Jumat, 14 Agu 2026
light_mode

SOSOK LUDFAN NASUTION (Kilasan Pasca Rekomendasi PKB)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 18 Jun 2017
  • print Cetak

Ludfan Nasution, S.Sos

 

Catatan : ASKOLANI NASUTION
Budayawan

 

Saya mengenalnya tahun 2009 di radio Start 102.6 FM Panyabungan ketika masih di Lintas Timur, beliau penyiar di radio itu dan saya sering ke sana untuk sekedar minum kopi. Lalu dengan Pak Khoiruddin Faslah Siregar dan Romi Hidayat, kami juga sama-sama menulis buku biografi Amru Daulay. Saya bagian teks narasi biografinya, dan beliau bagian ulasan politisnya.

Kebetulan kami punya latar belakang pekerjaan di media, beliau di salah satu majalah ibu kota, dan saya di sebuah surat kabar kampus. Juga sama-sama penggemar seni. Bedanya, beliau di bidang apresiasi dan kritik seni, saya bagian pekerjanya. Juga sama-sama berlatar komunikasi massa, beliau memang jurusan komunikasi massa, saya bagian desain komunikasi massa. Nyambungnya saya kira di situ.
Lalu ketemu lagi di tempat kerja. Beliau staf ahli Fraksi PKB Madina, saya Kabag Humas, lalu Kabag Persidangan DPRD. Jadi kalau ada paripurna, pasti ketemu. Bahasa Pandangan Fraksi yang beliau buat saya pahami betul. Dari bahasanya langsung saya klaim, itu bahasa Ludfan Nasution. Jadi di tempat kerja kami sering mengulas berbagai konsep politis idealis, mulai dari ideologi partai, sistem kader, perubahan dimensi politis dulu dan kini, teori tata negara, teori pemberdayaan, dan seterusnya.

Kadang-kadang juga kajian politik Islam. Masalah Piagam Madinah masa Rasul, konsep berpikir Nurcholis Majid, pemikiran Ridwan Saidi, Deliar Noer, dan sebagainya. Sekalipun basis khilafiah kami berbeda, tetapi selalu sama dalam hal konsep sosiologi Islam. Selalu menjadi teman diskusi yang menarik.
Ketika masa-masa “Rindang Magnitute” saya juga selalu diundang untuk menjadi panelis dari sisi kebudayaan. Alasannya, jangan semua panelis orang politisi, harus ada juga orang kebudayaan. Saya setuju karena memang politik juga bagian dari kebudayaan, bagian dari desain sosial yang dikemas.
Lalu beberapa kali juga bertemu saat pembentukan “Gerep Institute”. Membahas berbagai persoalan dimensi pembangunan dan efek sosialnya bagi kelompok masyarakat terpinggirkan. Mulai dari persoalan, ekonomi makro, tata ruang dan lingkungan hidup, peran sosial kelas menengah, dan seterusnya. Saya ajak beliau ke rodang, satu kawasan ekonomi kerakyatan berbasis komunitas rawa. Ibu-ibu menggendong anak menyeberangi sungai Batang Angkola, perahu nelayan yang hilir mudik, kebersahajaan rakyat, dan seterusnya.

Saya bilang bahwa ini lebih dari sekedar objek wisata yang potensial, tetapi juga kajian dimensi ekonomi marginal yang kasuistis. Dan beliau kaget, di Mandailing Natal ternyata ada kehidupan yang begitu rupa tapi tidak pernah terekspos media, dan tidak pernah dilirik studi-studi sosiologi. Padahal kawasan ini menyangkut ribuan orang dan beberapa desa yang potensial dalam desain sosial politis.
Lalu merembet ke kajian jurnalistik. Tentu karena beliau Wakil Pemimpin Redaksi di Malintang Pos. Tentang konsep media secara umum, susahnya membangun media di tengah pembaca yang tidak tertarik dengan koran, efek media berbasis online, pergeseran profesionalisme wartawan, idealisme jurnalis, dan seterusnya. Tentu tentang berbagai teori tentang pers sesuai dengan jurusannya sebagai sarjana komunikasi, dan sesuai pandangan saya sebagai mantan dosen mata kuliah jurnalistik.

Saya bilang bahwa beliau lebih cocok sebagai penulis kolom, bukan wartawan. Tapi kolomnya juga untuk kelas menengah ke atas, karena bahasanya memang selalu menggunakan kalimat majemuk dengan banyak pola, plus bahasa intelektual. Mungkin karena beliau banyak membaca kolom Emha Ainun Najib.
Tapi paling menarik kalau topiknya masalah seni. Beliau misalnya, menginginkan drama yang murni teater. Saya bilang bahwa untuk penonton awam teater relatf belum berterima. Karena kadar seninya terlalu tinggi. Katanya, mengapa kami menggunakan dubbing, karena efek sastranya rendah. Saya bilang, di Mandailing Natal di mana saya dapat pentas drama yang menyediakan sistem audio yang kompatibel tanpa dubing. Teater di sini masih barang langka. Pada akhirnya seni juga harus tunduk kepada kondisi situasional.
Tapi kami sama-sama merindukan Mandiling Natal yang punya Gedung Kebudayaan, ada panggung teater, ada anak-anak yang setiap minggu mementaskan teater, ada lomba-lomba seni tradisi, ada dukungan finansial sebagaimana daerah lain, dan seterusnya. Saya bilang bahwa itu hanya terjadi kalau beliau sudah menjadi anggota DPRD, karena hanya efektif kalau ada dorongan dari ruang dewan. Dan harus dimulai dari membangun antusiasme. Tentu karena kami bercermin dari gedung-gedung kesenian di kota lain yang rutin mementaskan berbagai karya seni.
Karena itu, begitu kemarin saya tahu bahwa PKB telah memberikan rekomendasi kepada beliau untuk ditetapkan sebagai anggota DPRD dari PKB, saya segera ingat semua konsep-konsep itu. Tapi tentu, sebagaimana kata orang pesisir, “inda ka salasai dunia ko dek awak surang,” angan-angan yang banyak itu segera saya pendam.

Seorang Ludfan memerlukan tambahan mukjizat untuk mengubah banyak hal di tengah kondisi sosial politis yang tidak melihat ruang kebudayaan sebagai ruang yang efektif untuk mengubah tatanan sosial. Cina berubah karena “Revolusi Kebudayaan” dari Deng, dan di Amerika Serikat pelajaran Seni Sastra menentukan kelulusan. Tapi di sini, apa yang lebih berharga dari sebuah sejarah!

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dugaan Pencatutan Nama Organisasi, PC PMII Madina Angkat Bicara

    Dugaan Pencatutan Nama Organisasi, PC PMII Madina Angkat Bicara

    • calendar_month Rabu, 12 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN(Mandailing Online)- Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menyoal tentang legitimasi kegiatan dan angkat suara terkait kegiatan yang diselenggarakan oleh Cipayung Plus di Aula Ballroom Ladang Sari, Gunung Tua Panggorengan, Senin 10 Juli 2023 lalu. Hal itu disampaikan Ahmad Rizal Nasution selaku Ketua PC PMII Madina kepada awak media […]

  • PMII Tak Terlibat Demo soal Defisit

    PMII Tak Terlibat Demo soal Defisit

    • calendar_month Minggu, 14 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) membantah PMII terlibat dalam setiap aksi massa yang terjadi beberapa waktu terakhir, yang menuntut pertanggungjawaban defisit anggaran belasan miliar yang terjadi di Pemkab Madina. Bantahan ini disampaikan Ketua Umum PC PMII Madina A Rijal Lubis SPdI, didampingi Sekretaris, Khairul Andi, serta belasan […]

  • BPN Madina Didemo Mahasiswa

    BPN Madina Didemo Mahasiswa

    • calendar_month Rabu, 28 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar tiga puluh mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Pemuda Indonesia (IKAMPI) melakukan unjukrasa di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Mandailing Natal (Madina), Selasa (27/10). Unjuk rasa mahasiswa ini merupakan kali ke 2 ke BPN Madina. Kali pertama dilakukan pada 21 Oktober lalu. Dalam orasi di halaman kantor Badan Pertanahan Nasional […]

  • Guru Besar Universitas Sains Malaysia Puji Darul Mursyid

    • calendar_month Kamis, 23 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    SAIPAR DOLOK HOLE (Mandailing Online) – Dr.Sofri B.Yahya,Ph.D,CFIA,MIM dan Dr.Md.Harashid Bin Haron,Ph, keduanya guru besar Universitas Sains Malaysia menyatakan salut dengan system pendidikan di pesantren Darul Mursyid, di Tapanuli Selatan. “Saya melihat Darul Mursyid sudah punya system yang baik sehingga dapat eksis dalam dunia pendidikan,” kata Dr. Sofri, Jum’at (17/5/2013) lalu ketika mengunjungi pesantren modern […]

  • Bansos Sumut di Madina Terkendala Indomie

    Bansos Sumut di Madina Terkendala Indomie

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Hingga kini Pemkab Madina belum mampu menuntaskan penyaluran bansos tahap I dari Pemprov Sumut di Kecamatan Panyabungan, Madina. Pemkab Madina menyatakan pasokan Indomie belum cukup, penyebab kendala penyaluran. Mie instan merek Indomie dijadikan salah satu bahan pangan dalam paket bantuan sosial (bansos) itu selain beras, minyak makan dan gula putih. “Indomie […]

  • Kapolda Sumut dikritik tajam

    Kapolda Sumut dikritik tajam

    • calendar_month Jumat, 3 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Belum genap 3 bulan Inspektur Jenderal Wisjnu Amat Sastro menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara, namun sudah mendapat kritikan tajam dari aktivis kemasyarakatan. Bahkan, Wisjnu Amat Sastro disebut sebagai Kapolda terburuk. Salah satu kasus yang dicontohkan, tindakan aparat Ditreskrim Poldasu yang dilaporkan melakukan pengepungan kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan kemarin dengan […]

expand_less