Kamis, 14 Mei 2026
light_mode

Petani Makin Malas Tanam Padi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 8 Jul 2022
  • print Cetak

petani di musim tanam

 

Kepala Biotech Center IPB University, Dwi Andreas Santosa mengatakan, tren penurunan luas areal tanam padi di Indonesia akan terus berlanjut.

Ini disebabkan biaya produksi yang semakin mahal, sementara harga gabah terus turun sehingga membuat bertanam padi tak lagi menarik dan menguntungkan bagi petani.

“Peralihan lahan pertanian ke non pertanian akan semakin pesat. Hingga mencapai kritis, peningkatan produksi nggak lagi dimungkinkan. Sementara, kalau mau bangun food estate, selama seperempat abad ini selalu gagal,” ungkap Dwi Andreas dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (7/7/2022) yang dilansir Media Tani..

Lebih lanjut, Dwi menjelaskan bahwa konversi lahan tersebut sebenarnya sudah mulai terjadi. Ini dapat dilihat dari produksi beras di Indonesia yang terus mengalami tren penurunan.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya, luas panen padi 2021 mengalami penurunan sebesar 2,3% atau 245,47 ha menjadi sekitar 10,41 juta ha dibandingkan pada 2020 yang mencapai 10,66 juta ha.

Akibat turunnya luas panen tersebut, produksi padi pada 2021 turun sebesar 0,43% atau 233,91 ribu ton menjadi 54,42 juta ton gabah kering giling (GKG) dibandingkan pada 2020 yang sebanyak 54,65 juta ton GKG.

Sehingga, membuat produksi beras pada 2021 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 31,36 juta ton. Mengalami penurunan sebanyak 140,73 ribu ton atau 0,45% dibandingkan produksi beras pada 2020 yang sebanyak 31,50 juta ton.

“Sejak tahun 2015 sampai 2021, produksi padi terus turun, mencapai 0,35% per tahun. Tahun 2017, produksi turun tajam sampai 7,7% di tahun 2019. Bahkan saat La Nina, produksi tahun 2020 hanya naik 0,09% dan turun 0,42% di tahun 2021,” kata Dwi.

Dwi menjelasakan, hal itu dipicu oleh 2 faktor. Pertama, rumah tangga yang beralih ke sumber mata pencaharian lain dikarenakan bertani dianggap tak lagi memberikan keuntungan.

“Lahannya dijual, lalu terjadi konversi jadi lahan nonpertanian. Kedua, petani ya sudah menyerah, pasrah hidup sekadarnya saja mereka itu. Menanam padi cuma buat mengamankan stok konsumsi mereka saja,” terang Dwi.

Disamping itu, petani saat ini juga sudah semakin malas untuk menanam padi. Pasalnya, petani harus menanggung biaya yang besar dan semakin mahal untuk bertanam padi, salah satunya untuk biaya pupuk.

Memang, kata Dwi, pemerintah telah memberikan pupuk bersubsidi, tapi hanya mampu untu memenuhi kebutuhan sekitar 50% dari total konsumsi pupuk petani. Sehingga, petani pun harus membeli lagi pupuk yang nonsubsidi.

“Harga pupuk subsidi memang nggak naik, tapi nonsubsidi naik sangat tinggi. Nggak kuat juga beli, dan ini merembet ke produksi jadinya,” papar Dwi Andreas.

Dwi menjelaskan, pada tahun 2019 jaringan tani Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) melakukan survei yang menunjukkan, untuk memproduksi 1 kg gabah kering panen (GKP) dibutuhkan biaya Rp4.523. Sementara, saat ini petani itu selalu merugi Rp250 ribuan setiap musim tanam

Pengamat pertanian, Khudori mengatakan hal yang senada. Menurutnya, ongkos usaha tani terus mengalami kenaikan selama dua tahun terahkir. Sementara harga jual gabah/beras stagnan, bahkan mengalami penurunan.

“Tak banyak yang menyadari, sejak April 2020 sampai sekarang, harga GKP di level petani dan GKG di penggilingan yang jatuh di bawah HPP berlangsung terus menerus. Ini belum pernah terjadi dalam sejarah perberasan,” kata Khudori dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (7/7/2022).

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan Kementerian ATR/BPN, terkait Peraturan Menteri ATR/BPN No. 1/2021 tentang Sertifikat Elektronik.

Sebab, melalui sertifikasi elektronik akan memudahkan intergasi data, verifikasi lahan dalam menjaga ketahanan pangan nasional, dan dapat mengendalikan konversi lahan non-sawah.

“Kita butuh kejelasan lokasi dan lahan untuk dikonsepsikan, nggak bisa biarkan begitu saja atau respons sesaat,” kata Syahrul saat rapat kerja pemerintah dengan BAKN DPR bersama Menteri ATR/BPN dan Menteri LHK, Senin (4/7/2022).

Syahrul mengatakan, perlu adanya instrumen hukum yang mengatur pemerintah kabupaten/kota untuk mengintegrasikan penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) dalam peraturan daeah (Perda) yang mengatur tentang rencana tata ruang dan/atau rencana zonasi.

Sebelumnya, pada 2019, Kementerian ATR/BPN menetapkan luas lahan baku sawah nasional 2019 berdasarkan Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No. 686/SK-PG.03.03/XII/2019 tentang Penetapan Luas Lahan Baku Sawah Nasional Tahun 2019 sebesar 7.463.948 ha.

Padahal, dalam catatan Kementerian Pertanian (Kementan) yang dikutip dari BPS tahun 2013 menunjukkan, luas lahan baku nasional tercatat mencapai 7,75 juta ha.

Sumber : Media Tani

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Data Identitas Napi Ikut Terbakar, Perburuan Sulit

    Data Identitas Napi Ikut Terbakar, Perburuan Sulit

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, – Pihak Polda Sumut merilis data perkembangan perburuan napi yang kabur dari Lapas Tanjunggusta, Medan. Kabid Humas Polda Sumut, Kombes.Pol. R. Heru Prakoso menjelaskan, dari 2.599 orang napi yang ada di LP tersebut, yang melarikan diri adalah sebanyak 212 orang. Kemudian yang meninggal akibat terbakarnya LP tersebut adalah 5 orang.”Dua orang dari pegawai lapas, […]

  • Harga Cabe Merah di Panyabungan Masih Bertahan

    Harga Cabe Merah di Panyabungan Masih Bertahan

    • calendar_month Senin, 15 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga cabe merah relatif bertahan di kisaran 45.000 hingga 46.000 rupiah per kilo gram setelah terjadi kenaikan sepekan lalu. Midah Nasution (42) pedagang di pasar pagi Gunung Tua, Panyabungan, Mandailing Natal menjawab wartawan, Minggu (14/7/2013) mangatakan harga cabe merah 46.000 rupiah per kilo gram. Menurutnya, harga di daerah ini masih lumayan […]

  • Ibu-ibu Tantang Bupati

    Ibu-ibu Tantang Bupati

    • calendar_month Minggu, 31 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jika Pasar Pabukoan Dipindahkan Ratusan pedagang pabukoan yang sebagian besar terdiri dari kaum ibu, menyerbu Kantor Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemadam Kebakaran, Paluta, Jumat (29/7) pagi. Dalam aksi ini, mereka bersorak-sorak dan bernyanyi lagu batak. Aksi protes pedagang ini dipicu pemindahan lokasi lapak pabokuan dari pelataran depan pusat pasar Gunung Tua ke Lapangan Merdeka Gunung […]

  • Banjir Setengah Badan Truk

    Banjir Setengah Badan Truk

    • calendar_month Sabtu, 18 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Satu truk melintasi banjir di Desa Balimbing, Kecamatan Natal, Mandailing Natal, Sabtu (18/12/2021). Sekitar 200 rumah terbenam di desa ini menyusul luapan Sungai Batang Natal akibat curah hujan yang kontiniu dalam beberapa hari terakhir. Foto: Muhammad Yusuf

  • Bersama Bupati Madina, DEMA STAIN Bahas Peran Mahasiswa dalam Lingkungan, Pendidikan dan Pertanian

    Bersama Bupati Madina, DEMA STAIN Bahas Peran Mahasiswa dalam Lingkungan, Pendidikan dan Pertanian

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal melaksanakan audiensi resmi dengan Bupati Mandailing Natal, H. Saipullah Nasution, bertempat di ruang kerja Bupati. Audiensi ini bertujuan untuk menyampaikan pandangan dan aspirasi mahasiswa terhadap sejumlah isu strategis di Mandailing Natal, mencakup lingkungan, pendidikan, serta sektor pertanian. Ketua DEMA […]

  • Apa Kabar Dana Desa, Sudahkah Tumbuh Ekonomi Desa?

    Apa Kabar Dana Desa, Sudahkah Tumbuh Ekonomi Desa?

    • calendar_month Senin, 10 Des 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ketika pemerintah Indonesia mengucurkan Dana Desa, salah satu poin penting yang dikampanyekan pemerintah adalah : Dana Desa harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi desa adalah bergeraknya roda perekonomian warga desa. Pergerakan perekonomian warga ini akan mendorong kian kencangnya perputaran uang di desa itu akibat usaha-usaha yang dikelola warga semakin tumbuh. […]

expand_less