Senin, 7 Sep 2026
light_mode

Tympanum Garap Film “Lilu”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 22 Okt 2012
  • print Cetak

Film Lilu 211012
SIABU (Mandailing Online) – Kemajuan sinematografi di Mandailing Natal, Sumatera Utara terus berkibar. Ini tak terlepas dari para sineas Mandailing yang kian banyak melahirkan karya-karya meramaikan kancah perfilman di tanah air.

Setelah meraih rangkaian sukses memproduksi films berbasis Mandailing “Biola Na Mabugang”, “Biola Na Mabugang II- Tias Ni Bugang”, lalu “Tias Part II”, Tympanum Novem Films kembali menggarap film baru berjudul “Lilu”.

Berbeda dengan film-film terdahulu, “Lilu” ini bergenre anak-anak. “Kita ingin sebuah tontonan bagi anak-anak yang selain berdimensi kearifan lokal, juga bermuatan pendidikan, pencerahan budaya, dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan,” kata sutradara Askolani Nasution, Minggu (21/10).

Sinopsis “Lilu” tentang tokoh Sangkot, Laung, Gundur, Bibun, Munir, Melati, dan Bunga sebagai teman sepermainan. Ketika mandi-mandi di sungai, mereka tertarik melihat sebilah bambu yang hanyut di sungai, yang ternyata berisi peta harta karun.

Peta itu ternyata jatuh dari kawanan pencari harta karun. Sangkot dan kawan-kawan lalu mengikuti jejak peta itu dan terperangkap dalam petualangan hutan yang seru. Bersamaan dengan itu, sekelompok pencari harta karun menemukan tokoh Melati. Melati lalu disekap untuk memancing kawan-kawannya mengembalikan peta tersebut. Tapi begitu tahu tempat penyekapan Melati, Sangkot segera merancang pembebasannya dengan cerdik.

Film ini, selain mendeskripsikan petualangan hutan dengan berbagai tantangannya, juga menonjolkan berbagai kecerdikan survival di hutan dengan mengandalkan teori-teori pelajaran IPA di sekolah dasar.
Misalnya, menghidupkan api tanpa pemantik, merebus tanpa wadah, listrik DC berbahan ubi kayu, teori-teori pegas, tumbukan, pertumbuhan lumut, gaya berat, kalor, dan lain-lain. Dengan begitu IPA bukan hanya sekedar rumus dan konsep, tetapi bisa menjadi aktual dalam kehidupan sekitar manusia.

Tentang pemilihan tema anak-anak, menurut Askolani, karena sampai hari ini belum ada film tentang dunia anak-anak berkarakter Mandailing. Memang ada film nasional berdimensi anak-anak, Petualangan Sherina misalnya, Ambilkan Bulan, dan lain-lain. Tapi itu juga sudah lama sekali. Apalagi film-film tersebut juga bukan berkarakter Mandailing.

Televisi memang banyak memuat film kartun untuk anak-anak, tetapi materi ceritanya amat membuat miris karena sama sekali tidak menumbuhkan kearifan lokal, lanjutnya. Lebih parahnya lagi, banyak film-film tersebut yang berbau menyesatkan karena menampilkan tokoh-tokoh binatang yang dalam konteks Mandailing sangat tidak nyaman dilihat. Dan itu yang tiap hari ditonton anak-anak kita.

Apalagi, menurut penelitian, rata-rata anak menghabiskan delapan jam setiap harinya di depan televisi. “Ini tidak bisa dibiarkan, karena itu Tympanum menawarkan pilihan yang lebih arif,” kata Askolani di sela-sela pengambilan gambar hari Minggu (21/10) lalu.

Diperankan oleh enam orang anak-anak: Nanda, Reza, Nanda, Rifky, Gundur, dan Nona yang mampu memperlihatkan adegan-adegan yang ekspresif. Seperti biasa, Tim Tympanum berbagi tugas. Cerita/Sutradara: Askolani; Kamera/Editor: Ahmad Syukri; Artistik/Cinematografi: Ali Fikri; Casting/Fotografi: Erwin Tampas, dan Lighting/Properti: Fadhli Husein.

Pengambilan gambar sepenuhnya dilakukan di sekitar Kecamatan Bukit Malintang dan Kecamatan Siabu. Tentang pemilihan lokasi ini, Askolani mengatakan, “Setting yang kita butuhkan hutan dengan berbagai kekayaan floranya. Karena itu, kita tak perlu lokasi yang jauh. Apalagi para pemainnya anak sekolah, kita mengambil gambar setelah pulang sekolah.”
Harus diakui, tahun ini memang mendadak ada daya tarik yang luas terhadap budaya Mandailing, suatu hal yang nyaris tidak ditemukan selama beberapa dasawarsa terakhir. Dulu tak ada produser yang mau produk yang berbahasa Mandailing.

Sekarang malah sebaliknya, semua berlomba mengatasnamakan Mandailing, sekalipun isinya sama sekali tak menggambarkan karakteristik Mandailing. Ini sepatutnya menjadi hal yang patut disikapi secara bijak. Kalau momen ini tak dimanfaatkan, ke depan karakteristik Mandailing ini akan lenyap, kata Askolani. Lihat saja lagu-lagu Mandailing, pilihan kata dan gambar yang disuguhkan amat tidak menggambarkan Mandailing lagi. Seharusnya kita miris melihat ini.(lik)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Atika dan Simpul Ekonomi Rakyat

    Atika dan Simpul Ekonomi Rakyat

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Atika Azmi Utammi Nasution kian eksis menunjukkan jati diri sebagai kandidat pemimpin yang fokus pada penguatan ekonomi rakyat. Dia memperlihatkan suatu kekuatan daya dorong dari jiwa yang paling dalam untuk mengurai dilema sektor ril. Atika masuk ke sendi sendi dilema rakyat, menerobos fakta fakta kehidupan pelaku UKM dan petani. Mencari […]

  • Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk

    Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk

    • calendar_month Minggu, 17 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    Apa itu Si bulus-bulus Si rumbuk-rumbuk ??? semacam makanankah? Atau tempat kah? Atau semacam mitos??? Yaa, Si bulus-bulus Si rumbuk-rumbuk merupakan karya fenomenal dari Sati Nasution. Siapakah dia??? mungkin banyak orang yang tdk mengenalnya. Bahkan orang mandailing (ato batak) pun banyak tidak mengenalnya. Beliau adalah pahlawan (menurut orang mandailing) pendidikan (pemikir) tentang pentingnya sekolah (menuntut […]

  • KPU: Coblos Ulang Pilkada Madina Tak Ada Kendala

    KPU: Coblos Ulang Pilkada Madina Tak Ada Kendala

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menjadwalkan pelaksanaan coblos ulang Pilkada Madina pada 20 April 2011 mendatang. KPU belum menemui kendala pelaksanaan coblos ulang. Hal itu diungkapkan Ketua KPU Madina Jefri Antoni di ruang kerjanya di Kelurahan Kayu Jati, Kecamatan Panyabungan, Senin (21/03/2011). Dijelaskan, KPU Madina belum menemui kendala dalam melaksanakan tahapan […]

  • Peran Negara dalam Kapitalisme vs Peran Negara dalam Islam

    Peran Negara dalam Kapitalisme vs Peran Negara dalam Islam

    • calendar_month Kamis, 3 Jun 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Djumriah Lina Johan Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban Pemerintah mempersiapkan penerapan prosedur standar tatanan baru new normal di sarana publik karena wabah virus Corona COVID-19 belum bisa dipastikan berlalu. Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad tampaknya mendukung wacana pemerintah tersebut. Karena menurut dia, rakyat tidak mungkin dibiayai oleh negara dalam jangka waktu […]

  • Hari Pertama, Aliansi Kumpulkan 1,4 Juta Untuk Rizky Wasiah

    Hari Pertama, Aliansi Kumpulkan 1,4 Juta Untuk Rizky Wasiah

    • calendar_month Jumat, 22 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Malintang Pos) : Hari pertama Gerakan Koin Cinta Untuk Rizky Wasiah, Jum’at (22/1) berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 1.468.000. Uang hasil kumpulan hari pertama ini telah diserahkan aianssi kepada Saiman Nasution, orang tua kandung Rizky Wasiah di kediamannya Desa Huraba II, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal sekira pukul 18.00, Jum’at. Penyerahan dilakukan oleh Iskandar Hasibuan […]

  • Dibangun Tahun 2009, Jembatan ke Desa Adangkahan Tak Selesai

    Dibangun Tahun 2009, Jembatan ke Desa Adangkahan Tak Selesai

    • calendar_month Selasa, 31 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Jembatan yang menghubungkan jalan negara ke Desa Adangkahan. Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal (Madina) tak pernah difungsikan sejak dibangun tahun 2009 lalu. Pasalnya, jembatan itu tak pernah diselesaikan hingga kini. Padahal hanya jembatan ini satu-satunya penghubung ke desa itu. Alhasil, jembatan itu mubazir hingga kini, dan penduduk desa tetap harus […]

expand_less