Selasa, 6 Okt 2026
light_mode

SOSOK LUDFAN NASUTION (Kilasan Pasca Rekomendasi PKB)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 18 Jun 2017
  • print Cetak

Ludfan Nasution, S.Sos

 

Catatan : ASKOLANI NASUTION
Budayawan

 

Saya mengenalnya tahun 2009 di radio Start 102.6 FM Panyabungan ketika masih di Lintas Timur, beliau penyiar di radio itu dan saya sering ke sana untuk sekedar minum kopi. Lalu dengan Pak Khoiruddin Faslah Siregar dan Romi Hidayat, kami juga sama-sama menulis buku biografi Amru Daulay. Saya bagian teks narasi biografinya, dan beliau bagian ulasan politisnya.

Kebetulan kami punya latar belakang pekerjaan di media, beliau di salah satu majalah ibu kota, dan saya di sebuah surat kabar kampus. Juga sama-sama penggemar seni. Bedanya, beliau di bidang apresiasi dan kritik seni, saya bagian pekerjanya. Juga sama-sama berlatar komunikasi massa, beliau memang jurusan komunikasi massa, saya bagian desain komunikasi massa. Nyambungnya saya kira di situ.
Lalu ketemu lagi di tempat kerja. Beliau staf ahli Fraksi PKB Madina, saya Kabag Humas, lalu Kabag Persidangan DPRD. Jadi kalau ada paripurna, pasti ketemu. Bahasa Pandangan Fraksi yang beliau buat saya pahami betul. Dari bahasanya langsung saya klaim, itu bahasa Ludfan Nasution. Jadi di tempat kerja kami sering mengulas berbagai konsep politis idealis, mulai dari ideologi partai, sistem kader, perubahan dimensi politis dulu dan kini, teori tata negara, teori pemberdayaan, dan seterusnya.

Kadang-kadang juga kajian politik Islam. Masalah Piagam Madinah masa Rasul, konsep berpikir Nurcholis Majid, pemikiran Ridwan Saidi, Deliar Noer, dan sebagainya. Sekalipun basis khilafiah kami berbeda, tetapi selalu sama dalam hal konsep sosiologi Islam. Selalu menjadi teman diskusi yang menarik.
Ketika masa-masa “Rindang Magnitute” saya juga selalu diundang untuk menjadi panelis dari sisi kebudayaan. Alasannya, jangan semua panelis orang politisi, harus ada juga orang kebudayaan. Saya setuju karena memang politik juga bagian dari kebudayaan, bagian dari desain sosial yang dikemas.
Lalu beberapa kali juga bertemu saat pembentukan “Gerep Institute”. Membahas berbagai persoalan dimensi pembangunan dan efek sosialnya bagi kelompok masyarakat terpinggirkan. Mulai dari persoalan, ekonomi makro, tata ruang dan lingkungan hidup, peran sosial kelas menengah, dan seterusnya. Saya ajak beliau ke rodang, satu kawasan ekonomi kerakyatan berbasis komunitas rawa. Ibu-ibu menggendong anak menyeberangi sungai Batang Angkola, perahu nelayan yang hilir mudik, kebersahajaan rakyat, dan seterusnya.

Saya bilang bahwa ini lebih dari sekedar objek wisata yang potensial, tetapi juga kajian dimensi ekonomi marginal yang kasuistis. Dan beliau kaget, di Mandailing Natal ternyata ada kehidupan yang begitu rupa tapi tidak pernah terekspos media, dan tidak pernah dilirik studi-studi sosiologi. Padahal kawasan ini menyangkut ribuan orang dan beberapa desa yang potensial dalam desain sosial politis.
Lalu merembet ke kajian jurnalistik. Tentu karena beliau Wakil Pemimpin Redaksi di Malintang Pos. Tentang konsep media secara umum, susahnya membangun media di tengah pembaca yang tidak tertarik dengan koran, efek media berbasis online, pergeseran profesionalisme wartawan, idealisme jurnalis, dan seterusnya. Tentu tentang berbagai teori tentang pers sesuai dengan jurusannya sebagai sarjana komunikasi, dan sesuai pandangan saya sebagai mantan dosen mata kuliah jurnalistik.

Saya bilang bahwa beliau lebih cocok sebagai penulis kolom, bukan wartawan. Tapi kolomnya juga untuk kelas menengah ke atas, karena bahasanya memang selalu menggunakan kalimat majemuk dengan banyak pola, plus bahasa intelektual. Mungkin karena beliau banyak membaca kolom Emha Ainun Najib.
Tapi paling menarik kalau topiknya masalah seni. Beliau misalnya, menginginkan drama yang murni teater. Saya bilang bahwa untuk penonton awam teater relatf belum berterima. Karena kadar seninya terlalu tinggi. Katanya, mengapa kami menggunakan dubbing, karena efek sastranya rendah. Saya bilang, di Mandailing Natal di mana saya dapat pentas drama yang menyediakan sistem audio yang kompatibel tanpa dubing. Teater di sini masih barang langka. Pada akhirnya seni juga harus tunduk kepada kondisi situasional.
Tapi kami sama-sama merindukan Mandiling Natal yang punya Gedung Kebudayaan, ada panggung teater, ada anak-anak yang setiap minggu mementaskan teater, ada lomba-lomba seni tradisi, ada dukungan finansial sebagaimana daerah lain, dan seterusnya. Saya bilang bahwa itu hanya terjadi kalau beliau sudah menjadi anggota DPRD, karena hanya efektif kalau ada dorongan dari ruang dewan. Dan harus dimulai dari membangun antusiasme. Tentu karena kami bercermin dari gedung-gedung kesenian di kota lain yang rutin mementaskan berbagai karya seni.
Karena itu, begitu kemarin saya tahu bahwa PKB telah memberikan rekomendasi kepada beliau untuk ditetapkan sebagai anggota DPRD dari PKB, saya segera ingat semua konsep-konsep itu. Tapi tentu, sebagaimana kata orang pesisir, “inda ka salasai dunia ko dek awak surang,” angan-angan yang banyak itu segera saya pendam.

Seorang Ludfan memerlukan tambahan mukjizat untuk mengubah banyak hal di tengah kondisi sosial politis yang tidak melihat ruang kebudayaan sebagai ruang yang efektif untuk mengubah tatanan sosial. Cina berubah karena “Revolusi Kebudayaan” dari Deng, dan di Amerika Serikat pelajaran Seni Sastra menentukan kelulusan. Tapi di sini, apa yang lebih berharga dari sebuah sejarah!

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • MA : Hutan Lundung Tak Boleh Lagi Dijadikan Kebun Sawit

    MA : Hutan Lundung Tak Boleh Lagi Dijadikan Kebun Sawit

    • calendar_month Kamis, 2 Jan 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        JAKARTA – Mahkamah Agung (MA) memerintahkan pemerintah mencabut aturan yang membolehkan hutan lindung diubah menjadi perkebunan. Itu putusan MA yang mengabulkan permohonan judicial review yang diajukan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 104 Tahun 2015. Putusan MA sebagaimana dikutip dari website MA, Selasa (31/12/2019). PP yang dimaksud adalah […]

  • Bupati Madina: Manfaatkan Lahan Tidur untuk Menambah Penghasilan Keluarga

    Bupati Madina: Manfaatkan Lahan Tidur untuk Menambah Penghasilan Keluarga

    • calendar_month Rabu, 19 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PIDOLI DOLOK (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Ja’far Sukhairi Nasution mengimbau masyarakat agar memanfaatkan lahan tidur untuk menambah penghasilan keluarga. Hal itu disampaikan Bupati saat mengikuti panen perdana tanaman jagung milik kelompok tani Serangkai di Pidoli Dolok, Panyabungan, Rabu (19/1). “Manfaatkan lahan yang kosong untuk menambah penghasilan rumah tangga,” katanya. Bupati […]

  • Lagi-lagi KKB Berulah, Kapankah Papua Aman?

    Lagi-lagi KKB Berulah, Kapankah Papua Aman?

    • calendar_month Jumat, 24 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Susi Ummu Ameera Pegiat Literasi Sebanyak sembilan tenaga kesehatan (nakes) korban kekerasan yang dilakukan KKB (kelompok kriminal bersenjata) di Puskesmas Kiwirok, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua pada Senin lalu, saat ini sedang menjalani pemulihan trauma dan pengobatan. (19/7). Pelayanan kesehatan dihentikan, seraya menunggu jaminan keamanan dari pemerintah untuk para tenaga kesehatan yang bertugas. Namun hingga […]

  • Sekda Madina Berganti

    Sekda Madina Berganti

    • calendar_month Kamis, 29 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 6Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) berganti. Marwan Bakhti Siregar yang selama ini Kepala Inspektorat Madina menggantikan jabatan sekda dari M. Daud Batubara dalam acara penyerahan SK pengangkatan, Kamis (29/8) di aula Kantor Bupati Madina oleh Wakil Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution. Pengangkatan Marwan sebagai Plt. Sekda itu berdasar surat […]

  • PN Panyabungan Harus Hati-hati

    PN Panyabungan Harus Hati-hati

    • calendar_month Senin, 13 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pengadilan Negeri Panyabungan tampaknya harus ekstra hati-hati dalam mengambil keputusan terkait kasus ganja yang melibatkan dua oknum PNS, Heriansyah Hanzali Dalimunthe dan Dedek Ispansyah Siregar yang saat ini masih dalam proses persidangan. Sebab dari beberapa kali persidangan yang dilaksanakan atas kedua oknum PNS dan dua orang temannya, Samsuddin Batubara alias Manambin dan Edi Syahputra, […]

  • Aturan Makan dan Minum

    Aturan Makan dan Minum

    • calendar_month Kamis, 19 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Dalam tradisi Islam, makan dan minum tak sekadar memenuhi kebutuhan jasmani akan asupan nutrisi dan gizi. Aktivitas itu di satu sisi juga memiliki dimensi ibadah transendental. Karena itu, ada berbagai macam aturan dan prinsip penting yang harus diperhatikan dan dijaga oleh Muslim saat makan atau minum. Aturan itu seperti dikemukakan pada abad ketujuh dalam Alquran […]

expand_less