Selasa, 14 Apr 2026
light_mode

Mengapa Harus Taat kepada Ulama?

  • account_circle Redaksi Abdul Holik
  • calendar_month Jumat, 13 Des 2013
  • print Cetak

Selama dalam koridor kebaikan dan ketakwaan, menaati ulama ialah kebutuhan asasi bagi umat. Melebihi ketergantungan pada makan dan minum.

Di tengah-tengah hiruk pikuk demokrasi dan era keterbukaan, muncul beragam gagasan dan ideologi yang cenderung memarjinalkan sosok ulama. Keberadaan para tokoh agamawan itu beranjak terlupakan.

Tak sedikit figur ustaz yang muncul di televisi hanya untuk mengisi tayangan mengusir makhluk halus atau tampil memberi komentar soal perceraian di kalangan artis yang semakin hari seakan diobral bak kacang goreng.

Di sisi lain kegersangan spiritual yang menghinggapi sebagian orang tak lagi melibatkan para alim. Bahkan, mereka menghadap paranormal untuk keluar dari ragam persoalan yang menimpanya.

Memang, harus diakui ulah segelintir oknum ulama itu telah mencorong martabat sebagian besar para pewaris Nabi tersebut.

Namun, yakinlah kata Syekh Abu Thalhah dalam makalahnya berjudul Manzilat al-Ulama wa Makanatuhum fi al-islam, masih banyak ulama yang tetap konsisten dengan keislaman yang kuat. Kategori ulama tersebut, seperti yang pernah diutarakan oleh Ibnu Abbas.

Menurut sahabat yang berjuluk Turjaman Alquran itu, ulama ialah mereka yang membekali diri dengan pemahaman yang integral dan komprehensif tentang agama, lalu menjelaskan dan berbagi ilmunya untuk umat, serta menegakkan amar makruf nahi mungkar. “Kriteria inilah yang wajib ditaati,” tulis Syekh Abu Thalhah, mengutip perkataan Ibnu Abbas.

Tuntunan untuk mengikuti para alim dengan kriteria seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas tersebut tertuang dalam surah an-Nisaa’ ayat 59. Allah SWT memerintahkan agar menaati Allah dan Rasul-Nya serta ulil amri.

Pengertian ulil amri pada ayat itu, dalam pandangan banyak tokoh salaf, seperti Jabir bin Abdullah, Hasan al-Bashri, Abu al-Aliyah, Atha’ bin Abi Rabah, ad-Dhahak, dan Mujahid, adalah para ulama.

Selama dalam koridor kebaikan dan ketakwaan, menaati ulama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jaziyyah, ialah kebutuhan asasi bagi umat.

Mengalahkan ketergantungan mereka terhadap makanan. Dalam banyak hal, ketaatan terhadap para alim itu lebih diutamakan ketimbang taat kepada orang tua.

Syekh Abu Thalhah menegaskan, ketaatan itu tak boleh membabi buta dan memunculkan taklid. Taat kepada ulama, yakni selama berkaitan dengan urusan fatwa dan hukum dalam menyikapi suatu hal.

Jika berkaitan dengan urusan duniawi, ketentuan menyikapi hal itu diserahkan kembali kepada yang bersangkutan.

Ini seperti yang pernah dicontohkan Rasulullah dalam peristiwa kawin silang kurma. Rasul menyerahkan hal itu kepada kebiasaan para petani.

Lalu, apa alasan kuat urgensi ketaatan kepada ulama? Syekh Abu Thalhah memaparkan beberapa poin penting untuk menjawab pertanyaan itu. Sederet alasan tersebut tak lain menjelaskan pula kedudukan ulama yang spesial di hadapan Allah.

Poin yang pertama, misalnya, para ulama adalah kelompok satu-satunya dari kalangan manusia yang membaitkan persaksian atas tauhid. Para alim itu disandingkan dengan para malaikat.

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS Ali Imran [3]: 18).

Sebagai pewaris para nabi, ulama adalah perantara untuk mengetahui hukum dan permasalahan seputar agama dan keagamaan.

Menurut Imam as-Syathibi, bagi mereka yang kebingungan tak semestinya bertanya kepada pihak yang tak berkompetensi atau tak berkemampuan.

Sulit diterima akal sehat jika hal itu terjadi. Tradisi umat bertanya dan para ulama menjawab bahwa ini pun menjadi ciri khas masyarakat Muslim dari masa ke masa. “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 7).

Semestinya, para ulama berhias diri dengan rasa takut kepada Allah SWT. Perasaan inilah yang akan mengantarkan mereka pada sikap kehati-hatian dan tidak mudah tergoda dengan rayuan duniawi atau berkhianat terhadap ilmu yang mereka pelajari dan tekuni.

Atas dasar itu pulalah, sepatutnya seorang alim akan dihargai. Pengetahuan dan kedekatannya terhadap Allah mendatangkan ketakwaan yang berimbas kepada diri, keluarga, lingkungan sekitar, dan khalayak. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS Fathir [ 35] : 28).

Dan, ingatlah kata Syekh Abu Thalhah. Keberadaan para ulama yang konsisten dan berkomitmen tinggi terhadap agama mereka, ikut menjadi penentu bagi keselamatan suatu kaum.

Hadis riwayat Abdullah bin Umar, seperti dinukilkan Bukhari, menegaskan hal tersebut. Keberadaan seorang alim akan menjadi lentera yang menerangi kebingungan masyarakat dengan ilmu yang dimiliki. Kini, satu per satu sosok alim yang berkompeten itu telah berpulang.

Kondisi ini akan terus berlaku hingga tak satu pun lagi alim yang tersisa. Di saat krisis ulama melanda, mulailah umat berpaling kepada sosok lain. Figur yang secara lahir terkesan alim, namun kenyataannya bertolak belakang. Akibatnya, sesat dan saling menyesatkan.  (rmol)

  • Penulis: Redaksi Abdul Holik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kejatisu harus tahan Buyung Ritonga

    Kejatisu harus tahan Buyung Ritonga

    • calendar_month Kamis, 11 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kasus dugaan korupsi APBD Kabupaten Langkat TA 2000-2007 sebesar Rp102,7 miliar bukan hanya menyeret Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin saja. Tetapi juga turut didalamnya mantan bendahara umum sekaligus pemegang kas Pemkab Langkat, Buyung Ritonga. Jika Syamsul Arifin, kasusnya ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, sedangkan Buyung Ritonga ditangani Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Buyung […]

  • Pempropsu Tetapkan Quota Gas Melon untuk Madina 9.316 MT

    Pempropsu Tetapkan Quota Gas Melon untuk Madina 9.316 MT

    • calendar_month Selasa, 18 Feb 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tahun ini menetapkan quota gas LPG 3 Kg bersubsisi untuk Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sebanyak 9.316 Metrik Ton (MT). Penetapan quota tahun 2025 itu tertuang dalam surat Sekretariat Pemerintah Provinsi Sumut nomor 500.10.7.6/136/2025 tanggal 15 Pebruari 2025 tentang Besaran Alokasi / Kuota LPG Tabung 3 […]

  • Oknum Suruhan Ketua OKP Aniaya Wartawan di Madina

    Oknum Suruhan Ketua OKP Aniaya Wartawan di Madina

    • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Oknum suruhan salah satu Ketua OKP menganiaya seorang wartawan di Madina. Akibat penganiayaan tersebut korban atas nama Jefry Barata Lubis (42 tahun) mengalami luka di bagian wajah. Wartawan Topmetronews tersebut dianiaya di salah satu Lopo Mandheling Coffee yang ada di SPBU Aek Galoga, Panyabungan, Jumat (4/3). Berdasarkan keterangan yang diterima Mandailing […]

  • Kepala Desa Jangan Terlibat Politik Praktis

    Kepala Desa Jangan Terlibat Politik Praktis

    • calendar_month Selasa, 11 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pejabat Bupati Mandailing Natal Ir Aspan Sopian Batubara mengingatkan seluruh kepala desa yang ada di kabupaten Mandailing Natal agar tidak terlibat dalam politik praktis terutama pada pelaksanaan pemungutan suara ulang Pilkada Kabupaten Mandailing Natal , dan ia berharap agar seluruh Kepala Desa dapat menempatkan diri di tengah-tengah berbagai kepentingan politik yang berkembang. Hal tersebut […]

  • PTPN 4 Jangan Kerasukan Roh Kolonialisme

    PTPN 4 Jangan Kerasukan Roh Kolonialisme

    • calendar_month Kamis, 26 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebagai perusahaan milik negara semestinya PTPN 4 lebih mengedepankan kepentingan rakyat daripada kepentingan bisnis yang terkesan seperti kerasukan roh kolonialisme seperti yang saat ini dipertunjukkan. “Kita minta segeralah sadar, jangan terus–terusan kerasukan roh kolonialis,” kata Ketua Fraksi Golkar DPRD Madina Arsidin Batubara ketika dimintai keterangan terkait sengketa lahan di Kampung Kapas […]

  • RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian tiga)

    RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian tiga)

    • calendar_month Selasa, 12 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980) Kampung kami di belah oleh sungai Batanggadis, airnya deras berbatu dan berkerikil. Masa itu kami bebas mencari ikan di sungai  dengan berbagai cara. Untuk mendapatkan ikan aporas dan sulum, kami cukup membawa jala dengan jaring kecil. Untuk mendapatkan ikan […]

expand_less