Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Mengapa Harus Taat kepada Ulama?

  • account_circle Redaksi Abdul Holik
  • calendar_month Jumat, 13 Des 2013
  • print Cetak

Selama dalam koridor kebaikan dan ketakwaan, menaati ulama ialah kebutuhan asasi bagi umat. Melebihi ketergantungan pada makan dan minum.

Di tengah-tengah hiruk pikuk demokrasi dan era keterbukaan, muncul beragam gagasan dan ideologi yang cenderung memarjinalkan sosok ulama. Keberadaan para tokoh agamawan itu beranjak terlupakan.

Tak sedikit figur ustaz yang muncul di televisi hanya untuk mengisi tayangan mengusir makhluk halus atau tampil memberi komentar soal perceraian di kalangan artis yang semakin hari seakan diobral bak kacang goreng.

Di sisi lain kegersangan spiritual yang menghinggapi sebagian orang tak lagi melibatkan para alim. Bahkan, mereka menghadap paranormal untuk keluar dari ragam persoalan yang menimpanya.

Memang, harus diakui ulah segelintir oknum ulama itu telah mencorong martabat sebagian besar para pewaris Nabi tersebut.

Namun, yakinlah kata Syekh Abu Thalhah dalam makalahnya berjudul Manzilat al-Ulama wa Makanatuhum fi al-islam, masih banyak ulama yang tetap konsisten dengan keislaman yang kuat. Kategori ulama tersebut, seperti yang pernah diutarakan oleh Ibnu Abbas.

Menurut sahabat yang berjuluk Turjaman Alquran itu, ulama ialah mereka yang membekali diri dengan pemahaman yang integral dan komprehensif tentang agama, lalu menjelaskan dan berbagi ilmunya untuk umat, serta menegakkan amar makruf nahi mungkar. “Kriteria inilah yang wajib ditaati,” tulis Syekh Abu Thalhah, mengutip perkataan Ibnu Abbas.

Tuntunan untuk mengikuti para alim dengan kriteria seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas tersebut tertuang dalam surah an-Nisaa’ ayat 59. Allah SWT memerintahkan agar menaati Allah dan Rasul-Nya serta ulil amri.

Pengertian ulil amri pada ayat itu, dalam pandangan banyak tokoh salaf, seperti Jabir bin Abdullah, Hasan al-Bashri, Abu al-Aliyah, Atha’ bin Abi Rabah, ad-Dhahak, dan Mujahid, adalah para ulama.

Selama dalam koridor kebaikan dan ketakwaan, menaati ulama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jaziyyah, ialah kebutuhan asasi bagi umat.

Mengalahkan ketergantungan mereka terhadap makanan. Dalam banyak hal, ketaatan terhadap para alim itu lebih diutamakan ketimbang taat kepada orang tua.

Syekh Abu Thalhah menegaskan, ketaatan itu tak boleh membabi buta dan memunculkan taklid. Taat kepada ulama, yakni selama berkaitan dengan urusan fatwa dan hukum dalam menyikapi suatu hal.

Jika berkaitan dengan urusan duniawi, ketentuan menyikapi hal itu diserahkan kembali kepada yang bersangkutan.

Ini seperti yang pernah dicontohkan Rasulullah dalam peristiwa kawin silang kurma. Rasul menyerahkan hal itu kepada kebiasaan para petani.

Lalu, apa alasan kuat urgensi ketaatan kepada ulama? Syekh Abu Thalhah memaparkan beberapa poin penting untuk menjawab pertanyaan itu. Sederet alasan tersebut tak lain menjelaskan pula kedudukan ulama yang spesial di hadapan Allah.

Poin yang pertama, misalnya, para ulama adalah kelompok satu-satunya dari kalangan manusia yang membaitkan persaksian atas tauhid. Para alim itu disandingkan dengan para malaikat.

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS Ali Imran [3]: 18).

Sebagai pewaris para nabi, ulama adalah perantara untuk mengetahui hukum dan permasalahan seputar agama dan keagamaan.

Menurut Imam as-Syathibi, bagi mereka yang kebingungan tak semestinya bertanya kepada pihak yang tak berkompetensi atau tak berkemampuan.

Sulit diterima akal sehat jika hal itu terjadi. Tradisi umat bertanya dan para ulama menjawab bahwa ini pun menjadi ciri khas masyarakat Muslim dari masa ke masa. “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 7).

Semestinya, para ulama berhias diri dengan rasa takut kepada Allah SWT. Perasaan inilah yang akan mengantarkan mereka pada sikap kehati-hatian dan tidak mudah tergoda dengan rayuan duniawi atau berkhianat terhadap ilmu yang mereka pelajari dan tekuni.

Atas dasar itu pulalah, sepatutnya seorang alim akan dihargai. Pengetahuan dan kedekatannya terhadap Allah mendatangkan ketakwaan yang berimbas kepada diri, keluarga, lingkungan sekitar, dan khalayak. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS Fathir [ 35] : 28).

Dan, ingatlah kata Syekh Abu Thalhah. Keberadaan para ulama yang konsisten dan berkomitmen tinggi terhadap agama mereka, ikut menjadi penentu bagi keselamatan suatu kaum.

Hadis riwayat Abdullah bin Umar, seperti dinukilkan Bukhari, menegaskan hal tersebut. Keberadaan seorang alim akan menjadi lentera yang menerangi kebingungan masyarakat dengan ilmu yang dimiliki. Kini, satu per satu sosok alim yang berkompeten itu telah berpulang.

Kondisi ini akan terus berlaku hingga tak satu pun lagi alim yang tersisa. Di saat krisis ulama melanda, mulailah umat berpaling kepada sosok lain. Figur yang secara lahir terkesan alim, namun kenyataannya bertolak belakang. Akibatnya, sesat dan saling menyesatkan.  (rmol)

  • Penulis: Redaksi Abdul Holik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mikrofon Mati di Ruang Paripurna: Wibawa DPRD Tersandung Hal Sepele

    Mikrofon Mati di Ruang Paripurna: Wibawa DPRD Tersandung Hal Sepele

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Di ruang sidang paripurna, seorang anggota dewan berbicara menyampaikan pendapat. Namun suara itu tersendat—bukan karena argumennya lemah, melainkan karena mikrofon (mic) di mejanya mati. Kelihatannya sepele. Tapi justru dari hal-hal kecil seperti inilah kualitas sebuah lembaga bisa terbaca. Sebab dalam dunia kelembagaan, fasilitas bukan sekadar alat bantu teknis. Ia […]

  • Jeruk Manis Sibanggor, Riwayatmu Kini.

    Jeruk Manis Sibanggor, Riwayatmu Kini.

    • calendar_month Jumat, 10 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masa kejayaan Jeruk Huta Sibanggor yang sempat terkenal hingga ke Sumatera Barat agaknya kian hari kian mengalami kepunahan. Kekhasan rasa jeruk yang terbilang lebih manis dari jeruk kebiasaannya tersebut dikhawatirkan akan tinggal nama, akibat adanya hama CCPD atau jamur batang merah yang menyerang tanaman sejak 2001 dan hingga kini belum dapat diatasi. Wajar saja masyarakat […]

  • Seleksi Honorer K2, Diundur September

    • calendar_month Jumat, 24 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pelaksanaan seleksi ujian tertulis tenaga honorer kategori II (K2) untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang semula direncanakan bulan Juni/Juli 2013 diundur hingga bulan September 2013. Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tasdik Kinanto mengemukakan, penundaan itu dilakukan karena anggaran belum ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. “Di samping itu, uji publik […]

  • Keajaiban Zamzam di Mata Ilmuwan

    Keajaiban Zamzam di Mata Ilmuwan

    • calendar_month Kamis, 12 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Seorang ilmuwan terkenal Jepang, Dr Masasro Imoto, pernah berkata, “Air zamzam memiliki beberapa keistimewan yang tidak tertandingi oleh air biasa.” Merujuk pada sejumlah kajian ilmiahnya terhadap air zamzam dengan teknik nano, ternyata hal itu tidak mampu mengubah karakteristiknya sedikit pun. Apabila setetes air zamzam dicampur ke dalam 1000 tetes air biasa, maka air tersebut akanmemiliki […]

  • Siswi SMP Negeri 1 Sinunukan Dihamili Abang Kandung

    Siswi SMP Negeri 1 Sinunukan Dihamili Abang Kandung

    • calendar_month Selasa, 1 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Siswi Kelas II SMP Negeri 1 Sinunukan, YS (15) warga Dusun Batang Lobung, Desa Simpang Durian, Kecamatan Linggabayu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), melahirkan di belakang sekolah tepatnya di kebun sawit warga yang hanya berjarak 25 meter dari sekolah, Jumat (18/02/2011) siang lalu. Kapolsek Linggabayu AKP R Siregar ketika dikonfirmasi melalui telepon, Rabu (23/02/2011) mengatakan, […]

  • Isak Tangis PNS Warnai Pelepasan Amru Daulay

    Isak Tangis PNS Warnai Pelepasan Amru Daulay

    • calendar_month Jumat, 17 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Isak tangis sejumlah PNS Pemkab Mandailing Natal mewarnai acara pelepasan sekaligus perpisahan H Amru Daulay SH sebagai Bupati Madina selama 11 tahun sejak terbentuk tahun 1999 dari kabupaten induk Tapanuli Selatan. Acara perpisahan digelar di rumah dinas Bupati Madina, di Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Kamis pagi (16/9). Acara pelepasan H Amru Daulay SH yang berakhir […]

expand_less