Minggu, 31 Mei 2026
light_mode

Tympanum Garap Film “Lilu”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 22 Okt 2012
  • print Cetak

Film Lilu 211012
SIABU (Mandailing Online) – Kemajuan sinematografi di Mandailing Natal, Sumatera Utara terus berkibar. Ini tak terlepas dari para sineas Mandailing yang kian banyak melahirkan karya-karya meramaikan kancah perfilman di tanah air.

Setelah meraih rangkaian sukses memproduksi films berbasis Mandailing “Biola Na Mabugang”, “Biola Na Mabugang II- Tias Ni Bugang”, lalu “Tias Part II”, Tympanum Novem Films kembali menggarap film baru berjudul “Lilu”.

Berbeda dengan film-film terdahulu, “Lilu” ini bergenre anak-anak. “Kita ingin sebuah tontonan bagi anak-anak yang selain berdimensi kearifan lokal, juga bermuatan pendidikan, pencerahan budaya, dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan,” kata sutradara Askolani Nasution, Minggu (21/10).

Sinopsis “Lilu” tentang tokoh Sangkot, Laung, Gundur, Bibun, Munir, Melati, dan Bunga sebagai teman sepermainan. Ketika mandi-mandi di sungai, mereka tertarik melihat sebilah bambu yang hanyut di sungai, yang ternyata berisi peta harta karun.

Peta itu ternyata jatuh dari kawanan pencari harta karun. Sangkot dan kawan-kawan lalu mengikuti jejak peta itu dan terperangkap dalam petualangan hutan yang seru. Bersamaan dengan itu, sekelompok pencari harta karun menemukan tokoh Melati. Melati lalu disekap untuk memancing kawan-kawannya mengembalikan peta tersebut. Tapi begitu tahu tempat penyekapan Melati, Sangkot segera merancang pembebasannya dengan cerdik.

Film ini, selain mendeskripsikan petualangan hutan dengan berbagai tantangannya, juga menonjolkan berbagai kecerdikan survival di hutan dengan mengandalkan teori-teori pelajaran IPA di sekolah dasar.
Misalnya, menghidupkan api tanpa pemantik, merebus tanpa wadah, listrik DC berbahan ubi kayu, teori-teori pegas, tumbukan, pertumbuhan lumut, gaya berat, kalor, dan lain-lain. Dengan begitu IPA bukan hanya sekedar rumus dan konsep, tetapi bisa menjadi aktual dalam kehidupan sekitar manusia.

Tentang pemilihan tema anak-anak, menurut Askolani, karena sampai hari ini belum ada film tentang dunia anak-anak berkarakter Mandailing. Memang ada film nasional berdimensi anak-anak, Petualangan Sherina misalnya, Ambilkan Bulan, dan lain-lain. Tapi itu juga sudah lama sekali. Apalagi film-film tersebut juga bukan berkarakter Mandailing.

Televisi memang banyak memuat film kartun untuk anak-anak, tetapi materi ceritanya amat membuat miris karena sama sekali tidak menumbuhkan kearifan lokal, lanjutnya. Lebih parahnya lagi, banyak film-film tersebut yang berbau menyesatkan karena menampilkan tokoh-tokoh binatang yang dalam konteks Mandailing sangat tidak nyaman dilihat. Dan itu yang tiap hari ditonton anak-anak kita.

Apalagi, menurut penelitian, rata-rata anak menghabiskan delapan jam setiap harinya di depan televisi. “Ini tidak bisa dibiarkan, karena itu Tympanum menawarkan pilihan yang lebih arif,” kata Askolani di sela-sela pengambilan gambar hari Minggu (21/10) lalu.

Diperankan oleh enam orang anak-anak: Nanda, Reza, Nanda, Rifky, Gundur, dan Nona yang mampu memperlihatkan adegan-adegan yang ekspresif. Seperti biasa, Tim Tympanum berbagi tugas. Cerita/Sutradara: Askolani; Kamera/Editor: Ahmad Syukri; Artistik/Cinematografi: Ali Fikri; Casting/Fotografi: Erwin Tampas, dan Lighting/Properti: Fadhli Husein.

Pengambilan gambar sepenuhnya dilakukan di sekitar Kecamatan Bukit Malintang dan Kecamatan Siabu. Tentang pemilihan lokasi ini, Askolani mengatakan, “Setting yang kita butuhkan hutan dengan berbagai kekayaan floranya. Karena itu, kita tak perlu lokasi yang jauh. Apalagi para pemainnya anak sekolah, kita mengambil gambar setelah pulang sekolah.”
Harus diakui, tahun ini memang mendadak ada daya tarik yang luas terhadap budaya Mandailing, suatu hal yang nyaris tidak ditemukan selama beberapa dasawarsa terakhir. Dulu tak ada produser yang mau produk yang berbahasa Mandailing.

Sekarang malah sebaliknya, semua berlomba mengatasnamakan Mandailing, sekalipun isinya sama sekali tak menggambarkan karakteristik Mandailing. Ini sepatutnya menjadi hal yang patut disikapi secara bijak. Kalau momen ini tak dimanfaatkan, ke depan karakteristik Mandailing ini akan lenyap, kata Askolani. Lihat saja lagu-lagu Mandailing, pilihan kata dan gambar yang disuguhkan amat tidak menggambarkan Mandailing lagi. Seharusnya kita miris melihat ini.(lik)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Masukan Pemkab Madina pada Rakorwil APKASI

    Ini Masukan Pemkab Madina pada Rakorwil APKASI

    • calendar_month Jumat, 20 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) melalui Wakil Bupati Atika Azmi Utammi menyampaikan beberapa masukan pada acara rakorwil Apkasi yang dilaksanakan di Serdang Begadai, Kamis (19/5). “Sebagai pemerintahan yang mengutamakan kepentingan masyarakat, Pemkab Madina juga punya beberapa saran dan masukan yang nantinya diharapkan bisa didengar oleh pemerintah pusat,” tulis Atika pada […]

  • Tertibkan Kafe Penyedia Wanita Penghibur!

    Tertibkan Kafe Penyedia Wanita Penghibur!

    • calendar_month Jumat, 4 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PALUTA, – Maraknya sejumlah kafe yang menyediakan wanita penghibur atau plus-plus di daerah Kecamatan Portibi, khususnya di Desa Padang Bulan akhir-akhir ini makin meresahkan. Untuk itu diminta kepada Satpol PP Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) untuk segera melakukan penertiban. Ketua Ikatan Mahasiswa Portibi dan sekitarnya, PR Harahap mengharapkan agar Pemkab Paluta melalui Satpol PP untuk […]

  • Sekretariat Pemkab Madina Sepi

    Sekretariat Pemkab Madina Sepi

    • calendar_month Jumat, 22 Jul 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Foto pelataran parkir di atas dijepret pukul 15.35 WIB, Jum’at (22/7/2022). Pelataran parkir ini dikhususkan untuk mobil sekretaris daerah, para asisten serta tamu-tamu Pemkab Mandailing Natal (Madina). Situasinya lengang. Hanya beberapa sepeda motor yang parkir di pelataran parkir latar depan kantor Bagian Umum. Mandailing Online mencoba menunggu di pelataran itu, namun hingga suara azan Asar […]

  • Korban Penembakan Kader Terbaik Muhammadyah, Dirujuk ke RSU Adam Malik

    Korban Penembakan Kader Terbaik Muhammadyah, Dirujuk ke RSU Adam Malik

    • calendar_month Selasa, 20 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Edwin Adyantho, korban penembakan kerusuhan di Desa Sihepeng, kini dirujuk ke RSU Adam Malik, Medan. Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Wakapolres Madina Kompol Hariun Dalimunthe menjeguk korban di RSU Panyabungan sebelum diberangkatkan ke Medan, Selasa (20/9). Edwin tertembak pada bagian pahanya yang dilaporkan sebagai peluru nyasar […]

  • Pengeroyokan Terus Terjadi: Islam Solusi Hakiki

    Pengeroyokan Terus Terjadi: Islam Solusi Hakiki

    • calendar_month Selasa, 30 Mei 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Siti Khadijah Sihombing, S.Pd Aktivis Dakwah Hari ini kita dikejutkan dengan banyaknya berita pengeroyokan anak dibawah umur. Bukan hanya anak yang menjadi korban tetapi pelakunya juga seorang anak dibawah umur. Seperti kasus pengeroyokan anak laki-laki kelas dua SD berinisial MHD, usia 9 tahun, warga Sukaraja, Kabutapen Sukabumi, Jawa Barat yang tewas akibat dikeroyok oleh […]

  • Pabahat Sobar Angkang

    Pabahat Sobar Angkang

    • calendar_month Minggu, 2 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Najuguk tondo manungkol isang sajo doma boto udai pala potang-potang diginjang karosi otang di barando ni bagasi, songon namardangolma idaon, ipangkulingkon pe inda ibegesa be manombo, mabiar doboto iba manompang malang orang alus, bo tarik cilek udai tualak namamolus dijolo bagasi, arana nagartipan balik-balik kaporeh niudai, nabisa dei udai jungkir balik diaong-aong, ning bayoma sian […]

expand_less