Sabtu, 6 Jun 2026
light_mode

AGROBISNIS PEPAYA RUNDING

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 3 Mei 2019
  • print Cetak

Putra Lubis (kiri) di kebun pepaya miliknya. Iskandar Hasibuan jurnalis (kanan)

Agrobisnis itu menjanjikan. Bisa bikin kaya. Jadi bos, alias memiliki karyawan, alias pengusaha di sektor pertanian.

Kaum milenial pedesaan harus mengarah ke agrobisnis. Bukan menunggu lowongan kerja yang maha sulit itu. Yang bikin putus asa itu.

Semua bisa. Yang sarjana. Yang tamat SMA. Atau tamatan SMP atau SD. Bahkan yang tak tamat SD pun. Mari ber-agrobisnis.

Kuncinya bukan modal uang. Tetapi kepercayaan diri, tekun, menjaga komitmen kepada relasi dan mengerti pasar. Setelah itu baru uang.

Seperti Putra Lubis. Yang masih muda. Yang milenial. Warga Desa Runding, Kecamatan Panyabungan Barat, Mandailing Natal.

Putra Lubis yang masih relatif muda. Usianya sekitar 30-an tahun. Saat ini dia mulai meraih sukses di perkebunan komoditi pepaya. Varietas Calina IPB.

Pria beranak satu ini, memulai budidaya pepaya ini sekitar setahun lalu. Di lahan kering. Lahan keluarga. Sekira 0,5 km dari pemukiman Desa Runding.

Luas lahan yang dikelolanya sekitar 2 hektar. Semuanya pepaya, plus kacang tanah tumpang sarinya.

Awalnya dia menanam seluas 1 hektar. Sekitar setahun lalu. Yang saat ini dalam rentang panen.

Kemudian, sekitar 4 bulan lalu menambah 1 hektar lagi. Yang saat ini sedang memulai tahap berbuah. Disebut buah pertama.

Selain menguasai tehnik budidaya pepaya, dia juga melakukan penjajakan pasar pepaya. Karena usaha di sektor agrobisnis harus menguasai sifat tanaman sejak dari bibit hingga akhir panen, hama, penyakit, kultur tanah. Juga harus mengerti kehendak pasar.

Pepaya yang diproduksi Putra Lubis ini dipasarkan di kawasan kota Medan. Dia menjalin hubungan bisnis dengan saudagar dari Sibolga, yang saban panen akan datang langsung ke lokasi ini membeli pepaya Putra Lubis.

Harga pepaya saat ini sekitar 3.000 rupiah per kg. Itu harga timbang di lokasi perkebunan Putra Lubis. Harga pepaya fluktuasinya relatif tidak instan.

Produksi pepaya berdasar hitung-hitungan Putra : dalam 1 hektar mampu menghasilkan 3 ton per minggu.

Dapat dibayangkan berapa omset yang diperoleh jika harga 3.000 rupiah x 3.000 kg per minggu. Petani mampu menghasilkan sekitar 9 juta rupiah per 7 hari. Atau lebih 1 juta rupiah per hari.

Modal usaha juga sebenarnya relatif terjangkau. Berdasar hitungannya, secara umum biayanya sekitar 20.000 perbatang. Itu biaya mulai dari tahap pembibitan hingga umur pepaya menjelang panen raya. Atau selama sekitar 7 bulan.

Setelah 7 bulan, biaya yang dibutuhkan sudah relatif sedikit,. Hanya biaya perawatan. Seperti pemupukan, penyiangan lahan dan perantingan.

Untuk mengatasi pembiayaan, Putra Lubis melakukan tumpang sari. Tanaman kacang tanah itu ditanam di antara barisan pepaya. Hasil panen kacang tanah ini dapat membantu pembiayaan perawatan pepaya.

Pepaya pada umumnya mulai memproduksi mutik di usia 1,5 bulan. Itu disebut buah pertama. Tetapi untuk panen raya akan dimulai sejak usia 7-8 bulan sejak tanaman pepaya di tanam. Sedangkan rentang masa panen biasanya berkisar 2 tahun.

Usaha ogrobisnis Putra Lubis ini, telah juga menyedot lapangan kerja bagi penduduk setempat. Sebab, mengelola perkebunan itu membutuhkan tenaga harian untuk penyiangan gulma, pemupukan dan perantingan pelepah pokok pepaya.

Putra Lubis mewakili syarat kepercayaan diri itu. Juga memiliki daya juang. Daya tarung di dunia bisnis.

Dulunya Putra Lubis menggeluti tanaman melon, di lokasi lain. Kawasan sawah. Di sekitar desa itu.

Tahap pertama melon itu mamapu menghasilkan keuntungan yang sangat baik kepada Putra Lubis, karena produksinya bagus. Namun, penanaman tahap kedua justru hancur. Buah melon mengalami pembusukan massal. Merugi.

Akhirnya dia beralih ke pepaya. Juga di lokasi sawah. Tetapi tak berhasil akibat kondisi tanah yang relatif basah. Pepaya tak berhasil berproduksi. Merugi lagi.

Dia tak patah semangat. Selanjutnya, berbekal sedikit pengalaman pertama itu, dia meyakinkan diri untuk membuka di lahan kering. Di lokasi yang sekarang.

Hingga kini sukses.

Sukses membangun relasi dengan saudagar dari Sibolga, yang membawa pepaya itu ke pasaran kota Medan.

Menurutnya, kendala utama budidaya pepaya ini adalah hama kera. Sebab kera sangat menyukai daun muda pepaya. Oleh karenanya, kebun pepaya harus dijaga selalu dari serangan rombongan kera. Karena kebetulan lahan kering sekarang ini berada di pinggir hutan, habitat kera.

 

Pemkab Madina
Harus Mendukung

Dalam berbudidaya pepaya ini, sebenarnya Putra Lubis hanya berguru pada Google, mempelajari sifat, penyakit dan hama pepaya. Termasuk juga membuka jaringan pasar.

Dia tidak memiliki pengetahuan yang dalam tentang pepaya. Oleh karena itu Dinas Pertanian Madina seharusnya datang membawa ilmu pepaya yang konprehensif kepada Putra Lubis.

Sebab, Putra Lubis merupakan seorang yang patut didukung penuh oleh pemerintah karena telah mampu menerobos satu usaha agrobisnis yang menyerap tenaga kerja.

Karena, Putra Lubis merupakan sosok yang harus dijaga karena bisa memberikan contoh bagi masyarakat luas. Bahwa usaha di sektor agrobisnis jauh lebih hebat dan mensejahterakan dibanding melamar pekerjaan di tengah sulitnya lapangan kerja bagi milenal di Mandailing Natal.

 

Potensi Bumdes

Gerak dan kemauan keras di sektor agrobisnis yang dilakoni Putra Lubis ini pun sejatinya menjadi inspirasi bagi pemerintah Desa Runding. Juga bagi pemerintah desa di Kecamatan Panyabungan Barat.

Sebab, hal yang demikianlah seharusnya salah satu bidang usaha yang harus dimasuki oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Di era Dana Desa sekarang ini.

Kemampuan membaca peluang agrobisnis dan pasaran bagi produk perkebunan yang dikuasai Putra Lubis ini sejatinya bisa diandalkan pemerintahp-pemerintahan desa di kecamatan itu untuk mengkaji ulang orientasi Bumdes mereka.

Pemerintah desa harus melihat peluang itu dari pengalaman yang dilalui Putra Lubis di sektor agrobisnis. (Dahlan Batubara)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komisi I Kunjungi SD Simpang Bambu Yang Memprihatinkan

    Komisi I Kunjungi SD Simpang Bambu Yang Memprihatinkan

    • calendar_month Jumat, 8 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NATAL (Mandailing Online) – Komisi I DPRD Madina meninjau kondisi SD Negeri 405 Simpang Bambu, Desa Sundutan Tigo Kecamatan Natal, Jum’at (8/11/2019). Tinjauan ini dilakukan Komisi I karena gedung dan mobiler sekolah ini sangat memprihatinkan. Bahkan jauh dari memenuhi standar kelayakan. Sekolah ini belum pernah memperoleh perehaban dalam rentang 15 tahun. Kondisinya berlantai tanah, […]

  • Dana Desa Perlu Dievaluasi Nomenklatur dan Metode Pengelolaannya

    Dana Desa Perlu Dievaluasi Nomenklatur dan Metode Pengelolaannya

    • calendar_month Senin, 24 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Sekitar delapan tahun Dana Desa ( DD ) ditransfer ke daerah dengan jumlah rata rata per desa per tahun sekitar 1 milliar rupiah, anggap satu desa sudah menerima aliran dana segar ini 8 milliar rupiah kemudian coba dicek ke lapangan apa dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat desa, ternyata dana sebesar itu tidak memberikan dampak signifikan […]

  • KPU Madina Juga Sarankan Konsultasi ke Kemendagri

    KPU Madina Juga Sarankan Konsultasi ke Kemendagri

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wacana pengajuan calon wakil bupati Mandailing Natal (Madina) terus bergulir pasca dilantiknya Dahlan Hasan Nasution menjadi bupati depenitif tanggal 9 Oktober 2014 lalu. Selain Partai Golkar yang menyarankan pihak eksekutif dan DPRD Madina melakukan konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri, KPU Madina juga berpendapat serupa. Ketua KPU Madina, Agus Salam Nasution […]

  • DPRD Madina Dapat Mengusulkan Pemberhentian Hidayat Batubara Secara Permanen

    DPRD Madina Dapat Mengusulkan Pemberhentian Hidayat Batubara Secara Permanen

    • calendar_month Rabu, 12 Feb 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPRD Mandailing Natal (Madina) dapat mengusulkan pemberhentian secara permanen Hidayat Batubara dari jabatannya sebagai bupati non aktif menyusul vonis penjara 5,5 tahun kepada Hidayat oleh Pengadilan Negeri Medan. Jika menunggu sampai putusan perkara Hidayat Batubara inkracht atau berkekuatan hukum tetap, maka Dahlan Hasan Nasution akan menjabat sebagai Pelaksanan tugs (Plt) bupati […]

  • Malaria Serang Tabuyung, Seorang Warga Meninggal

    Malaria Serang Tabuyung, Seorang Warga Meninggal

    • calendar_month Kamis, 28 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Sejumlah warga Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terserang penyakit malaria dan telah menewaskan salah seorang warga. Denip (35) salah seorang warga Tabuyung yang terserang Malaria hingga dirawat di RS Permata Madina, Panyabungan, Selasa (26/04/2011) mengungkapkan, sejumlah warga khususnya pekerja di salah satu perusahaan di Tabuyung diduga terjangkit malaria dalam […]

  • Petani Saba Palas di Panyabungan Jae ngeluh, 2 tahun Tak Nyawah

    Petani Saba Palas di Panyabungan Jae ngeluh, 2 tahun Tak Nyawah

    • calendar_month Selasa, 13 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) : bukan karena kemarau, Petani di Desa Panyabungan Jae, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) mengeluh karena dua tahun terakhir, lahan persawahan mereka tak lagi bisa di garap akibat ketiadaan air. Sedikitnya ada 60 hektar lahan persawahan di saba palas itu mengalami kekeringan lantaran irigasi batang gadis yang menyuplai […]

expand_less