Sabtu, 7 Mar 2026
light_mode

KESUSASTRAAN MANDAILING (bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 8 Okt 2015
  • print Cetak

 

Oleh: Askolani Nasution

PRAKATA

Mengidentifikasi tipikal Mandailing membutuhkan kajian yang komprehensif. Amat naif jika hanya menggeneralisir begitu saja bahwa Mandailing hanya sebatas teritorial saja, tanpa acuan-acuan yang signifikan. Apalagi kita meyakini bahwa filsafat, norma, dan budaya—yang sering digunakan untuk pengelompokan sosial—bukanlah satuan-satuan yang berdiri sendiri tanpa pengaruh dari identitas suku lain.

Studi sastra banyak digunakan untuk mengidentifikasi satu entitas sosial. Itu karena keyakinan bahwa sastra selalu lahir dari dinamika sosial pembacanya. Sastra yang baik bukan hanya membawa renungan sosial tapi bahkan menciptakan perubahan sosial. Saya percaya bahwa sebuah karya bukan hanya menimbulkan kontemplasi estetik semata, tetapi mampu menciptakan kesadaran sosial.

Sastra merupakan aspek penting dalam merekonstruksi kondisi sosial masyarakat. Sebab, sastra—sebagai hasil ekspresi imajinasi pengarang—mampu merefleksikan keadaan zamannya, bahkan meredefinisikan sebuah konteks yang tidak sepenuhnya bisa dilakukan ilmu sejarah. Sastra adalah lembaga sosial, begitu kata Sapardi Joko Damono (1984).

Sastra juga sering digunakan sebagai salah satu pendekatan keilmuan penting untuk menganeksasi suatu kawasan. Banyak bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa kolonialisme selalu dimulai dari pengetahuan etnografi, dan bahasa sebagai salah satunya. Karena itu, Susan Rodgers (2002) mengatakan bahwa negara kolonial memperpanjang kekuasaan politik mereka dengan mensponsori proyek etnologis terhadap penduduk desa pribumi terkait bahasa dan budaya setempat.

Sulit menemukan suatu studi yang komprehensif tentang kontekstualitas Mandailing di masa lalu, terutama karena minimnya literasi tentang kawasan ini. Selain itu tipikal akrasa Mandailing juga bukan digunakan untuk tradisi literer, melainkan lebih banyak untuk tradisi lisan. Hal itu diperburuk lagi dengan nyaris tidak adanya satu kajian sejarah tentang Mandailing yang komprehensif dan diakui validitasnya.

Dalam konteks demikian, studi atas berbagai karya sastra Mandailing menjadi hal yang penting. Tentu bukan hanya sebatas karya yang diklaim sebagai genre sastra saja (prosa, puisi, dan drama).

KESUSASTRAAN MANDAILING KLASIK

Studi tentang folklore tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan kontekstualitas linguistik, epik, ideologi, dan ritual penutur asli. Berbagai dimensi tersebut saling berkorelasi untuk membentuk kemasan perkembangan sastra.

Seni Budaya Mandailing, termasuk sastra tentu saja, harus dirunut dari masa pra-Islam. Masyarakat tradisional Mandailing percaya kepada penguasa gaib yang disebut sibaso yang diyakini memiliki kekuatan supernatural. Kekuatan itu bukan hanya melekat pada kekuasaan raja, tetapi juga kepada seluruh desa.

Penting untuk memahami bahwa merebaknya Perang Paderi tahun 1810 signifikan dengan menguatnya tradisi Islam di kawasan Mandailing. Tetapi masuknya Islam tidak serta merta mengubah seni budaya tradisional yang telah ada sebelumnya, walaupun pengaruhnya tentu ada. Penolakan raja-raja tradisional terhadap dominasi Paderi, mendorong kolonialisme masuk di kawasan Mandailing tahun 1835. Meskipun Paderi akhirnya mundur dan kalah, tetapi pendidikan bermuatan Islam terus berkembang di kawasan ini. Meskipun begitu, dalam interaksi sosial masyarakat hubungan antarindividu tetap dalam relasi kaidah “Dalihan na Tolu.” Hal ini menjadi satu sistem sosial yang luar biasa, karena Islam tidak masuk ke dalam tatanan sendi-sendi adat dan budaya tradisional. Islam hanya digunakan dalam relasi hubungan manusia dengan Tuhan, bukan dalam norma-norma yang lebih luas.

Pemahaman kondisi sosial di atas penting untuk mendudukkan peran sastra Mandailing. Sebab, sastra tidak lahir dari kekosongan sosial. Karena itu, sastra Mandailing sepatutnya bisa memiliki fungsi yang luas, yakni selain untuk pembentuk opini sosial, juga sebagai wahana untuk merekonstruksi konteks sosial zamannya.

Ada hal yang sangat ironis dalam konteks sastra Mandailing, karena kita tidak sepenuhnya menggunakan tradisi literer tertulis, sebagaimana dibandingkan dengan luasnya tradisi sastra Jawa misalnya. Seni sastra Mandailing ditularkan melalui tradisi yang khas, misalnya melalui medium berikut

  1. Marturi

Tradisi bercerita dalam konteks sosial Mandailing yang dilakukan secara verbal. Cerita ditularkan secara turun-temuran. Plot menggunakan alur maju dan banyak memuat ajaran tentang budi pekerti.

      2. Ende Ungut-ungut

Dibedakan atas temanya. Ende merupakan ungkapan hati, ekspresi kesedihan karena berbagai hal, misalnya kesengsaraan hidup karena kematian, ditinggalkan, dan lain-lain. Selain itu juga berisi pengetahuan, nasehat, ajaran moral, sistem kekerabatan, dan sebagainya. Ende ungut-ungut menggunakan pola pantun dengan persajakan ab-ab atau aa-aa. Sampiran biasanya banyak mengadopsi nama tumbuhan, karena adanya bahasa daun.

Misalnya: tu sigama pe so lalu/madung donok tu Ujung Gading/di angan-angan pe so lalu/laing tungkus abit partinggal

 

SASTRA MANDAILING KOLONIAL

Tahun 1840, kontrolir Belanda pertama berdiri di Natal. Awalnya berfungsi untuk mengontrol perkebunan kopi yang berkembang di kawasan Mandailing dan Angkola. Kemudian di Panyabungan berdiri sekolah percontohan untuk pendidikan guru, Kweekschol, yang dikelola Willem Iskander. Sekolah ini didirikan untuk masyarakat Mandailing yang didominasi Islam setelah Perang Paderi 1816-1837. Pada saat yang sama di kawasan Sipirok sudah berkembang misionaris Jerman yang menguasai 10% populasi masyarakat.

Reformasi Agraria di Eropah Tahun 1870 mendorong pengembangan investasi perkebunan karet dan tembakau di Deli. Selain itu, Politik Etis menyebabkan tumbuhnya pendidikan untuk kalangan pribumi yang didalamnya tentu membutuhkan bahan bacaan. Hal itu juga menuntut intensifikasi pengelolaan sekolah-sekolah inlander. Momentum ini sekaligus mendorong diterbitkannya bahan bacaan partikelir untuk buruh perkebunan.

Penting juga untuk memahami peranan H.N. Van der Tuuk’s yang menyusun Tata Bahasa Batak (1864-1867).[1] untuk kebutuhan silabus buku teks di sekolah. Tata bahasa ini menjadi acuan dalam penulisan sastra daerah di kawasan Tapanuli bagian selatan ketika itu.

Tahun 1870-an berdiri sebuah sekolah guru di Padang Sidimpuan yang menjadi pusat pendidikan dan pusat administrasi pemerintahan. Budaya dan Bahasa Lokal mulai dipelajari di sekolah ini. Tahun 1914, Ch Van Ophuysen mengembangkan studi bahasa lokal di kawasan ini.

Di Sipirok berdiri sekolah pemerintahan, sekolah bible. Sipirok pada saat itu telah memiliki surat kabar berbahasa berbahasa Melayu dan Batak. Sipirok bahkan melahirkan beberapa penulis novel untuk buruh perkebunan.

Selain itu, sejak masa kolonial, kawasan yang disebut Tapanuli Selatan, memiliki tokoh-tokoh eksponen yang amat besar peranannya dalam pertumbuhan sastra. Mereka terutama tumbuh dari output pendidikan berkarakter Eropah. Masa-masa ini menjadi penting karena menjadi awal tumbuhnya tradisi sastra tertulis dan menguatnya peran aksara Latin, suatu tradisi yang belum dikenali dalam sejarah Mandailing Klasik. Cerita menjadi lebih imajinatif dan dalam berbagai sisi tampak muatan pola pandang Eropah. Menguatnya peran aksara Latin tersebut menandai pudarnya tradisi aksara Mandailing. (bersambung)

Catatan kaki:

 [1] Tata bahasa dan dialek untuk kebutuhan translate Bible dalam bahasa Karo, Toba, Simalungun, Dairi, Pakpak, Angkola, dan Mandailing.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polisi Kehilangan Jejak Pelaku Penusukan & Penembakan

    Polisi Kehilangan Jejak Pelaku Penusukan & Penembakan

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Hingga kemarin, Polres Madina masih belum menemukan keberadaan pelaku penusukan terhadap dua warga Desa Gunung Baringin, Kecamatan Panyabungan Timur, dan pelaku penembakan terhadap seorang warga. Kapolres Madina AKBP Ahmad Fauzi Dalimunthe menyebutkan, pihaknya terus melakukan pencarian dan penyisiran serta melakukan penyelidikan. Pelaku penusukan dan penembakan itu diperkirakan bersembunyi di hutan sekitar pemukiman warga. “Anggota […]

  • MAMBAYU YANG MAKIN SEDIKIT

    • calendar_month Minggu, 26 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Omline) – Meski jumlahnya tak banyak, masa sekarang aktivitas “mambayu” (mengayam tikar) di kalangan kaum ibu di Mandailing masih dijumpai di beberpa desa. Faktor ekspansi produk-produk tikar pabrikan, aktivitas mambayu di kalangan wanita Mandailing juga berfaktor mulai berubahnya pola hidup dan pola pandang masyarakat Mandailing secara umum kepada hal-hal yang bersifat pragmatis. Berbeda […]

  • 30 Tahun  Aek Macom Rusak Areal Perswahan

    30 Tahun Aek Macom Rusak Areal Perswahan

    • calendar_month Selasa, 12 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    foto aliran Sungai Aek Macom LEMBAH SORIK MARAPI (Mandailing Online) – Masyarakat di Kecamanatan Lembah Sorik Marapi (LSM), Mandailing Natal (Madina) masih terus mengeluhkan aliran sungai Aek Macom yang mengandung kadar asam sangat tinggi. Kadar asam sungai yang berhulu dari arah puncak Gunung Sorik Marapi itu merusak kandungan tanah pertanian menyebabkan banyak areal persawahan yang […]

  • Dukcapil Deliserdang Sudah Mampu Cetak e-KTP

    Dukcapil Deliserdang Sudah Mampu Cetak e-KTP

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Lubukpakam – Terhitung sejak Januari 2015, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Deliserdang telah dapat melakukan penyetakan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Karenanya, bagi warga yang belum merekam e-KTP agar melakukan perekaman di kantor camat masing-masing tanpa dipungut biaya apapun. "Selama ini pencetakan e-KTP di pusat, kita hanya melakukan perekaman.Tapi mulai Januari ini kita […]

  • Penjualan Lebai Dan Buku Islami Meningkat

    Penjualan Lebai Dan Buku Islami Meningkat

    • calendar_month Senin, 15 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 5Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Beberapa hari memasuki Ramadhan, pedagang keliling lebai dan buku-buku Islam diserbu konsumen di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina). Rahmat Rahim dan Arif, keduanya pedagang keliling ketika berjualan di mesjid agung Nur Ala Nur, kemarin mengatakan usahanya selalu meningkat di bulan Ramadhan. “Jika di bulan puasa seperti sekarang ini, pada umumnya omset penjualan […]

  • GUGURNYA THESIS PANCASILA SEJALAN DENGAN ISLAM

    GUGURNYA THESIS PANCASILA SEJALAN DENGAN ISLAM

    • calendar_month Jumat, 27 Okt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Koreksi Tuduhan Radikal Bagi Umat Islam dan Anti Pancasila Oleh: Irwan Daulay Batasan toleransi dalam Islam sudah jelas di Surah Al-Kafirun, toleransi itu tidak pula sampai menggadaikan akidah sendiri hingga berakidahkan yang lain (sekularisme).  Sekularisme tidak  sejalan dengan akidah Islam. Sekularisme itu turunan kedua dari Atheisme, turunan pertamanya Liberalisme. Salah satu pilar Sekularisme sebagai Liberisme […]

expand_less