Selasa, 11 Agu 2026
light_mode

MENIKAHKAN IDE INKLUSI DENGAN REM SPIRITUAL DALAM TINDAKAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
  • print Cetak

 

Tanggapan atas Esai Ludfan Nasution Terhadap “Anomali Empat Angka: Sati Nasution dan Peta Jalan Baru Inklusi Sosial Jaringan Kreatif Muda Madina”

 

 

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat pada GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)

 

Esai Muhammad Ludfan Nasution, senior saya yang juga penggagas Mandailing Epicentrum dengan taglinenya “wadah pemikiran, pergerakan, dan motivasi kritis untuk sinergi yang energik” di Mandailing Online, edisi kemarin (24/06) merupakan tanggapan terhadap artikel yang saya kirim sebelumnya. Esai tersebut merupakan tulisan yang sarat dengan nilai kejujuran, moralitas, dan yang paling terpenting, testimoni tersebut merupakan fakta atau kondisi realitas yang tumbuh subur dalam sosial kemasyarakatan. Terasa seperti tamparan karena ceritanya tentang kebenaran yang dipaparkan secara lugas dan berani.

Terima kasih atas tanggapannya, karena semakin banyak perdebatan intelektual menandakan bahwa literasi di tanah bertuah ini tidak akan pernah kering seperti kekhawatiran saat musim kemarau yang sedang menghantui dewasa ini. Bukankah lawan dalam berdebat adalah teman dalam berpikir (opponents est socius cogitandi)?

Ketika Ludfan menguliti angka Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Mandailing Natal tahun 2025 yang “mandeg” di angka 4,7500, dia sebenarnya tidak sedang dalam posisi meributkan urusan statistik tersebut. Jauh dari itu, dia sedang gelisah melihat pragmatisme yang makin akut dan masif di tengah kita, ketika uang pelan-pelan naik pangkat jadi ukuran segala hal dan menggeser posisi ilmu. Hari ini kita menyaksikan realitas pahit: kehormatan seseorang diukur dari ketebalan isi dompet, bukan lagi dari apa yang ada di dalam kepala. Ilmu seakan tidak berdaya karena uang sudah menjadi penguasa.

Sebagai orang yang lahir di tanah rahim Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana, jelas batin kita perih mendengar dan menyaksikan fenomena ini. Madina yang dulu dikenal religius dan menjunjung tinggi pemikiran, sekarang limbung dihantam arus materialisme.

Tapi, Opss….tunggu dulu. Di sinilah poin krusial yang ingin saya dudukkan bersama Ludfan. Setelah kita sepakat bahwa masyarakat kita sedang “demam pragmatisme”, langkah kita apa selanjutnya? Apakah kita cuma mau berdiri di atas mimbar, memegang mikrofon dengan dahi berkerut, lalu menceramahi mereka yang sedang pusing memikirkan harga beras besok pagi? Ataukah berdiam diri pura-pura tidak peduli?

Jelas itu tidak menyelesaikan masalah. Makanya, lewat tulisan awal saya soal “Anomali Empat Koma”, saya menawarkan peta jalan inklusi sosial melalui jaringan “naposo nauli bulung” atau generasi muda kreatif sebagai pewaris estafet kepemimpinan kelak. Dan tentu saja masih banyak solusi lainnya. Ini bukan jargon teoritis menara gading. Ini langkah taktis yang sudah teruji. Kita butuh gerakan literasi yang punya kaki dan tangan, serta berani menyentuh realitas dapur masyarakat bawah yang harus tetap “ngebul” tanpa harus kehilangan kompas moralnya.

Sosiolog Ignas Kleden dalam buku klasiknya, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1987), pernah mengingatkan (reminding) hal penting. Kritik budaya yang cuma sibuk mengutuk keadaan atau meratapi kemerosotan moral masyarakat itu hanya akan menjadi “nilai ekspresif” yang mandul. Supaya kritik itu ada gunanya, dia harus digeser menjadi “nilai progresif”—sebuah tindakan nyata yang langsung mengintervensi struktur sosial di lapangan.

Masyarakat Madina jadi pragmatis itu bukan karena bawaan lahir. Mereka tidak pernah membenci buku, namun sebaliknya, malah sangat akrab dengan ilmu pengetahuan semenjak dahulu. Fakta sejarah sudah membicarakan hal ini. Namun di era globalisasi dewasa ini, ruang ekonomi dan sosial nyaris tidak memberi tempat bagi orang-orang yang sekadar “berilmu” untuk menyambung hidup. Akhirnya, pragmatisme menjadi jalan utama yang ditempuh.

Di titik inilah inklusi sosial masuk sebagai jawaban konkret. Dan bagi saya, ini perintah religius yang sangat mendasar seperti ulasan Ludfan. Dalam tradisi Islam, kita semua hafal perintah pertama adalah Iqra’—bacalah. Tapi jangan artikan membaca itu secara sempit: sebatas mengeja huruf di dalam ruang perpustakaan yang sepi sunyi. Membaca yang sejati adalah membaca tanda-tanda zaman, membaca potensi alam, dan membaca masalah perut umat. Kalau kita biarkan “naposo nauli bulung” kita hanya membaca teks keagamaan atau filsafat tanpa kita beri mereka ruang ekosistem untuk mandiri secara ekonomi, kita sedang memisahkan antara ilmu dan kenyataan hidup.

Napas ini sejalan dengan konsep “ilmu sosial profetik” yang digagas Kuntowijoyo dalam bukunya, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991). Pak Kunto selalu menekankan bahwa kesadaran iman dan pengetahuan itu tidak boleh mandeg di ruang diskusi saja. Dia harus punya efek pembebasan, alias liberasi. Kaum terpelajar, kalangan terdidik, dan elemen “naposo nauli bulung” di Madina tidak boleh jadi penonton pasif.

Bagaimana caranya? Ya, kita ajak mereka ini turun ke bawah. Langkah ini bukan utopia, karena jalannya sudah dirintis secara nyata oleh wadah kreatif di Komunitas Mandala yang menjadi contoh (rule). Saya mengikuti dari dekat bagaimana dinamika mereka bergerak di akar rumput selama ini lewat konten-konten video pendek pencerahan sosial, pementasan drama jalanan, pembacaan puisi yang menggugat realitas, hingga pertunjukan teatrikal yang memikat publik. Dalam berbagai momen, diskusi menjadi “santapan” saat kami bertemu. Komunitas Mandala adalah bukti hidup bahwa gerakan inklusi sosial itu nyata ada di Madina. Komunitas sejenis juga sudah mulai tumbuh di sana-sini. Mereka tidak sekadar membaca teks, mereka mementaskannya menjadi kesadaran kolektif masyarakat.

Saya ingat betul saat anak-anak muda Komunitas Mandala menggelar event “Markobar” di alun-alun kota. Nyata riuh dan hidup. Setiap mereka manggung, bisa dipastikan lapak para pedagang kecil akan ramai dan dagangan mereka laris manis. Di situ saya melihat langsung: seni dan gagasan tidak bikin orang lapar, justru menggerakkan ekonomi orang-orang kecil.

Pertanyaan selanjutnya, apakah gerakan sekreatif Komunitas Mandala ini bisa menghasilkan secara ekonomi bagi pelakunya? Jawabannya sangat bisa dan sudah terbukti bisa. Hari ini, di era digital, konten edukatif, pementasan seni, produk kreatif, dan narasi budaya lokal bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang.

“Naposo nauli bulung” di Komunitas Mandala ini terbukti mampu memonetisasi platform digital, membuka jasa produksi kreatif, mendesain kemasan beberapa produk secara profesional, bahkan merancang materi promosi dalam bentuk iklan yang siap tayang di media sosial. Semangatnya saya kira sama dengan Sati Nasution yang diusia belia sudah berlayar menuju Belanda untuk menjemput impian tentang pendidikan anak bangsa dan bagaimana juga semangat Sati Nasution saat berdialog tentang visinya tesebut dengan para pembesar kolonial di Batavia.

Tidak hanya berhenti di balik layar, secara pribadi para personilnya juga kerap diundang dan dipercaya mengisi acara di berbagai tempat. Ketika ilmu pengetahuan dipakai untuk menaikkan daya tawar ekonomi masyarakat, di situlah literasi berubah menjadi rahmat nyata bagi sesama, Rahmatan lil ‘Alamin.

Jika mau membuka mata sedikit lebih lebar, lihat saja apa yang dilakukan oleh Hanna Keraf, Ayu, Zona, dan Melia di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekumpulan perempuan muda kreatif ini berhasil menjalankan misi inklusi sosial yang luar biasa dengan memberdayakan ratusan ibu-ibu di pelosok NTT. Bermodalkan literasi budaya dan kecakapan membaca pasar modern, mereka membimbing para perempuan desa untuk menyulap kerajinan anyaman daun lontar tradisional menjadi suvenir korporat premium dan dekorasi hotel bintang lima. Bisnis inklusif ini sukses menembus pasar ekspor, bermitra langsung dengan ritel furnitur terbesar di dunia, serta menaikkan pendapatan perajin wanita sebesar 40 persen di 26 desa.

Lagi pula, gagasan inklusi sosial ini sebetulnya bukan barang baru atau eksperimen liar dalam dunia perpustakaan. Di tingkat nasional, kita punya Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang digagas resmi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ini adalah strategi nasional yang sah, lahir untuk merombak total paradigma lama. Tugasnya jelas: mengubah wajah perpustakaan dari sekadar tempat berdebu untuk menyimpan buku, menjadi pusat belajar, ruang berkarya, dan episentrum pemberdayaan masyarakat demi menaikkan kesejahteraan sosial-ekonomi.

Program ini menekankan pentingnya perpustakaan yang bergerak langsung di masyarakat. Konsepnya jelas: memfasilitasi pelatihan keterampilan, membuka akses informasi bisnis lokal, dan menyediakan ruang inkubasi kreatif agar buku tidak berakhir sebagai pajangan mati, melainkan bertransformasi menjadi kesejahteraan yang bisa dirasakan di dompet masyarakat.

Melihat korelasi dari kegelisahan seorang Ludfan hingga aksi nyata anak muda di Komunitas Mandala, kita sebenarnya sedang melihat peta jalan baru yang konkret. Kita tidak bisa terus-menerus meratapi arus pragmatisme yang mengikis identitas religius di bumi “Gordang Sambilan”  tanpa memberikan solusi alternatif. Kita juga tidak boleh menutup mata dari realitas perut rakyat yang lapar.

Menikahkan ide inklusi dengan rem spiritual bukan lagi sebuah pilihan teoritis, melainkan suatu keharusan dalam tindakan. Inklusi sosial menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif di akar rumput, sedangkan nilai spiritual menjadi jangkar moral yang menjaga agar pencarian materi tidak meluncur bebas ke arah keserakahan yang membutakan hati nurani. Dengan cara ini, literasi di Mandailing Natal bukan lagi sekadar angka statistik yang “mandeg” di atas kertas, melainkan sebuah gerakan hidup yang memberi makan sekaligus menjaga iman. Dapur harus tetap “mengebul”, dan martabat kemanusiaan kita harus tetap tegak berdiri.

 Makanya, begitu saya membaca ulasan kritis seorang Ludfan kemarin, hati saya berbisik: kami ini sama sekali tidak sedang baku hantam pemikiran namun tetap dalam satu nafas pengabdian dengan gaya pemikiran dan sudut pandang  yang berbeda. Saya  merasa essai beliau ini adalah potongan “puzzle” krusial yang menyambung logika berpikir publik. Konsep inklusi sosial anak muda yang saya dorong adalah mesin penggerak yang memberi ruang kerja nyata  buat “naposo nauli bulung”. Nah, tamparan moral dari Ludfan itu adalah “rem spiritualnya”. Tanpa rem, mesin sekencang apa pun pasti bakal bablas masuk jurang materialisme. Jadi, klop saling mengunci, saling mengisi dan saling membangun. Tabik..!! ***

 

Daftar Pustaka

  1. Kleden, Ignas. (1987). Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).
  2. Kuntowijoyo. (1991). Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan.
  3. Nasution, Muhammad Ludfan. (2026). Madina dalam Paradoks Literasi: Uang Jadi “Tuhan”, Ilmuan Tanpa Kebijaksanaan. Panyabungan: Mandailing Online.
  4. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2023). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Jakarta: Perpusnas RI.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Terpesona Ajaran Wudhu, Pria Amerika Ini Akhirnya Memeluk Islam

    Terpesona Ajaran Wudhu, Pria Amerika Ini Akhirnya Memeluk Islam

    • calendar_month Senin, 16 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Islam sangat menganjurkan kebersihan dan wudhu menjadi contoh nyata praktik kesehatan bagi manusia. Itulah yang membuat takjub seorang warga AS bernama Matthew Braun. Perkara yang seringkali dianggap remeh itu justru membuat pria kelahiran Kota Brodhead, Wisconsin itu jatuh hati pada Islam. Braun memang seorang yang sangat peduli kesehatan. Minat pendidikannya pun pada segala ilmu kesehatan, […]

  • Alumni Musthofawiyah Dukung Musthafa Bakri Calon Bupati Madina

    Alumni Musthofawiyah Dukung Musthafa Bakri Calon Bupati Madina

    • calendar_month Kamis, 1 Agt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Alumni Pesantren Mustofhawiyah Purba Baru mendukung penuh Mudir Almukarrom, H Musthafa Bakri Nasution sebagai Calon Bupati Mandailing Natal. Itu dikatakan, Ketua Himpunan Alumni Musthofawiyah (HAM) Madina, Muhammad Ali Nasution kepada wartawan di Panyabungan, Kamis (1/8/2019) Dikatakannya menjalang perhelatan Pilkada Madina 2020 yang akan masuk tahapan September 2019, bahwa dalam memilih pemimpin […]

  • Hut Bhayangkara : " Dalam Perjalanannya Polri Hadapi banyak Tantangan

    Hut Bhayangkara : " Dalam Perjalanannya Polri Hadapi banyak Tantangan

    • calendar_month Rabu, 4 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kapuas (MO) – Upacara memperingati HUT Bhayangkara ke 66 pada Minggu 1/7 kemarin yang dilaksanakan Polres Kapuas berlangsung dengan khidmat. Selain dihadiri Bupati Kapuas Ir. HM Mawardi MM beserta unsur pimpinan Muspida juga dihadiri sejumlah kepala SKPD, para purnawirawan Polri, tokoh masyarakat, Organisasi masyarakat dan sejumlah anggota LSM. Kapolri Jenderal Timur Pradopo dalam amanatnya yang […]

  • LIRa Duga Proyek Drainase Bermasalah

    LIRa Duga Proyek Drainase Bermasalah

    • calendar_month Jumat, 19 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK-Proyek pembuatan saluran air (drainase) di sepanjang jalan provinsi Kelurahan Arse Nauli, Arse, Tapsel menimbulkan banyak tanda tanya di tengah-tengah masyarakat. Pasalnya, pengerjaan proyek yang sudah berjalan 2 minggu tidak memiliki plank. Karena ketiadaan plank proyek tersebut, jenis kegiatan, penanggung jawab, jumlah dana, pelaksana proyek, sumber dana, volume kegiatan dan lain sebagainya tidak jelas. Pasalnya, […]

  • Polisi Harus Jelaskan Penangkapan Warga Batahan

    Polisi Harus Jelaskan Penangkapan Warga Batahan

    • calendar_month Senin, 21 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Aliansi Rakyat Peduli Madina meminta Polres Mandailing Natal menjelaskan penangkapan belasan orang warga Batahan. “Sedih banget mendengar klimak perjuangan rakyat berakhir seperti ini,” kata Ardian N, mewakili segenap pengurus yang dilansir di akun facebook Aliansi Rakyat Peduli Madina, Senin (21/3/2016). Bagi Aliansi Rakyat Peduli Madina, jika penangkapan dilakukan karena dugaan mencuri […]

  • Penghujan, Harga Cabai Kian Pedas

    Penghujan, Harga Cabai Kian Pedas

    • calendar_month Jumat, 27 Okt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga cabai berbagai jenis terus naik di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Pantauan Mandailing Online, di Pasar Baru Panyabungan, Jum’at (27/10/2023) harga merangkak naik dari kemarin. Kenaikan mencapai kisaran 4.000 Rupiah per kilogram (kg). Sejumlah pedagang menyatakan kenaikan dipicu durasi hujan yang tinggi. Jenis cabai merah sebelumnya Rp 40.000 per kg […]

expand_less