Kamis, 11 Jun 2026
light_mode

Ivan Batubara dan Pesan Sang Ayah

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 21 Jun 2024
  • print Cetak

(Bagian 3 dari 4 Tulisan)
Oleh: Ludfan Nasution, S.Sos

Ivan Iskandar Batubara memeragakan tortor Mandailing ketika tampil sebagai Nara Sumber pada acara “Pertunjukan & Diskusi” Gondang Boru Mandailing, buah kerjasama Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II di Medan, Juni 2024.

Ivan Iskandar Batubara memeragakan tortor Mandailing ketika tampil sebagai Nara Sumber pada acara “Pertunjukan & Diskusi” Gondang Boru Mandailing, buah kerjasama Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II di Medan, Juni 2024.

Dalam penghayatannya, sekalipun tidak sempat memberi perintah langsung, Sang Ayah amat berharap agar anak-anaknya tidak lepas tangan dan terus mendorong Mandailing Natal agar menggeliat inovatif, kreatif, produktif serta kompetitif. Madina harus maju jauh ke depan. Agar masyarakatnya bisa makmur dan masyhur.

“Bagaimana caranya?” begitulah luahan pikiran Ivan saat itu.

Pertanyaan yang terus-menerus mendominasi pikirannya. Untuk konteks seperti saat ini, bagaimana cara mendorong agar Madina maju pesat dan melejit.

Beberapa saat sebelum wafat pun, topik itu terlontar dalam bincang-bincang dengan Ayahanda. Artinya, buat Ayahanda, Madina itu masih jadi sejenis PR (pekerjaan rumah) yang belum selesai dan pada akhirnya harus dibawa ke sekolah.

Makanya, lanjut Ivan, ketika muncul cerita bahwa Raja-raja Mandailing hendak memberinya gelar, dia terus berpikir apakah itu semua klop dengan harapan Ayahanda.

“Ya, alhamdulillah, pada saat menerima gelar tertinggi untuk orang yang bermarga Batubara itu, saya juga merasa mendapat beban teramat berat. Jelas, gelar itu tak main-main. Ada maknanya. Mengandung harapan besar. Ada doa di dalamnya”.

Ivan pun coba menjabarkan lebih jauh dengan intonasi rendah dan suara yang berat: “Patuan…, orang terhormat yang karena arif dan bijaksana diposisikan sebagai “tuan” yang diakui. Karena itu, saya salami maknanya, dimana istilah “tuan” menjadi “Patuan”. Ini kan…, dalam kali maknanya. Dahsyatlah. Jangan salah kita, itu beban berat. Belum tentu saya mampu mengembannya.”

***

Iya, kalau dicermati, betapa berat beban itu. Belum lagi kosa kata “Parimpunan”, yang merujuk pada personalitas tokoh yang diharapkan untuk bisa merangkul dengan kerendahan hati. Menghimpun semua kalangan. Semua golongan. Semua keluarga. Semua marga, dalam bingkai “Dalian na Tolu”. Semua pihak bisa berkomunikasi.

PPGM butuh waktu untuk menyerap lebih utuh titah Patuan Mandailing dari Hutasiantar dan Mangaraja Iro Parlagutan dari Manambin Bolak itu. Sejatinya, perintah adat itu berisi “olos dan andung seluruh Raja-raja Mandailing” atas kondisi Madina hari ini.

Dia menggambarkan makna gelar yang sudah disandangnya. Kata “gomgom”, sebut Ivan lebih jauh, “juga punya makna yang senada dan seirama dengan “parimpunan”. Setelah semua kekuatan berhimpun, tentu harus ada juga kapasitas dan keberanian untuk bersiap jadi pemberi perlindungan, pengayoman dan sekaligus bimbingan agar semua unsur berpadu dalam satu visi dan motivasi kuat bernama Mandailing.

Apakah gelar tertinggi itu sinkron dengan kerisauan dan harapan Ayahanda yang beberapa waktu sebelumnya sudah wafat? Ini juga terus menjadi pemikiran baginya.

Memang, akunya, hingga saat itu, tak ada yang lari atau jauh dari harapan ayahanda. Insya-Allah, Ayahanda pun mungkin tersenyum melihatnya sudah berbuat atas kegaulauan ayah, terutama di masa-masa akhir hidup ayah.

Di sisi lain, Ivan juga merasa terberi dengan gelar itu. Kepada media saat itu, Ivan mengungkapkan bahwa dia sangat bersyukur dapat diterima dalam tatanan adat Mandailing. Menjadi seseorang yang dipilih.

“Alhamdulillah, hari ini saya dan Namora Junjungan Nauli serta seluruh warga Alahankae dan Ulu Pungkut Mandailing Julu, telah menerima nikmat persaudaraan dari koum koum se Mandailing Natal, Bupati dan unsur Forkopimda Mandailing Natal. Sesuatu yang sangat berharga bagi kami dan penerus. Sebaik-baik dakwah, itu adalah keteladanan dan ini yang diperlihatkan koum-koum (saudara), terutama senior di Tano Rura Tano Barani Mandailing,” ujar Ivan Batubara, Kerala rmolsumut.id (10 Juli 2022)

Senada dengan itu, Ivan juga mendapat anugerah gelar adat Melayu dari Kesultanan Deli di Balairung Istana Maimun Medan pada 2 Oktober 2022. Yakni, Datok Sri Paduka Mahkota Raja. Gelar dari Sultan Deli XIV Tuanku Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam ini pun, katanya, termasuk nikmat dari persaudaraan yang amat membahagiakan.

Dia menambahkan, “Persaudaran Melayu dan Mandailing diharapkan terus terjaga, terutama dalam menggalakkan semangat membangun kampung halaman. Gelar yang saya terima sungguh merupakan kehormatan yang harus saya jaga, terutama akhlak. Inilah Mandailing, semua bersatu dalam kekeluargaan.”

Sekitar gelar adat Melayu ini, dia mengungkapkan, “Datuk” adalah gelar yang disandang nenek moyang marga Batubara. Sedang “Sri Paduka”, menunjukkan pangkat kemuliaan seorang raja yang dilantik oleh kepala-kepala adat dalam wilayah adatnya.

Lalu, “Mahkota Raja” di bagian belakang menandakan tokoh yang mendapat gelar itu adalah raja, yakni yang berkuasa di Tanah Mandailing, Patuan Parimpunan Gomgom Mandailing.

Gelar yang diberikan Sultan Deli, tambah Ivan Batubara seperti ditulis infomu.co (3 Oktober 2022), menjadi spirit kebersamaan Melayu dan Mandailing untuk memajukan NKRI.

Begitulah terus-menerus, Ivan menyelami makna kedua gelar yang sudah disandangnya.

***

Nah, itulah. Hidup penuh kejutan. Walaupun belum betul-betul dapat mendudukkan gelar itu di dalam dirinya, Raja-raja Mandailing sudah minta jumpa. Ada “hata olos dan hata andung” yang hendak mereka sampaikan.

Apa itu?

Dalam pertemuan hikmat yang berlangsung di bagas godang Alahankae, Raja-raja Mandailing memintanya untuk terlibat langsung membenahi Mandailing Natal dan maju menjadi Calon Bupati Madina 2024-2029.

Pada saat itu, walau terkejut sekaligus takjub, Ivan pun memberikan “hata alus” (tanggapan). Dengan bahasa yang juga halus dan tinggi lagi bijaksana, PPGM waktu itu menyampaikan, seperti pernyataan yang kemudian muncul di sejumlah media, dia tidak mengelak. Tidak bisa menolak. Tak akan mungkin lari.

Mengapa?

“Karena itu tadi, pesan ayah untuk ikut membantu Mandailing Natal untuk bergerak meraih mimpinya,” sebut Ivan.

Tentu saja, olos-andung Raja-raja Mandailing itu juga membawa konsekuensi teknis. Sekalipun, menurutnya, masih senapas dengan harapan Ayahanda, maju sebagai bakal calon bupati bisa menyebabkan pergesekan yang tidak produktif.

Menurutnya, andai kata peran seperti itu yang harus dimainkan dan memang itulah pilihan terbaik untuk memenuhi harapan Ayahanda, banyak hal yang harus dipersiapkan.

Katanya, secara umum, ada dua hal jadi poin penting. Dua-duanya harus beres. Keduanya, bisa jadi bumerang. Padahal, semuanya harus produktif untuk mencapai tujuan.

Pertama, dia harus bisa merekatkan ikatan sesama saudara. Termasuk koum-koum di Ulupungkut. Begitu juga para sesepuh di pantar paradaton (sidang adat Mandailing). Pokoknya, banyak pihak harus diajak dan terlibat dalam membangun Mandailing Natal.

Kedua, tambahnya, faktor yang sangat mendasar yang melekat dalam kondisi terkini. Jelas memang, umumnya masyarakat Mandailing Natal, termasuk kekuatan yang memang hendak mengatasi problem-problem besar saat ini, mau mendukungnya. Tapi, belum tentu semuanya siap untuk berbenah dan mengubah pemikiran (mindset).

“Ini sangat prinsipil buat saya. Adat dan agama mengajari kita untuk mengutamakan nilai lebih dari bendanya. Untuk sampai ke suatu tempat, misalnya, kita kan tidak harus naik pesawat, misalnya. Yang terpenting kan, bagaimana supaya sampai ke tujuan.”

“Tapi kan, kita juga lihat, banyak yang keliru. Tak sedikit tokoh yang berpikir, untuk sampai ke Jakarta, misalnya, harus naik pesawat. Padahal, bisa saja jalan darat atau jalan kaki, tergantung situasinya. Jadi nilainya lepas, esensinya lari kan?” katanya menggugah. (Bersambung)

Muhammad Ludfan Nasution, Jurnalis Alumni IISIP d/h STP Jakarta

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekretaris PNNB Nagajuang Pilih SAHATA, Ini Alasannya

    Sekretaris PNNB Nagajuang Pilih SAHATA, Ini Alasannya

    • calendar_month Rabu, 6 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NAGAJUANG (Mandailing Online) – Berbagai kalangan bicara tentang pasangan calon (Paslon) H. Saipullah Nasution – Atika Azmi Utammi Nasution (SAHATA). Mereka sungguh-sungguh menaruh harapan pada calon bupati dan wakil bupati nomor urut 2 ini mampu membangun Kabupaten Mandailing Natal (Madina) untuk lima tahun kedepan. Kali ini harapan itu disampaikan oleh Sekretaris Persatuan Naposo dan Nauli […]

  • Percasi Madina Gelar Tournament Catur Antar Lopo

    Percasi Madina Gelar Tournament Catur Antar Lopo

    • calendar_month Senin, 16 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Turnamen catur tingkat lopo (kedai kopi) di Mandailing Natal (Madina) akan diselenggarakan mulai tanggal 23 hingga 28 Desember 2013. Turnamen yang dilaksanakan oleh Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) Madina ini bertempat di gedung SMA Negeri 1 Panyabungan . Piala l yang diperebutkan adalah piala Bupati Madina Tahun 2013 dengan total hadiah […]

  • Dihadapan Alumni SMA nya, Cabup Madina Harun Mustafa Nasution Angkat Isu Ketahanan Pangan dan Pertanian

    Dihadapan Alumni SMA nya, Cabup Madina Harun Mustafa Nasution Angkat Isu Ketahanan Pangan dan Pertanian

    • calendar_month Sabtu, 19 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online) : Didepan Alumni SMA Willem Iskandar Tano Bato yang deklarasikan diri mendukung Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal ( Madina) nonor urut 1 Harun Mustafa Nasution dan Ichwan Husein Nasution Sabtu 19/10/2024. Calon Bupati Harun Mustafa Nasution mengangkat isu terkait Ketahanan Pangan dan Pertanian. Harun Mustafa Nasution mengatakan dalam […]

  • TNI Janji KTT ASEAN Bebas Teror

    TNI Janji KTT ASEAN Bebas Teror

    • calendar_month Senin, 2 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Mabes TNI optimistis Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN tiga hari lagi berjalan aman. TNI menjamin acara yang diikuti 11 negara itu akan berlangsung aman tanpa gangguan terorisme. “Insya Allah aman dan lancar. Semua anak-anak sudah siap,” ujar Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono usai acara apel bersama pengamanan KTT ASEAN di Monas kemarin (1/5). Apel Kesiapan […]

  • Aliran Air PDAM Sering Mati, Warga Sampaikan Surat Terbuka

    Aliran Air PDAM Sering Mati, Warga Sampaikan Surat Terbuka

    • calendar_month Sabtu, 16 Jul 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Aliran air dari PDAM Tirta Madina yang sering mati menuai protes dari pengguna di wilayah Parbangunan dan Aek Galoga. Owner Raja Batu Residence (RBR) Irwan H Daulay bahkan menyampaikan surat terbuka yang ditujukan kepada Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Ja’far Sukhairi Nasution dengan tembusan kepada Ketua DPRD Erwin Efendi Lubis, […]

  • Sisi Pilkada : Terbentur dan Remuk

    Sisi Pilkada : Terbentur dan Remuk

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Roy Samsuri Lubis   Manusia mati meninggalkan nama, merupakan adagium yang paling tepat menggambarkan eksistensi Sutan Ibrahim di bumi Nusantara. Pria yang punya nama kebangsaan Datuk Sutan Malaka ini cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, mulai dari era kolonial, awal kemerdekaan bahkan sampai saat ini. Bahkan saking populernya, pernah satu masa ia dianggap […]

expand_less