Sabtu, 1 Agu 2026
light_mode

Mengenal Bahasa Mandailing (2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 17 Nov 2016
  • print Cetak

Oleh: Basyral Hamidi Harahap (in memoriam)

 

 

Almarhum Basyral Hamidi Harahap

Almarhum Basyral Hamidi Harahap

BAHASA DAUN

Prof. C.A. Van Ophuysen, ahli bahasa Melayu dan bahasa Mandailing menulis sejumlah artikel tentang bahasa Mandailing. Salah satu diantaranya ialah tulisan berjudul  De Poezie in het Bataksche Volksleven, 1886. Tulisan ini membahas bahasa daun dan 80 ende dan ungkapan tradisional Mandailing.

Van Ophuysen pernah menjadi direktur Kweekschool Padangsidimpuan selama 7 tahun. Kemudian menjabat guru besar bahasa Melayu di Universitas Leiden. Bekas muridnya di Kweekschol Padangsidimpuan, Rajiun Harahap gelar Sutan Kasayangan Soripada, pernah menjadi asistennya di Universitas Leiden sebagai repititor bahasa Melayu.

Pada tanggal 13 Januari 1885 terjadi kebakaran besar di Padangsidimpuan, rumah Van Ophuysen ikut terbakar bersama dokumen penelitiannya tentang bahasa Mandailing yang sangat berharga. Tulisan Van Ophuysen yang paling terkenal tentang bahasa dan sastra Mandailing ialah tentang ende-ende dan bahasa daun atau bladerentaal.

Sesungguhnya ramuan bahasa daun itu tidak hanya terdiri dari dedaunan, karena ada bahan-bahan lain yang diikutsertakan dalam menyatakan sesuatu pesan.

Jika seseorang ingin menjawab atau memberitahukan tentang kesediaannya, kemauannya, keinginannya, atau cintanya, ia boleh  mengirimkan bulung ni pau, daun pakis, maknanya adalah  au, aku.  Daun pau rara, pakis merah, berarti ra, mau atau ingin. Jadi kedua jenis daun pakis ini bermakna ra au, saya mau.

Dalam masyarakat Barat dikenal dengan ungkapan katakan dengan bunga. Dalam hal ini makna bunga yang dikirimkan berkaitan dengan nama dan warna bunga yang bersangkutan

Menurut Van Ophuysen, orang Mandailing adalah satu-satunya suku bangsa yang memiliki bahasa daun. Oleh karena itu, penulis berpendapat sewajarnya bahasa daun ini dimasukan ditetapkan sebagai salah satu khasanah kebudayaan orang  Mandailing.

 Keberadaan bahasa daun mengisaratkan betapa orang Mandailing sangat sensitif dan dekat dengan alam. Mereka mempunyai filosofi yang mendasari sikap dan prilaku mereka dalam bergaul dengan alam. Sehingga mereka pada dasarnya adalah pecinta dan pelestari alam sehingga tercapai ekologi antara alam dan manusia yang seimbang.

Jika ditelaah lebih mendalam, kita dapat mencari elemen-elemen jati diri orang Mandailing dalam bahasa daun, antara lain sikapnya yang suka pada lambang-lambang sebagai cara bertutur kata. Atau mengungkapkan bahasa tubuh sebagai cara mengungkapkan sesuatu tanpa kata-kata, atau sebagai penguat kata-kata yang diucapkan, atau meneruskan kata-kata atau kalimat dengan bahasa tubuh. Orang Mandailing  juga merupakan suku bangsa yang biasa berbicara dengan tamsilan untuk melembutkan pernyataan yang seharusnya diucapkan secara  tegas dan lugas.

Dalam bahasa daun, dipakai daun-daun  yang namanya mirip atau sama dengan lafal  kata yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Jadi pemaknaanya bukan pada sifat-sifat daun atau benda lainnya, seperti porkis, semut, tidak diartikan sebagai rajin dan produktif, tetapi diartikan torkis, sehat wal’afiat. Dedaunan yang  dikirimkan bisa juga disertai gambar atau coretan  yang mengambarkan sesuatu, misalnya gambar sige atau parau.

Penulis mencatat 94 nama dedaunan yang sudah dikenal luas oleh orang Mandailing yang dimaksukkan oleh Vsan Ophuysen lengkap dengan maknanya dalam bahasa Mandailing  dan bahasa Belanda. Daftar itu penulis sunting lagi dengan menyusunnya menurut abjad  agar pembaca lebih mudah mencari nama daun tertentu. Terjemahan bahasa Belanda yang dibuat oleh  Prof. Van Ophuysen, penulis ganti dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia (akan dumuat di bagian 3-red).

Pilihan daun sebagai kosa kata bahasa daun terutama didasarkan pada persamaan atau kemiripan lafal nama daun  dengan kata-kata  dalam kosa kata Mandailing. Sebagian dari daun-daun itu adalah tumbuhan obat yang biasa dipakai oleh datu sebagai pulungan ni ubat, sebagai ramuan obat. Sayang sekali orang Mandailing jaman sekarang ini tidak lagi mengenal semua dedaunan yang disebutkan oleh Van Ophuysen di dalam tulisan itu. (bersambung)    

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Beca kotanopan

    Beca kotanopan

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Menakjubkan…. jarang-jarang pespa dijadikan becak… Hanya di Kotanopan. Ini objek wisata yang sangat menarik

  • Amnesty International Diminta Usut Penembakan Massa 22 Mei

    Amnesty International Diminta Usut Penembakan Massa 22 Mei

    • calendar_month Rabu, 22 Mei 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Onilne) – Dunia internasional diminta melakukan kajan terhadap kasus penembakan terhadap massa demonstrasi aksi 22 Mei 2019 di Jakarta. Hingga siang hari, Rabu (22/5/2019) sekitar 6 orang dari pihak massa unjukrasa 22 Mei meninggal dunia, salahsatunya teridentifikasi akibat tembakan peluru. Sehari sebelumnya, Amnesty International Indonesia telah menyerukan agar pihak berwenang harus memastikan adanya […]

  • Ribuan Rakyat Penambang Tuntut Pemkab Madina Terbitkan Regulasi

    Ribuan Rakyat Penambang Tuntut Pemkab Madina Terbitkan Regulasi

    • calendar_month Kamis, 12 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 5000 orang rakyat penambang melakukan unjukrasa ke DPRD Madina, Kamis (12/12/2019). Mereka menuntut Pemkab Mandailing Natal (Madina) melakukan pembinaan tambang rakyat, bukan membinasakan penambang. Karena ribuan kepala keluarga di Madina telah terbantu oleh rezeki dari tambang emas ditengah kegagalan pemerintah daerah menciptakan lapangan kerja untuk rakyatnya. Pemkab Madina diminta […]

  • Wartawan TV Tertembak Saat Liput Demo BBM

    Wartawan TV Tertembak Saat Liput Demo BBM

    • calendar_month Selasa, 18 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta – Wartawan Trans7 Nugroho Anton terkena serpihan gas air mata saat meliput demo BBM di Jambi, sedangkan seorang fotografer di Ternate terkena peluru karet pada paha kirinya. Ini kata Kapolri Jenderal Timur Pradopo. “Sejauh ini Kapolda belum memberitahu. Itu mungkin dalam arti dinamika di lapangan. Tapi yang jelas itu bukan peluru tajam ya. Tapi […]

  • Tewasnya Jenderal Spoor Diseminarkan

    Tewasnya Jenderal Spoor Diseminarkan

    • calendar_month Minggu, 19 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    SIPIROK- Sejarah telah mencatat tewasnya Jenderal Spoor sangat berkaitan dengan upaya penembakan atau pembunuhan yang dilakukan tentera Belanda terhadap salah seorang pejuang asal Sipirok, Sahala Muda Pakpahan yang merupakan dalang utama dalam menghadang konvoi tentara Belanda di Jembatan Aek Kamibiri Simagomago. “Jenderal Spoor merupakan panglima Belanda di Indonesia. Berdasarkan laporan, wilayah Sumut ketika itu sepenuhnya […]

  • Huzein Nasution Mundur Dari DPRD Madina

    Huzein Nasution Mundur Dari DPRD Madina

    • calendar_month Rabu, 26 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pergantian antar waktu (PAW) terjadi di tubuh DPRD Mandailing Natal (Madina) pada keanggotaan Partai Persatuan Pembangunan, Rabu (25/6/2013). H.Ahmad Huzein Nasution resmi melepaskan status keanggotaan legislatifnya dan menyerahkannya kepada rekan separtainya, Muhammad Irwansyah Lubis SH. Keduanya berasal dari Daerah Pemilihan Madina I. Pelakasanaan PAW sekaligus pelantikan itu melalui rapat paripurna khusus […]

expand_less