Bukan Orang Tua Sempurna, Tapi Orang Tua yang Hadir
- account_circle Erna Dewi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak
Oleh: Erna Dewi

Kita hidup di zaman yang menuntut kesempurnaan, di media sosial seperti Instagram, sering kita lihat ibu yang bisa masak 5 menu, sambil nemenin anak les piano. Di TikTok, ada ayah yang rajin bikin konten edukasi sambil gendong bayi. Lalu kita, orang tua biasa, jadi merasa gagal. “Kok aku masih suka marah?”, “Kok aku belum bisa konsisten?”, “Kok aku sering capek?”. Padahal mungkin anak kita tidak butuh orang tua sempurna. Yang anak butuh adalah orang tua yang hadir.
Media sosial hari ini penuh dengan standar “orang tua ideal”. Ibu yang bisa masak, kerja, dan mengantar les tanpa terlihat lelah. Ayah yang selalu punya waktu main bola tiap sore. Melihat itu, banyak orang tua merasa gagal karena sering marah, sering capek, dan tidak selalu sabar. Padahal, anak tidak butuh orang tua sempurna. Yang anak butuh adalah orang tua yang hadir.
Kehadiran bukan soal berapa jam kita di rumah. Ada orang tua yang 24 jam di rumah tapi sibuk dengan handphone. Ada juga orang tua yang sibuk kerja tapi 20 menit sebelum tidur selalu menyempatkan mendengarkan cerita anak. Anak punya rasa peka, dia tahu mana orang tua yang benar-benar “ada” untuknya.
Kehadiran tidak diukur dari durasi. 15 menit benar-benar fokus tanpa HP lebih bermakna daripada 3 jam satu rumah tapi semua sibuk dengan layar masing-masing. Anak tahu kapan kita “ada badan tapi pikiran melayang”. Dan dia juga tahu kapan kita benar-benar menatap matanya saat dia bercerita.
Tantangan terbesar kita saat ini adalah godaan perfeksionisme dan tidak bisa “konsistensi hadir” di tengah hidup yang sibuk. “Hadir” di era digital artinya berani menahan ego, matiin HP dan milih dengerin anak walau cuma 20 menit. Hadir secara fisik seperti makan malam tanpa TV, menatap mata saat anak bicara, jalan sore tanpa earphone atau sekadar duduk ikut mewarnai bersama anak. Hadir secara emosi seperti saat anak marah, kita tidak langsung menghakimi, kita tanya “kamu kenapa nak?” dan hadir secara jujur, yakni kita akui kalau kita juga capek, kita juga salah, kita minta maaf ke anak. Itu pelajaran paling mahal tentang kerendahan hati.
Tidak ada buku panduan jadi orang tua. Tidak ada tutorial jadi ibu/ayah yang 100% benar. Kita semua sedang belajar sambil jalan. Jadi berhentilah membandingkan diri dengan “orang tua di internet”. Anak tidak butuh kita menjadi superhero. Dia butuh kita jadi rumahnya, tempat pulang saat dunia luar terlalu bising.
Bukan orang tua sempurna yang diingat anak sampai dewasa. Tapi orang tua yang dulu pernah ikut mewarnai, mendengarkan ceritanya yang panjang lebar, dan bilang “cerita lagi dong”. Karena pada akhirnya, kehadiran adalah bahasa cinta paling sederhana. Dan bahasa itu yang paling diingat anak sepanjang hidupnya.
Psikolog anak, Dr. Ross Greene, pernah berkata: “Kids do well if they can”. Anak berperilaku baik jika dia merasa aman dan dimengerti. Rasa aman itu lahir dari kehadiran, bukan dari kesempurnaan.
Kita semua sedang belajar menjadi orang tua. Akan ada hari kita gagal, akan ada hari kita membentak. Tapi anak akan memaafkan, selama dia tahu rumah adalah tempat paling aman untuk pulang. Jadi, berhentilah mengejar kesempurnaan tapi kejarlah kehadiran. Karena yang diingat anak 20 tahun dari sekarang bukan mainan mahal yang kita belikan, tapi pelukan saat dia gagal, dan tawa saat bermain bersama.
Kita sering mendengar: “Ibu adalah madrasah pertama”. Benar, tapi kita lupa melanjutkannya: “…dan Ayah adalah temboknya.” Membesarkan anak bukan tugas satu orang. Anak hebat lahir dari kolaborasi Ibu dan Ayah. Ibu adalah tempat pertama anak belajar tentang cinta. Dari pelukan ibu, anak belajar bahwa dunia aman. Dari suara ibu, anak belajar bahwa ia berharga. Tapi ibu juga manusia. Ibu yang lelah, stres, dan tidak pernah diapresiasi akan sulit memberi energi positif. Jadi, membahagiakan ibu bukan soal memanjakan. Cukup dengan: “Ma, terima kasih ya” atau “Nanti biar Ayah yang cuci piring”. Karena Ibu yang bahagia akan melahirkan rumah yang hangat.
Dulu ayah sering dianggap pencari nafkah saja, padahal anak butuh ayah untuk hal lain. Anak butuh ayah yang bermain, yang mendengarkan, yang jadi contoh bagaimana memperlakukan perempuan dengan hormat. Ayah yang hadir mengajari anak laki-laki tentang tanggung jawab, mengajari anak perempuan tentang standar cinta yang benar. Kehadiran ayah membuat anak punya rasa aman dan percaya diri saat menghadapi dunia luar.
Anak tidak butuh Ibu dan Ayah yang sempurna. Anak butuh melihat Ibu dan Ayah yang saling mendukung, saling menghargai, bahkan saat bertengkar pun tetap saling memaafkan. Anak belajar tentang pernikahan bukan dari buku, tapi dari cara Ibu Ayah berbicara satu sama lain di meja makan.
Di era sekarang, jangan sampai kita berlomba jadi “Ibu Hebat” atau “Ayah Keren” versi media sosial, tapi lupa jadi tim di rumah sendiri. Karena rumusnya sederhana: Anak yang tumbuh dengan Ibu yang bahagia + Ayah yang hadir = Anak yang kuat secara mental dan emosional.
Jadi, berhentilah mengejar gelar “orang tua sempurna”. Tidak ada di dunia ini yang sempurna, yang ada adalah orang tua yang mau belajar, mau minta maaf saat salah, dan mau duduk di lantai hanya untuk mendengarkan cerita panjang anaknya. Karena anak tidak akan ingat seberapa rapi rumah kita. Anak tidak akan ingat berapa banyak les yang kita daftarkan. Yang ia ingat adalah: dulu saat ia jatuh, siapa yang pertama memeluknya. Saat ia takut, siapa yang bilang “tidak apa-apa, ada Ayah dan Ibu di sini”.
Membesarkan anak bukan lomba, bukan tentang siapa yang paling hebat jadi Ibu, atau siapa yang paling sukses jadi Ayah. Membesarkan anak adalah tentang tim, tentang Ibu yang dijaga kebahagiaannya, tentang Ayah yang tidak absen secara emosi, tentang rumah yang jadi tempat paling aman untuk pulang. Karena anak hebat tidak lahir dari rumah yang sempurna, anak hebat lahir dari rumah yang penuh cinta. ***
- Penulis: Erna Dewi
- Editor: Dahlan Batubara

