Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Ivan Batubara dan Pesan Sang Ayah

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 21 Jun 2024
  • print Cetak

(Bagian 3 dari 4 Tulisan)
Oleh: Ludfan Nasution, S.Sos

Ivan Iskandar Batubara memeragakan tortor Mandailing ketika tampil sebagai Nara Sumber pada acara “Pertunjukan & Diskusi” Gondang Boru Mandailing, buah kerjasama Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II di Medan, Juni 2024.

Ivan Iskandar Batubara memeragakan tortor Mandailing ketika tampil sebagai Nara Sumber pada acara “Pertunjukan & Diskusi” Gondang Boru Mandailing, buah kerjasama Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II di Medan, Juni 2024.

Dalam penghayatannya, sekalipun tidak sempat memberi perintah langsung, Sang Ayah amat berharap agar anak-anaknya tidak lepas tangan dan terus mendorong Mandailing Natal agar menggeliat inovatif, kreatif, produktif serta kompetitif. Madina harus maju jauh ke depan. Agar masyarakatnya bisa makmur dan masyhur.

“Bagaimana caranya?” begitulah luahan pikiran Ivan saat itu.

Pertanyaan yang terus-menerus mendominasi pikirannya. Untuk konteks seperti saat ini, bagaimana cara mendorong agar Madina maju pesat dan melejit.

Beberapa saat sebelum wafat pun, topik itu terlontar dalam bincang-bincang dengan Ayahanda. Artinya, buat Ayahanda, Madina itu masih jadi sejenis PR (pekerjaan rumah) yang belum selesai dan pada akhirnya harus dibawa ke sekolah.

Makanya, lanjut Ivan, ketika muncul cerita bahwa Raja-raja Mandailing hendak memberinya gelar, dia terus berpikir apakah itu semua klop dengan harapan Ayahanda.

“Ya, alhamdulillah, pada saat menerima gelar tertinggi untuk orang yang bermarga Batubara itu, saya juga merasa mendapat beban teramat berat. Jelas, gelar itu tak main-main. Ada maknanya. Mengandung harapan besar. Ada doa di dalamnya”.

Ivan pun coba menjabarkan lebih jauh dengan intonasi rendah dan suara yang berat: “Patuan…, orang terhormat yang karena arif dan bijaksana diposisikan sebagai “tuan” yang diakui. Karena itu, saya salami maknanya, dimana istilah “tuan” menjadi “Patuan”. Ini kan…, dalam kali maknanya. Dahsyatlah. Jangan salah kita, itu beban berat. Belum tentu saya mampu mengembannya.”

***

Iya, kalau dicermati, betapa berat beban itu. Belum lagi kosa kata “Parimpunan”, yang merujuk pada personalitas tokoh yang diharapkan untuk bisa merangkul dengan kerendahan hati. Menghimpun semua kalangan. Semua golongan. Semua keluarga. Semua marga, dalam bingkai “Dalian na Tolu”. Semua pihak bisa berkomunikasi.

PPGM butuh waktu untuk menyerap lebih utuh titah Patuan Mandailing dari Hutasiantar dan Mangaraja Iro Parlagutan dari Manambin Bolak itu. Sejatinya, perintah adat itu berisi “olos dan andung seluruh Raja-raja Mandailing” atas kondisi Madina hari ini.

Dia menggambarkan makna gelar yang sudah disandangnya. Kata “gomgom”, sebut Ivan lebih jauh, “juga punya makna yang senada dan seirama dengan “parimpunan”. Setelah semua kekuatan berhimpun, tentu harus ada juga kapasitas dan keberanian untuk bersiap jadi pemberi perlindungan, pengayoman dan sekaligus bimbingan agar semua unsur berpadu dalam satu visi dan motivasi kuat bernama Mandailing.

Apakah gelar tertinggi itu sinkron dengan kerisauan dan harapan Ayahanda yang beberapa waktu sebelumnya sudah wafat? Ini juga terus menjadi pemikiran baginya.

Memang, akunya, hingga saat itu, tak ada yang lari atau jauh dari harapan ayahanda. Insya-Allah, Ayahanda pun mungkin tersenyum melihatnya sudah berbuat atas kegaulauan ayah, terutama di masa-masa akhir hidup ayah.

Di sisi lain, Ivan juga merasa terberi dengan gelar itu. Kepada media saat itu, Ivan mengungkapkan bahwa dia sangat bersyukur dapat diterima dalam tatanan adat Mandailing. Menjadi seseorang yang dipilih.

“Alhamdulillah, hari ini saya dan Namora Junjungan Nauli serta seluruh warga Alahankae dan Ulu Pungkut Mandailing Julu, telah menerima nikmat persaudaraan dari koum koum se Mandailing Natal, Bupati dan unsur Forkopimda Mandailing Natal. Sesuatu yang sangat berharga bagi kami dan penerus. Sebaik-baik dakwah, itu adalah keteladanan dan ini yang diperlihatkan koum-koum (saudara), terutama senior di Tano Rura Tano Barani Mandailing,” ujar Ivan Batubara, Kerala rmolsumut.id (10 Juli 2022)

Senada dengan itu, Ivan juga mendapat anugerah gelar adat Melayu dari Kesultanan Deli di Balairung Istana Maimun Medan pada 2 Oktober 2022. Yakni, Datok Sri Paduka Mahkota Raja. Gelar dari Sultan Deli XIV Tuanku Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam ini pun, katanya, termasuk nikmat dari persaudaraan yang amat membahagiakan.

Dia menambahkan, “Persaudaran Melayu dan Mandailing diharapkan terus terjaga, terutama dalam menggalakkan semangat membangun kampung halaman. Gelar yang saya terima sungguh merupakan kehormatan yang harus saya jaga, terutama akhlak. Inilah Mandailing, semua bersatu dalam kekeluargaan.”

Sekitar gelar adat Melayu ini, dia mengungkapkan, “Datuk” adalah gelar yang disandang nenek moyang marga Batubara. Sedang “Sri Paduka”, menunjukkan pangkat kemuliaan seorang raja yang dilantik oleh kepala-kepala adat dalam wilayah adatnya.

Lalu, “Mahkota Raja” di bagian belakang menandakan tokoh yang mendapat gelar itu adalah raja, yakni yang berkuasa di Tanah Mandailing, Patuan Parimpunan Gomgom Mandailing.

Gelar yang diberikan Sultan Deli, tambah Ivan Batubara seperti ditulis infomu.co (3 Oktober 2022), menjadi spirit kebersamaan Melayu dan Mandailing untuk memajukan NKRI.

Begitulah terus-menerus, Ivan menyelami makna kedua gelar yang sudah disandangnya.

***

Nah, itulah. Hidup penuh kejutan. Walaupun belum betul-betul dapat mendudukkan gelar itu di dalam dirinya, Raja-raja Mandailing sudah minta jumpa. Ada “hata olos dan hata andung” yang hendak mereka sampaikan.

Apa itu?

Dalam pertemuan hikmat yang berlangsung di bagas godang Alahankae, Raja-raja Mandailing memintanya untuk terlibat langsung membenahi Mandailing Natal dan maju menjadi Calon Bupati Madina 2024-2029.

Pada saat itu, walau terkejut sekaligus takjub, Ivan pun memberikan “hata alus” (tanggapan). Dengan bahasa yang juga halus dan tinggi lagi bijaksana, PPGM waktu itu menyampaikan, seperti pernyataan yang kemudian muncul di sejumlah media, dia tidak mengelak. Tidak bisa menolak. Tak akan mungkin lari.

Mengapa?

“Karena itu tadi, pesan ayah untuk ikut membantu Mandailing Natal untuk bergerak meraih mimpinya,” sebut Ivan.

Tentu saja, olos-andung Raja-raja Mandailing itu juga membawa konsekuensi teknis. Sekalipun, menurutnya, masih senapas dengan harapan Ayahanda, maju sebagai bakal calon bupati bisa menyebabkan pergesekan yang tidak produktif.

Menurutnya, andai kata peran seperti itu yang harus dimainkan dan memang itulah pilihan terbaik untuk memenuhi harapan Ayahanda, banyak hal yang harus dipersiapkan.

Katanya, secara umum, ada dua hal jadi poin penting. Dua-duanya harus beres. Keduanya, bisa jadi bumerang. Padahal, semuanya harus produktif untuk mencapai tujuan.

Pertama, dia harus bisa merekatkan ikatan sesama saudara. Termasuk koum-koum di Ulupungkut. Begitu juga para sesepuh di pantar paradaton (sidang adat Mandailing). Pokoknya, banyak pihak harus diajak dan terlibat dalam membangun Mandailing Natal.

Kedua, tambahnya, faktor yang sangat mendasar yang melekat dalam kondisi terkini. Jelas memang, umumnya masyarakat Mandailing Natal, termasuk kekuatan yang memang hendak mengatasi problem-problem besar saat ini, mau mendukungnya. Tapi, belum tentu semuanya siap untuk berbenah dan mengubah pemikiran (mindset).

“Ini sangat prinsipil buat saya. Adat dan agama mengajari kita untuk mengutamakan nilai lebih dari bendanya. Untuk sampai ke suatu tempat, misalnya, kita kan tidak harus naik pesawat, misalnya. Yang terpenting kan, bagaimana supaya sampai ke tujuan.”

“Tapi kan, kita juga lihat, banyak yang keliru. Tak sedikit tokoh yang berpikir, untuk sampai ke Jakarta, misalnya, harus naik pesawat. Padahal, bisa saja jalan darat atau jalan kaki, tergantung situasinya. Jadi nilainya lepas, esensinya lari kan?” katanya menggugah. (Bersambung)

Muhammad Ludfan Nasution, Jurnalis Alumni IISIP d/h STP Jakarta

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Berkas Syamsul Didaftar Pengadilan

    Berkas Syamsul Didaftar Pengadilan

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Berkas dakwaan perkara dugaan korupsi APBD Langkat tahun 2000-2007 resmi didaftar pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor) pada Jumat (4/3) lalu. Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Johan Budi menjelaskan, dengan resminya berkas Syamsul di pengadilan ini maka dalam waktu dekat Syamsul Arifin akan disidang. “Mungkin dalam waktu dekat akan ada proses persidangan kasus dugaan […]

  • Jalinsum Berlumpur, Pengendara Diminta Hati-Hati

    Jalinsum Berlumpur, Pengendara Diminta Hati-Hati

    • calendar_month Jumat, 29 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK-; Pengengara diminta hati-hati melintas di jalan lintas Sumatra (jalinsum) Sipirok-Tarutung, soalnya, sekitar 3 kilometer ruas jalan itu licin dan berlumpur. Kondisi itu mulai km 5 hingga km 8 tepatnya di wilayah Aek Latong, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapsel. Amatan METRO Rabu (27/10) menyebutkan, pengedara ekstra hati-hati karena berlumpur tebalnya sekitar 2 sampai 5 cm. Selain […]

  • Wakil Ketua DPRD Palas Kunjungi Kampoeng Kaos Madina

    Wakil Ketua DPRD Palas Kunjungi Kampoeng Kaos Madina

    • calendar_month Kamis, 2 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KKM Serupa Perlu Didirikan di Palas   Panyabungan (MO)- Industri kaos yang berlatar semangat etnis dan budaya Mandailing yang dilakoni Kampoeng Kaos Madina (KKM), telah menarik simpati dari kalangan politisi di Kabupaten Padang Lawas (Palas). Wakil Ketua DPRD Palas, Ammar Makruf Lubis berkunjung ke base camp Kampoeng Kaos Madina, di Sipolu-polu, Panyabungan, Madina, Rabu […]

  • Parit Kota Panyabungan Dikeruk

    Parit Kota Panyabungan Dikeruk

    • calendar_month Rabu, 18 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sejumlah petugas terlihat mengerjakan pengerukan parit di kota Panyabungan, Mandailing Natal, Rabu (18/8/2021). Belum diketahui pihak mana yang melakukan pengerukan, apakah Kementerian PUPR melalui Balai Jalan Jembatan Wilayah II Sumatera Utara atau Pemkab Mandailing Natal. Pantauan Mandailing Online hingga pukul 11.10 WIB, jalur parit yang dikeruk itu sepanjang jalan Willem […]

  • Soroti Persoalan Lingkungan, Bupati Minta Camat Proaktif

    Soroti Persoalan Lingkungan, Bupati Minta Camat Proaktif

    • calendar_month Selasa, 30 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) HM Jafar Sukhairi Nasution kembali menyoroti masalah lingkungan hidup. Kali ini Sukhairi meminta para camat proaktif membenahi lingkungan di wilayah masing-masing. Sukhairi menyampaikan hal itu saat mimimpin rapat evaluasi pelaksanaan program dan penyerapan anggaran tahun 2022 di Aula Kantor Bupati Madina, Desa Parbangunan, Panyabungan, Senin (29/8). “Mengenai […]

  • Kontraktor Bandara Madina Bantah Pakai Galian C Tanpa Izin, Berikut Progres Pembangunannya

    Kontraktor Bandara Madina Bantah Pakai Galian C Tanpa Izin, Berikut Progres Pembangunannya

    • calendar_month Kamis, 1 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) : PT. Modern Widya Technical menjelaskan semua supplier atau penyedia material kontruksi untuk Bandara Malintang Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) memiliki izin. Hal ini diungkapkan oleh Raharjo, salah seorang tim material dari PT. Modern Widya Technical. Menurut Raharjo, semua supplier yang diberikan tanggung jawab menyediakan material memiliki izin, sehingga dia […]

expand_less