Selasa, 14 Jul 2026
light_mode

Mengapa Harus Taat kepada Ulama?

  • account_circle Redaksi Abdul Holik
  • calendar_month Jumat, 13 Des 2013
  • print Cetak

Selama dalam koridor kebaikan dan ketakwaan, menaati ulama ialah kebutuhan asasi bagi umat. Melebihi ketergantungan pada makan dan minum.

Di tengah-tengah hiruk pikuk demokrasi dan era keterbukaan, muncul beragam gagasan dan ideologi yang cenderung memarjinalkan sosok ulama. Keberadaan para tokoh agamawan itu beranjak terlupakan.

Tak sedikit figur ustaz yang muncul di televisi hanya untuk mengisi tayangan mengusir makhluk halus atau tampil memberi komentar soal perceraian di kalangan artis yang semakin hari seakan diobral bak kacang goreng.

Di sisi lain kegersangan spiritual yang menghinggapi sebagian orang tak lagi melibatkan para alim. Bahkan, mereka menghadap paranormal untuk keluar dari ragam persoalan yang menimpanya.

Memang, harus diakui ulah segelintir oknum ulama itu telah mencorong martabat sebagian besar para pewaris Nabi tersebut.

Namun, yakinlah kata Syekh Abu Thalhah dalam makalahnya berjudul Manzilat al-Ulama wa Makanatuhum fi al-islam, masih banyak ulama yang tetap konsisten dengan keislaman yang kuat. Kategori ulama tersebut, seperti yang pernah diutarakan oleh Ibnu Abbas.

Menurut sahabat yang berjuluk Turjaman Alquran itu, ulama ialah mereka yang membekali diri dengan pemahaman yang integral dan komprehensif tentang agama, lalu menjelaskan dan berbagi ilmunya untuk umat, serta menegakkan amar makruf nahi mungkar. “Kriteria inilah yang wajib ditaati,” tulis Syekh Abu Thalhah, mengutip perkataan Ibnu Abbas.

Tuntunan untuk mengikuti para alim dengan kriteria seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas tersebut tertuang dalam surah an-Nisaa’ ayat 59. Allah SWT memerintahkan agar menaati Allah dan Rasul-Nya serta ulil amri.

Pengertian ulil amri pada ayat itu, dalam pandangan banyak tokoh salaf, seperti Jabir bin Abdullah, Hasan al-Bashri, Abu al-Aliyah, Atha’ bin Abi Rabah, ad-Dhahak, dan Mujahid, adalah para ulama.

Selama dalam koridor kebaikan dan ketakwaan, menaati ulama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jaziyyah, ialah kebutuhan asasi bagi umat.

Mengalahkan ketergantungan mereka terhadap makanan. Dalam banyak hal, ketaatan terhadap para alim itu lebih diutamakan ketimbang taat kepada orang tua.

Syekh Abu Thalhah menegaskan, ketaatan itu tak boleh membabi buta dan memunculkan taklid. Taat kepada ulama, yakni selama berkaitan dengan urusan fatwa dan hukum dalam menyikapi suatu hal.

Jika berkaitan dengan urusan duniawi, ketentuan menyikapi hal itu diserahkan kembali kepada yang bersangkutan.

Ini seperti yang pernah dicontohkan Rasulullah dalam peristiwa kawin silang kurma. Rasul menyerahkan hal itu kepada kebiasaan para petani.

Lalu, apa alasan kuat urgensi ketaatan kepada ulama? Syekh Abu Thalhah memaparkan beberapa poin penting untuk menjawab pertanyaan itu. Sederet alasan tersebut tak lain menjelaskan pula kedudukan ulama yang spesial di hadapan Allah.

Poin yang pertama, misalnya, para ulama adalah kelompok satu-satunya dari kalangan manusia yang membaitkan persaksian atas tauhid. Para alim itu disandingkan dengan para malaikat.

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS Ali Imran [3]: 18).

Sebagai pewaris para nabi, ulama adalah perantara untuk mengetahui hukum dan permasalahan seputar agama dan keagamaan.

Menurut Imam as-Syathibi, bagi mereka yang kebingungan tak semestinya bertanya kepada pihak yang tak berkompetensi atau tak berkemampuan.

Sulit diterima akal sehat jika hal itu terjadi. Tradisi umat bertanya dan para ulama menjawab bahwa ini pun menjadi ciri khas masyarakat Muslim dari masa ke masa. “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 7).

Semestinya, para ulama berhias diri dengan rasa takut kepada Allah SWT. Perasaan inilah yang akan mengantarkan mereka pada sikap kehati-hatian dan tidak mudah tergoda dengan rayuan duniawi atau berkhianat terhadap ilmu yang mereka pelajari dan tekuni.

Atas dasar itu pulalah, sepatutnya seorang alim akan dihargai. Pengetahuan dan kedekatannya terhadap Allah mendatangkan ketakwaan yang berimbas kepada diri, keluarga, lingkungan sekitar, dan khalayak. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS Fathir [ 35] : 28).

Dan, ingatlah kata Syekh Abu Thalhah. Keberadaan para ulama yang konsisten dan berkomitmen tinggi terhadap agama mereka, ikut menjadi penentu bagi keselamatan suatu kaum.

Hadis riwayat Abdullah bin Umar, seperti dinukilkan Bukhari, menegaskan hal tersebut. Keberadaan seorang alim akan menjadi lentera yang menerangi kebingungan masyarakat dengan ilmu yang dimiliki. Kini, satu per satu sosok alim yang berkompeten itu telah berpulang.

Kondisi ini akan terus berlaku hingga tak satu pun lagi alim yang tersisa. Di saat krisis ulama melanda, mulailah umat berpaling kepada sosok lain. Figur yang secara lahir terkesan alim, namun kenyataannya bertolak belakang. Akibatnya, sesat dan saling menyesatkan.  (rmol)

  • Penulis: Redaksi Abdul Holik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wakil Bupati Agam Dituntut 2 Tahun

    Wakil Bupati Agam Dituntut 2 Tahun

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PADANG : Wakil Bupati Agam, Sumatera Barat, Umar, terdakwa dugaan penyelewengan dana pemeliharaan jalan rutin tahunan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Agam tahun 2008 dituntut 2 tahun penjara. Tuntutan yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ardi dan Quarta, secara bergantian di Pengadilan Negeri Padang, Selasa, perbuatan terdakwa, yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas PU Agam, diancam dengan […]

  • Gunung Sinabung Meletus

    Gunung Sinabung Meletus

    • calendar_month Senin, 16 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Bupati Karo: Kami Masih Bisa Atasi Kabanjahe, – Bupati Karo, Kena Ukur, memastikan pihaknya masih bisa menangani masalah evakuasi dan penanganan keselamatan masyarakatnya pasca erupsi Gunung Sinabung yang terjadi, Minggu (14/9) dinihari. Meski pihak Pemprov Sumatera Utara sudah menyatakan kesiapan satuan kerja perangkat dinas (SKPD) untuk terjun langsung membantu ke lapangan, namun ia mengaku situasi […]

  • Banjir Bandang Malintang Terparah Dibanding Hutabargot

    Banjir Bandang Malintang Terparah Dibanding Hutabargot

    • calendar_month Senin, 27 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di Mandailing natal, Selain di Kecamatan Bukit Malintang, banjir bandang juga melanda Kecamatan Hutabargot. Berdasar data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina yang diperoleh, Senin, jumlah kerusakan lebih besar di Kecamatan Bukit Malintang. Di Kecamatan Bukit Malintang, 3 unit rumah hanyut, sebelas unit rumah rusak berat dan 100 unit […]

  • Darmin, Petani Madina Dinobatkan Sebagai Petani Teladan Nasional, Akan Bertemu Presiden Jokowi

    Darmin, Petani Madina Dinobatkan Sebagai Petani Teladan Nasional, Akan Bertemu Presiden Jokowi

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Petani bernama Darmin dari Kecamatan Puncak Sorik Marapi dinobatkan sebagaio salah satu petani teladan nasional dan diundang presiden Jokowi ke Istana Negara di Jakarta. Selain itu, dia juga akan mengikuti temu ramah/resepsi kenegaraan dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Bogor usai peringatan HUT RI. Kepala Badan Penyuluh Pertanian Ketahanan […]

  • Stunting Turun Hingga 13,5% di Madina

    Stunting Turun Hingga 13,5% di Madina

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut berhasil menurunkan angka stunting hingga 13,5%. Angka ini berada di bawah angka target nasional yakni 14 persen. Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi Nasution mengatakan penurunan angka stunting memang belum maksimal dan belum mencapai target. Stunting merupakan suatu keadaan di mana tinggi badan anak lebih rendah […]

  • SIDIMPUAN EPISENTRUM TABAGSEL, GEJOLAK DAN BARA SEKAM (Bagian 2)

    SIDIMPUAN EPISENTRUM TABAGSEL, GEJOLAK DAN BARA SEKAM (Bagian 2)

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Sidempuan Membangun: Kota Tua Itu Harus Berhenti Bertengkar dengan Dirinya Sendiri Dari konflik elite menuju gagasan besar membangun pusat baru Tabagsel Tetapi mungkin Sidimpuan memang sedang membutuhkan satu kejutan besar: sebuah alasan untuk berhenti bertarung kecil. Karena sesungguhnya, problem terbesar kota ini bukan kekurangan elite. Justru terlalu banyak elite. Terlalu banyak tokoh. Terlalu banyak […]

expand_less