Selasa, 21 Apr 2026
light_mode

Menunggu Lemang

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
  • print Cetak

Catatan kecil: Askolani Nasution

 

Selasa, 12 Agustus 1980. Pagi-pagi pancuran sudah ramai. Anak-anak berebut delapan bilah pancuran di sebelah mesjid. Semua membawa bambu untuk memasak lemang. Sudah dipotong-potong setiap ruasnya, lalu diikat dengan tali dari kulit batang pisang. Kami menyebutnya “sarisir”, dan tentu cukup kuat untuk mengikat 6-10 ruas bambu.

Anak-anak riuh. Ada yang baru datang, ada beranjak pulang membawa bambu yang sudah bersih. Beberapa, sama seperti aku, masih sibuk menggosok bilah-bilah bambu dengan serabut kelapa.

Menyambut lebaran selalu antusias. Baju baru sudah dilipat di lemari. Bairpun hanya satu dua stel, sudah dua kali disetrika. Kalau cuma sekali tak afdol rasanya.

Ah, ini hari terakhir puasa. Beberapa anak tidak puasa karena tak sabar menunggu buka puasa untuk makan lemang. Tentu, hanya setahun sekali. Kata ibu, rasa lemang jauh lebih manis saat masih panas.

“Mak, masih lama ya masaknya,” cetusku sambil duduk di atas karung goni, di dekat ‘adaran’, tungku kayu tempat menyandarkan lemang.

“Nanti, sebentar lagi,” kata Emak. “Bambunya saja belum kering.”

Aku merapikan bara api. Tentu agar panasnya merata. Bara api terasa panas di wajah. Sesekali kulap dengan kain basahan yang sengaja dibasahkan.

Emak bernyanyi-nyanyi. Entah lagu apa. Mungkin nyanyian anak-anak di masa mudanya. Atau lagu kenang-kenangannya bersama ayah, almarhum ayah maksudku.

Atau itu lagu abang-abangku waktu mereka kecil dulu. Karena anak paling kecil, jarak usia kami sangat jauh, banyak hal dalam kehidupan masa kecil mereka yang aku tidak tahu.

Beberapa kali aku menelan ludah. Tentu karena membayangkan rasa lemang yang masih panas. Makin ditahan, makin kuat selera.

“Sebentar lagi akan tiba abangmu,” cetus Emak. Emak tampak tak bisa menyembunyikan rasa senangnya akan bertemu anak-anaknya pulang dari rantau. Karena itu, Emak memasak lemang. Untuk anak-anaknya yang pulang lebaran. Padahal, semalam Emak harus menjual minyak kelapa kami yang baru diolah sendiri, agar bisa menebus beberapa kilo beras ketan.

Bagian mencari bambu untuk lemang tentu urusanku sebagai satu-satunya anak laki-laki di rumah, sekalipun usiaku masih SD ketika itu. Karena itu, sore kemarin aku sudah menyandarkan dua batang bambu di dinding rumah.

Saat aku mencari bambu, Emak mencari daun pisang untuk lapis bambu bagian dalam. Malamnya, langsung dipotong Emak. Tentu juga sambil merendam beras ketan. Malam, rendaman itu ditabur dalam tampi agar kering.

Begitu pagi, tentu setelah bambu aku bersihkan, Emak langsung dengan terampil memasukkan lapis daun pisang ke dalam ruas bambu. Daun pisang dipotong, digulung, lalu dijepit dengan pelepah pisang untuk mendorongnya ke dalam ruas. Rapi dan telaten. Lalu Emak tinggal memasukkan beras ketan yang sudah ditiriskan di atas tampi. Berikutnya memasukkan santan kelapa secukupnya. Karena aku tidak puasa, tentu menjadi tugasku mencoba rasa asin santan yang sudah diberi garam.

Emak kembali bernyanyi-nyanyi. Beberapa anak lewat sambil membawa mainan pistol air yang dibuat dari bambu. Aku tak bisa menolak ketika mereka ajak bermain.

“Masih lama masaknya, pergilah,” kata Emak.

Aku berlari ke pancuran. Tentu sambil membawa pistol bambu yang dirakit sendiri. Pancuran menjadi riuh. Menyedot air ke dalam selongsong bambu, lalu kita tekan keras untuk menyemburkannya. Siapa yang paling jauh semburannya itu yang menang. Akhirnya kami semua basah kuyup.

Beduk mesjid berbunyi. Tanda sholat Zuhur sudah masuk. Semua anak-anak berlarian pulang. Lemang yang masih panas sudah menunggu untuk disantap.

Benar saja. Begitu sampai di rumah, Emak langsung mengambil sebatang. Dipenggal dua. Aku memilih bagian ujung, karena rasa asinnya lebih terasa dan lebih lembek. Emak langsung membelahnya.

“Makan di rumah, banyak orang lewat ke mesjid,” kata Emak. Tentu, rumah kami memang hanya berjarak 20 meter dari mesjid.

Kami anak-anak sebaya banyak yang puasanya tidak penuh. Namanya juga masih SD, semua makanan amat menggoda. Apalagi makanan yang hanya dibuat sekali setahun seperti lemang dan Alame.

Selesai makan lemang, aku kembali membuka lemari, memastikan baju baruku masih ada di sana. Baju kemeja warna biru dan celana pendek warna coklat. Kalau sekarang, pasti kutolak, karena dua warna itu tidak akur banget. Tapi zaman itu, setiap baju baru pasti keren. Ada baju baru saja sudah hebat. Banyak anak yang hanya memakai baju lebaran lebaran sebelumnya.

Beberapa kawan datang mengajak membuat mainan obor. Tentu, baru saja kami membuat lampu obor dari bambu pada malam 27 ramadhan kemarin. Kami menyebutnya ‘pasang-pasang palito’.

Seruas bambu ditungkai mendatar dengan dua batang kayu bercabang. Bagian atas ruas bambu dilobangi, 5 -10 lobang berjarak empat jari. Lalu ke dalam lobang itu ditancapkan potongan bambu kecil bersumbu. Dibuat berjejer membentuk kurva V atau U. Lalu diisi minyak tanah. Malamnya, setelah buka puasa, langsung dinyalakan. Begitu semua berjejer di depan setiap rumah.

Kampung yang belum masuk listrik menjadi benderang, bunga api dari bambu bersumbu menari-nari sepanjang kampung karena dihembus angin. Anak-anak tentu riuh. Ada yang menontoni api sambil bercerita, ada yang berkejaran.

Terus, ini malam lebaran kita buat apa? Katanya lampu dari tempurung. Kayu dipatok lima berjejer. Lalu masing-masing diisi dengan tempurung. Disusun rapi bergunduk-gunduk. Malam hari semua dibakar. Lidah apinya hijau kuning, menari-nari ditiup angin.

Sore, Emak mencariku sampai ke tepi kampung. Katanya abang yang dari rantau sudah tiba. Harus segera menangkap ayam di kandang kolong rumah. Biar ada gulai untuk lebaran. Karena pintu kandang kecil, hanya aku yang bisa masuk.

Begitulah kesibukan setiap momen sehari menjelang lebaran. Di sini kami menyebutnya “Sadari Mangalomang.” Atau hari untuk memasak lemang. Tentu saja semua sudah berubah. Setelah kematian Emak, kami juga tak pernah masak lemang lagi.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penggabungan Malaria Center & Dinkes Kebijakan Keliru

    Penggabungan Malaria Center & Dinkes Kebijakan Keliru

    • calendar_month Senin, 4 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pj Bupati Mandailing Natal Ir H Aspan Sofian Batubara MM sebaiknya mengurungkan niatnya untuk menggabungkan Kantor Malaria Centre dengan Dinas Kesehatan (Dinkes). Keberadaan Kantor Malaria Center dinilai masih sangat perlu dipertahankan karena telah berhasil meminimalisir jumlah penderita malaria di Madina. “Rencana penggabungan kantor itu keliru. Semua pihak harus jujur dan jangan karena sentimen pribadi […]

  • Pamekasan Alokasikan Rp 1,5 Miliar untuk Guru Ngaji

    Pamekasan Alokasikan Rp 1,5 Miliar untuk Guru Ngaji

    • calendar_month Kamis, 14 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PAMEKASAN, (MO)-Pemkab Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengalokasi anggaran sebesar Rp1,5 milian untuk memberikan bantuan insentif kepada para guru ngaji yang ada di wilayah itu. Menurut Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Pamekasan Munafi, Kamis, jumlah bantuan untuk guru ngaji ini naik dibanding tahun 2012. Sebab ketika itu, jumlah guru ngaji yang mendapatkan bantuan hanya Rp1 […]

  • Ketika Ibadah Haji Dikapitalisasi, Benarkah Negara Peduli?

    Ketika Ibadah Haji Dikapitalisasi, Benarkah Negara Peduli?

    • calendar_month Jumat, 27 Jan 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I Dosen Pendidikan Islam Masih rencana! Belum final! Kenapa sudah ramai? Segelintir kalimat yang sering muncul jika ada wacana kebijakan yang sedang dipublikasikan. Memang betul masih rencana dan belum final. Tetapi publikasi kebijakan yang diberitakan tidak mungkin diabaikan oleh masyarakat. Terlebih zaman serba maju dan cepat oleh internet hari ini. Jika tidak […]

  • Wabup Atika Lepas Keberangkatan Wisata Religi Jemaah Pengajian

    Wabup Atika Lepas Keberangkatan Wisata Religi Jemaah Pengajian

    • calendar_month Sabtu, 17 Sep 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 35 ibu-ibu dari pengajian Ustad Hendri Nasution Mompang Jae melakukan wisata religi ke Kompleks Makam Papan Tinggi di Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah (Sumut). Keberangkatan jemaah menggunakan mini bus dilepas oleh Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi Nasution dari Masjid Agung Nur Ala Nur, Panyabungan, Desa Parbangunan, Panyabungan, Sabtu […]

  • Pejabat Pemkab Madina Tidak Perlu Ke Jakarta

    Pejabat Pemkab Madina Tidak Perlu Ke Jakarta

    • calendar_month Jumat, 5 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Para pejabat di Pemkab Mandailing Natal (Madina) tidak perlu terlalu sering ke Jakarta untuk setorkan muka kepada Bupati Madina Hidayat Batubara yang saat ini menjadi tahanan KPK di rutan Guntur. “Pejabat Madina harus loyal kepada Madina, bukan loyal kepada individual. Terlalu seringnya pejabat Madina setor muka kepada Bupati Madina maka dikhawatirkan […]

  • Wabup Atika: Efek Sinovac Lebih Ringan

    Wabup Atika: Efek Sinovac Lebih Ringan

    • calendar_month Selasa, 18 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANDUAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution mengatakan banyak masyarakat menginginkan vaksin Sinovac karena efeknya lebih ringan. “Banyak masyarakat menginginkan vaksin Sinovac karena dianggap berdampak ringan pascavaksinasi,” katanya saat mengikuti rapat evaluasi Vaksinasi Anak Usia 6-11 di aula kantor Bupati Madina, Selasa (18/1). Untuk itu, Wakil Bupati peraih dua […]

expand_less