Kamis, 23 Jul 2026
light_mode

Seputar 2 Ditikam 1 Tertembak saat Kibotan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 15 Sep 2011
  • print Cetak

Sepakat Damai
Aksi solidaritas warga Gunung Baringin, Kecamatan Panyabungan Timur, Madina, patut ditiru. Betapa tidak, sekitar 350 keluarga di sana rela merogoh kocek untuk membayar biaya rumah sakit korban penikaman dan penembakan saat kibotan, beberapa malam lalu. Di sisi lain, warga di dua desa tersebut belum mencapai kata sepakat untuk perdamaian.
Menurut Tokoh Pemuda Desa Gunung Baringin, Abdul Kholiq, aksi solidaritas itu dilakukan karena masyarakat prihatin dengan apa yang dialami ketiga warganya. Untuk itu, masyarakat rela membayar Rp50 ribu setiap rumah tangga untuk membiayai korban.
“Kamis sore (8/9), seluruh masyarakat telah melakukan musyawarah mengenai kejadian malam itu. Hasilnya, masyarakat akan menanggung biaya perobatan dan perawatan ketiga warga yang menjadi korban. Setiap keluarga membayar Rp50 ribu. Pembayaran boleh dicicil dua kali,” sebut Kholiq.
Kholid menambahkan, warga juga telah melakukan musyawarah antara tokoh masyarakat Desa Gunung Baringin dengan tokoh masyarakat Huta Tua, Jumat (9/9). Mereka sepakat mengungkap dan menangkap pelaku penusukan dan penembakan, sekilgus memberikan informasi mengenai ketiga orang korban. Namun, bagaimana tindak lanjutnya belum ada kata sepakat.
“Tokoh masyarakat Huta Tua telah datang ke desa kami untuk bermusyawarah mengenai kejadian itu. Namun, belum ada kesepakatan mengenai perdamaian tetapi dalam musyawarah yang dihadiri muspika kecamatan Timut. Mereka mengaku siap untuk membantu tugas polisi dalam mengungkap siapa pelakunya,” tambah Kholiq.
Sejumlah warga Desa Gunung Baringin kepada METRO mengaku, masih khawatir dan takut serta masih trauma atas kejadian yang dialami 3 warganya. Warga berharap polisi agar bekerja maksimal untuk menuntaskan kasus ini. “Kami minta pelaku penikaman dan penembakan segera ditangkap. Kami masih takut dan resah karena ada kemungkinan serangan susulan,” ujar Kasman.
Ketakutan warga, ungkap Kasman, berawal dari teriakan dari warga desa Huta Tua pada saat kejadian Rabu malam lalu yang mengatakan mereka akan melakukan serangan terhadap Desa Gunung Baringin.
“Malam itu kami sempat diancam dengan kalimat mereka akan menyerang dan membunuh kami. Ketakutan kami bertambah karena warga Huta Tua kami ketahui memiliki senjata api,” sebutnya.
Hingga saat ini, belum ada yang berangkat ke ladang dan sawah masing-masing. Alasannya, mereka takut warga Huta Tua menyebar dan sembunyi di hutan. Di mana letak geografis Desa Gunung Baringin itu dihimpit dua hutan dari arah selatan dan utara.
“Tadi dalam rapat warga mengaku takut untuk keluar dari desa. Sebab, dikhawatirkan warga Huta Tua termasuk para pelaku sembunyi di hutan dan bisa saja mereka menambahi korban, dan warga saat ini memilih untuk tetap ngumpul di desa,” tambahnya.
Di tempat terpisah Nur Asyuroh yakni istri dari Denin Lubis salah seorang korban penikaman mengatakan, keluarganya berharap agar pelaku penikaman suaminya itu segera ditangkap dan dihukum seberat mungkin.
Karena, malam itu suaminya berangkat dari rumah untuk menonton hiburan rakyat dan tiba-tiba ada keributan yang berujung suaminya Denin Lubis terkena benda tajam di bagian pinggangnya.
“Hiburan kibot itu sudah biasa di desa kami setiap tahun, dan suami saya saat itu berangkat seperti warga lainnya untuk menonton. Pengakuan suami saya dia hanya menonton di bawah panggung tiba-tiba terjadi perkelahian dan kerumunan orang akhirnya suami saya menjadi salah satu korban penusukan,” tandasnya.
Korban Masih Dirawat
Muhammad Maksum Nasution (30), korban penembakan di Desa Gunung Baringin, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal, Kamis (8/9) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari lalu, masih dirawat di Rumah Sakit Mata, Kota Psp.
Dokter yang menangani korban, dr Tambar Bangun, kepada METRO, Jumat (9/9) mengatakan, usai dioperasi kondisi korban mulai membaik.
Ditegaskannya, akibat penembakan tersebut, mata sebelah kiri korban pecah dan tidak berfungsi lagi, makanya dilakukan operasi. Dari hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan, korban hanya mengalami kerusakan pada mata kiri dan tidak ada ditemukan gangguan kesehatan lainnya.
“Operasi berjalan lancar, mata kiri korban sudah tidak bisa digunakan lagi alias pecah karena terkena tembakan, makanya kita operasi,” jelasnya.
Dikatakannya korban direncanakan akan pulang ke kampungnya, Sabtu (10/9) dan akan menjalani pengobatan rawat jalan, karena kondisinya sudah memungkinkan. “Kondisinya sudah membaik. Kondisinya sudah mulai membaik. Korban masih dirawat, rencananya, besok (hari ini) akan pulang ke kampungnya. Selanjutnya, menjalani rawat jalan,” ucapnya.  (phn/wan)

Polisi Kantongi Nama Pelaku
Polres Madina telah mengantongi sejumlah nama-nama yang diduga sebagai pelaku penikaman terhadap dua warga Gunung Baringin dan penembakan seorang warga lainnya. Ini sesuai hasil pengembangan dan penyelidikan serta pemeriksaan saksi-saksi.
Namun, kepolisian belum bisa mengungkap nama-nama tersebut ke publik. Sebab, pihak Polres Madina masih melakukan pencarian. Menurut informasi, sebagian besar warga Desa Huta Tua saat ini tidak berada di desa tersebut.
“Kita telah mengantongi nama-nama pelaku. Jumlah pelaku akan diketahui setelah ada pemeriksaan terhadap yang diduga pelaku tersebut. Artinya, saat ini kita masih terus di lapangan,” ujar Kapolres Madina AKBP Ahmad Fauzi Dalimunthe, Jumat (9/9).
Dilanjutkan AKBP Fauzi, hingga hari ini (kemarin), pihaknya belum mengamankan barang bukti yang digunakan untuk menikam dan menembak korban. Karena, pelaku setelah membawa benda yang digunakan tersebut. ”Barang bukti belum ada kita amankan karena pelakunya langsung membawa lari. Tetapi, saya optimis kasus ini akan bisa diselesaikan dalam waktu dekat,” tambahnya.
Sementara itu, 25 personel Polres Madina ditambah aparat Polsek Panyabungan tetap siaga di Desa Gunung Baringin dengan sebagian menggunakan senjata lengkap. Hal ini dilakukan atas kondisi masyarakat yang masih takut akan kemungkinan adanya serangan dari warga Desa Huta Tua.
Kapolres meyakinkan, pihaknya akan memberikan perlindungan maksimal terhadap masyarakat. “Saya sudah perintahkan anggota untuk terus berjaga di Gunung Baringin hingga waktu yang belum ditentukan, tergantung situasi di lapangan,” pungkasnya. (wan)

Sumber : metrosiantar

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • DALIHAN NA TOLU

    DALIHAN NA TOLU

    • calendar_month Selasa, 1 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Askolani Nasution Budayawan Mandailing Hubungan kekerabatan antar individu dalam masyarakat Mandailing tercermin dalam konsep Dalihan Na Tolu. Segala aktivitas sosial budaya indovidu tidak dapat dipisahkan dari ikatan kekerabatan ini. Konsep ini diyakini asli kreasi nenek moyang Mandailing karena tidak ditemukan padanannya dalam budaya manapun. Mereka meyakini bahwa konsep Dalihan na Tolu dapat membentuk […]

  • Disdik Tunggu Juknis & Juklak

    Disdik Tunggu Juknis & Juklak

    • calendar_month Selasa, 19 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Soal UN Bukan Penentu Kelulusan MADINA; Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) masih menunggu petunjuk dari Disdik Provinsi Sumatera Utara atas rencana Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang menyatakan bahwa nilai Ujian Nasional (UN) bukan satu-satunnya penentu kelulusan siswa peserta UN. “Kalau terkait rencana BSNP itu, kami belum tahu secara akurat dan masih sebatas […]

  • IPM Madina Tumbuh 1,28 Persen

    IPM Madina Tumbuh 1,28 Persen

    • calendar_month Kamis, 12 Jan 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut mengalami peningkatan tahun 2022. Angkanya berada di 68,05. Meningkat 0,86 poin. Posisi itu menunjukkan grafik pertumbuhan IPM Madina sebesar 1,28 persen dibanding tahun 2021. Peningkatan terjadi pada semua komponen, baik derajat kesehatan, kualitas pendidikan, dan pengeluaran per kapita yang disesuaikan. “Komponen IPM […]

  • Mengembalikan Perisai Umat

    Mengembalikan Perisai Umat

    • calendar_month Jumat, 1 Jul 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ibadah puasa diwajibkan kepada kita agar kita semua menjadi kaum yang bertakwa. Puasa akan mendorong seorang Muslim taat. Sebaliknya, puasa bisa mencegah seorang Muslim bermaksiat. Dengan semua itu puasa akan menjadi perisai kokoh bagi seorang Muslim. Nabi saw. brsabda: «الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ …» Shaum adalah perisai dari neraka (HR an-Nasai, at-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah). Junnah artinya […]

  • Mayoritas kader Golkar ‘main’ di Pileg 2014

    Mayoritas kader Golkar ‘main’ di Pileg 2014

    • calendar_month Rabu, 10 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Partai Golkar belum dapat memastikan jadwal penyerahan Daftar Caleg Sementara (DCS) ke KPU. Sekira 90 persen politikus Partai Golkar yang kini duduk di parlemen siap kembali bertarung pada Pileg 2014. “Sekitar 90 persen tetap dengan Dapil (daerah pemilihan) yang lama. Kurang dari lima yang tidak maju, saya lupa nama-namanya. Edwin Kawilarang dari […]

  • Pendidikan Harus Tanamkan Budaya Anti Korupsi

    Pendidikan Harus Tanamkan Budaya Anti Korupsi

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    YOKYAKARTA :Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Chandra Hamzah mengatakan dunia pendidikan harus berperan tanamkan budaya anti korupsi. “Efektivitas penegakan hukum tidak hanya ditentukan oleh aparatnya, tetapi juga ditentukan oleh produk hukum dan budaya masyarakat untuk mematuhi hukum. Dunia pendidikan berperan untuk mengajarkan budaya patuh hukum,” katanya saat menjadi pembicara seminar nasional `Peran Korupsi terhadap Dehumanisasi Pendidikan […]

expand_less