Selasa, 14 Jul 2026
light_mode

Seputar 2 Ditikam 1 Tertembak saat Kibotan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 15 Sep 2011
  • print Cetak

Sepakat Damai
Aksi solidaritas warga Gunung Baringin, Kecamatan Panyabungan Timur, Madina, patut ditiru. Betapa tidak, sekitar 350 keluarga di sana rela merogoh kocek untuk membayar biaya rumah sakit korban penikaman dan penembakan saat kibotan, beberapa malam lalu. Di sisi lain, warga di dua desa tersebut belum mencapai kata sepakat untuk perdamaian.
Menurut Tokoh Pemuda Desa Gunung Baringin, Abdul Kholiq, aksi solidaritas itu dilakukan karena masyarakat prihatin dengan apa yang dialami ketiga warganya. Untuk itu, masyarakat rela membayar Rp50 ribu setiap rumah tangga untuk membiayai korban.
“Kamis sore (8/9), seluruh masyarakat telah melakukan musyawarah mengenai kejadian malam itu. Hasilnya, masyarakat akan menanggung biaya perobatan dan perawatan ketiga warga yang menjadi korban. Setiap keluarga membayar Rp50 ribu. Pembayaran boleh dicicil dua kali,” sebut Kholiq.
Kholid menambahkan, warga juga telah melakukan musyawarah antara tokoh masyarakat Desa Gunung Baringin dengan tokoh masyarakat Huta Tua, Jumat (9/9). Mereka sepakat mengungkap dan menangkap pelaku penusukan dan penembakan, sekilgus memberikan informasi mengenai ketiga orang korban. Namun, bagaimana tindak lanjutnya belum ada kata sepakat.
“Tokoh masyarakat Huta Tua telah datang ke desa kami untuk bermusyawarah mengenai kejadian itu. Namun, belum ada kesepakatan mengenai perdamaian tetapi dalam musyawarah yang dihadiri muspika kecamatan Timut. Mereka mengaku siap untuk membantu tugas polisi dalam mengungkap siapa pelakunya,” tambah Kholiq.
Sejumlah warga Desa Gunung Baringin kepada METRO mengaku, masih khawatir dan takut serta masih trauma atas kejadian yang dialami 3 warganya. Warga berharap polisi agar bekerja maksimal untuk menuntaskan kasus ini. “Kami minta pelaku penikaman dan penembakan segera ditangkap. Kami masih takut dan resah karena ada kemungkinan serangan susulan,” ujar Kasman.
Ketakutan warga, ungkap Kasman, berawal dari teriakan dari warga desa Huta Tua pada saat kejadian Rabu malam lalu yang mengatakan mereka akan melakukan serangan terhadap Desa Gunung Baringin.
“Malam itu kami sempat diancam dengan kalimat mereka akan menyerang dan membunuh kami. Ketakutan kami bertambah karena warga Huta Tua kami ketahui memiliki senjata api,” sebutnya.
Hingga saat ini, belum ada yang berangkat ke ladang dan sawah masing-masing. Alasannya, mereka takut warga Huta Tua menyebar dan sembunyi di hutan. Di mana letak geografis Desa Gunung Baringin itu dihimpit dua hutan dari arah selatan dan utara.
“Tadi dalam rapat warga mengaku takut untuk keluar dari desa. Sebab, dikhawatirkan warga Huta Tua termasuk para pelaku sembunyi di hutan dan bisa saja mereka menambahi korban, dan warga saat ini memilih untuk tetap ngumpul di desa,” tambahnya.
Di tempat terpisah Nur Asyuroh yakni istri dari Denin Lubis salah seorang korban penikaman mengatakan, keluarganya berharap agar pelaku penikaman suaminya itu segera ditangkap dan dihukum seberat mungkin.
Karena, malam itu suaminya berangkat dari rumah untuk menonton hiburan rakyat dan tiba-tiba ada keributan yang berujung suaminya Denin Lubis terkena benda tajam di bagian pinggangnya.
“Hiburan kibot itu sudah biasa di desa kami setiap tahun, dan suami saya saat itu berangkat seperti warga lainnya untuk menonton. Pengakuan suami saya dia hanya menonton di bawah panggung tiba-tiba terjadi perkelahian dan kerumunan orang akhirnya suami saya menjadi salah satu korban penusukan,” tandasnya.
Korban Masih Dirawat
Muhammad Maksum Nasution (30), korban penembakan di Desa Gunung Baringin, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal, Kamis (8/9) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari lalu, masih dirawat di Rumah Sakit Mata, Kota Psp.
Dokter yang menangani korban, dr Tambar Bangun, kepada METRO, Jumat (9/9) mengatakan, usai dioperasi kondisi korban mulai membaik.
Ditegaskannya, akibat penembakan tersebut, mata sebelah kiri korban pecah dan tidak berfungsi lagi, makanya dilakukan operasi. Dari hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan, korban hanya mengalami kerusakan pada mata kiri dan tidak ada ditemukan gangguan kesehatan lainnya.
“Operasi berjalan lancar, mata kiri korban sudah tidak bisa digunakan lagi alias pecah karena terkena tembakan, makanya kita operasi,” jelasnya.
Dikatakannya korban direncanakan akan pulang ke kampungnya, Sabtu (10/9) dan akan menjalani pengobatan rawat jalan, karena kondisinya sudah memungkinkan. “Kondisinya sudah membaik. Kondisinya sudah mulai membaik. Korban masih dirawat, rencananya, besok (hari ini) akan pulang ke kampungnya. Selanjutnya, menjalani rawat jalan,” ucapnya.  (phn/wan)

Polisi Kantongi Nama Pelaku
Polres Madina telah mengantongi sejumlah nama-nama yang diduga sebagai pelaku penikaman terhadap dua warga Gunung Baringin dan penembakan seorang warga lainnya. Ini sesuai hasil pengembangan dan penyelidikan serta pemeriksaan saksi-saksi.
Namun, kepolisian belum bisa mengungkap nama-nama tersebut ke publik. Sebab, pihak Polres Madina masih melakukan pencarian. Menurut informasi, sebagian besar warga Desa Huta Tua saat ini tidak berada di desa tersebut.
“Kita telah mengantongi nama-nama pelaku. Jumlah pelaku akan diketahui setelah ada pemeriksaan terhadap yang diduga pelaku tersebut. Artinya, saat ini kita masih terus di lapangan,” ujar Kapolres Madina AKBP Ahmad Fauzi Dalimunthe, Jumat (9/9).
Dilanjutkan AKBP Fauzi, hingga hari ini (kemarin), pihaknya belum mengamankan barang bukti yang digunakan untuk menikam dan menembak korban. Karena, pelaku setelah membawa benda yang digunakan tersebut. ”Barang bukti belum ada kita amankan karena pelakunya langsung membawa lari. Tetapi, saya optimis kasus ini akan bisa diselesaikan dalam waktu dekat,” tambahnya.
Sementara itu, 25 personel Polres Madina ditambah aparat Polsek Panyabungan tetap siaga di Desa Gunung Baringin dengan sebagian menggunakan senjata lengkap. Hal ini dilakukan atas kondisi masyarakat yang masih takut akan kemungkinan adanya serangan dari warga Desa Huta Tua.
Kapolres meyakinkan, pihaknya akan memberikan perlindungan maksimal terhadap masyarakat. “Saya sudah perintahkan anggota untuk terus berjaga di Gunung Baringin hingga waktu yang belum ditentukan, tergantung situasi di lapangan,” pungkasnya. (wan)

Sumber : metrosiantar

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pilkada “Restoratif”: Raih “Emas”, Buang Cemas! (Bagian 2-selesai)

    Pilkada “Restoratif”: Raih “Emas”, Buang Cemas! (Bagian 2-selesai)

    • calendar_month Senin, 5 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: M Ludfan Nasution Era Otda Keadaan pada awal Era Otda (Otonomi Daerah) pun nampaknya tak jauh berbeda. Para keturunan raja yang menyebut diri sebagai “anak ni raja, anak ni namora” muncul dan mendapat peran kunci. Klaim wilayah untuk memekarkan kawasan Mandailing, Tanah Ulu (Muarasipongi) dan pesisir Natal pun menuntut pengakuan dan penguatan dari tokoh-tokoh […]

  • Massa DPD IMM Minta Polisi Tangkap Dalang Penculikan

    Massa DPD IMM Minta Polisi Tangkap Dalang Penculikan

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Selain mendesak Kapolda Sumut, Irjend Pol Eko Hadi Sutedjo untuk menangkap Plt Bupati Tapteng Syukran Jamilan Tanjung, massa dari Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumatera Utara (DPD IMM Sumut) juga meminta polisi untuk menangkap dalang penculikan dua anggota IMM. Hal itu disampaikan massa ketika menggelar aksi di depan Mapolda Sumut. "Kami mendesak […]

  • H. Aswin, Sosok Berjasa Melobi APBN Untuk Pembangunan Madina

    H. Aswin, Sosok Berjasa Melobi APBN Untuk Pembangunan Madina

    • calendar_month Jumat, 4 Jan 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara Percepatan pembangunan Mandailing Natal mulai dikejar Pemkab Madina sejak 3 tahun terakhir. Pendanaan didukung oleh APBN, sebab untuk melakukan percepatan tak lah tercapai jika hanya mengandalkan APBD Madina dan APBD Sumut saja. Beberapa sektor percepatan itu meliputi infrastruktur dan perhubungan yang bertujuan bagi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor lainya antara lain […]

  • DLH Madina Sosialisasi Dampak Pencemaran Lingkungan dan Kebersihan Sungai Aek Mata

    DLH Madina Sosialisasi Dampak Pencemaran Lingkungan dan Kebersihan Sungai Aek Mata

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA : Mandailing Online : Kebersihan sungai pada prinsipnya bukan hanya tanggung jawab Pemerintah, akan tetapi seluruh elemen masyarakat mempunyai komitmen terkait hal kebersihan dan menjaga alam di Madina. Hal ini dikatakan Khairul selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal ( Pemkab Madina) saat sosialisasi dengan tema pemulihan kebersihan pencemaran dan kerusakan lingkungan […]

  • Buruh Sumut memprihatinkan

    Buruh Sumut memprihatinkan

    • calendar_month Sabtu, 30 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kesejahteraan para pekerja saat ini masih tergolong minim. Padahal, pengentasan kemiskinan yang dicanangkan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Syamsul Arifin, hanya wacana semata. Sehingga rakyat sangat kecewa dengan kebijakan itu. Kelompok Pelita Sejahtera (KPS), Sahat Lumbanraja, mengungkapkan kondisi pekerja, karyawan, dan buruh di Sumut, juga tergolong memprihatinkan. Padahal, ekspansi perkebunan kelapa sawit di Sumut […]

  • Terpisah Ratusan Tahun, Akhirnya Keluarga Ini Bertemu di Mandailing

    Terpisah Ratusan Tahun, Akhirnya Keluarga Ini Bertemu di Mandailing

    • calendar_month Selasa, 20 Des 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JEJAK KASIH 100 TAHUN (1) Catatan : RAMLI BIN ABDUL KARIM HASIBUAN – Kuala Lumpur, Malaysia   DATUK Habibah Zon Lubis, Datuk Mohd. Shuhaili Mohd. Taufek Nasution, Nurmah Mahiram Batubara dan Mastiara Abu Nawar Hasibuan selama ini tidak pernah meletak harapan tinggi dapat berjumpa sanak saudara di Sumatera Utara, Indonesia. Apa tidaknya. Keempat-empat mereka […]

expand_less