Penyebaran Inovasi dan Mendorong Segmen Bisnis Pertanian

    • calendar_month Selasa, 8 Agt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penyebarluasan inovasi pertanian kepada petani harus terus digalakkan dalam upaya menjawab tantangan dan peluang sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan. Topik itu menjadi salah satu poin yang dihasilkan Rembug Harian KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bertempat di Desa Gunung Tua Julu, Panyabungan, Minggu (6/8/2017). Rambug […]

  • Harga Kopi Beras Masih Tinggi

    Harga Kopi Beras Masih Tinggi

    • calendar_month Senin, 16 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 6Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tidak semua jenis biji kopi yang harganya anjlok. Biji kopi beras justru masih bertahan dengan harga di kisaran 50.000 rupiah per kilo gram. Kasi Perkebunan Dinas Kehutanan Perkebunan Madina, Yasir Nasution SP, Senin (16/9/2013) mengatakan memang terjadi penurunan harga biji kopi dari Rp.18.000 menjadi Rp.8.000/ Kg. Hal ini juga terjadi pada […]

  • Menimbun Nyawa di Lubang Ketinggian, Meracuni Air di Sepanjang Aliran

    Menimbun Nyawa di Lubang Ketinggian, Meracuni Air di Sepanjang Aliran

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Moechtar Nasution Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)     Ada yang berubah di Mandailing Natal beberapa tahun terakhir ini. Rasa bangga yang dulu ada mendadak luruh. Berganti perih, mencekam, dan menyesakkan dada bagi siapa pun yang melihatnya langsung. Di bawah langit Sumatra yang kaya raya ini, sebuah ironi lingkungan sedang dipertontonkan secara […]

expand_less